
Typo bertebaran
_____________
Dika menghentikan motornya tepat di depan sebuah taman. Pria tersebut membantu wanita yang berada di boncengan motor milikinya turun. Raut wajah Ana sedikit lesu akibat mabuk perjalanan yang menghampirinya, namun hal itu tidak berlangsung lama.
Setelah itu keduanya duduk di salah satu bangku taman yang ada di sana. Ana memperhatikan Dika yang terlihat sangat gelisah, dan tak lama cowok itu menatap dia dengan ragu-ragu, sepertinya ada hal yang ingin di ungkapkan oleh laki-laki itu.
"Kamu kok nggak duduk? Sini duduk di samping aku!" Ajak Ana dan meraih tangan Dika yang terasa dingin, lalu dengan pelan ia membawa laki-laki itu ke sampingnya.
"Ana!" Serunya pelan.
"Iya."
"Aku mau minta maaf soal yang kemarin sering nyakitin kamu. Ka-kamu mau maafin aku kan?"
______________
Ana yang sedang serius menatapi hamburan bintang pun langsung menatap Dika tidak mengerti. Kerutan di kening perempaun itu terlihat bertanda ia tidak tau apa maksud ucapan laki-laki itu barusan. Seolah mengerti dengan tatapan Ana, Dika menjauhkan wajahnya dan menatap lampu taman dengan datar.
"Apa kamu bilang tadi?"
"Nggak papa kok. Anggap aja tadi angin lewat," ucapnya sembari melipat tangan di dada. Cowok itu menadahkan kepalanya keatas mengamati ribuan bintang yang letaknya tak beraturan.
"Ih apanya enggak ada. Jelas-jelas kamu tadi ada ngucapin sesuatu. Ahh Dika bilang dong." Mendengar desahan Ana yang menggemaskan di telinganya membuat ia tak tahan lagi.
Lantas cowok tersebut menatap Ana yang di sampingnya. "Lo yakin mau tau?"
Ana mengangguk.
Melihat desakan dari Ana membuat Dika semakin yakin mengucapkan permintaan maafnya, meski masih ada rasa sedikit gugup di dadanya. Tapi itu tak membuat Dika kembali pesimis seperti beberapa menit yang lalu. Ia menghadapkan tubuhnya ke arah Ana, lalu meraih kedua telapak tangan wanita itu dan menggenggam tangan tersebut. Sedangkan mata mereka saling bertubrukan dengan durasi melebihi batas seharusnya.
"Ana." Panggilnya lembut dengan suara serak.
Deg. Jantung Ana berdentum hebat di dalam tubuhnya. Mengapa Dika seperti ini, apa jangan-jangan cowok itu ingin mengatakan sesuatu yang cukup serius. Atau jangan-jangan laki-laki itu ingin mengungkapkan perasaannya? Tapi kenapa secepat ini, mereka saja masih baru akur. Aduh Ana lo nggak boleh mikir-mikir yang begituan, nggak mungkin lah Na.
"I-iya." Ana melirikan matanya kebawah tepatnya kepada tangan Dika yang menggengam tangannya. Meski rasanya nyaman, namun tetap saja ini tidak benar.
"Aku-Mau minta maaf soal aku yang selalu ngebuly kamu di sekolah. Kini aku sadar siapa orang yang ada disaat aku sedang dalam masalah. Orangnya itu adalah kamu Ana. Kamu mau kan maafin aku? Kalau enggak juga nggak papa kok," ucapnya penuh harap. Kesadaran di hatinya baru ia rasakan ketika ia melihat ketulusan Ana yang baik kepadanya.
Ana tertegun sesaat. Matanya menatap mata cowok itu untuk mencari kebohongan di mata laki-laki tersebut. Namun nihil sama sekali tidak ada ia rasakan bahwa ada dusta belaka di mata laki-laki itu. Tapi ia tidak mudah hanyut tenggelam dengan perimtaan maaf pria itu dengan gampangnya. Bisa sajakan Dika hanya berbohong mengucapkan maaf kepadanya, berkat akting yang dimiliki cowok itu sehingga membuat ia sangat sulit untuk memindai kebohongan yang terdapat.
Tapi entah mengapa di dalam hati kecil perempuan tersebut membisikkan bahwa apa yang telah diucapkan Dika tidaklah berbohong. Laki-laki itu tulus mengatakannya dan ia pun telah menyesali atas perbuatan buruknya kepada Ana.
"Ka-mu serius Dika?"
"Iya Na. Aku serius minta maaf sama kamu. Jadi gimana kamu maafin aku nggak?" Pintanya kembali. Dika tidak pernah mengalami dititik terendah seperti ini, meminta-minta maaf dari seseorang. Tapi demi memperbaiki hubungannya yang bisa dikatakan sangat renggang, ia rela melakukan apa saja walaupun ia harus menyerahkan nyawa sekalipun. Yang penting ia akan tenang dan tidak dikejar-kejar dengan rasa bersalah.
"Kalau aku bialng enggak gimana?"
Laki-laki tersebut menundukan kepalanya, sesaat kemudian ia kembali mengangkat ke atas sembari mengamati benda langit dimalam hari. Senyuman getir terukir dikedua sudut bibir pria itu. Mungkin nasibnya memang seperti ini, dan tuhan juga tidak akan pernah rela melihat ia bahagia walau sebentar. Jika ia bisa mati sekarang juga, maka ia akan melakukannya.
"Nggak papa. Itu hak kamu untuk memilih, aku hanya menerima jawaban Ya atau Tidak dari kamu."
Ana memejamkan matanya dan menikmati semilir angin malam. Jari-jari kakinya bergerak gelisah, ia saat ini sedang bingung harus berbuat apa. Mungkin diam dan menjeda keadaan bisa membuatnya lebih tenang dan berpikir apa yang harus ia lakukan. Rekaman memori masa lalu kembali berputar membawanya disaat ia menerima beberapa hinaan dan cacian dari cowok itu. Tak dapat ia hitung berapa kesalahan yang diperbuat Dika dari sejak awal mereka berjumpa hingga sampai beberapa hari belakangan.
Laki-laki tersebut sejak bertemu dengannya saja sudah melemparkan tatapan hina, belum lagi siksaan yang ia terima dari cowok itu, dimana ia dipermalukan di depan umum, membuat dirinya selalu mendapat hukuman dari guru, dan suka melemparkan sesuatu ketika ia sedang berjalan. Dan banyak lagi pengrendahan lainnya, berat hati ini untuk memaafkan jika teringat itu kembali.
Setets genangan air jatuh dari mata indah itu. Dengan kekutan penuh ia menarik napasnya dalam-dalam lalu menghembuskan secara perlahan. Sebuah jemari mendekati wajahnya dan menyeka air mata itu, tapi sebelum tangan tersebut dijauhkan dengan sigap ia mencekalnya dan menurunkan tangan tersebut pelan-pelan.
__ADS_1
"Na."
"Maaf aku nggak bisa," ucapnya pelan. Air mata semakin deras jatuh dari pupil mata wanita itu.
Sedangkan Dika terlihat kecewa atas jawaban Ana. Ia tak menyangka bahwa perbuatannya begitu menyakitkan bagi perempuan itu. Penyesalan selalu datang terlambat menghampirinya. Ia akan berusaha keras menerima semua ini, walau masih terasa perasaan tak rela. Meski maafnya tidak diterima, Dika berusaha agar terus tersenyum.
"Yaudah Na. Hari udah malam, kita pulang aja yuk."
Ana menatap sendu pria di sampingnya. Ia masih ditempat seraya menyaksikan langkah Dika yang terlihat menyakitkan. Setiap telapak kaki cowok itu menginjak tanah dan sebanyak itu pulalah tersirat sakit dan penyesalan di dalam hati Dika yang amat rapuh. Ana berasa ia bagaikan orang jahat telah begitu tega membuat Dika menjadi merasakan ia tak pantas ada di dunia.
Ana berlari kearah Dika. Laki-laki tersebut langsung terdiam seribu bahasa kala merasakan tubuh kecil sedang merangkuhnya dari belakang. Ia membiarkan saja Ana mendekap tubuhnya meskipun sampai dunia akan kiamat.
Dika membalikan tubuhnya hingga ia berhadapan langsung dengan tubuh ramping Ana. Mata menggemaskan tersebut mendongak menatap berani mata laki-laki itu. Untuk sesaat mereka saling bertatapan dengan posisi masih dalam berpelukan, rumput dan dedaunan menjadi saksi bisu kejadian mustahil tapi nyata.
"Dika aku maafin kamu," lirih Ana di dalam pelukan laki-laki tersebut. Ia tak pernah merasakan pelukan yang senyaman ini seumur hidupnya, haruskah ia berterimakasih kepada Dika yang telah membuat dia hari ini merasakan warna dari kehidupan? Sekarang ia telah mengetahui arti hidup yang sesungguhnya. Bolehkah ia meminta kepada tuhan agar memberikan izin kepada Ana yang ingin hal ini selalu tetap terus begini. Selamanya.
Dika tidak sanggup berbicara, yang ia dapat lakukan hanya membalas pelukan dari cewek tersebut. Setitik air mata jatuh dari mata hazel nut miliknya. Kenapa mendapatkan maaf dari Ana perasaannya begitu senang. Sudah lama ia tak merasakan perasaan senang seperti sekarang. Ia tak bisa menyangkal lagi bahwa Ana berpengaruh besar bagi hidupnya.
"Na! Makasaih udah mau maafin aku."
Ana mengurangi pelukan mereka hingga benar-benar terlepas. Keduanya hanyut pada pikiran masing-masing.
"Iya Dik."
Keduanya bertatapan dengan bahagia. Dika menyeka bulir air mata yang terdapat pada mata Ana. Sebuah ulasan senyum ia berikan kepada perempuan tersebut dan dengan lemubutnya pula ia menyelipkan anak-anak rambut yang berterbangan diterpa angin malam ke balik daun telinga gadis itu. Hati Ana mencelos ketika Dika melakukan hal manis itu kepadanya. Ia merasa seperti princes di negri dongeng.
Gadis tersebut melirik pada gelang jam di tangannya, sebuah raut sedih tampak di wajahnya. "Yah. Aku harus pulang."
"Kalau gitu aku akan ngantarin kamu kerumah."
"Yah emang haruslah. Kan kamu yang bawa aku kesini, jadi kamu juga yang bakalan antar aku pulang kerumah."
Gadis tersebut mengkerutkan keningnya, "apa?"
"Boleh nggak kita sahabatan aja?" Ana terdiam kala permintaan itu dilontarkan Dika. Hatinya ingin mengharap lebih, namun Ana ingat batasan. Ia hanyalah orang yang tidak terlalu penting di dalam kehidupan cowok itu, jadi itu tidak akan pernah terjadi, dan mungkin selamanya.
"Iya."
"Kalau gitu mulai sekarang kita adalah sahabat." Keduanya sama-sama menautkan jari kelingking berjanji akan selalu menjadi sahabat, tidak lebih dan tidak pula kurang.
__________
Suara-suara ribut memenuhi gedung sekolah Mutiara Hati. Terdapat anak-anak yang sedang berlari dan juga ada sekelompok anak perempuan yang sedang bergosip ria seperti biasa. Sudut-sudut ruangan dipenuhi dengan siswa-siswi yang sedang menikmati masa istirahat mereka. Ada yang memilih membaca novel dan ada pula yang lebih memilih pergi ke kantin baik untuk makan atau melakukan kegiatan lainnya. Di taman sekolah terdapat seorang perempuan yang menghabiskan waktu istirahatnya berkutat dengan laptop. Perempuan tersebut terlihat serius kala meminkan jari-jarinya diatas papan tombol laptop, cepat dan lincah jemari-jemarinya menari mengetik bait perbait.
Dilain tempat yang masih di dalam area taman, seorang pemuda tampan berdiri di sana. Ia mengenakan seragam basket dan juga otot-otot lengannya dipenuhi dengan keringat. Aroma maskulin menyeruak dari tubuh pria itu, dan dikedua tangannya terdapat minuman mineral. Ia berjalan menghampiri perempuan yang sedang duduk di bangku taman sembari tersenyum.
Kala sudah berdiri di samping perempuan tersebut. Laki-laki itu membawa bokongnya duduk di samping wanita itu. Sepertinya sang wanita belum menyadari kehadiran dari laki-laki tersebut. Ia begitu asyik bergulat dengan laptop yang berada di pangkuanya hingga tak tahu seorang laki-laki tampan sedang mengamati wajah seriusnya. Ana menutup laptopnya saat ia telah menyelesaikan tulisannya. Hemubusan napas lelah menderu keluar dari hidung perempuan itu. Ketika ia hendak membalikan badannya kesamping sebuah suguhan menggugah selera mampu membuatnya terkejut. Dengan susah payah ia menelan slivanya, matanya membulat mulutnya ternganga. Kaget saat melihat seorang laki-laki bak malaikat duduk di sampingnya, belum lagi otot-otot kekar yang dimiliki laki-laki itu dapat ia lihat jels dari jarak dekat. Ya Allah apa ini sebuah rezekinya di siang bolong?
"Aku tau aku itu tampan, jadi nggak usah gitu juga kali terpesonanya." Ana tersadar ketika Dika menyinggung dirinya. Dengan salah tingkah ia memalingkan wajah yang sudah berwarna merah akibat sihir terampuh di dunia.
"Eh-ah Dika. Ada apa kamu kesini?"
"Jadi aku nggak boleh kesini?" Tanya Dika menghunus nyali Ana melalui tatapan kabut mengintimidasinya.
Ana menyengir panik, "bo-boleh kok. Jadi kamu mau apa?"
"Nih gue bawain kamu minuman," ujar Dika seraya menyerahkan satu botol minuman kepada perempuan tersebut.
"Makasih," ucapnya halus lantas membuka tutup botol minuman itu dan mendekatkannya ke bibir seraya meneguk air tersebut.
__ADS_1
"Oh ya, kamu tadi lagi nulis apaan?"
Ana menoleh kepada Dika sebelum melirik pada laptop yang bertengger di pangkuannya.
"Novel."
"Jadi kamu Author dong?"
Ana menganggukan kepalanya.
"Emang apa judul novel kamu?" Dika melipat kedua tangannya sembari mengamati perempuan yang berada di depan cowok itu.
"Surat cinta untuk...?" Mendengar kata surat yang terselip di judul novel Ana mengingatkannya kepada surat yang ia temui kemarin. Tak sempat dalam hitungan menit degup jantung pria tersebut terdengar tidak beraturan. Ia membuang wajahnya kepada objek pohon besar dan rindang yang berada tak jauh dari taman itu. Kalimat-kalimat rindu yang tertulis dalam surat kembali berputar di dalam kepalanya.
Ia memandang lirih Ana, sejuta kerinduan terpancar di dalam tatapannya. Ana bingung melihat perubahan Dika ketika mendengar nama judul dari novelnya. Apa ada yang salahkah dari judul novel karangannya?
"Kamu kenapa Dik?"
"Enggak. Aku cuman teringat sesuatu aja ketika mendengar judul novel kamu."
"Sesuatu apa?"
Dika memandang Ana lirih.
"Aku kemarin pernah menemukan selembar surat dan itu terjadi dua kali. Pertama aku menemukannya di cafe, dan kedua di sekolah kita. Ketika aku membaca kalimat-kalimatnya," Dika berhenti berbicara dan menunduk, "aku langsung jatuh cinta dengan isi surat itu. Dan saat itu juga aku langsung mencari tau siapa yang menulisnya. Namun, aku hanya menemukan jenis kelamin penulisnya saja yaitu seorang perempuan dan tempat perempuan itu sekolah. Ia juga bersekolah satu tempat dengan kita. Aku kira dengan satu sekolah mudah mencari siapa perempuan itu. Tapi, ternyata sampai sekarang aku belum juga mengetahui siapa penulisnya."
Sebuah rasa nyeri ia rasakan di dalam hatinya saat mendengar penjelasan Dika barusan. Tuh kan apa dia bilang, di hati Dika bukanlah ada namanya namun nama orang lain yang telah terukir indah. Ia ingin menampik rasa ini, namun sekeras apa pun ia berusaha rasa itu kembali hadir. Ia benci dengan rasa ini, ia ingin membunuhnya.
"A-pa yang bakal kamu lakuin jika telah menemukan orang itu?" Tanya Ana was-was dengan perasaan gundah gulana.
"Entahlah Na, aku belum mengetahuinya. Tapi mungkin aku akan bersyukur kepada Allah. Aku tidak tau apa harus berterimakasih saja kepada orang itu telah membuat surat begitu indah atau ada rasa lain yang akan aku sampai kan kepadanya," tutur Dika sembari memainkan botol air mineral di tangannya.
"Jadi kamu suka dengan surat?"
"Iya. Aduh Na kayanya aku harus kembali latihan Basket lagi. Kalau gitu aku tinggal ya."
"Iya."
Sedangkan dibalik semak-semak yang bergoyang dua insan muncul dari persembunyian mereka dengan tatapan yang mengarah kepada tempat Ana dan Dika mengobrol tadi. Mereka berdua tercangang tak percaya.
"Tadi itu beneran kan. Bukan gue salah liat kan?" Ia mengalungkan tangannya kepada teman yang berada di sebelah.
"Sepertinya begitu Rey. Gue juga nggak percaya. Sungguh pemandangan yang langka."
"Dan gue udah mengabadikannya dengan handphone ini," tunjuknya ke arah Deigo.
"Lo gila Rey. Itu poto bakal lo apain?"
"Kirim ke grup chat lah," jawabnya santai dan memasukan handphone milik laki-laki itu kedalam saku celana.
"Bakal abis lo di tangan Dika, Rey."
"Biarin aja, dia nggak akan berani macam-macam. Kakinya aja masih pincang."
Deigo melirik kawannya yang paling tidak bisa diajak kerja sama tersebut. "Gila lo."
_______
TBC
__ADS_1