
Ana melemparkan ponselnya sembarang arah. Wanita itu mencengkam dadanya yang berdetak sangat sakit. Apalagi ucapan Dika sungguh menyakiti hatinya.
Ia tahu Dika tidak mengenali dirinya. Ana tidak mempermasalahkan hal itu. Ia bisa menerima semua ini dengan lapang dada.
"Semoga suatu hari nanti kita bisa bertemu kembali," ucap Aurora sambil menatap keluar. Hujan deras sedang melanda kota London.
Ana memutuskan untuk keluar dari apartemennya. Ia tahu bahwa hujan sangat deras dan entah kenapa Ana ingin menikmati hujat tersebut dengan perasaan yang sangat bahagia.
Mengingat kembali masa kecilnya serta kenangan indah di Indonesia. Orangtunya bahkan tidak peduli dengan Ana yang di Inggris. Ana bagaikan wanita yang hidup sendiri dan tidak memiliki keluarga.
Ana bertemu dengan seorang pria yang langsung menghentikan jalan Ana.
"Ana? Mau kemana kau? Hari sedang hujan." Joe adalah salah satu orang yang tinggal di apartemen sebelahnya.
Pria itu pulalah yang menjadi teman Ana di kampus. Mereka memiliki hobi yang sama dan juga suka menulis.
"Aku sedang lelah Joe. Aku ingin bermain hujan."
"Kau bodoh atau bagaimana? Kau bisa sakit Ana," lirih Joe dan menarik tangan wanita itu agar kembali.
Ana tersentak dan kontan mengikuti pria itu dari belakang. Ia pun menarik napas panjang dan terus melangkah mengikuti Joe yang malah mengajaknya ke rumahnya.
"Joe," keluh Ana sambil menarik napas panjang.
Joe memutarkan bola matanya dan menyuruh agar Ana duduk di sofa menunggu dirinya menyiapkan makanan.
Pria itu keluar dengan membawa pizza yang baru saja ia keluarkan dari dalam kulkas.
"Mari kita makan. Aku membuatnya sendiri malam tadi dan kau harus menyicipinya," ujar Joe dan mengambil potongan pizza tersebut dan menyodorkan ke mulut Ana.
Ana tersenyum lebar dan kemudian mengambil pizza itu dan memakannya sendiri.
"Aku bisa sendiri."
"Nah itu yang aku ingin dengar dari mulut kamu," uanrnya pada Aurora lalu menggelengkan kepala bersama.
Ana terkekeh mendengar ucapan pria tersebut. Joe memang bisa membalikkan moodnya. Ia pun sudha memiliki semangat kembali dan tidak berlarut dalam kesedihan.
"Terimakasih."
"Dari pada kau keluar dan bermain hujan lebih baik menikmati pizza dengan ku, bukan?" tanyanya pada Ana dan Ana mengangguk setuju dengan ucapan Joe barusan. "Kenapa kau tiba-tiba ingin bermain hujan?"
"Entahlah aku hanya merindukan masa kecil ku."
__ADS_1
"Oh seperti itu? Aku harap kau bisa menikmati waktu kita dan menjadi kenangan untuk di masa depan." Ana tertawa gelak mendengar pernyataan konyol yang keluar dari mulut Joe..
"Kau benar Joe, dan aku juga tidak bisa terus berada di dalam kesedihan."
"Kau memikirkannya lagi?" tanya Joe yang seolah menyadari hal apa yang telah membuat Ana sedih.
Ana menatap Joe dan matanya sudah menunjukkan hal yang sebenarnya. Joe menghela napas panjang dan menepuk pundak wanita tersebut.
"Aku tidak tahu harus melakukan apa. Ia semakin parah Joe, dan terlebih dia baru saja mengirimkan chat untuk ku!"
"Hah?"
"Aku menggunakan akun fake milik ku. Dan tidak tahu kenapa aku bisa dikirim chat olehnya."
"Mungkin dia ingin menjadikan kau mangsa selanjutnya."
"Apa yang kau katakan Joe?" tanya Aja tidak senang.
"Ouuu santai dulu. Aku hanya bercanda," kekeh pria itu dan kemudian kembali memakan pizza dan Ana hanya mendengus kesal kepada laki-laki tersebut.
_____________
Sementara di Indonesia Dika memejamkan mata sambil merasakan sakit di seluruh tubuhnya. Ia baru saja kecelakaan dan tidak ada keluarga pun yang datang.
Mungkin hanya Ana. Wanita itu entah berada di mana. Keluarga Ana pun juga sudah tidak ada di Jakarta hingga membuat Dika kehilangan akses untuk mendapatkan Ana.
Dika menarik napas panjang dan menatap dokter yang masuk ke dalam kamarnya. Dokter tersebut memeriksa keadaannya.
"Jangan banyak mabuk dan merokok lagi yah."
"To.lol? Badan gue luka dan gak ada hubungannya dengan mabuk-mabukan dan merokok."
"Karena itu akan memperburuk luka kamu Nak."
"Siapa Lo ngurusin hidup gue?" tanya Dika dengan nada tak senang kepada dokter tersebut.
"Dika apa yang kau katakan?" tanya ibu Dika yang baru saja datang dan memarahi Dika.
Dika terkejut ternyata ibunya akhirnya memiliki waktu untuk dirinya. Ia pikir orangnya tidak akan pernah datang menjenguk dirinya.
"Kau ada di sini? Buat apa?"
"Dika!" tegur ibunya dengan mata melotot mendengar ucapan Dika.
__ADS_1
"Benar apa yang aku katakan?" tanya Diak membuat ibunya menahan malu di depan dokter.
"Ibu Dika?"
"Benar."
"Apa bisa ikut ke ruangan saya dulu."
Ibunya tersebut menyetujui dan Dika menghela napas panjang melihat sang ibu yang pergi bersama dokter tersebut. Pria itu mengepalkan tangannya mengingat kembali wajah ibunya yang marah kepadanya.
Dika ingin mengambil sikap bodoh amat dan kemudian tidur seolah tidak ada terjadi apapun.
Namun tak lama ibunya datang kembali dan menghela napas melihat anak laki-lakinya.
"Nak,"ujarnya lembut dan merasa prihatin dengan kondisi Dika.
Dika membuka mata dan menatap tak suka sang ibu.
"Kenapa kau datang? Di mana suamimu?" tanya Dika seolah menganggap ibunya bukanlah wanita yang sudah melahirkan dirinya.
"Dika, kau tidak boleh berbicara seperti itu."
"Mulut-mulut gue, terserah gue." Akhir-akhir ini Dika sangat jarang minat orangnya di rumah dah jika pun ada hanya beberapa hari saja. Mereka sama-sama sibuk dan jika berkumpul maka akan bertengkar.
Dika lelah dengan kondisi keluarga yang seperti itu. Ia ingin mendapatkan keluarga yang sangat bahagia. Namun tampaknya tidak ada.
"Pergi dari rumahan gue. Gue lelah pengen tidur. Kau mengganggu," ujar Dika membuat sang ibu menahan sakit.
"Maafkan Mama." Dika tertegun mendengar ucapan sang ibu.
"Telat. Balikin adek gue ke rumah. Cuman dia sahabat gue di rumah dan lo ngantar dia ke tempat nenek."
"Jika tidak begitu dia akan trauma."
"Lo sadar dengan perbuatan lo tapi kenapa lo gak sadar-sadar dengan perbuatan kalian ke kami dan akan memberikan kami dampak yang buruk. Pernah kah kalian berpikir bagaimana perasaan kami mendapatkan perlakuan buruk dari kalian, kalian tidak pernah peduli."
Dika menangis. Ia benci kepada dirinya yang lemah dan mudah menangis. Dika tidak tahu apa yang harus ia lakukan untuk mengobati luka di hatinya.
Rasanya sudah sangat sakit dan tidak dapat disembuhkan lagi. Mungkin ini juga yang Ana rasakan ketika orangtunya tidak pernah menganggap dirinya dan malah mengusirnya ke Inggris hingga tidak hanya Ana yang terluka namun tetapi dirinya juga merasakan sakit yang sama.
__________
Tbc
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA