
Typo bertebaran
"Kenapa lo lakuin itu ke gue Dik? Dengan sikap lo yang begitu gue makin susah ngelupin lo." Air kristal pun luruh dari pelupuk mata Ana, cewek itu pun mengusapnya seraya beranjak dari situ dan membuka pintu gerbang, lantas ia pun masuk kedalam.
___________________
Malam yang penuh akan ketenangan begitu terlihat samar di pandangan mata manusia. Terlihat seorang pemuda yang sedang termenung di sisi ranjang dengan mata yang tidak teralihkan dengan objek yang berada di tangannya. Wajahnya begitu tergambarkan akan kerinduan yang mendalam, laki-laki itu menatap kertas yang berada di genggamannya dengan lirih tanpa ada harapan.
"Siapa penulis surat ini?"
Ketika ia memandang surat tersebut rasanya ia merasakan bahwa ia tak lagi merasa kesepian dan memiliki semangat hidup baru, namun ketika realita mengatakan bahwa surat tersebut bukan untuknya, ekspresi cowok itu langsung buyar menjadi muram seperti air kolam yang keruh.
Kertas yang berada di tangan laki-laki itu adalah merupakan surat-surat cinta yang ia temukan. Cowok itu sengaja membaca surat tersebut sebelum ia pergi ke arena balap, sebab kata-kata yang terangkai di sana bisa membuatnya bisa merasakan ada penyemangat spesial yang tak kasat mata namun dapat di rasa dan tersentuh begitu lembut di hatinya.
Entah apa yang telah terjadi dengan otak Dika, apakah telah konslet? Entalah ia juga tidak tau. Bagaimana tidak dengan santainya wajah Ana yang lugu berputar-putar di pikirannya. Cowok itu tersenyum kala mengingat kejadian sore tadi yang begitu manis dan mengesankan.
Ia juga tidak tau kenapa bisa bersikap hangat kepada seorang perempuan. Ia melakukan semua itu hanya mengikuti naluri hatinya yang selalu ingin memperlakukan Ana dengan begitu spesial seperti barang berharga. Percaya kah kalian bahwa apa yang telah di lakukan oleh Dika sore tadi merupkan rekor pertamanya di dalam hidup cowok itu bahwa ia telah memberikan perhatian kepada seorang perempuan yang bukan termasuk kategori sempurna.
Tak di sangka-sangka bahwa Ana merupakan perempuan satu-satunya di dunia yang berhasil mendapatkan perhatian dari seorang laki-laki yang memiliki wajah begitu menakjupkan hingga dunia pun ikut memuji ketampanan seorang Dika Rontiwa.
"Akhh... Ana lagi, Ana lagi. Ana aja terus yang lo pikirin Dik sampai sukses. Well emang Ana kayanya nggak baik buat pikiran sehat lo Dik. Bodoh! Bodoh lo Dik," maki Dika kepada dirinya sendiri seraya memukuli kepalanya yang selalu saja memutar bayangan Ana.
"Lo lagi Dik! Kenapa tadi bisa-bisanya ngelakuin Ana kek gitu. Yang ada nantinya tu anak mikir gue suka lagi sama dia, terus keganjenan. Aok ah bomat."
Dika melihat jam yang melingkar di tangannya lalu berdecak. Sebentar lagi pertandingan akan di mulai. Lantas cowok itu langsung berdiri dan menaruh kembali surat tersebut pada tempatnya. Kemudian cowok itu menyambar jaket kulit di atas kasur dan keluar dari kamar dengan gaya angkuhnya.
Langkah cowok itu mengantarkannya kepada sebuah kamar orang tuanya. Sebuah senyuman terulas di kedua sudut bibrnya, ia akan meminta doa terlebih dahulu kepada orang tuanya semoga dengan restu mereka ia bisa memenangi balapan tersebut. Terlihat sekali langkah cowok itu bersemangat. Sesampainya di depan kamar orang tuanya, Dika langsung mengangkat tangan dengan maksud ingin mengetuk pintu kamar, namun pergerakannya langsung terhenti ketika suara ribut dari kamar tersebut terdengar samar di telinga cowok itu.
"Meskipun kita tidak saling mencintai, setidaknya kamu jangan bersikap seperti itu ke anak-anak kita. Gimana kalau Dika dan Naina tau bahwa kamu akan menikah dengan perempuan jalang itu? Apa mereka mau menerima gitu aja? Enggak mas! Mereka sudah besar dan mereka sudah mengerti akan hal itu."
"Jangan pernah kau sebut Ningsih dengan sebutan JALANG! Dia bukan, jalang, tetapi yang jalang itu kamu. Kamu kan yang jebak aku supaya kamu dapat nikah dengan ku. Iya kan Sikra?!!! Jangan sok bodoh, aku tau semuanya. Kamu itu nikah dengan ku supaya karier mu itu berkembang, iya kan? Cih! Dasar orang numpang popularitas..."
"Apa kamu bilang mas?! Dasar laki-laki nggak tau diri. Kamu pikir aku peduli dengan anggapan mu itu, Yah walaupun apa yang kau katakan tadi adalah benar."
plakkk (Suara tamparan menggema di ruangan tersebut, hingga bunyinya sampai keluar)
"Hiks-hiks-hiks kamu nampar aku mas?!"
Dika langsung menjauhkan tempelan telinganya pada pintu tersebut, ia tak sanggup lagi mendengar pertengkaran orang tuanya. Lantas Dika menjauh dari sana dengan raut penuh kebencian yang sudah tingkat akut. Tangannya mengepal keras, benci yang sudah menjadi jiwa pun berkobar, hatinya memanas ketika serpihan ingatanya memutar kembali suara tamparan yang begitu berdentum kuat. Hati lemahnya terkubur dan kini tergantikan dengan hati yang keras bak batu zambrud.
Cowok yang penuh di liputi dengan amarah itu pun langsung menunggangi motor mahalnya dengan kecepatan yang cukup tinggi mengukur jalan menuju arena balapan. Dika mengendarai motornya dengan ugal-ugalan tanpa memperhatikan pengendara lain. Suara jalan penuh akan makian terhadap cowok itu, sudah ribuan sumpah terkirimkan kepada tuhan atas nama Dika.
Ia tidak peduli dengan amukan masa kepadanya. Yang ia pikirkan hanya satu bagaimana caranya ia dapat membalas dendam kepada keluarganya? Hatinya hancur, pikirannya sekarang buntu, buat berpikir jernih pun tidak bisa lagi.
__ADS_1
Sampailah Dika pada arena balap yang sudah ramai dengan penonton. Laki-laki itu memarkirkan motornya di dekat Reyhan dan Deigo yang sudah menunggu cowok itu.
"Hei broo!" Mereka bertiga pun bertos.
"Sudah siap nggak?" Tanya Reyhan seraya menatap penuh harap kepada Dika.
"Ya pasti sudah siap lah! Iya nggak Dik?"
"Yoi gaes," ucap Dika sembari tersenyum dan merangkul bahu Reyhan, "tenang Rey. Motor lo pasti balik."
"Gue pegang omongan lo!" Reyhan melirik Dika yang berada di dekatnya dengan pandangan memberikan janji.
"Oi!! Dik, coba lo liat. Mantan lo si Lisa ada juga di sini. Kayanya dia mau nonton lo deh. Lo yakin nggak hampirin dia? Sayang loh cewek cantik gitu pasti banyak yang suka! Emang lo nggak mau balas perasaanya kaya kemarin gitu?" Ujar Deigo seraya memperhatikan Lisa dan Thasya yang sedang berada di pinggir jalan dan tak jauh dari mereka.
"Nggak peduli gue, cewek play gril kaya dia bukan tipe gue," ucap Dika lantas menjauh dari sana.
"Terus tipe lo yang kaya modelan Ana gitu?" Dika langsung menegang ketika mendengar pertanyaan Deigo barusan.
"Eh Deigo! Bener nggak sih, kalau misalnya cowok play boy nikah sama cewek play gril, entar anaknya jadi play store."
Dika sangat-sangat bersyukur kepada tuhan, ternyata Reyhan ada manfaatnya juga bagi dirinya. Andai cowok itu tadi tidak bertanya kepada Deigo, Entah apa yang harus ia jawab. Kata Ana begitu mistis bagi dirinya hingga laki-laki itu bingung mau mengatakan tidak atau iya, di sisi lain ia ingin mengatakan Ya, namun di sisi lainnya lagi otaknya terus menolak untuk mengatakan Ya.
"Nggak tau," ketus Deigo pada Reyhan. Ia begitu sebal kepada Reyhan yang bisa-bisanya bertanya yang tak masuk akal kepadanya, namun Deigo akui bahwa caption Reyhan tadi cukup keren.
"Adiknya mungkin." Deigo pun memandang kearah penonton, ia mengekerut kan keningnya ketika ia melihat hampir semua mantan Dika berkumpul untuk menyaksikan cowok itu akan bertanding. "Dik! Tumben mantan lo pada ngebuat geng, udah pada akur mereka?"
"Nggak tau gue! Nggak ngurusin mereka lagi."
"Tau nggak sih kalian semua, kalau mantan itu ibaratkan saytan? Coba deh kalian amati, pas waktu pacaran panggilannya Say, dan pas waktu udah putus panggilnya Tan, kalau di rangkai kan jadi saytan."
Dika menoleh kepada Deigo dan begitu pula dengan sebaliknya semabri bertatapan tak mengerti dengan pandangan sama-sama sedang membahas sifat Reyhan yang sangat langka bagi seorang anak laki-laki.
"Lo dapat caption kayak gitu dari mana Rey?" Tanya Deigo seraya menatap cowok itu dengan geli dan ekspresi yang tidak bisa terbaca.
"Dari facbook, kemaren lagi gesek-gesek beranda eh nemu tu caption. Keren nggak caption nya?"
"Ya ampun Rey! Gue nggak nyangka lo masih main facbook, dasar lo nggak punya kuota. Orang udah pada main Instagram dan lo masih main facbook, pasti main facbooknya pakai mode geratisan. Ha ha ha," tawa Deigo renyah yang membuat Reyhan menatap Deigo dengan membunuh.
"Jaga mulut lo ya. Gini-gini kuota gue 1000 GB."
Dika memutar bola matanya malas ketika mendengar perbincangan Reyhan dan Deigo yang sudah dapat di tebak akan berakhir dengan pertengkaran. Cowok yang bernama Dika itu pun menjalankan motornya pada garis start ketika moderator mengumumkan agar peserta bersiap-siap.
Sorak sorai memenuhui sisi jalanan tersebut. Teriakan histeris dari para penonton menghiasi arena balapan tersebut kala mereka melihat Reno yang ternyata di wakilkan oleh Andre yang akan menjadi lawan dari Dika mengendarai motornya menghampiri perwakilan dari Reyhan yaitu Dika yang sudah ready.
__ADS_1
Dika menampilkan senyum miringnya. Ia begitu mendapatkan hiburan baru malam ini. Lantas cowok itu memasang gaya santainya seraya memandang Andre yang juga memandangnya sama.
"Ternyata tu anak nggak punya nyali," ejek Dika sembari memainkan kunci motor di tangannya dan memutar mutar.
"Kayanya nggak kebalik. Ha ha ha Dika, kita buktikan malam ini. Siapa yang lebih berhak mendapatkan kemenangan yang sesungguhnya." Andre memperagahkan tangannya di leher seolah akan membunuh Dika.
Dika tertawa di dalam hati, terlepas dari itu rasanya ia sangat meremehkan kemampuan dari Andre, bagaimana ia tidak meremehkanya, jika setiap pertandingan ia yang selalu memegang juara pertama.
Dika maupun Andere mengenakan helm nya lalu menghidupkan mesin motor masing masing. Jalanan di penuhi dengan suara mesin motor mereka yang selalu tak mau kalah. Asap motor dari kenalpot menggumpal, jalan semen membekas bentuk ban motor.
Tak lama bendera di mulainya pertandingan pun di kibarkan sehingga mereka berdua pun langsung menaikan gasnya dengan kecepatan tinggi, hingga motor keduanya langsung melesat jauh dari garis start.
Mereka saling mendahului demi mendapatkan kemenangan dan harga diri, namun tidak ada yang dapat mempertahankan posisi masing-masing. Ini merupakan pertandingan terpanas dari pertandingan sebelumnya, hingga mereka pun menghalalkan segala cara demi sebuah kemanangan.
Suara sirene mobil poslisi terdengar dari jauh dan berdekatan ke arah mereka. Hingga membuat keduanya jadi panik dan kalang kabut melarikan diri dari kejaran polisi. Dika dengan cepat membelokan motornya ke tikungan kanan.
Sesekali cowok itu menoleh kebelakang untuk melihat mobil polisi yang mengikuti dirinya. Dika pun semakin melaju kencang hingga gas full, sungguh ini semua di luar rencana, ia tak menyangka kejadian ini akan terjadi.
Tak di sangka ternyata di depannya sudah terdapat mobil polisi yang menghadang jalannya. Dika pun memberhentikan motornya, satu persatu polisi keluar dari mobil seraya mengacungkan senjata api ke arah Dika. Ia ingin memutar balik motornya namun ia sudah di kepung, hingga dengan terpaksa cowok itu mengangkat tanganya menyerah lalu turun dari motor.
"Jangan melawan atau anda kami tembak." Dua polisi pun mendekati Dika seraya membawa borgol.
Ketika kedua polisi itu mendekat, dengan gesit ia langsung menyerang dengan tiba-tiba hingga polisi itu terjatuh ke tanah, lantas ia langsung melarikan diri.
Dorr
Suara tembakan dari salah satu polisi menembak kaki Dika. Namun timah panas tersebut tidak menembus kulit Dika, melainkan hanya menggores saja tapi itu cukup menyakitkan hingga kakinya mengeluarkan darah.
"Auuu..."
Dika pun mengehntikan larinya saat ia harus menahan rasa sakit di kakinya. Dan dengan mudahnya pula polisi-polisi menangkap Dika dan langsung memborgol lengan Dika kebelakang.
"Woy lepasin gue."
"Diam," bentak salah satu polisi.
"Tapi saya nggak bersalah pak!"
"Anda bisa jelaskan di kantor polisi saja. Sekarang anda ikut kami." Polisi itu pun memasukan Dika kedalam mobil seraya membawanya ke kantor polisi.
________________
TBC
__ADS_1