
Happy reading all
____________
Panasnya terik matahari yang bersinar tepat di atas kepala yang dapat membakar kulit manusia dalam sekejap pada hari ini. Sedangkan di bawahnya terdapat seorang gadis bernama Ana yang sedang menunggu seseorang. Entah siapa yang perempuan itu tunggu, yang pastinya orang tersebut adalah orang yang bakalan menjemput gadis itu pulang sekolah.
Cewek itu mengusap keningnya yang bercucuran keringat. Sesekali ia melirikan matanya kepada gelang jam yang melingkar di tangan kirinya. Jika waktu di hitung mundur, maka Sudah cukup lama ia berdiri di depan pintu gerbang ini, demi kesetiaan menunggu orang tersebut bahkan ia rela berdiri berlama-lama di sana tanpa menghiraukan rasa pegal di bagian kakinya yang ia rasakan. Sangking lamanya ia menunggu di sana bahkan hingga hari pun hampir gelap, tetap saja orang yang ia tunggu tunggu tidak datang juga. Ana mendengus kesal karena gara-gara orang itu waktunya yang seharusnya ia habiskan dengan kegiatan yang bermanfaat kini terbuang dengan sia-sia.
Sudah hampir letih tanganya untuk menelpon orang tersebut, namun satupun panggilannya tidak ada di jawab oleh orang itu. Tak lama ia ingin menelpon kembali, tiba-tiba saja handphone nya pun bergetar dan mati.
Ia pun beranjak dari situ dan berbalik ke belakang seraya berjalan mendekati halte dan duduk di sana. Pandangan cewek itu masih liar, ia menunggui orang itu dengan gelisah, pikiran dan hatinya berkecemuk tidak nyaman, pasalnya ia belum menyelesaikan novel online yang sudah di tuntut para pembaca setia.
Lagi dan lagi ia melirikan matanya ke tangan kiri yang meligkar gelang jam di sana, ia pun memasang topi jaketnya kekepala seraya memasang earphone ketelinganya dan menyetel lagu yang bakal ia putar serta menemani wanita itu menunggu orang tersebut. Rasa benci yang amat dalam kepada orang itu semakin bertambah, orang yang tak lain memaksa Ana untuk mengantarkan wanita itu kesekolah yaitu sang ayah sendiri.
Toni lah yang memaksa Ana untuk ikut bersamanya serta mengantarkan perempuan itu kesekolah dan juga berjanji akan menjemputnya sepulang sekolah. Namun janji itu sama sekali tidak di tepati oleh lelaki tua bangka itu. Ana yang mengingat janji dari ayahnya pun berdecih. Apanya ini yang namanya janji, kalau menjemput pun tak tepat waktu.
Sudah tiga jam lamanya ia menunggu sang ayah di sekolah hingga sampai-sampai warga sekolah Mutiara Hati tidak ada tersisa selain dirinya dan pak satpam yang selalu stay menjaga sekolah agar tetap aman dari gangguan orang luar maupun dalam.
"Non Ana belum pulang? Lagi nunggu siapa non? Nunggu den Dika ya?" Tanya satpam tersebut bertubi-tubi serta sambil meledek Ana. Satpam tersebut adalah satpam yang mempergoki Ana dan Dika yang sedang berciuman tadi, jadi yah begitulah pertanyaanya yang berprasangka jikalau Ana adalah pacar dari Dika.
Ana yang sedang fokus mengamati jalan dan mendengar pertanyaan dari satpam tersebut langsung mengalihkan pandangan kepada sang satpam yang sedang berada di samping dirinya. Ana mentapa tajam satpam tersebut seolah ingin memakan sang satpam hidup-hidup, sebab bisa-bisanya satpam itu mengajukan pertanyaan yang seperti itu.
Satpam yang di tatap Ana seperti itu pun langsung menelan slivanya. Ia tersenyum kikuk untuk mengode Ana agar menghentikan tatapan tajam wanita itu.
Wanita itu pun memutuskan kontak mata dengan stapam tersebut dan mengalihkan pandanganya kembali kepada jalanan sembari mendengus. Ia sama sekali tidak ada niatan untuk menjawab pertanyaan dari satpam tadi.
"Eh! Pertanyaan bapak tadi salah ya?" Satpam itu pun membuka topi seragam khusus profesi satpamnya lantas menggaruk kepala sembari menyegir kuda. Ia jadi bingung sendiri, bukannya Ana tadi berciuman dengan den Dika yang berarti mereka adalah pasangan, jadi untuk apa perempuan itu kesal saat mendapatkan pertanyaan yang seperti itu.
"Hmmm," jawab Ana ketus dengan pandangan yang masih menatap kearah jalan dengan seksama.
"Kalau gitu kenapa non Ana belum pulang? Pertanyaan bapak kali ini nggak salah kan."
"Ana lagi nunggu papa!" Ujar Ana sedih seraya menundukan kepalanya kebawah sembari menatapi sepatu sekolahnya.
Satpam tersebut pun menatap Ana penuh prihatin. Satpam itu bingung, ia harus melakukan apa untuk Ana, ia tau ada kesedihan yang mendalam di hati perempuan itu dan ia pun dapat menyimpulkan dengan hanya melihat tatapan sendu milik gadis tersebut bahwa ia tidak pernah di antar jemput dengan orang tuanya. Dan pada saat mereka memaksa Ana untuk mengantar pergi sekolah, tetapi kini orang tuanya menghianati ucapan mereka sendiri yang berjanji ingin menjemput Ana pulang sekolah.
"Loh, kenapa nggak naik taksi atau angkot aja non," ucap satpam tersebut yang ikut mendudukan pantatnya di samping Ana.
Ana menatap satpam tersebut lantas menggeleng sedih, kemudian ia pun menatap kebawah lagi. Tangannya ia tumpukan kepada kursi tersebut, sedangkan kakinya ia hentak hentakan halus.
"Nggak bisa! Ana nggak ada uang pak!" Ujar Ana sedih.
__ADS_1
"Emangnya non nggak di kasih uang sama papa?" Tanya satpam itu sambil memandang Ana yang sedang sibuk dengan aktivitasnya.
Dan kini satpam itu paham ketika melihat gelengan pelan dari wanita itu untuk menjawab pertanyaan yang ia berikan tadi.
"Maaf non, bapak tidak bisa membantu banyak, nih! Bapak cuman ada uang sepuluh ribu buat ngebantu non naik angkot." Satpam itu pun menyerahkan selembar uang sepuluh ribu kepada Ana.
Refleks Ana langsung menatap satpam itu, lalu ia melirikan matanya kepada uang sepuluh ribu tersebut yang di sodorkan kepada dirinya. Wanita itu tersenyum lantas mengambil uang sepeuluh ribu tersebut dan kemudian ia masukan kembali kedalam saku seragam satpam itu.
"Nggak usah pak. Mendingan uangnya bapak gunakan untuk keperluan bapak, atau untuk bapak ngopi di warung depan kan lumayan dari pada di kasihkan ke Ana. Ana bisa pulang sendiri pak, jalan kaki kan bisa," tolak Ana halus sembari mengarahkan jari telunjuknya ke warung depan milik bi Ijah.
"non."
"Nggak papa kok pa, jangan sungkan gitu."
"Beneran non? Non nggak papa?" Tanya satpam itu sekali lagi.
"Iya pak, tenang aja nggak terjadi apa apa kok." Yakin Ana," yaudah kalau gitu Ana pulang dulu ya, hari hampir senja, lagi pula sepertinya nggak akan di jemput. Duluan pak, sampai jumpa besok!!" Pamit Ana sembari melambaikan tanganya kepada satpam itu sebagai tanda perpisahan.
Ana berjalan di trotoar menyusuri jalanan menuju ke alamat ruamahnya. Suara bising dari klakson mobil atau motor pun terdengar bersahut sahutan, akibat dari macetnya jalan Jakarta. Asap kendaraan menyebar kemana mana hingga membuat Ana menutup hidungnya.
Ia berjalan bersama dengan pejalan kaki yang lainnya. Satu tangan ia gunakan untuk menutup hidung dan satunya lagi ia masukan kedalam saku jaketnya, sedangkan kepela perempuan itu menunduk berjalan sambil menatap kebawah.
Akibat ia terlalu serius berjalan tanpa sadar tali sepetu perempuan itu terbuka dan alhasil ia mempijak tali sepatu tersebut hingga wanita itu tersandung.
Ia pun berjongkok seraya meraih tali sepatunya dan kemudaian ia mengikat tali sepatu itu dengan kuat agar tidak terbuka lagi. Lalu perempuan itu berdiri dan melanjutkan jalannya dengan kepala menunduk seperti tadi.
Saking asiknya dia dengan lagu yang mengalun di earphone dan jalan yang menunduk tanpa sadar ia menabrak belakang seseorang. Ana pun jadi terkejut dan langsung mengusap hidungnya yang sakit akibat menabrak belakang keras orang itu.
"Auuu," rintih Ana sambil memijat dan memencet hidungnya agar tidak simpak bekas tragedi tabrakan tadi.
Ana jadi geram dengan orang itu, bisa bisanya orang tersebut menghalangi jalannya. Lantas Ana mendongak untuk memarahi orang itu habis-habisan sampai telinganya bernanah, Namun Ana jadi terkejut melihat wajah orang tersebut dan begitu pula juga dengan orang itu.
"Kamu/Kamu," ujranya bersamaan sembari menunjuk satu sama lain.
"Eh, hay.. Ketemu lagi kita!" Orang itu menarik sudut bibirnya saat melihat Ana lah tadi yang menabrak belakangnya.
"Hayy," ujar Ana menyapa orang tersebut balik.
"Lo kok di sini sendirian. Masih pakai baju seragam lagi. Lo pulang jalan kaki?" Tanya orang tersebut sambil mengamati penampilan Ana.
"Ya begitulah," jawab Ana singkat sambil tersenyum.
__ADS_1
Laki-laki yang di tabarak oleh Ana adalah Andre, yang merupakan cowok yang pernah mengantarkan Ana pulang di saat motor wanita itu sedang bermasalah.
"Kok lo bisa pulang sendirian, hampir sore lagi," kata Andre sambil mengangkat tangannya dan menarik jaket yang menutupi tangan cowok itu seraya melihat jam di sana.
"Papa kayanya lupa jemput aku pulang sekolah."
"Oh. Bukannya kita belum kenalan ya?" Kata Andre mengingatkan bahwa mereka belum sempat berkenalan sebab kemarin Ana yang buru-buru masuk hingga ia lupa menanyakan nama cewek itu." Kenalin nama gue Andre Saputra, panggil aja Andre."
"Nama gue Ana Pricila panggil Aja Ana." Perempuan itu pun menjabat tangan Andre yang cowok itu ulurkan.
Cukup lama Andre tidak melepaskan jabatan mereka, sedangnkan Ana berusaha setenang mungkin dan melepaskan jabatan tangan Andre yang memegang tangannya cukup erat.
"Andre," ujar Ana berbasa basi untuk mengode pria itu.
"Eh-Maaf." saat cowok itu tersadar dengan cepat ia melepaskan jabatan tangannya yang erat dari tangan Ana seraya menghempaskan tangannya sendiri.
"Nggak apa-apa," ujar Ana canggung. Ia pun mematikan earphone nya yang masih berbunyui lantas kembali menatap Andre yang berada di depannya.
"Kalau gitu biar gue antar," ucap Andre seraya menarik tangan Ana agar cewek itu mengikuti dirinya berjalan mendekati motor milik laki-laki itu tanpa mau menunggu jawaban dari Ana terlebih dahulu.
Sontak Ana langsung terkejut dengan tarikan Andre, ia pun tertatik dan terpaksa mengikuti cowok itu berjalan. Sesampainya di motor, Ana hanya bisa melihatkan cowok itu mengeluarkan motornya dan menginstruksikan agar naik di boncengan motor spot milik Andre.
Baru saja Ana ingin mengangkat kakinya, namun tiba-tiba ada seseorang yang menarik tangannya dari belakang, hingga ia pun tertarik dan punggung belakangnya menyentuh dada bidang laki-laki itu. Ana langsung menatap orang tersebut seraya melepaskan cengkraman cowok itu di tangannya dan menjauh.
Mengetahui bahwa Dika lah pelakunya, Ana langsung membuang mukanya dari laki-laki itu. Sedangkan Dika tidak menghiraukan gerak-gerik Ana yang tidak suka kepadanya. Dika pun menatap tajam Andre yang sudah turun dari motornya dan juga membuka helm. Pandangan mereka beradu, banyak tersirat arti di dalam tatapan itu yang pastainaya adalah KEBENCIAN.
Ana yang menyadari jikalau Dika dan Andre sedang bersesi tegang langsung menatap kedua laki-laki itu, Ana menelan slivanya payah, ia pun mengernyit kan dahi saat melihat keduanya seperti sudah saling kenal.
"Kalian sudah saling kenal?" Tanya Ana memecahkan keheningan.
Dika pun menatap Ana yang berusaha memulihkan keadaan. Tatapan dari Dika sangat susah di cerna oleh Ana apa maksud dari tatapan laki-laki itu. Lantas Dika langsung menarik Ana menjauh dari Andre dan membawanya ke dekat motor laki-laki itu.
"Naik," ujarnya dingin.
"Naik," beonya. Ana tidak mengerti kenapa Dika bersikap begini kepadanya, padahal ia saat ini sangat malas bertatap muka dengan cowok yang berada di depannya sekarang. Karena tatapan tajam dari pria itu membuat nyali Ana menciut dan dengan cepat menaiki motor Dika.
Merasakan bahwa Ana telah naik keatas mortornya, Dika langsung menghidupkan mesin motor dan menjalankannya. Ana tidak tau Dika akan membawanya kemana, sebab alamat yang mereka tuju sekarang berbeda dengan alamat rumah Ana.
"Dik, kita akan kemana?" Tanya Ana pelan, takut Dika akan marah kepadanya.
"Tempat rahasia."
__ADS_1
_______________
TBC