SURAT CINTA UNTUK....?

SURAT CINTA UNTUK....?
Part 50


__ADS_3

"Kau tahu apartemen gue?" heran Ana karena Dika membawanya ke apartemen miliknya. Yang tidak dimengerti oleh Ana di mana pria ini mengetahui bahwa apartemen miliknya berada di sini.


"Itu aja heran, gue juga tinggal di sini ya makanya gue tau," ujar Dika lalu berjalan mendahului Ana.


Sementara Ana di belakang pria itu tercengang. Jadi mereka tinggal satu apartemen, kenyataan seperti apa ini, Ana benar-benar terkejut mendengarnya.


Wanita itu mengercutkan bibirnya tidak suka dengan sikap Dika kepadanya. Aurora menghela napas dan terpaksa mengikuti Dika dari belakang.


"Lo kok ninggalin gue?" tanya Nama sambil berlari mengejar pria itu.


Dika hanya meliriknya sebentar dari sudut mata pria itu. Ia menarik napas panjang dan sedikit tersenyum.


"Makanya kalau jalan itu jangan lelet."


"Enak aja lo, lo aja yang kecepatan kali," ujar Ana tidak mau kalah dengan Dika.


"Dih gak mau ngaku lo dan malah nyalahin orang."


"Kan emang itu faktanya." Jika orang-orang mendengar pertengkaran mereka pasti akan kebingungan dengan bahasa yang mereka gunakan.


Tinggal di Inggris menggunakan bahasa Indonesia dengan lawan bicaranya tentunya adalah sesuatu yang tidak lazim dilakukan di tengah orang ramai.

__ADS_1


Memang tidak ada masalah, hanya saja menampakkan perbedaan. Ana kemudian memejamkan mata sambil menggenggam tangannya karena merasa kesal kepada Dika.


Pria itu selalu saja menang satu langkah darinya. Tidak di Indonesia maupun Inggris Dika selalu mendominasi.


"Ngomong-ngomong di mana apartemen lo?" tanya Ana heran kepada pria itu.


Pria tersebut berhenti berjalan dan Ana yang tidak fokus dengan jalannya berakhir dengan menabrak punggung pria tersebut.


"Akh...."


"Bodoh, makanya hati-hati kalau jalan." Dika mengusap kening Ana yang terbentur punggung kerasnya.


Ana terpaku dengan apa yang dilakukan Dika. Iya tak menyangka jika pria itu akan seperhatian ini padanya.


"Iya-iya."


"Tadi kaki lo gak kenapa-kenapa juga, kan? Jangan sampe kaki lo yang tadi sakit juga."


"Gak kok, aman-aman aja. Jadi santai," ujar Ana meyakinkan Dika. Dika menghela napas lalu menganggukkan kepala.


Ia juga percaya jika Ana pasti akan baik-baik saja. Pria itu kembali melanjutkan jalan dan meninggalkan Ana.

__ADS_1


"Lo belum jawab pertanyaan gue, apartemen lo di mana." Ana terus menuntut jawaban pria itu. Tetapi Dika sepertinya tidak peduli dengan celotehan Ana dan terus berjalan.


Sementara Ana berusaha agar tetap tenang dan tidak kesal kepada pria itu. Dika memang sangat menyebalkan dan Ana mengakui itu


Ana terkejut ketika sampai di apartemen miliknya ia melihat jika Dika tidak jauh dari apartemen miliknya.


Sementara Joe yang baru keluar dari kamar terkejut melihat ada Dika di depan apartemen Ana.


"Kau kenapa ada di sini?" tanya Joe. Ia melirik Ana, apakah Ana yang sudah membawa Dika ke sini.


"Dika juga tinggal di samping apartemen mu," ujar Ana yang membuat terkejut Joe.


Joe memandang Dika. Dari tatapan Dika saja Joe sudah tahu jika laki-laki tersebut tidak senang kepada dirinya.


"Joe," ucapnya sambil menyorongkan tangan ingin berkenalan.


"Ana karena apartment kita dekat, gue harap lo dapat berkunjung ke tempat gue." Kemudian Dika masuk ke dalam apartemen miliknya dan tak mempedulikan Joe yang ingin berkenalan.


"Maklumi saja," ucap Ana tidak enak kepada Joe.


___________

__ADS_1


Tbc


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA


__ADS_2