SURAT CINTA UNTUK....?

SURAT CINTA UNTUK....?
Part 41


__ADS_3

Pandangan Dika lurus ke depan menatap ke arah gedung-gedung tinggi yang ada di depannya. Rooftop adalah tempat ternyaman untuk menenangkan diri.


Pria itu menghembuskan asap rokok ke udara. Dika kembali uring-uringan ketika Ana tak berada di sisinya. Pria itu menjauhkan puntung rokok dari mulutnya lalu melemparnya ke bawah.


Tatapan matanya yang sangat tajam akan mengintimidasi siapapun yang bertatapan dengannya. Tidak ada yang berani mengganggu Dika. Terlebih itu para guru-guru sendiri.


"Ana," lirih Dika dengan bibir yang sedikit bergetar.


Kawat tersebut meminjamkan mata lalu kemudian menarik nafas panjang. Ia mencengkram rambutnya kasar.


Dika merasa bahwa dirinya sudah frustasi. Semua ini diakibatkan oleh kepergian Ana. Sampai sekarang ia belum bisa menghubungi wanita itu padahal Dika sungguh merindukan Ana.


Dika bertanya-tanya di dalam benaknya, apakah Ana juga merindukan dirinya. Surat-surat yang semua ditulis oleh Anna tersimpan dengan baik oleh Dika.


Memang surat tersebut tidaklah memiliki tujuan. Tetapi ketika menunjukkan eksistensinya kepada kehidupan Ana dan Ana yakin bahwa surat-surat yang selama ini ia tulis sebenarnya tertuju pada seorang pria yang selalu dikaguminya dalam diam yakni Dika Rontiwa.


"Aku harap kau juga merasakan hal yang sama dengan apa yang aku rasakan di sini," ujar Dika lalu membuka matanya kembali dan menatap keindahan alam dari atas.


Tampilan Dika sama sekali tidak menunjukkan Ia adalah seorang pelajar. Lebih tepatnya ia disebut seperti gelandangan, Dika berpakaian tidak rapi serta dengan rambut yang acak-acakan dan mata yang hitam seperti panda karena kekurangan tidur.


Dika pun memutuskan untuk turun kembali. Sudah cukup lama ia berada di tempat ini dan menenangkan diri. Mungkin sudah saatnya untuk dia kembali.

__ADS_1


Di tengah jalan Dika melihat guru yang selalu menjadi langganannya. Ibu zafira menatapnya dengan mata yang melotot serta dengan nafas yang memburu menahan amarah.


"Dika!! Dari mana saja kamu? Kamu membolos lagi?" tanya Ibu Zhafira tidak habis pikir dengan Dika. Apakah dia tidak bosan masuk ke dalam ruang BK sementara dirinya bosan melihat orangnya itu-itu saja.


Tika memutarkan bola matanya jengah. Pria itu berhenti berjalan lalu memutarkan tubuhnya ke arah sang Guru. Kemudian ia tersenyum tipistan dengan enteng menyatakan alasannya pergi ke atas.


"Saya capek belajar." Kalimat tersebut mampu membuat emosi di wajah Ibu zafira. Wanita itu ingin berteriak tetapi ternyata Dika sama sekali tidak peduli dan malah lebih dulu turun ke lapangan dan menerima hukumannya tanpa diperintahkan oleh ibu Zhafira.


"Dasar anak itu," kesal ibu Zhafira lalu mengusap dadanya. Kesabarannya tengah diuji oleh laki-laki tersebut. "Anak zaman sekarang tidak tahu dengan disiplin."


___________


Mereka sangat kesal dengan orang tua Ana yang sama sekali tidak memiliki hati. Bagaimana nasib Ana di sana. Apakah wanita itu baik-baik saja?


"Cik, kira-kira Ana lagi ngapain ya di sana?" tanya Lona dengan pandangan kosong.


"Ya mana gue tau. Kok tanya gue, gue aja pengen tau Ana sekarang sedang ngapain dan elo malah nannya ke gue."


Cika menarik napas panjang dan kemudian cewek itu memeluk tubuh Lona. Hal itu dilakukan Cika untuk melampiaskan rasa rindu yang sangat dalam di hatinya.


"Eh gua denger-denger sih Dika malah makin jadi nakal banget ketika Ana ninggalin dia. Kasian sih gue sama dia, tapi gue masih kesel sama dia yang selalu ngebully Ana."

__ADS_1


Sejenak jika pun ikut berpikir dan menganggukkan kepalanya. Iya setuju dengan apa yang dinyatakan oleh Lona barusan.


"Gue sih setuju sama lo, tapi gue ngeliat Ana juga kayaknya suka banget sama si Dika." Tidak ada yang salah dengan dugaan mereka


Karena memang sangat mencintai Dika. Bahkan tidak ada yang bisa membantah kenyataan tersebut. Hanya saja mereka tidak menyadari perasaan masing-masing.


"Mau apapun yang Ana lakukan di sana semoga dia baik-baik aja."


"Gue juga berharap yang sama."


Lama ibu guru pun datang. Pelajaran akan dimulai sebentar lagi. Guru menjelaskan dengan sangat hikmat di depan. Lona tidak bisa fokus. Cewek itu mengedarkan matanya ke seluruh penjuru.


Tak sengaja Lona melihat ada seorang pria yang melintasi kelas mereka. Ternyata itu adalah Dika. Sebelum melaksanakan hukumannya Ia ingin melihat kelas wanita yang telah berhasil merebut hatinya.


"Yaampun Dika sebegitu bucinnya sama Ana. Iri gue, andai ad cowok yang gituin gue."


_________


Tbc


Jangan lupa like dan komen setelah membaca.

__ADS_1


__ADS_2