
Ana baru saja menyelesaikan naskah bab terbarunya. Wanita itu sangat senang setelah menerbitkan naskah tersebut. Karena sudah banyak penggemarnya yang menunggu update terbaru miliknya.
Wanita itu menutup laptopnya lalu kemudian meletakkan laptop tersebut di atas nakas. Ia menghelan napas dan menatanya. Ana pun tersenyum dan kembali membuka matanya kembali.
"Hari yang cukup melelahkan," gumam Ana pelan dan kemudian ia duduk di atas kasur lalu mematikan lampu tidur miliknya.
Ana berencana setelah ini akan tidur dengan tenang. Tapi entah kenapa tiba-tiba ia langsung memikirkan Dika. Dika juga tinggal di apartemen yang tidak jauh dari dirinya.
Apa yang harus dilakukan Ana? Ia tak bisa hidup dengan tenang jika laki-laki tersebut terus berada di sini.
Ana juga tidak memiliki solusi yang cemerlang untuk menghentikan Dika. Ia tak tahu apakah Diak mengingat dirinya atau pria itu benar-benar sudah melupakan dirinya.
Tapi kenapa sangat kebetulan sekali Dika juga tinggal di apartemen yang tidak jauh dari dirinya. Dari tatakan pria itu seolah-olah juga memiliki kerinduan yang sama.
Apakah Dika merindukan dirinya? Apakah itu hanyalah sebuah harapan Ana yang tidak akan pernah tercapai?
"Dika kau benar-benar telah membuat diriku kebingungan," ucapkanlah dengan lirih.
Jika pun Dika berpura-pura lalu apa yang mendorong pria itu untuk melakukannya? Apakah cowok tersebut ingin menguji dirinya?
__ADS_1
Ana menghela napas, memikirkan Dika tidak akan ada habis-habisnya. Pria itu memiliki daya pikat yang benar-benar membuat Ana selalu kepikiran laki-laki tersebut.
"Entah sampai kapan aku akan hidup dalam kesengsaraan ini, kau melupakan ku. Apakah kau benar-benar lupa siapa aku? Kenapa rasanya sakit sekali, jika tahu kau tidak pernah menyayangi diriku, lebih baik dari dulu aku pergi dari diri mu, dan tak pernah mencoba untuk mendekati mu. Apakah aku terlalu dramatis karena mengharapakan sesuatu yang sangat tidak mungkin bagi ku?"
Tok
Tok
Tok
Suara ketukan dari pintu apartemen miliknya membuat lamunan Ana buyar. Wanita itu langsung bergegas keluar untuk membukakan pintu.
"Dasar Joe." Meskipun marah Ana tetap tersenyum.
Wanita itu membukakan pintu dan terkejut melihat siapa yang berdiri di depan pintu apartemennya.
Sementara sang tamu tak diundang itu malah menyengir sambil menaik turunkan alisnya sok kegantengan.
"Ada apa malam-malam datang ke tempat gue? Ada sesuatu yang mengantar lo ke sini?" tanya Ana dan hendak menutup pintunya kembali.
__ADS_1
"Gue belum sempat ngomong sama lo, memang benar-benar enggak tahu caranya ngehargain tamu," cibir Dika lalu masuk begitu saja ke dalam apartemen Aurora.
Aurora terkejut dengan apa yang dilakukan oleh pria tersebut. Sontak saja ia langsung menarik tangan Dika dan memohon agar si pria dapat keluar dari apartemennya.
"Lo mau ngapain, sumpah gak jelas banget lo. Malam-malam datang ke rumah gue dan main nyelonong aja," ucap Ana tak senang.
"Kenapa? Tidak boleh?" tanya Dika dan An menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Bukan gitu, tapi kaya gak lazim aja."
"ini Inggris bukan Indonesia jadi lazim aja."
Ana menghembuskan napas lelah. Baiklah kali ini ia mungkin akan kalah.
__________
Tbc
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA
__ADS_1