
Padahal ia belum benar-benar sembuh, tetapi Dika sudah berjalan keluar dari rumah sakit dengan pakaian hitamnya.
Dokter berdatangan mencegah pria tersebut melakukan hal konyol itu. Nyatanya bujukan dari para dokter hanyalah sebuah angin lalu, Suka bahkan sama sekali tidak peduli kepada mereka meskipun ayahnya sendiri yang turun tangan dan meminta para dokter mencegah dirinya.
"Orang tua sialan itu," umpat Dika da keluar dari rumah sakit, "menyusahkan."
Dika masuk ke dalam mobil Diego yang ia suruh menjemput dirinya. Diego bahkan sampai melongo melihat sang sahabat yang tetap keluar meskipun dalam keadaan luka-luka.
"Lo emang sangat luar biasa," ujar Diego salut. " Gak sakit emang?" Diego menatap luka-luka yang ada di tubuh Dika.
"Emang gue bocah?" tanya Dika yang Tika senang mendengar kalimat yang barusan dilontarkan oleh sahabatnya tersebut.
"Kalem Cok, gue cuman bercanda nj.ing," ujar Diego dan menarik napas panjang.
Pria itu memperhatikan sahabatnya yang mendesis ketika mengangkat tangan. Perban masih melekat di kepalanya, seharusnya Dika sekarang berada di rumah sakit.
"Jalan. Lo mau di sini aja?" tanya Dika sembari memperhatikan tangan Digeo yang tak kunjung memutar stir.
"Ingat ya, gue nggak ikut-ikutan. Kalau bokap lu marah jangan nyeret nama gue," ujar Diego lalu kemudian menjalankan mobil tersebut.
Dika mendengus kasar. Dia itu tak menanggapi ucapan sahabatnya barusan. Lagi pula pernyataan Diego barusan juga tidak bermanfaat. Bahkan Dika sama sekali tidak peduli jika nama dia itu akan terseret atau tidak.
"Bukan urusan gue," ucap Dika yang berhasil membuat Diego geleng-geleng kepala.
Laki-laki tersebut tidak habis pikir dengan sahabatnya satu ini. Semenjak ditinggal oleh anak sifatnya semakin menjadi dan lebih tidak manusiawi. Ditambah yang memiliki lingkungan keluarga yang tidak harmonis dan persahabatan yang sangat toxic membuat Dika berada di dalam kesesatan.
Sebuah harapan di hati Diego bahwa Dika dapat menemukan cintanya kembali dan tidak terlalu berlarut larut terhadap perasaannya kepada Ana.
Keluarga Ana juga sangat keterlaluan. Tidak pernah memperdulikan Ana dan bahkan memisahkan Dika dengan Ana.
"Kenapa ya orang tua zaman sekarang pada jahat-jahat," ucap Diego pelan.
Dika yang mendengar ucapan temannya tersebut menatap pria di sampingnya tersebut. Tatapannya sangat tajam membuat Diego merinding.
"Emang orang tua lo gak?"
__ADS_1
"Eh gue bercanda."
Diego tidak akan pernah bisa melawan Dika. Laki-laki tersebut sungguh sangat kejam dan juga tidak mengenal kata sahabat jika sudah marah.
"Gak ada cewek cantik?"
"Lo cewek mulu. Kalau ada Ana di sini lo udah lama digeplak sama tuh cewek." Wajah Dika langsung terdiam. Pria itu menarik napas panjang dan menatap jalan dengan dingin.
Ana. Nama wanita itu lagi yang diingat oleh Dika. Nama itu tidak akan pernah pudar di hatinya, perasannya yang sangat luar biasa kepada wanita itu. Ia tak akan pernah bisa melepaskan bayang-bayang wanita itu dari ingatannya.
"Ana," lirih Dika. "Apa gue terus kaya gini baru Lo mau datang?"
"Eh si tol.ol ya enggak lah, Ana malah benci kalau ada lo."
Dika menatap Diego yang mencela ucapannya.
"Gue sengaja nungguin dia marahin gue baru gue berhenti kaya gini."
"Yaudah Dik, serah lo gue capek," ujar Digeo yang sudah tak sanggup melawani ucapan pria tersebut.
___________
"Katakan I love you."
"I hate you," ujar Ana dan tertawa melihat mimik wajah Joe yang tak senang mendengar ucapannya.
"Yang benar saja kau," ucap Joe yang langsung memasang wajah merajuk.
"Dih udah gede juga masih suka ngambek," ledek Ama membuat Joe langsung merubah wajahnya seperti biasanya.
"Jangan kaya gitulah, aku kan cuman bercanda," ucap pria itu dan menarik napas panjang sambil mengercutkan wajahnya.
"Eh Joe, Ana," sapa Gabriella.
"Hai Ella!"
__ADS_1
"Berdua terus apa kalian jangan-jangan...."
"Udah deh Ella kita gak ada apa-apa, jadi berhenti deh kamu mikirin yang aneh-aneh."
Ella terbahak melihat wajah marah Ana. Wanita itu sangat cantik dan bahkan membuat Ella tak mampu menahan tangannya untuk tidak mencubit pipi wanita tersebut.
"Gimana novelnya?"
"Keterima sih dengan baik."
"Bagus dong," ujar Ella ikut senang karena Ana berhasil menerbitkan buku baru.
"Makasih deh kalian semua udah dukung aku," ujar Ana bahagia sembari memeluk Ella.
"Kepada Joe dong, dia kan bantu tukang ngeditkan naskah."
Ana menatap Joe yang tersenyum padanya. Ana lantas menghadiahi pria itu dengan sebuah pelukan hangat.
"Ututututu terimakasih juga sudah mau membantu ku."
"Aku rela jadi kacung mu jika itu demi kamu."
"Aduh ada yang mau romantis-romantisan nih, tapi lupa ada orang lain lagi di sini," sindir Ella dan Ana hanya menarik napas panjang sambil menyenggol wanita tersebut agar berhenti menggoda dirinya.
"Ella," lirih Ana.
"Wajah kamu merah Na?" Refleks Aja memegang wajahnya.
"Enggak tuh."
"Oh si Joe yang salting."
"Udah gak usah dengerin si parasit, ujar Joe dan menutup kedua telinga Ana lalu mengajak wanita itu pergi.
___________
__ADS_1
Tbc
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMAKASIH