
Malam yang penuh dengan cahaya rembulan dan bintang bersinar membantu sang dewi bulan menyinari bumi manusia. Di depan rumah mewah bertekstur gaya ke eropaan terparkir mobil VAN hitam yang baru saja berhenti di sana. Tak lama keluarlah orang yang menumpangi mobil tersebut.
Dua laki-laki serta satu orang perempuan keluar dari dalam mobil itu sambil berekspresi tak bersahabat. Ketika di ruang tamu laki-laki yang lebih tua duduk di sofa dan di ikuti kedua orang lainnya. Suasana yang tak diinginkan pun melilit keadaan di ruang tamu itu.
"Awas kamu berbuat ulah lagi, jika kamu ketangkap kembali dengan polisi, ayah tidak akan mau lagi membantu kamu. Ini yang terakhir kalinya, jika kamu kembali malu-maluin orang tua, siap-siap aja angkat kaki dari rumah ini." Suara tersebut ialah milik Raka sang ayah yang sedang memperingati anaknya. Memang Dika telah di bantu oleh keluarganya keluar dari jeruji besi yang telah meringkup cowok itu.
"Iya, iya yah," ucapnya malas dan mengeluarkan alat komunikasi canggih dari dalam kantong celana jensnya. Dan memainkan handphone tersebut, tidak memperdulikan orang tunya yang sedang berpidato panjang lebar.
"Jangan iya, iya aja. Di dengarain, kalau kamu dapat masalah lagi, ayahmu tidak akan membantu lagi. Mama juga nggak bisa bantu apa-apa," nasehat Sikra yang menambahi pidato sang suami.
Anak muda yang sudah bosan dengan ceramah dari kedua orangtuanya tersebut dengan paksa mematikan layar ponselnya kasar. Ia memandang ayah dan ibunya satu persatu, lalu menghela napas panjang. Laki-laki itu muak dengan segala nasehat-nasehat ayahnya yang dianggap sok peduli, padahal apa? Hanya untuk kepentingan mereka saja. Ia bukan robot yang bisa dikendalikan semaunya, ia hanyalah seorang manusia yang mempunyai perasaan telah dikunci dan tidak bisa di ganggu gugat lagi, apa tidak sadarkah orangtuanya?
Pandangan kebencian dari pria itu begitu mengintimidasi setiap mahluk yang berada di sana, mungkin iblis saja langsung terdiam kala dihadapkan dengan pandangan yang seperti itu. Ia meraih jaketnya dan pergi dari sana tanpa sepatah katapun yang ia tinggalkan untuk menutup pidato ayahnya.
"Dasar nggak sopan kamu, orang tua lagi berbicara tidak di indahkan. Kok ayah jadi nyesal ya ngeluarin kamu dari penjara. Seharusnya ayah membiarkan saja kamu di penjara sampai jadi mayat." Raka berdiri dari tempatnya dan menunjuk anak laki-lakinya dengan kemarahan.
Ia berkacak pinggang dan kemudian mengusap wajahnya. Jika terus seperti ini Raka bisa-bisa ia akan masuk rumah sakit jiwa. Raka jujur tidak bisa menghadapi sang anak yang lebih mengerikan dari pada dirinya. Anaknya itu selalu saja menjadi biang kepusingan kepalanya. Bolak-balik di sekolah anak itu bukanlah hal yang tak biasa lagi bagi dirinya, tapi itu adalah rutinitasnya untuk konsul dengan guru pembimbing yang ia gaji untuk mengawasi Dika. Surat panggilan dari anak itu SD sampai sekarang jika di kumpulkan mungkin sudah menjadi bukit yang menandingi tingginya gunung krakatau. Ah mungkin itu berlebihan, lebih baik kita ambil dari hal kecil saja seperti satu lemari?
"Yaudah balikin aja Dika kalau gitu kepenjara."
Amarah yang mulai mereda, kini meluap kembali ketika mendengar jawaban sang anak yang terlihat santai dan menantang. Ia juga tidak biasa sepenuhnya menyalahkan Dika, sebab sifat dan keperibadian putra sulungnya itu kurang lebih mirip dengannya sewaktu ia kecil sampai remaja.
Di dalam kamar Dika langsung duduk di bibir ranjang dan membuka segala pernak-pernik yang terdapat di bagian tubuhnya. Cowok itu melirik jam tangan yang selalu ada buat dirinya bila ia membutuhkan benda itu. Menarik napas dan menghembuskannya dengan kasar, itulah yang bisa dilakukan ketika melihat waktu yang setiap hari terasa lebih cepat.
Roda kehidupan berputar seiring dengan waktu yang berjalan, namun apakah takdirnya juga akan berputar seperti roda? Atau tetap berdiam pada porosnya. Teka-teki tersebutlah yang belum bisa ia pecahkan. Mungkin hanya waktu yang menggiringlah dapat membantu dia menacari jawabannya.
Persetanan dengan itu semua, lebih baik ia memfreshkan otaknya saja. Memikirkan itu hanya membuat kepala cowok itu bertambah pusing, mendingan ia memikirkan yang adem-adem dan menyenangkan. Jika mencari ketenangan seperti ini kenapa terlintas nama Ana. Nama Ana Pricila begitu membekas di benaknya hingg-hingga bisa menunmbuhkan dunianya kembali.
Perempuan serba kekurangan di matanya tanpa ia sadari kini telah menjadi orang yang berharga di dalam hidup cowok itu. Ternyata takdir susah ditebak. Memikirkan Ana membuat Dika tiba-tiba merindukan perempuan itu, bagaimana kabar Ana sekarang?
Cowok tersebut bangun dari baringnya dan langsung berlari masuk kedalam kamar mandi. Selang beberapa menit ia kembali keluar dari kamar kebersihan itu. Tapi kini penampilannya terlihat lebih rapi dibanding yang tadi. Setelan hoodie hitam dan di imbangi dengan balutan celana jeans begitu cocok ketika ia gunakan. Laki-laki itu berjalan mengendap-endap agar aksinya tidak diketahui salah satu penghuni rumahnya.
__________
Seorang perempuan keluar dari kamar mandi dengan piyama yang melilit tubuhnya. Saat ia hendak mencapai ranjang sesuatu yang langka sukses membuat mata wanita itu melebar dan langsung berteriak ketakutan.
"Kyaaaa. Siap lo main masuk-masuk kamar orang?" Ana mengambil sebilah sapu ijuk dan memukulkan sapu tersebut kepada orang itu.
Orang yang menjadi korbanpun meletakan tangannya di atas kepala sebagai perlindungan dari serangan orang yang ia anggap tak memiliki perasaan atau memang tidak memiliki hati. Niat berkunjung baik-baik dibalas dengan sebilah sapu yang membogem habis seluruh tubuhnya, oh no ia begitu susah payah merawat tubuhnya dan kini dengan mudah dilecti, memang dia tidak salah menjuluki perempuan itu tersebut seperti singa betina.
"Stop, stop, stop. Bisa mati gue gara-gara sapu sialan ini. Ana ini aku. Dika."
Mendengar nama Dika dengan cepat ia membuang sapunya. Seketika mata perempuan tersebut langsung membulat. Ia panik kala melihat Dika yang hampir saja sekarat karenanya. Aduh memang tidak salah orang mengatakan dirinya bodoh, saat-saat genting seperti ini bisa-bisanya ia hanya memandangi saja tanpa ada tindakan.
"Woy singa punya hati nggak sih? Uh.. emang ya tenaga perempuan tidak bisa diragukan." Ana sibuk mencerna perkataan Dika, apakah perkataan tersebut bermaksud mengejek atau memuji?
"Ih.. Dika kamu nyebelin," rajuk Ana yang terlihat sangat menggelikan. "Kamu ngapain kesini?"
Dika menatap Ana sebentar sebelum ia duduk di atas ranjang wanita itu. Sedangkan di depan pria tersebut
seorang perempuan yang tengah meminta penjelasan berdiri menunggu jawaban.
__ADS_1
Dika mengamati pakaian Ana lekat-lekat. Ia menarik napas dalam, pakaian Ana cukup terbuka dan sangat menantang birahinya. Dasar anak ini sudahlah jendela tidak dikunici, dan sekarang berpakaian seperti ini. Gimana kalau ada orang yang masuk? Untung saja dirinya yang masuk, jika orang lain? Pasti sudah habis perempuan itu.
"Kok kamu bisa masuk sih. Aduh apa jangan-jangan jendela aku rusak lagi." Ana berjalan mendekati jendela kamarnya. "Huaaa. Jendala aku. Pokokonya kamu harus ganti rugi," marahnya kepada Dika.
Mata cowok itu berkedip dan tercengang. Jelas-jelas saja ia tidak ada merusak jendela kamar perempuan itu. Apa tak tau kah dia bahwa jendelanya saja yang memang tidak dikunci. Sial memang datang berkunjung kemari, mungkin kapan-kapan ia tidak akan lagi kesini.
"Na aku seriusan nggak ada negrusakin jendela kamu."
"Terus kenapa bisa kebuka. Yah nggak mungkin dong jendelanya bisa kebuka sendiri," bingung Ana. Kepalanya beberapakali menoleh kepada jendela kemudian kepada Dika.
"Dasar pelupa." Dika berdiri tepat di depan Ana kemudian pria itu langsung menjentik dahi perempaun itu. "Cepat kamu pakai baju yang agak bagusan. Aku bakal nungguin kamu disini."
"Emang buat apaan?"
"Pakai aja cerewett."
"Hiss," desis Ana dan berlalu dari sana.
Ia memilih beberapa pakaian untuk ia gunakan. Terserah saja bajunya, lagian ia juga tidak mengetahui apa yang akan dilakukan oleh Dika kepadanya. Yang terpenting ialah ia mengikuti saja perintahnya. Nyebelin, umpat Ana di dalam hati. Emang dia siapa merintah-merintah ia semaunya. Udah datang kaya jalangkung, sekarang semena-mena di rumahnya. Di belakang cowok itu ia memasang wajah mencibirinya sebelum melangkah ke kamar mandi.
"Ana cepetan!!" Teriak Dika seolah tahu bahwa Ana sedang mengumpati dirinya di belakang.
Ana tersentak dengan panggilan itu. Dengan lekas ia masuk kedalam kamar mandi sembari melangkah pelan-pelan agar tidak ketahuan ia belum mengganti baju.
"Iya. Iya. Sabar ngapa!!!"
"Buruann!"
Dua menit
Tiga menit
Sepuluh menit
Dika tidak bisa menahan lagi. "Ann___na," Dika mematung melihat tampilan Ana. Dengan susah payah ia menelan ludahnya. Ini beneran Ana? Sumpah ia belum pernah melihat Ana secantik seperti ini. Ini nyata atau memang matanya sudah rabun.
"Oiii. Dika," Ana melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Dika.
Cowok itu tersadar, dan langsung memalingkan wajahnya yang memerah. Apa kata Ana entar kalau ia juga bisa salah tingkah. Yang ada dirinya menjadi bahan bulyan perempuan itu. Ia menggaruk kepalanya dan memberanikan diri menatap Ana.
"Eh. Kenapa?"
"Seharusnya aku yang nanyain kamu kenapa? Emang ada apaan sih. Ada yang salah ya dengan penampilan aku."
"Enggak ada kok. Kamu cantik banget malam ini," puji cowok itu yang terlihat ada ketulusan dimatanya.
Jauh di dalam hati, Ana sangat bersyukur bisa seakrab ini dengan Dika. Semuanya bagikan mimpi, ia siap menerima apapun yang akan ia dapatkan dari hubungan baiknya dengan Dika. Tidak peduli ia dianggap orang seperti apa, tapi asalkan ia akan selalu sedekat ini dengan Dika. Takdir memang selalu mempunyai rahasia tersendiri yang susah dicari tahu oleh setiap manusia.
Ia berharap akan terus selamanya seperti ini. Jika ia bisa menghentikan waktu, maka di detik ini juga dunia akan tertahan dan selalu memutar kejadian itu-itu saja. Dika, sosok laki-laki yang dulu sangat dibencinya tak pernah ia sangka bahwa cowok itulah yang akan mengisi hatinya yang belum pernah dimasuki oleh siapa pun.
"Dik kita mau ngapain? Kok aku disuruh ganti baju?"
__ADS_1
"Aku bakal bawa kamu kesuatu tempat," Dika meletakan kedua tangannya di pundak Ana. "Aku tau kamu pasti bosan di rumah."
"Emang kita keluar lewat mana?" Dika menunjuk pada jendela yang ia gunakan tadi untuk masuk ke kamar Ana. "Jendela?"
"Iya." Kamar Ana yang terletak di lantai bawah membuat mereka lebih mudah lagi keluar dengan leluasa.
"Kamu yakin nggak bakalan ketahuan?"
"Yakin banget seratus persen."
Mereka keluar dengan hati-hati dari kamar tersebut. Dika merekayasa kamar Ana seolah wanita itu sedang berada di dalam. Jejak-jejak mereka dengan mudahnya laki-laki itu tutupi agar tidak ketahuan. Malam ini ia cukup setres, mungkin dengan menghabiskan malamnya bersama Ana bisa membuatnya mengerti apa artinya kasih sayang.
Suara mesin motor Dika yang terparkir juah dari depan rumah Ana terdengar membelah jalanan yang akan mereka lalui. Terliahat sekali Ana sangat bahagia di atas motor cowok itu, ia berteriak-teriak dan merentangkan tangannya melawan arus angin.
"Dika!!!" Seru Ana sembari sibuk dengan angin sepoi-sepoi yang menghantam tubuhnya.
"Kenapa!!" Ucap pria itu sedikit kencang agar suaranya dapat didengar oleh Ana.
"Apa yang paling kamu suka di dunia ini?"
"Balapan!"
"Kalau aku, sukanya di dunia ini adalah disaat momen-momen kita bisa seakrab sekarang," ucapnya sambil tersenyum dan membayangkan jika Dika akan selalu bersikap seperti ini selamanya kepadanya.
"Emang aku ada nanya?"
"Ih Dika apaan sih. Nyebelin." Ia mencubit pinggang Dika pelan melampiaskan kekesalannya.
"Ha ha ha ha," suara gelak tawa mereka yang bisa membuat siapa pun mendengarnya menjadi iri.
Terlintas ide jahil di dalam pikiran laki-laki itu. Dalam satu tarikan gas yang melaju kencang nyaris saja membuat Ana terjatuh dari motor.
"Dikaaaaa!!!"
Binatang-binatang serta mahluk tak kasat mata yang melihat tawa lepas mereka pun tersenyum. Malam ini akan menjadi sejarah bagi keduanya. Di mana malam inilah dua insan yang selalu terhalangkan dengan kegengsian akan di satukan sebuah rasa yang menyelinap masuk tanpa memberitahu terlebih dahulu.
Dika menghentikan motornya tepat di depan sebuah taman. Pria tersebut membantu wanita yang berada di boncengan motor milikinya turun. Raut wajah Ana sedikit lesu akibat mabuk perjalanan yang menghampirinya, namun hal itu tidak berlangsung lama.
Setelah itu keduanya duduk di salah satu bangku taman yang ada di sana. Ana memperhatikan Dika yang terlihat sangat gelisah, dan tak lama cowok itu menatap dia dengan ragu-ragu, sepertinya ada hal yang ingin di ungkapkan oleh laki-laki itu.
"Kamu kok nggak duduk? Sini duduk di samping aku!" Ajak Ana dan meraih tangan Dika yang terasa dingin, lalu dengan pelan ia membawa laki-laki itu ke sampingnya.
"Ana!" Serunya pelan.
"Iya."
"Aku mau minta maaf soal yang kemarin sering nyakitin kamu. Ka-kamu mau maafin aku kan?"
__________
TBC
__ADS_1