SURAT CINTA UNTUK....?

SURAT CINTA UNTUK....?
Part 37


__ADS_3

Dika tersenyum sumringah memasuki gerbang sekolah. Pria itu tampak sangat ceria. Bagaimana tidak, malam tadi dia hampir semalaman telponan dengan Ana.


Hal itu membuat mood di pagi harinya sangat cerah. Dika masuk ke dalam sekolah setelah memarkirkan motornya.


Pria itu menatap sinis Reyhan dan Diego yang telah memiralkan sebuah video. Mungkin bagi mereka hal itu sangat keren, nyatanya itu memancing murka Dika.


"Apa yang kalian lakukan kemarin?"


"Tidak melakukan apapun," ujar Reyhan.


"Reyhan, dalam keadaan gini pun lo masih bisa santai!"


"Buat apa gue takut? Cuman Dika kok."


Diego membulatkan matanya. Hanya Dika katanya? Dika gitu-gitu bisa membuat Reyhan menjadi gelandangan di jalan.


Diego tidak habis pikir dengan jalan pikiran laki-laki satu ini. Ia menarik napas panjang dan menggelengkan kepala.


"Untung Ana gak marah," ujar Dika dingin seolah masih marah kepada kedua orang tersebut terutama kepada Reyhan.


"Ceihh," ledek Diego.


"Apa yang lo bilang? Lo gak takut Dika marah sama kita?"


"Ngapain takut."


"Emang sesad nih anak," ujar Diego dan menoyor kepala Reyhan.


"Lo kalau jadi orang tuh punya perasaan dikit napa? Nih kepala woy. Main toyor gitu aja," kesal Reyhan kepada sohibnya Diego.


"Lo dari tadi senyum mulu Dik? Kenapa lo?"


Dika mendatarkan wajahnya. Pria itu tak menanggapi teman-temannya dan ia pun langsung masuk ke dalam kelas meninggalkan kedua temannya.


"Emang aneh tuh anak."


"Elo sih. Lagian paling si Dika lagi telponan sama ayang beb Ana."


"Emang mereka pacaran?" kaget Reyhan.


"Ya mana gue tau."

__ADS_1


Mereka pun masuk kelas. Mata Reyhan membulat sempurna melihat Dika yang baru masuk k yang keluar kelas terburu-buru, pahala bel sudah berbunyi.


"Lah baru masuk kelas juga udah keluar lagi."


"Lo bisa diam gak? Telinga gue sakit denger Lo ngomong mulu."


"Itu karena emang dasarnya telinga lo curikan," ujar Reyhan membuat mata Diego membulat.


"Bangsa.d lo!!"


"Wey kalem dikit lah woy. Santai cug."


"Mata lo!!"


"Mata gue kenapa?"


"Kecolok."


Reyhan berdecak mendengar Diego.


_____________


Dika mendatangi kelas Ana ingin menemui wanita itu. Ia mengernyitkan keningnya melihat tidak ada Ana di dalam kelas tersebut. Lantas pria itu mencari temannya Ana.


Lona yang merasa dirinya terpanggil pun menoleh dan melihat Dika di bibir pintu.


Lona menatap Cika. Ia berkomunikasi dengan wanita itu. Wajah keduanya meringis tidak tahu akan mengatakan apa kepada Dika.


Apalagi Ana meminta mereka untuk menyembunyikan hal tersebut dari Dika. Bagaimana bisa dia akan jujur.


Lona pun menghampiri Dika dan menatap pria itu yang seolah tengah bertanya kepadanya.


"Lo tahu di mana Ana? Kenapa gue gak liat dia dari tadi?"


"Lo gak tau kalau Ana hari ini gak masuk? Dia kan lagi sakit."


Sontak saja Dika melotot. Ia baru tahu bahwa Ana tidak masuk hari ini. Setahu Dika ia malam tadi berteleponan dengan Ana dan wanita itu masih baik-baik saja. Dika tidak menyangka pagi ini ia tak masuk karena sakit.


"Yaudah makasih," ujar Dika dan pergi.


Usai kepergian Dika, Lona menatap Cika dengan wajah meringis.

__ADS_1


Dika berjalan di lorong sekolah sambil mengeluarkan handphonenya dari saku celana seragam sekolahnya.


Cowok itu mencari nama Ana di dalam kontaknya. Ia pun memencet nomor wanita itu dan memanggilnya.


Namun nomor Ana sama sekali tidak aktif. Pria itu mengernyitkan keningnya tidak mengerti, ia pun terdiam penuh tanya. Ada apa dengan Ana?


Dika pun kembali menelepon Ana dan status wanita itu masih sama tidak aktif. Lantas Dika pun membuka WhatsApp miliknya dan ingin menelpon Ana.


Lagi-lagi Dika harus menelan kekecewaan karena nomor Ana sama sekali tidak aktif dan juga wanita itu terakhir online subuh tadi.


Dika menghela napas dan memutuskan untuk mengirimkan chat kepada Ana.


Ana Cantiq


Jangan lupa makan? Lagi sakit kan? Jangan malas buat makan ntar tambah sakit.


Masih centang satu dan Dika berharap secepatnya centang dua. Pria itu berusaha untuk tetap berpikiran positif.


Mungkin Ana sedang istirahat dan belum sempat memegang ponsel. Sepertinya alasan tersebut lebih masuk akal.


Dika menjadi tak memiliki mood untuk masuk sekolah. Pria itu berjalan menuju kelasnya kembali.


Di tengah jalan ia menatap ada guru killer yang menatapnya garang. Guru itu lagi, Dika sudah bosan berurusan dengannya.


"Iya tau Buk."


"Udah bel tuh masuk kelas, bukan keluyuran di sini. Di dekat sini bukan kelas mu."


"Tanpa ibu kasih tau saya juga tahu."


"Lah terus kenapa di sini?"


"Karena sudah takdirnya ketemu ibu di sini."


Dika nyelonong begitu saja dan berjalan meninggalkan ibu Zhafira yang menggeram marah melihat pria tersebut.


Dika tersenyum miring. Tak apa ia menjadi perbincangan di kantor nanti oleh guru-guru.


___________


Tbc

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA


__ADS_2