SURAT CINTA UNTUK....?

SURAT CINTA UNTUK....?
part 8


__ADS_3

Wellcome back my story


jangan lupa like dan comen


happy reading all


____________


Ana dan Dika tertangkap basah oleh ibu Fira yang merupakan guru tergarang di SMA Swasta Mutiara Hati dan juga banyak di takuti oleh para siswa, karena jika sang guru killer sedang marah maka sekolah akan terpecah belah dua akibat sura keras bak toak mesjid.


"Nagapain bu kelapangan, gak enak tau baris itu. Menat menatin kaki aja berdiri hampir sejam, kalau di gajih mah gak papa juga, berdiri seharian pun gue rela kalu ada yang ngebayar, tapi kenyataanya gak sama sekali di bayar," ujar Dika kepada ibu Fira.


Hanya Dika lah di sekolah ini yang berani melawan kata kata ibu Fira tanpa ada rasa sedikit gentar pun saat berbicara sambil menatap mata ibu Fira yang tajammya seperti mata elang.


"Dika!!!! Jangan ngebantah kata kata saya, cepat kalian berdua pergi kelapangan sebelum saya akan mengenakan sangsi kepada kalian berdua," sungguh guru itu terpaksa harus meghadapi kelakuan Dika denagn penuh kesabaran yang tinggi jika tidak ingin kepalanya di tambah pusing lagi karena ulah Dika yang tidak mau menurut.


Ana yang sedari tadi terdiam pun menjadi takut saat ia melihat di mata ibu Fira ada api kemarahan yang sangat besar. Ia tidak akan pernah memaafkan Dika yang telah membuat dirinya harus terkena masalah dengan menuruti keinginan cowok itu.


"Dan kamu Ana! Kenapa kamu bisa bersama cowok ini, bukannya kamu tidak pernah akur dengan Dika," ucap bu Fira dengan melirikan matanya kearah Dika saat menyebutkan kata 'cowok ini.'


Asal kalian semua tau Ana tidak pernah sebelumnya dekat dengan Dika, ia bertatap mata dengan Dika saja pun dahulu rasanya tidak sudi, apalagi ia harus berdekatan dengan Dika. Oleh karena itulah bu Fira sangat bingung saat melihat Ana bersama dengan Dika.


"Tadi Ana telat bu, dan ternyata di depan gerbang juga ada Dika, terus dia ngajakin Ana buat manjat tembok sekolah dan terus pergi kekantin," jawab Ana tanpa ada kebohongan sama sekali saat ia menyatakan ucapanya tersebut.


"Terus kenapa kamu mau di ajakin Dika?"


"Tadi Dika narik tangan Ana tiba tiba buat ngikutin dia dari belakang, semulanya tadi Ana belum tau apa maksud Dika narik tangan Ana, jadi Ana biarkan aja Dika narik tangan Ana dan ngikutin dia,"


Ibu Fira hanya menggelengkan kepala saat mendengar pernyataan Ana yang polos padahal ia bukan anak yang polos lagi, "dasar kalian berdua. Kalau gitu cepet pergi kelapangan."


"Udah introgasinya bu?" Tanya Dika dengan ekspresi yang memalas.


Ibu Fira tidak menghirukan ucapan Dika tadi, ia segera beranjak dari situ mendahului mereka untuk pergi kelapangan dan meneruskan upacara yang belum selesai. Sebenarnya ibu Fira tadi ingin pergi ke toilet, tapi di saat ia ingin kembali lagi kelapangan dirinya melihat Dika dan Ana sedang celengak celenguk seperti memastikan tidak ada orang melihat mereka yang sedang berjalan diam diam menuju kantin.


"Jalannya gak usah cepat cepat bu! Ntar jatuh, kalau jatuh nanti hilang cantiknya," ujar Dika kuat untuk menggoda guru killer mereka yang sedang berjalan dengan cepat kearah lapangan.

__ADS_1


Ibu Fira menutup kedua telinga nya menggunakan jari telunjuk agar ia tidak mendengar lagi kata kata yang menjijikan dari murid kuarang ajarnya.


Ana melongo melihat keberanian Dika saat pendengaran nya menangkap ucapan cowok itu yang sedang menggoda guru killer mereka, sebab ia belum pernah mendengar perkataan siswa lain yang menggoda guru BK, dan ini baru pengalamannya yang pertama melihat ada anak murid yang berani melawan perkataan guru dan bahkan menggoda.


"Oi cupu!! Ngelamun aja lo, kesambet baru tau," ujar Dika mengejutkan Ana yamg sedang menatap tembok sekolah dengan tatapan kosong sembari berpikir keras tentang Dika yang berani melawan guru tanpa ada rasa gentar sama sekali saat ia berbicara dengan seorang guru yang sama dengan berbicara dengan seorang teman.


Ana yang mendengar perkataan Dika pun langsung melarikan lirikannya kearah cowok itu. Kemudian ia segera beranjak pergi dari situ meninggalkan Dika untuk menyusul ibu Fira pergi kelapangan sesuai instruksi dari guru itu.


"Dasar cupu, gue di tinggalin di sini. Masa iya cowok seganteng gue di tinggalin sama cewek cupu," ujar Dika dengan nada yang geli kepada dirinya sendiri.


Dika ikut menyusul mereka dengan melangkah santai pergi kearah lapangn dengan menampilkan raut muka tanpa ekspresi.


________


Sesampainya di lapangan Ana harus menahan malunya saat semua murid menatap dirinya dengan tatapan sinis dan mengejek saat dia dan Dika baru saja memasuki lapangan dan berbaris terpisah dengan yang lain.


Saking malunya Ana, ia menundukan kepala dengan rambut yang lumayan panjang dan tidak terikat menutupi sebahagian wajahnya yang sedang menahan malu kepada semua orang terutama guru yang sedang menatap dirinya tidak percaya.


"Ana pricila dan Dika Rontiwa harap maju ke tengah lapangan," pinta pak Rahmat selaku kepala sekolah dan kebutalan ia pembina upacara pada hari ini.


"Lebay lo, gitu aja pengan nangis," ucap Dika yang sedang berbaris di sampingnya. Barisan mereka berdua memang di sengajakan bu Fira terpisah, karena mereka merupakan sisiwa yang terlambat memasuki lapangan upacara.


Ana melirikan matanya kesamping untuk menatap cowok itu yang sudah mengatai dirinya lebay. Tangan Ana terkepal saat menatap wajah Dika yang terlihat santai, cowok itu sama sekali tidak merasa bersalah dan meminta maaf kepada dirinya.


Dengan berat hati Ana melangkah kan kakinya kedepan menuju tengah tengah lapangan. Ana sangat takut saat ia menjadi bahan objek yang menarik bagi siswa. Ana menarik napasnya dalam dan mengepalakan tangan kuat untuk menahan tubuhnya yang bergetar ketakutan.


"Ini merupakan salah satu contoh siswa yang tidak patut kalian ikuti," tunjuk pak Rahmat kearah Dika dan Ana yang sedang berdiri di tengah lapangan dengan menghadap kearah panasnya terik matahari.


"Huuuuu," seluruh siswa yang berada di lapangan menyoraki Ana dan Dika dengan semangat.


"Saya harap tidak ada lagi siswa yang terlambat seperti ini," mohon pak Rahmat kepada semua murid yang sedang berbaris dengan sikap istirahat.


Rangkaian demi rangkaian telah di bacakan dan di laksanakan oleh petugas upacara senin, hingga rangkaian acara tersebut selesai, akan tetapi Ana dan Dika tetap tidak bisa beranjak dari tempat mereka di jemur sebelum bel istirahat berbunyi.


Karena upacara sudah selesai, maka Ana dan Dika di haruskan untuk hormat bendera selama pada masa hukuman berlangsung hingga hukuman selesai.

__ADS_1


Keringat berjatuhan dari pelipis Ana mengenai baju seragam nya, sehingga baju seragam tersebut basah karena keringat Ana yang terus saja bercucuran.


Dika menolehkan wajahnya kesamping untuk melihat Ana yang sedang keleleahan atas hukuman yang di berikan oleh kepala sekolah. Tiba tiba hati Dika menjadi kasihan melihat Ana yang tidak sanggup lagi berdiri menunggu jam istirahat.


Ana terus saja menatap kedepan dengan tangan kanan yang hormat bendera, rasanya Ana tidak mampu lagi untuk tetap berdiri samapi ia dapat menyelesaikan hukuman yang menjadi hadiah keterlambatnnya.


Ana semakin membenci Dika, karena gara gara cowok itu ia sering terkena masalah. Ana menggenggam telapak tangannya saat hatinya memanas saat mengingat ia di hukum di karena kan cowo yang di sampingnya dan juga sedang hormat bendera sama seperti dirinya.


"Kenapa muka lo kaya lagi gak suka gitu," tanya Dika denan pandangan kedepan karena ia sedari tadi melihat Ana yang sesekali melirik kearah dirinya dengan ekspresi yang sedang membenci.


Ana tidak menjawab, ia tetap senantiasa menatap kearah depan dengan ekspresi yang susah di jelaskan.


"Belagu banget sih lu cewek cupu, pakai gak mau jawab pertanyaan gue lagi."


"Terserah gue lah mau jawab pertanyaan lo apa gak, lagi pula ini mulut mulut gue. Lo sengajakan ngejebak gue supaya di hukum sama kespek dan menjatuhkan harga diri gue di depan para sisiwa dan guru. Bagi lo hukuman yang seperti ini adalah makanan setiap hari, jadi lo gak sama sekali meraskan malu dan penat. Gue benar kan Dik?"


"Tumben otak lu pintar cupu. Gak mungkin lah gue mau dekat dekat sama lo tanpa ada maksud dan tujuan tertentu. Jadi gimana, lo menikmatin gak hukuman ini?"


Rasanya Ana ingin sekali menampar mulut Dika yang tidak pernah di sekolahin sehingga ia berbicara seenak jidatnya saja. "Selamat ya, lo telah berhasil ngerjain gue," ujar Ana dengan terkekeh miris.


"sungguh ucapan selamat dari lo merupakan kebanggan bagi gue tersendiri," ujar Dika dengan senyum devil.


"Apa mau lo dengan terus menerus ngerjain gue, apa keluarga gue pernah buat kesalahan terhadap keluarga lo? Sehingga lo sangat mebenci gue. Dik gue gak tau apa yang lo mau dari nyakitin gue," lirih Ana dan melirikan matanya untuk melihat ekspresi cowok itu.


"Entah kenapa gue gak suka liat cewe cupu kaya lo, bawannya pengen siksa terus. Itu kenapa gue senang banget liat lo menderita."


Ana menatap Dika tidak percaya. Sebegitunya kah dirinya di mata Dika. Ana menatap kebawah dengan senyum kecut dan menghapus air mata yang bercampur keringat, akhirnya tangis yang sedari tadi ia tahan pecah jua.


Ana merasakan kepalanya yang berdenyut hebat, ia langsung memijat dengan tangan kiri untuk menahan rasa sakit yang di alami kepalanya, hingga selanjtnya ia.....


Brukkkkkk


___________


tbc

__ADS_1


jangan lupa like dan comen


__ADS_2