
Ana meletakkan tasnya di atas meja. Wanita itu duduk di kursi paling depan menunggu dosen datang. Namun tiba-tiba Joe menarik kurus di sampingan dan duduk di dekatnya.
Ana melirik pria itu. Ia masih ingat dengan Joe tadi rasa bersalahnya kepada pria ini belum tuntas.
"Eumm Joe maafkan Dika mengenai masalah yang tadi yah?"
"Yang tadi? Oh tidak apa-apa."
"Kamu beneran gak papa?" khawatir Ana sambil menatap pria itu penuh dengan rasa bersalah.
Dari senyuman di wajah Joe pun pria itu sangat getir. Apalagi setelah Dika mengetakan jika Joe ternyata suka dengannya dan itu artinya pria ini pasti patah hati karenanya.
"Beneran Ana. Kamu gak usah khawatir."
"Tapi aku takut Joe. Kamu bakal kecewa sama aku. Kamu tau sendiri bukan jika Dika itu adalah cinta pertama aku. Dan aku sering ceritain ke kamu. Maaf mengecewakan kamu."
Joe terdiam. Kenapa Ana berucap demikian. Ia memperhatikan wanita di depannya dengan pikiran melayang.
"Ana kamu kenapa berkata seperti itu?" tanya Joe memastikan apakah dugaannya benar atau tidak.
"Tidak apa-apa Joe. Cuman kata Dika kamu suka sama aku dan aku khawatir kalau kamu bakal marah sama aku ketika tau aku pacaran sama Dika."
Joe terdiam. Jadi Dika dapat menebak perasannya. Tidak ada yang perlu disembunyikan semuanya sudah jelas dan wanita ini sudah mengetahui perasannya yang sesungguhnya. Joe hendak menyembunyikan seperti apa lagi?
Joe menatap mata Ana dengan berani. Meskipun hatinya masih belum yakin untuk mengatakan yang sebenarnya, tapi lebih baik ia mengungkapkan perasaannya ketimbang harus tersiksa dengan sangat lama menahan perasaan ini selamanya.
"Ana!"
"Hm." Ana merasakan ada yang aneh dengan Joe. Tidak biasanya pria itu sepertinya. Entah kenapa Ana merasa sangat khawatir dan belum siap mendengar pengakuan Joe.
"Aku suka sama kamu. Tidak perlu dijawab, aku tahu sudah terlambat tapi setidaknya aku sudah bisa tenang mengatakan yang sebenarnya ke kamu. Aku tidak butuh jawaban kamu aku hanya ingin kau mendengarnya dari diriku sendiri. Terserah kamu setelah ini mau nganggep aku teman atau enggak, tapi seenggaknya kamu sudah tahu kalau aku mencintaimu."
Kekhawatiran Ana benar terwujud. Pria itu mengatakan apa yang sebenernya dan Ana tak tahu bertingkah seperti apa. Ia menatap ke arah teman-temannya di sekitar yang kebetulan juga mendengar pernyataan cinta dari Joe.
"Terima ajalah Na," punuk mereka dan Ana menahan napas. Tidak mungkin ia menerima Joe, Joe hanyalah temannya dan Dika adalah orang yang dicintainya.
"Ana jangan diam-diam ajalah. Kamu terima kasian tau si Joe."
Joe menatap ke arah teman-temannya. Ia menggelengkan kepala meminta mereka agak tetap diam dan tidak ikut campur.
"Kamu sudah tahu jawaban aku. Aku sudah punya pacar maafkan aku."
"Yah.." ujar mereka kecewa. Ana tersenyum tipis. Mereka kecewa karena dirinya sudah mengatakan yang sebentar dan tak menyangka jika Ana tidak bersama dengan Joe.
__ADS_1
Padahal di kelas mereka sudah banyak yang menggadang-gadang bahwa Ana akan bersama Joe. Tapi ternyata Ana malah bersama pria lain.
"Tadi kata kamu, kamu udah punya pacar. Siapa Na?"
"Udah-udah jangan bahas itu lagi. Sebentar lagi dosen akan masuk." Ana menatap Joe tersenyum. Joe memang sangat baik. Dalam keadaan seperti ini pun pria itu membantunya.
"Terimakasih."
_____________
Ana berlari kencang ke arah Dika yang sudah menunggu dirinya di depan mobil. Wanita itu memeluk tubuh Dika dengan sangat erat.
Seakan-akan mereka belum pernah bertemu sama sekali. Dika sangat khawatir jika Ana akan terpeleset tadi saat berlari ke arahnya.
"Hati-hati dong sayang."
"Kangen," ucap Ana dan mengangkat wajahnya melihat pria itu.
Dika merasa sangat gemas dengan pemandangan wanita imut di dalam pelukannya.
"Baru aja tadi ketemu udah kangen aja. Emang aku kangenin banget, kan?" Dika semenjak bersama Aja sikap dinginnya berubah mencair seperti seekor kelinci.
Pria itu juga sangat menggemaskan di mata Ana. Sungguh Dika benar-benar pria yang amat berbeda dengan pria di luaran sana.
"Makan dulu kali ya. Aku udah lapar banget soalnya."
Dika tersenyum renyah dan mencubit pipi Ana yang amat sangat menggemaskan.
"Yaudah masuk dulu ke mobil aku."
Dika membukakan pintu mobil untuk Ana. Dan Ana dengan cekatan masuk ke dalam mobil tersebut di samping pria itu.
"Kayaknya ngasih tau Cika sama Lona kita udah pacaran seru juga kayanya."
"Ck, apa-apa harus dikasih tau."
Ana tertawa dan memukul lengan Dika. Ia menatap terdapat salah satu surat yang ditempelkan di dekat mobil Dika. Ana penasaran dan membacanya.
Saat membaca surat itu wajah Ana sontak merona dan memerah. Ia menangkup kedua wajahnya.
"Apa-apaan sih Dika. Kok pake dipajang segala. Malu tau."
"Biar ingat kalau Ana pernah hidup dan kenal sama aku."
__ADS_1
"Dih, kok gitu jahat banget."
"Kalau gak gitu aku gak bakal ingat kamu."
"Dika...," geram Ana. Wanita tersebut memasang wajah cemberut yang membuat Diak terkekeh.
"Bercanda sayang. Tapi aku kemarin ketemu sama temen kamu lho, lupa aku Cika apa Lona pokoknya sala satunya. Dia cantik banget. Dan si Lona udah pacaran sama Reyhan."
"Hah serius?" Ana menutup mulutnya tidak menyangka dengan teman-temannya. Ana malah jadi tidak sabar ingin bertemu mereka dan saling memeluk sama lain.
"Ih jadi kangen banget kan sama mereka," ujar Ana membayangkan wajah teman-temannya.
"Makanya pulang ke Indonesia bukannya di Inggris Mulu. Sampai frustasi aku cari kamu."
"Cowok kan emang kodratnya berjuang."
"Cewek juga," ujar Ana.
Ana tak bisa melupakan bagaimana brengseknya Dika. Pria itu masih melekat diingatan Ana bahwa Dika sering bersama wanita lain.
"Kamu udah putus belum sam pacar-pacar kamu yang banyak itu?"
Dika terdiam. Ia melupakan mereka, lagi pula mereka tidak penting. Dika tersenyum tipis.
"Gak penting juga."
"Kamu tau gak hati aku sakit kalau kamu cuek dengan hal ini."
"Udah sayang gak papa. Semuanya pasti akan baik-baik aja. Nanti aku putusin mereka, aku kaya gitu juga karena lagi frustasi masalah keluarga dan juga masalah kamu gak ada."
"Tapi gak gini juga."
"Iga nanti aku putusin mereka."
Meskipun Dika berinisiatif ingin memutuskan mereka, tetapi Aja tetap saja tak enak rasa. Bagaimana jika wanita-wanita itu menuntut Dika. Bukan Ana tak tahu jika Dika juga sering bermain api bersama wanita-wanita tersebut.
"Tapi Dika, kamu tahu tidak kalau mereka kayanya terobsesi sama kamu."
Dika meletakkan tangannya di bibir Ana.
"Hysut.. gak usah mikir yang aneh-aneh. Aku cuman cintanya sama kamu."
Ana menghela napas panjang dan berusaha agar tetap tenang.
__ADS_1