SURAT CINTA UNTUK....?

SURAT CINTA UNTUK....?
Part 18 A


__ADS_3

Wellcome back


Jangan lupa like dan comen


Happy reading all.


Typo bertebaran sana sini


--------


Sedari lorong tadi Dika tak henti hentinya mencibir serta mengumpat umpat yang tak jelas saat ia merasakan Ana yang menuntun dirinya berjalan dengan laju.


Setiap mendengar kata kata cibiran yang di keluarkan Dika teruntuk dirinya, Ana selalu memutar bola mata malas. Terkadang juga saat Dika berkata kata seperti itu ia juga ikut mencibir Dika di dalam hati.


"Auuuu. Pelan pelan Na, lo nggak mikir gue yang kaya gini. Sakit tau Na, lo nggak ngerasain sih gimana sakitnya," ujar Dika menginstruksikan agar Ana pelan pelan saja berjalan.


"Iye-iye gue pelan pelan jalannya," tukas Ana dengan kesal. Sebenarnya Ana sudah sangat jengah mendengar keluhan Dika sepanjang jalan. Yang seharusnya jarak UKS dekat, kini seketika terasa jauh.


"Kita kemana Na?"


"Ih Dika, bawel banget sih. Ikutin aja gue."


Dika menatap Ana yang ia rangkul untuk sebagai penyangga dirinya, Dika mengamati wajah yang sempurna tersebut.


Ia mengamati wajah Ana yang begitu cantik dengan mata yang tak berkedip. Wajah yang begitu bisa menggoda iman seorang laki laki jika di lihat dari dekat seperti ia sekarang ini.


Ana orang yang di amati tidak menyadari jika ia sedang di perhatikan Dika dengan seksama. Ia hanya fokus ke jalan dan berusaha menahan bobot badan Dika yang lumayan berat.


"Dika!"


Dika tersadar dari amatannya. Ia menatap kearah depan dan kemudian ia memalingkan lagi wajahnya kepada Ana.


"Apa?"


"Lo gak liat apa di depan ada pintu," ucap Ana kesal pada Dika, karena cowok itu sudah kesekian sekali ia panggil tapi tak kunjung jua merespon. "CK! Pakai bengong lagi, gak bisa apa lo duduk dulu di kursi sebentar. Gue pengen buka pintu."


Dika yang mendengar perkataan Ana yang begitu terdengar dengan jelas akan kekesalannya itu pun langsung beranjak duduk di kursi besi yang memanjang yang terdapat di dekat depan UkS.

__ADS_1


"Jadi lo mau ngajakin gue ke UKS?"


Ana yang telah membuka pintu dan mendengar pertanyaan dari Dika pun langsung menatap cowok itu dengan muka yang semula dengan kesal kini bertambah kesal. Bagaimana ia tak kesal, jadi selama perjalanan cowok ini tidak menyadari bahwa jalan yang mereka lalui adalah jalan menuju ke UKS.


"Nggak! Kita ke kantin," jawab Ana kesal, "yaiyalah kita ke UKS Dika!! Lo pikir kita bakalan kemana? Ke Ancol?" Ucap Ana dengan penuh kesabaran agar tidak terjadi pertengakaran ia dan Dika di depan UKS, jujur Ana sekarang ini sedang lagi tidak mood untuk bertengkar dengan Dika. Sedangkan masalah di rumah saja belum selesai dan di tambah lagi dengan masalah di sekolah yang ada nanti dirinya akan mati berdiri.


"santai aja ngapa Na! Gak usah ngegas juga kali," kata Dika untuk mengingatkan Ana agar tenang tidak marah marah kepada dirinya.


Ia tidak mau pagi pagi begini harus mendengar suara nyaring Ana yang memenuhi gendang telinganya. Maka dari itu ia merespon kata kata kesal Ana dengan tenang seolah tidak masalah ia telah di kerasi oleh Ana.


Padahal di dalam hatinya, Dika terus mengumpat karena Ana telah berani berkata kata yang bisa di kategorikan kata kata Ana adalah sebuah bentakan.


Dika orang yang tepikalnya sangat keras dan tidak bisa di bentak itu tentu saja sangat marah saat ia mendengar ada orang yang telah mengusik dirinya. Namun amarah tersebut ia usaha pendam dalam dalam. Tunggu saja terlebih dahulu, ia pasti akan membalas semua kata kata kasar yang di lontakan Ana yang mencibir dirinya.


Ana membantu Dika berdiri dari tempat duduk. Ia membawa Dika kedalam ruang UKS tersebut dan di dudukannya Dika di ranjang UKS.


Dika memperhatikan Ana yang terlihat sangat sibuk dan terlihat bingung, tapi ia sama sekali tidak berniat sama sekali untuk menegur perempuan tersebut yang terus saja lalu lalang di depan dirinya seperti setrikaan.


Namun mulut Dika sangat gatal untuk menegur Ana sehingga ia pun membuka mulutnya dan satu seruan berhasil lolos dari mulutnya untuk bertanya apa yang membuat gadis tersebut kebingungan.


Ana yang mendengar sebuah seruan yang berasal dari tempat Dika berduduk manis langsung memandang cowok itu dengan dahi yang berkerut penuh tanya.


"Ada apa?"


"Gue perhatiin lo dari tadi mondar mandir depan gue. Emang lo lagi cari apaan?"


"Nggak. Gue cuman lagi cari letak obat. Gue lupa di mana letak obat di UKS ini," kata Ana dengan mata yang masih saja menelusuri setiapa sudut sudut ruangan.


Dika menatap Ana dengan tidak percaya. Jadi perempuan ini membawa dirinya di UKS tapi perempuan itu tidak tau di mana letak obatnya. Dika menggeleng tidak percaya atas kenyataan yang ia alami saat ini, ia juga tidak mengerti dengan jalan pikiran perempuan yang menjadi bahan buliyannya ini.


"Jadi lo buat apa ngajakin gue kesini kalau lo aja sendiri sama sekali tidak tau di mana letak obat obtannya. Dasar cewek gak jelas. Udah cupu, bodoh, pelupa lagi," omel Dika kepada Ana yang masih saja melihat sana sini mencari letak tempat obat.


Ana tak menggubris cibiran Dika yang sudah menjadi santapan pokoknya sehari hari.


"Hah itu dia!" teriak Ana kegirangan karena netranya secara tidak sengaja menangakap sebuah objek yang ia cari cari sedari tadi.


Ia mengambil peti P3K yang terletak di atas lemari yang tidak terlalu tinggi sehingga ia dengan mudahnya mengambil peti tersebut. Bisa di katakan juaga bahwa badan Ana tidak terlalu tinggi atau sedang. Ukuran badannya ialah setinggi 162 cm.

__ADS_1


Ana membawa peti P3K tersebut mendekati Dika. Ana meletakan peti tersebut di samping kasur Dika duduki, kemudian ia membuka peti tersebut dan mengambil obat luka yang ada di dalamnya.


Ana meneteskan obat tersebut di luka yang terdapat di lengan kiri Dika yang terluka cukup dalam. Setelah itu ia meraih perban putih yang ada di dalam sana dan melilitkannya kepada lengan Dika yang telah ia tetesi obat luka.


Ana kemudian mengobati lebam lebam Dika denagn cairan alkohol dan menekan nekan lebam tersebut dengan pelan agar Dika tak meringis kesakitan.


Jarak di antar mereka berdua sangatlah tipis sehingga dengan begitu jelas Dika melihat wajah Ana dari depan dengan begitu dekatnya. Ia memperhatikan wajah cantik tersebut dengan fokus, tiba tiba jantung Dika berpacu denga cepat tidak seperti biasanya.


"Cantik," gumam Dika yang masih dapat di dengar oleh Ana.


Ana yang mendengar gumaman Dika yang terdengar sangat pelan di telinganya langsung memberhentikan aktivitasnya mengobati lebam lebem yang terdapat di bagian wajah Dika. Ia memandang mata Dika.


"Apa tadi lo bilang?"


Laki laki tersebut langsung mengerjap kan kedua matanya dan membalas pandangan Ana. "Gue gak ada bilang apa apa," kilah Dika dengan gugup.


'Duh kok bisa ketahuan gini sih,' kata hati Dika.


"Jelas jelas lo tadi bilang gue cantik. Gak salah ni lo muji gue? Apa jangan jangan lo suka ya sama gue?" kata Ana dengan jahil.


"Gue gak ada muji lo cantik tadi. Udah lah kalau gitu gue cabut aja," final Dika dan berdiri untuk meninggalkan ruangan ini karena ia telah ketahuan sudah memuji cewek yang merupakn musuhnya, dan parahnya lagi ia ketahuan telah memuji perempuan itu. Malu woiii.


"Dika lo mau kemana? Gue belum selesai ngobatin lu!!"


"Bukan urusan lo gue mau kemana."


Ana meringis saat Dika memaksan dirinya untuk berdiri dan berjalan walaupun dengan teringkih ingkih. Cowok itu sungguh sangat keras kepala, tau bahwa ia belum bisa di katakan sembuh tapi tetap memaksakan diri untuk pergi.


"Dasar Dika!!" Cibir Ana, "kesambet setan apa tadi tu anak ngatain gue cantik ya," ujar Ana kepada ia sendiri.


"Ah tau ah."


------------


**TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN COMEN**

__ADS_1


__ADS_2