SURAT CINTA UNTUK....?

SURAT CINTA UNTUK....?
Part 48


__ADS_3

Tatapan Ana dan Dika bertemu pandang. Wanita itu hendak pulang ke apartemen miliknya nyatanya Tuhan mempertemukan dirinya dengan seorang pria yang sangat dirindukannya belakangan tahun ini.


Pria itu memandang dirinya dengan tatapan datar. Ana masih tak percaya bahwa Dika telah melupakan dirinya. Wanita itu mendekati Dika mencoba bertanya kepada pria itu.


"Dika!" sapa Ana kepada pria itu dan kemudian Dika memandangi dirinya dari atas hingga bawah. Hal itu membuat Ana tidak mengerti dengan tindakan yang dilakukan oleh Dika.


"Siapa lo? Orang Indonesia?"


Ana terdiam tanpa kata. Wanita itu bahkan tak sanggup mengeluarkan sepatah kata pun usai mendengar pertanyaan tersebut. Tumbuhnya rasanya lemas dan Ana berusaha agar tetap bisa tersenyum di wajah cantiknya tersebut.


Wanita itu menghela napas panjang dan kemudian menatap mata Dika.


"Maaf sepertinya aku sudah salah orang," ujar Ana dengan suara serak karena menahan rasa sakit yang sangat mendalam di hatinya.


Kemudian wanita itu pergi dan Dika terdiam sambil memandang punggung milik wanita itu. Ia tak salah, selama ini pencarinya dan sengaja mengurus perpindahan dirinya ke kampus ini demi Ana.


Namun semenjak pertama kali ia melihat wanita itu lagi, Dika selalu melihat Ana dengan pria lain.


Memang Dika tak memiliki hal untuk marah karena ia bukanlah siapa-siapanya Ana. Namun rasa sakit nyata dirasakan oleh Dika karena Ana seolah tengah memberikan dirinya harapan palsu.


Ana sendiri yang menyatakan perasaan cinta kepadanya dan wanita itu pulalah yang menghinati perasannya sendiri. Memang sudah sepantasnya Dika untuk berpura-pura melupakan wanita itu.

__ADS_1


"Gue gak nyangka lo setega itu sama gue," ujar Dika lirih dan kemudian masuk ke dalam mobilnya.


Pria itu menjalankan mobil tersebut meninggalkan halaman kampus.


____________


Ana tak berhenti menangis di dalam kamarnya. Wanita itu mencengkram dadanya dengan perasaan sakit. Sungguh tidak menyangka bahwa ia akan bertemu kembali dengan Dika dengan kondisi pria itu melupakan dirinya.


Seakan semua yang terjadi padanya hanyalah mimpi belaka. Ana menghela napas panjang dan mengusap air mata yang dari tadi tidak berhenti turun.


"Kenapa rasanya dunia sangat tidak adil kepadaku. Apakah aku memang harus diciptakan merasakan cobaan yang sangat sakit seperti ini?" tanya Ana lirih kepada dirinya sendiri lalu tertawa dengan rasa sakit.


Ana menatap ke depan dan air mata terus berlinang di wajahnya. Ia mengambil secarik kertas dan mencurahkan perasaannya di atas kertas tersebut.


Ia tak akan pernah bisa melupakan Dika. Karena itu memang sudah jadi takdir Ana.


Setelah selesai menulis surat, kemudian Ana membuat surat tersebut menjadi pesawat kertas.


"Biarkan hembusan angin ini yang akan membawa surat cinta tersebut kepadamu. Entah kau tahu perasaan ku atau tidak tetapi aku harap kau bahagia."


Harapan Ana yang hanya tersampir di harinya. Entah ke mana angin membawa surat tersebut.

__ADS_1


Tok


Tok


Tok


Ana lekas menghapus air matanya lalu keluar membukakan pintu untuk orang tersebut.


Ana tersenyum melihat orang itu yang ternyata Joe.


"Joe kenapa kau ada di sini? Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Ana kepada pria tersebut.


"Kau menangis Ana?"


"Hah?"


Joe mengusap sisa air mata di wajah Ana.


"Kau tidak akan pernah bisa berbohong pada ku."


_________

__ADS_1


Tbc


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA


__ADS_2