
Wellcome back my story
Jangan lupa like dan comen
Happy reading all
__________
Ana membuka pintu rumah dengan kencang sehingga pintu tersebut yang di buka kasar oleh Ana menghasilkan bunyi yang cukup kuat di ruangan yang tadi ia buka kasar pintunya.
Sontak semua orang yang berada di dalam ruangan itu yang mendengar Dobrakan pintu dari arah luar langsung mengarahkan tatapan mereka kearah Ana yang sedang berdiri di depan pintu dan menampilkan wajah datarnya tanpa ekspresi.
Ana menatap satu satu kearah pasang mata yang berada di dalam ruang tamu yang sedang menunggu dirinya pulang dari sekolah sehabis ayahnya menelpon Ana tadi sewaktu masih di sekolah untuk lekas pulang karena ada sesuatu yang ingin Toni tanyakan kepada Ana.
Di dalam ruangan tersebut ada terdapat Toni, Vanesa, beserta sang anak kesayangan Misla yang merupakan kaka kandungnya. Ana beranjak berjalan ke arah mereka semua yang sedang memandang Ana dengan muka yang memerah yang tentunya mereka semua dalam keadaan marah.
Ana duduk di sofa yang ada di ruang tamu dengan posisi yang menghadap kearah mereka bertiga. Ana menatap mereka meminta penjelasan untuk apa dirinya di suruh pulang cepat dan tidak boleh telat sedikit pun atas waktu yang telah di tetapkan ayahnya selama 20 menit. Dan apabila telat dengan waktu yang telah di berikan sedari ayahnya menelpon, maka ia di haruskan mengerjakan pekerjaan pembantu selama 24 jam.
Toni ayahnya Ana pun berdiri dari tempat duduknya dan mengambil sesuatu di dalam tas kerja yang biasa ia gunakan untuk bekerja di kantor. Ana menatap kearah sesuatu yang telah ayahnya ambil tadi di dalam tas kerja kemudian ia melirikan matanya ke arah mata Toni yang sedang menatap dirinya dengan napas yang memburu kerana emosi.
Ia sebenrnya tau kertas apa yang di keluarkan oleh Toni tadi. kertas tersebut yang berisikan tanda tangan kontrak itu merupakan kertas perjanjian kontrak penerbitan Novel yang ia terbitkan kemarin.
"Jelaskan apa ini!!!" Bentak Toni kepada Ana yang sedang menggenggam tangan nya kuat untuk berusaha menahan kemarahannya kepada sang ayah yang telah menghempaskan kasar kertas tersebut keatas meja.
Kertas tersebut tadi Toni dapatkan saat ia masuk kedalam kamar sang anak untuk mengambil berkasnya yang berada di dalam kamar Ana bekas ia bekerja kemarin, sebab kamar Ana waktu itu merupakan ruang kerja Toni, dan ia tak sengaja tadi melihat surat kontrak yang berada di rak buku belajar Ana.
__ADS_1
Ana mengambil kertas tersebut yang di hempaskan Toni tadi. Ana memandang kertas tersebut sebentar sebelum mengalihkan pandangannya kepada sang ayah yang sedang berdiri meminta penjelasan Ana tentang surat itu.
"Surat kontrak penerbit Novel! Emang apa masalahnya dengan papa kalau Ana jadi penulis Novel? Gak ada kan? Kalau gak ada, papa gak usah larang Ana buat jadi penulis, karena masa depan Ana itu Ana yang nentuin sendiri bukan papa. Lagian papa gak nganggap Ana anak papa kan! Anak papa itu cuman kak Misla tersayang."
"Jaga omongan kamu Ana!" Bentak Toni dengan penuh penekanan setiap nadanya, sebab ia telah terbawa emosi yang membara setelah mendengar pernyataan anaknya tadi.
Toni beranjak dari tempat duduknya dan ingin berjalan kearah Ana yang sedang menatap semua orang dengan mata berkaca kaca yang sebentar lagi air mata tersebut akan tumpah dari bola mata Ana. Vanesa yang melihat suaminya ingin berbuat kekerasan dengan Ana, langsung mencekal tangan Toni agar tidak terlewat batas menghakimi darah dagingnya sendiri.
Toni dan Misla yang melihat kejadian mamanya menahan lengan Toni pun langsung memandang Vanesa heran, kenapa Vanesa tidak ingin melihat Ana yang selalu di siksa oleh Toni, biasanya Vanesa dan Misla lah yang sangat senang menunggu momen Ana menangis akibat kekerasan yang di limpahkan Toni kepada Ana.
"Kenapa?" Tanya Toni bingung kepada Vanesa.
"Pa! Maksud mama jangan sekarang ngelakuin hal itu, ini bukanlah waktu yang tepat. Ana baru pindah ke sini, jika papa nampar Ana yang ada tu anak bakal kabur lagi dari rumah. Kalau mama tau Ana kabur dari rumah gimana? Yang ada mama ngenahan harta warisan kamu. Tunggu waktu yang tepat ngelakuin hal itu," ujar Vanesa mengingtkan sang suami, kemudian ia mengalihkan pandangnnya kearah Ana, "dan kamu jangan coba coba bilang ini semua ke nenek tua renta itu."
Ana yang mendengar perkataan Vanesa tadi pun langsung menampilkan senyum miring, kemudian Ana berjalan kearah Toni dan Vanesa.
Toni menggeram marah, "tutup mulut mu Ana!!"
"Orang mulut Ana udah di tutup ko pa."
"Diam kamu anak sialan! siapa yang ngajarin kamu ngelawan papa. Pasti ini semua teman teman kamu yang berengsek itu kan mempengaruhi otak mu itu buat berani ngelawan papa, pokonya kamu tidak boleh berteman dengan mereka lagi, oh dan satu lagi jangan pernah lagi menjadi penulis, malu maluin keluarga kita aja kamu."
Ana langsung membalikan badannya 180 derajat saat telinganya mendengar perkataan sang ayah yang cukup berhasil menorehkan luka di hati Ana.
Kini air mata yang di tahan sedari tadi pun gugur menerpa pipi mulus Ana yang tidak ada satu pun di tumbuhi oleh jearawat yang bersarang di sana. Ana yang merasakan air matanya tumpah itupun langsung mengusap air mata tersebut dengan menggunkan punggung tangannya.
__ADS_1
"Papa pengen tau siapa yang ngebuat Ana jadi begini berani ngelawan papa? Asalkan papa tau ya! Yang menyebabkan Ana jadi begini adalah papa sendiri. Papa dan keluarga papa yang telah nyakitin Ana! Dan Ana sekarang sadar kalau Ana terlalu lemah maka Ana lah yang akan di usik oleh kalian hiks~hiks," lirih Ana sambil terisak pilu saat memorinya memutar kembali kenangan pahit yang selalu tersimpan rapat di kepalanya.
Toni akhirnya tidak bisa lagi mendengar perkataan Ana yang telah melampaui batas melawan dirinya. Kini api yang sedari tadi membara tetapi di tahan untuk tidak meluap pun berkobar.
Toni berjalan maju kearah Ana yang tetap diam di posisinya, tangan Toni yang tidak bisa di cegah pun terulur kearah pipi Ana. Ana yang meliahat sebuah lengan kokoh ingin menghampiri wajahnya, dengan gerakan cepat ia menahan tangan tersebut agar tidak mendarat mulus mengenai wajahnya yang lembut dan tangan sang ayah yang di cekal tadi pun melayang di udara.
Ana menghempaskan tangan Toni yang ingin menampar dirinya. Cih dasar ayah yang tidak jauh bedanya dengan seorang pisikopat saat berhadapan dengan dirinya. Sungguh bukan impian Ana untuk di berikan seorang ayah yang tidak berperikemanusiaan seperti ayahnya oleh sang maha pencipta Allah SWT.
"Papa gak usah main tangan dengan Ana jika tidak ingin sesuatu terjadi kepada papa."
Setelah mengatakan itu Ana langsung beranjak pergi meninggalkan tempat ia berpijak tadi, namun baru beberapa langkah ia menghentikan perjalananya dan mengatakan sesuatau kepada orang yang berada di ruanagn itu.
"Dan satu lagi! Ana gak janji buat nggak ngomong ini semua ke nenek."
"Dasar kamu anak tidak tau di untung, udah baik mama papa mau ngasih kamu tumpangan," teriak Misla kepada Ana yang ingin melangkahkan kakinya hingga belum sempat kakinya menyentuh lantai, suara Misla dari belakang mengharuskan Ana meletakan kakinya ke posisi semula.
"Akhirnya buka suara juga ka Misla terhormat, kira Ana kaka tadi bisu nggak bisa ngomong," sindir Ana kepada Misla yang sedari tadi diam menyaksikan drama yang cukup menegangkan dan dengan mata Ana yang menatap lurus kedepan kesebuah bingkai foto keluarga yang tanpa Ana di dalam foto tersebut yang terpajang rapi di tembok berwarna putih berbaurkan merah di sisi tembok itu.
Misla terdiam, ia sengaja tidak menanggapi ucapan Ana. Ana yang tidak mendengarkan ocehan Misla lagi langsung mengangkat kakinya seraya berjalan kearah dapur meninggalkan ruang tamu yang membuat ia menjadi terbawa perasaan begini.
Kamar Ana terletak dekat bagian dapur yang mana kamar tersebut di sengajakan ibunya memilihkan kamar di situ. Sesampainya di depan pintu kamar, Ana langsung masuk dan membanting pintu kamar dengan kasar, seolah olah dengan begitu ia menggambarkan hatinya yang sedang terluka.
_________
Tbc
__ADS_1
Maaf ya guys, sebenarnya Author pengen dalam satu part ini ada dua tempat kejadian, namun keinginan tersebut author urungkan karena jika di buat satu part maka part ini aka terlalu banyak sehingga kalian malas untuk baca. Jadi Author bagi dua aja, kejadian yang satunya lagi Author posting di part selanjutnya.....