
Ana menatap ibunya di depan. Tak pernah Aurora sangka jika wanita di depannya tersebut yang sudah membesarkannya dari lahir bukanlah ibu kandungnya. Ana mencengkram tangan dengan erat menguatkan hatinya dan tetap tersenyum walau luka di hati perih.
Ia menahan air matanya yang sebenarnya sangat ingin keluar. Namun Ana sama sekali tak membiarkan air mata tersebut keluar.
Vanessa menatap Ana remeh. Ia belum mengetahui jika Ana sudah mengetahui kebenarannya. Ana menatap Misla, Misla adalah anak haram ayahnya dan Vanessa. Selama ini Ana sudah hidup dengan pembunuh ibunya.
Andai mereka tidak melakukan hubungan tersebut mungkin ibunya sampai sekarang masih hidup. Ana tak bisa membayangkan betapa menggenaskan ibunya. Mati bunuh diri karena tak sanggup dan depresi menahan segalanya saat ia mengetahui kebenarannya.
Ana pada saat itu masih kecil dan belum bisa melakukan apapun. Ia bahkan belum benar-benar mengenali ibunya. Dan sekarang Ana baru mengenal siapa itu ibunya.
Ana sangat menyesal bahwa ia mengenal sang ibu di saat ia sudah dewasa. Sudah lama ia menjalani kehidupan ini dan mungkin ibunya Ana berharap jika ada anaknya mengirimkan doa untuknya.
Namun Ana yang sama sekali tak mengenal sosok ibu tak pernah memberikan apa yang diharapkan sang ibu. Apalagi ibunya mati dalam keadaan bunuh diri, tentunya itu adalah mati yang sangat terkutuk.
"Kenapa kau menangis menatap kami? Oh apa kau merindukan kami? Kau menyesal sudah meninggalkan rumah? Kau lihat sendiri kan kau yang pulang ke kami dan memohon-mohon agar dimasukkan ke dalam kartu keluarga," ujar Misla yang sama sekali tak berdasar.
Ana mencengkram kedua tangannya erat. Ia tersenyum tipis. Senyuman di balik rasa sakit. Wajah wanita itu ia buat senatural mungkin.
"Sesuai janji ku, aku tidak akan pernah menyesal. Aku ke sini hanya ingin menyelesaikan apa yang patut aku selesaikan."
Vanessa mengangkat satu alisnya. Ia menatap Ana dari atas sampai bawah. Ia rasa Ana bukanlah orang penting.
"Kau berlagak seperti kau orang penting saja," ujar Vanessa yang bermaksud menyindir Ana.
Ana sama sekali tak peduli dan bukanlah orang yang selalu mempedulikan omongan mereka. Buktinya Ana dapat bertahan hidup selama ini di atas cacian dan makian orang-orang. Meksi hatinya terkadang juga tak sanggup menahan rasa sakit itu.
"Aku hanya ingin bertemu dengan ayah ku. Bukan kalian," ujar Ana dingin.
"Kau tahu, ayah bahkan tak peduli lagi pada mu. Tidak ada yang peduli dengan mu. Kami sudah berbaik hati kepadamu, dan kau malah menganggap kamu musuh mu dan memutuskan pergi. Itu pilihan mu," ujar Misla.
__ADS_1
Ana menundukkan kepala. Semuanya palsu jika ia tahu dari dulu jika bahwa ia bukanlah anak yang diharapkan mereka Ana pun tak akan mau bersama mereka dan dibesarkan mereka. Ana lebih ikhlas menjadi anak jalanan yang bisa bebas.
"Aku ingin mencari ayah ku bukan kau. Dan aku juga tak butuh ucapan kalian," ujar Ana dan tersenyum tipis.
"Anak kurang ajar!! Kau anak yang tidak berbakti dan durhaka!!" bentar Vanessa dan hendak menampar wajah Aurora.
"Lebih kurang ajar orang yang merebut suami orang dan hingga orang yang diselingkuhi bunuh diri. Lebih kejam siapa?"
Deg
Vanessa terdiam dan mengepalkan tangannya. Dari mana Ana mengetahui itu semua. Ia menatap Misla dan meneguk ludah dengan kasar.
Vanessa berusaha untuk tetap sabar dan pergi namun Ana tak akan membiarkan wanita penjahat itu pergi.
"Kau tahu saat ini kau benar-benar menjijikkan!!" teriak Ana dan mengepalkan tangannya, "wajah mu sama sekali tak menunjukkan kau bersalah. Seolah apa yang kau katakan benar, kau tidak lebih buruk dari aku. Kau perebut suami orang dan menghina anak sah dari ayah ku!!! Kau benar-benar keji!!" teriak Ana dan bersamaan itu air matanya jatuh. Padahal Ana sudah menahannya namun air mata tersebut tak bisa ditahan lagi oleh Ana.
Ia sudah lelah dan dirinya tak sanggup untuk menahan rasa sakit itu. Kesabaran dan pertahanan orang juga ada batasnya. Dan Ana sudah mencapai batasannya.
Ana menatap Misla dan tersenyum miris. Tangan wanita itu mengepal menguatkan perasaan di hatinya. Biarkan orang-orang mencacinya dan tak peduli padanya. .
"Misla apa kah kau selama ini tak malu?"
"Kenapa aku harus malu? Ayah ku lebih dulu menikah dengan ibu ku. Seharusnya yang dikatakan perebut itu adalah ibu mu karena ibu ku lebih dulu menikahi ayah ku."
"Jika ibu ku tahu dia juga tak akan mungkin ingin menikah dengan ayah mu!"
Brakk
Pintu pun dibuka dan Aja tersenyum sinis melihat pria yang baru saja datang. Ana menatap orang tersebut dengan wajah masam. Wajah tak senang dan penuh dengan kekecewaan.
__ADS_1
"Kau tahu apa yang sudah kau lakukan itu benar-benar sangat memalukan," ujar Ana to the point.
"Apa yang kau maksud? Kenapa kau di rumah sini? Kau sudah tidak diterima di sini. Kau sendiri yang memutuskan hubungan kekeluargaan kita!!"
"Setelah kau mengusir ibuku dan membuat ibu ku bunuh diri dan sekarang kau tak pernah peduli lagi dengan anak mu. Aku anak kandung mu!! Jika ibu tahu perbuatan mu dulu mungkin dia tidak akan pernah peduli dengan mu dan tak akan mau menikah dengan mu!!"
Toni terdiam. Ia menatap Vanessa dan Misla. Vanessa menggelengkan kepalanya jika ia tidak tahu dari mana Ana mengetahuinya.
"Jadi benar? Benar-benar keji kau!!" teriak Ana di depan wajah Toni. "Wajah sombong mu ini yang tak merasa bersalah sama sekali ini tak bisa bersanding dengan ibu ku!! Dia tak cocok sama sekali dengan mu. Kalian tahu, kalian seperti apa sekarang? Sangat tidak tahu dimalu!"
Plakk
Anak menyentuh pipinya yang baru saja ditampar oleh ayahnya. Ana tersenyum pedih sembari menatap dalam mata ayahnya. Ia mengepalkan tangan. Begitu teganya Toni memukul anak kandungnya sendiri.
"Tutup mulut mu Ana!! Kau dan ibu mu sama saja. Kalian berdua benar-benar jalan.g!!"
Ana menghela napas panjang. Kedua tangannya mengepal. Bisa-bisanya ayahnya menghina ibunya yang sudah tidak ada.
"Kau!!" Ana mendorong tubuh Toni dengan kuat namun Toni yang lebih kuat dari Ana malah membalas Ana dan mendorong tubuh Ana hingga Ana terbentur ke tembok dengan keras.
Kepala Ana pecah ketika membentur tembok itu sangat keras. Semua orang di tempat itu panik saat melihat pendarahan yang mengalir kuat dari kepala Ana.
Surat undangan untuk pertunangannya dengan Dika terlepas. Misla mengambilnya dan terkejut saat melihat surat itu. Ia pun beralih menatap ke Ana yang sudah tidak sadarkan diri.
"Bagaimana ini?" tanya Misla dengan panik.
___________
Tbc
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA