
Ana terus menangis di dalam pelukan Dika. Ana memutuskan ke Indonesia untuk bertemu dengan orangtua Dika dan sekaligus ingin mengenal jauh keluarga Dika. Namun fakta yang ia dapatkan dari orangtua Dika sungguh membuat hati Ana sakit dan tak bisa terbayangkan.
Jadi bukan dugaannya saja namun memang kenyataannya dirinya hanyalah seorang anak tiri dari keluarganya. Bahkan kehadirannya malah membawa bencana bagi mereka. Pantas saja Vanessa dan Misla sangat membenci dirinya.
Mungkin Misla tidak mendapatkan hak pada waktu itu saat hubungan Vanessa dan Toni belum terungkap. Namun ketika terungkap dan ibunya sudah bunuh diri ia memiliki power untuk melawannya dan memperlakukannya bak tak memiliki hati nurani.
Sungguh sakit pemikiran mereka. Ana benar-benar membenci akan hal itu. Untungnya sekarang ia sudah memiliki Dika yang selalu ada untuknya dan tak pernah pandang bulu dalam memberikan kasih sayang.
Hubungan Ana dan Dika juga sudah mendapat restu dari orangtua. Ternyata selama akan kepergian Dika ke Inggris malah membuat hubungan ayah dan ibunya semakin harmonis. Mereka saling ingin memperbaiki diri dan hal yang tak pernah diduga-duga bagi Naina dan Dika, mereka akan segera memiliki adik.
Ana tersenyum tipis. Dika sudah mendapatkan apa yang ia inginkan. Orangtunya sudah kembali akur setelah melalui bahtera rumah tangga yang cukup lama dan penuh dengan perdebatan.
Sulit untuk dipercayai namun itulah yang telah terjadi pada hubungan mereka saat ini. Dan ditambah anak yang di dalam kandungan ibunya semakin membuat hubungan tersebut harmonis dan terlihat sangat dekat.
"Dika, selamat yah orangtua kamu kembali utuh," ujar Ana dan mendongak. Dika bisa melihat wajah sembab itu yang dari tadi terus menangis di dalam pelukannya.
Diak merasa iba dengan sang kekasih. Ia memeluk tubuh Ana dengan erat. Mungkin Ana sekarang tengah iri kepada keluarganya. Masalah Ana benar-benar sangat berat.
Kenyataan yang sangat pahit. Tadi siang ia baru saja berkunjung ke kuburan ibunya dan Ana tak mampu menahan tangis yang menderu hingga ia pulang.
Ana tak memiliki tempat tujuan. Ia menginap di rumah Dika. Kebetulan mereka sedang libur semester. Biasanya Ana akan menghabiskan waktunya di Inggris sendirian.
Namun sekarang karena ia sudah memiliki sandaran maka Ana akan pulang ke tempat sasarannya tersebut.
"Udah-udah jangan bahas itu. Masih ada aku," ujar Dika menenangkan Ana. Ia mengusap punggung wanita ota itu. "Lagipula kamu tidak baik nangis terus menerus kaya gini. Nanti cantiknya hilang."
Ana bangkit dan menatap wajah Dika dengan tajam. Ia tak senang dengan ucapan Dika barusan. Seolah pria itu tengah menyinggung dirinya. Ana menatap pria itu dan menunjuk wajah Dika.
"Jadi kamu sukanya aku yang cantik doang? Pas aku jelek kamu gak suka?" cerca Ana habis-habisan kepada pria tersebut.
Dika tak mampu berkutik. Jika persepsi Ana sudah salah maka ia harus terima jika dirinya akan tetap salah di mata wanita itu.
"Bukan begitu sayang."
"Terus kaya gimana? Aku benci sama kamu kalau kaya gini tau gak," ucap Ana dengan nada berapi-api.
"Aku bercanda sayang. Jangan dianggap serius. Udah-udah. Btw Chika sama Lona dan Reyhan sama Diego mau ke sini. Dia senang banget dengar kamu udah pulang."
"Aku juga kangen banget sama mereka," ujar Ana menunjukkan rasa senangnya.
__ADS_1
___________
"OMG ini beneran lo Ana? Cantik banget dan lo gak berubah sama sekali. Tetap cantik dan beda sama gue makin melebar."
"Itu ah karena elo makan mulu," ujar Chika menyinggung Lona.
Lona tersenyum jenaka. Ia tahu kesalahan yang ada pada dirinya. Sulit memang menghindari makanan-makanan seperti itu. Makanan-makanan tersebut terus menyerang nafsunya untuk ia menghabiskan mereka semua dengan brutal.
"Kamu juga cantik Lona."
Ana memeluk sahabatnya itu dengan erat. Perasaan yang luar biasa rindu dan tak tergambarkan. Sekarang mulai sudah tercurahkan dan terbalaskan.
"Ututututu gue rindu banget sama lo.
"Gue juga sumpah."
"Elo kenapa sih gak pulang ke Indonesia. Kek betah banget lo di Inggris."
"Gak dibolehin sama keluarga."
"Emang keluarga lo jahanam banget," ucap Chika membuat Ana terdiam. Mungkin bagi semua orang akan merasakan hal yang sama dengan Chika jika mendengar kasus yang sama. Kini Ana akui jika ucapan Chika memang bener.
"Perlu disentil jantungnya. Sama anak kandung kok jahat banget kayaau ngejauhin kita sama lo. Denger-denger lo udah kabur dari keluarga lo. Demi apapun itu langkah yang bagus." Ana mengangguk setuju, dari pada ia tetap di sana hingga menyiksa batinnya, mending ia kabur bukan.
"Ciehh selamat bro katanya ko udah jadian sama Ana ya. Gak nyangka gue ternyata kalian pacaran juga, gue kira gak bakal ketemu lagi selamanya."
"Heh mulut lo," ujar Dika yang tak senang dengan ucapan Reyhan barusan.
"Biasa mulutnya tuh gak ada rem sama sekali. Emang pantas orang modelan dia ini digrebak masa," ujar Diego dan menyentil kepala sahabatnya.
"Jan.cok sakit gue."
Ana menghela napas melihat kelakuan mereka semua.
"Seriusan Lona kamu pacaran sama Reyhan?"
Lona tampak malu-malu. Chika muak dengan Lona yang bertingkah seperti itu. Seperti ABG yang sedang jatuh cinta. Selain itu sikap Lona benar-benar konyol.
Hubungan mereka dan Reyhan bak bocah prik yang tidak tertolong. Ana menghela napas panjang dan mengepalkan tangannya.
__ADS_1
"Cukup sudah rasa sakit hati yang tadi ia alami sedikit terobati."
"Oh iya Ana kamu gak papa, kan?" tanya Chika melihat Ana yang terbengong.
Ana menggelengkan kepala. Hanya saja ia tak enak badan. Setiap kali ia habis menangis sesugukan seperti itu pasti setelahnya ia akan merasakan tak nyaman pada tubuhnya.
"Aku gak papa kok. Santai aja."
"Eh lo katanya udah diersetuin sama camer ye?"
Ana tersenyum lebar. Hubungan ia dan Dika memang sudah mendapatkan restu dari pihak pria namun belum dari pihak dirinya.
"Iya. Tapi di gue belum."
"Yang sabar yah, ntar kita bantuin buat jelasin ke bokap nyokap lo."
Ana menggelengkan kepala. Ia sudah tak ingin berurusan lagi dengan mereka. Ana berharap jika mereka sadar dengan perbuatan yang telah mereka lakukan kepada-nya. Ana tidak akan membiarkan mereka tunduk begitu saja.
Ana menghela napas panjang dan mengepalkan tangannya. Mungkin Ana tidak akan lagi kembali kepada keluarganya.
"Kak Ana!!" Ana menoleh ke arah Naina yang baru saja pulang dari tempat neneknya.
Ana maju sambil merentangkan tangan. Ternyata Naina sudah semakin besar dan kini tumbuh menjadi wanita yang sangat cantik.
"Naina, kakak kangen banget sama kamu."
"Sama Naina juga kangen Kakak," ujar anak gadis tersebut.
"Siapa Na?" Ana menoleh ke arah Chika.
"Ini Naina adiknya Dika. Eh Dika juga mau punya adik lagi."
"Hah serius?" tanya Lona dan langsung melihat ke arah Dika. Dika tersenyum tipis sambil meringis. Sebenarnya ia cukup malu umur segitu tiba-tiba ia memiliki adik lagi.
"Wah selamat bro. Btw lo sombong banget pas kita ketemu kemarin. Sumpah sih lo gak punya hati banget." Chika masih tidak terima dengan penghinaan yang dilakukan Dika tempo lalu kepadanya.
"Hm."
__________
__ADS_1
Tbc
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMAKASIH