SURAT CINTA UNTUK....?

SURAT CINTA UNTUK....?
part 9


__ADS_3

Wellcome back my story


Jangan lupa like dan comen


happy reading all


_____________


Ana membuka kelopak matanya yang sedari tadi hanya terpejam nyaman. Hal yang pertama ia lihat adalah langit langit kamar UKS yang berwarnakan putih agak ke kuning kuningan.


Ana terus memperhatikan langit langit kamar UKS yang tidak terlalu menarik, kemudian ia melirikan matanya kearah samping ia berbaring di atas brankar yang di sediakan untuk para siswa yang sakit.


Ana mengernyitkan alis bingung saat tatapannya jatuh kepada seseorang perempuan yang sedang tertidur pulas dengan badan yang duduk di kursi dan kepala di rebahkan di sisi ranjang yang ia tempati sekarang yang hanya ada tersisia sedikit kasur, dan di situlah perempuan tersebut memposisikan kepalanya dengan kedua tangan yang menjadi bantal perempuan itu.


"Cika," gumam Ana dengan suara serak, sebab ia baru saja tersadar dari pingsannya bekas tragedi di lapangan tadi.


Cika merupakan perempuan yang berbaring tadi pun langsung terbangun saat samar samar mendengar gumaman seseorang yang menyebut namanya.


Cika mengucek matanya untuk memperjelas penglihatannya dan lebih leluasa mencari sumber suara yang ia dengar tadi. Serasa ia sudah sadar, Cika bangun dari posisi tidurnya dan menatap Ana yang sedang memperhatikan dirinya sambil berbaring.


"Na, lo dah sadar. Lo mau apa? Bubur, teh, nasi goreng, nasi padang, susu coklat, susu putih, sate, bak_____" Ucapan Cika harus terhenti saat Ana membuka suaranya, sebab ia sedari tadi hanya berdiam diri saja.


"Gue ada di mana Cik?" Tanya Ana yang sedari tadi sudah bingung saat mendapatkan dirinya sedang berbaring di suatu ranjang yang ia tidak ketahui ada di mana, sebab bisa di katakan Ana jarang jika di sekolah ia masuk ke dalam UKS, mungkin hanya sesekali saja ia masuk UKS jika ia sedang merasakan pening.


Cika mendengar pertanyaan dari Ana pun langsung menatap perempuan itu dengan sedih. "Lo ada di UKS, lo tadi pingsan pas lagi masa hukuman," ujar Cika memberitahu Ana ada di mana dan apa penybabanya sampai ia berada di UKS. "Lagian lo kenapa sempat telat pergi sekolah sih Na, gak biasanya lo kaya gini. Dan lo taukan Na, Dika itu orangnya licik seperti kancil, kenapa lo tetap mau ngikutin dia?" Geram Cika kepada Ana yang selalu saja terus menerus di bodoh bodohin Dika orang yang gak punya hati.


Ana menatap sendu kearah Cika, " Gue pagi tadi telat bangun gara gara keenakan tidur di kamar gue yang dulu."


kenapa Cika tidak terkejut saat Ana mengatakan kalau ia telat bagun gara gara keenakan tidur di kamar lamanya? Jawabannya adalah karena Cika sudah tau bahwa Ana pindah kerumahnya dan tidak lagi tinggal di apartemen, sebab mereka sahabat, jadi Ana akan menceritakan masalahnya saat ia merasa tidak sanggup memikul masalah tersebut sendirian.


"Dan untuk pertanyaan lo yang kenapa gue mau di ajak kekantin oleh Dika adalah, gue khilap Cik, gue tadi lagi panik saat gue liat gerbang sudah di tutup sama pak Wardan. Kan lo tau sendiri Cik kalau gue gak pernah telat datang, jadi gue gak bisa berpikir apa apa saat Dika ngajakin gue manajat tembok sekolah sama pergi ke kantin. Yang terpenting saat itu bagi gue, gue dapat masuk ke kelas," lirih Ana dengan penyesalan, "Maafin gue Cik."


Cika yang sedari tadi fokus mendengar penjelasan Ana, langsung menatap Ana saat ia menangkap suara penyesalan dan maaf dari Ana, ia tersenym manis ke arah Ana yang menandakan ia tidak marah kepada perempuan itu yang sedang menatap Cika dengan raut penyesalan yang dalam.


"Udah, udah lah. Yang sudah berlalu biarkan saja berlalu. Fokus utama lo sekarang ini ialah kesehatan lo yang mulai melemah Na! Lo tau kan kalau lo ngidap penyakit kangker, jadi lo gak boleh banyak pikiran sama kelelahan, okey! Biar Dika dan geng nya gue yang ngurus sama Lona," ucap Cika untuk mendorong Ana memperhatikan kesehatannya yang sedang berkurang.


Ana mengangguk mengerti dengan penjelasan Cika. Namun ia baru menyadari sesuatu stelah Cika menyebutkan nama Lona di akhir kalimatnya tadi, bahwa sedari tadi ia belum melihat batang hidung biang rusuh dan yang selalu cerewet.


"Cik! Lona mana ya? Kok gue gak liat dia ada di sini."

__ADS_1


"Di saat lo yang sedang sakit kaya gini, masih aja ingat dengan tikus kejepit, heran gue kenapa banyak orang yang selalu merindukan tikus kejepit, apa tu anak punya guna guna ya," ujar Cika dengan mendengus kesal melihat Ana yang masih sempat memikirkan Lona di saat kondisinya dalam tidak baik baik saja.


"Maksud lo?" tanya Ana heran dengan jawaban yang Cika lontarkan.


"Maksud gue Lona__," belum sempat Cika menyelesaikan perkataannya, sebuah suara cempereng yang sangat ia kenali siapa pemiliknya, langsung menghentikan ucapan Cika yang ingin menjawab pertanyaan dari Ana yang bertanya di mana Lona dan sekaligus menjawab pertanyaan Ana tentang jawaban yang ia ajukan barusan tadi.


"Na lo udah sadar. Yaampun Na, yang mana yang sakit? Biar gue pijitin lo! Lo sakit kepala, sakit perut, atau lo sakit hati? Duh Na cepat bilang ke gue buruan yang mana yang sakit," Pinta Lona dengan tidak sabaran menunggu jawaban Ana atas pertanyaan nya yang beruntun.


"Perasaan gue tadi gak ada ngundang wartawan buat kesini deh," ucap Cika sambil memandang sinis kearah Lona, "Apa lo yang ngundang Na," tanya Cika kepada Ana yang sedang menonton pertengkaran mereka.


Dengan polosnya Ana menggelengkan kepala saat mendapatkan pertanyaan dari Cika yang tidak berguna sama sekali. Memang benarkan ia tidak pernah mengundang wartawan untuk datang kesini.


lagian untuk apa ia mengundang wartawan datang kemari, yang ada nantinya kepala Ana akan bertambah pusing saat mendapatkan pertanyaan wartawan yang bertubi tubi dari wartawan yang cerewetnya minta ampun.


"Jadi siapa yang suruh lo kesini?" Tanya Cika kepada Lona, "gak ada kan! Kalau gak ada mendingan lo pergi dari sini. Gue bakal pusing nanti ngejawab pertanyaan lo, yang ada nanti lima menit kedepan gue yang bakal baring di situ," tunjuk Cika kearah ranjang UKS yang bersebelahan dengan ranjang Ana tempat ia terbaring lemah.


Lona yang sedari tadi membiarkan Cika meledek dirinya terlebih dahulu pun langsung mendekati Cika. Ia menatap Cika dengan tatapan yang sangat tajam dan menghunus.


Lona sudah sangat jengkel mendengar ocehan dan cibiran dari Cika terunutuk dirinya, jadi Lona hanya membiarkan saja Cika terus terusan meledek dirinya sampai mulut nenek lampir itu berbuih, dan barulah mungkin ia akan berhenti meledek dirinya.


"Udah puas ledekin gue?" Tanya Lona dengan serius.


Jarang jarang loh Lona kaya gini, jadi karena Lona yang jarang bersikap serius alhasil dirinya saat serius sangat menakutkan seperti pisikopat.


"Udah, puas banget malahan," ujar Cika, bahwa ia sudah sangat puas meledek Lona, "usah gitu juga kali muka lo Lon! Seram tau gak."


Lona tidak menghiraukan ucapan Cika tadi. Ia mengalihkan pandangannya kepada Ana yang sedang memperhatikan mereka berdua yang sedang beradu argumen.


"Udah berantemnya?" Tanya Ana membuka suara.


Ia sengaja tadi tidak melerai pertengkaran yang sedang memanas antara Lona dan Cika, karena meskipun ia menasehati dan melarang supaya akur sekalipun, tetap semuanya percuma. Sebab mereka berdua bagai kan Tom and Jerry.


"Udah," jawab mereka kompak.


"Kalian gak tau apa, biasanya orang yang sering bertengkar dengan sahabat sendiri itu jodoh tau."


Lona dan Cika saling bertatapan dan memandang jijik ke arah satu sama lain. Gimana gak jijik coba, masa ia perempuan jodoh sama seorang perempuan. Hellow mereka masih normal kali.


"Ih--- gue yang dengar lo ngomong kaya gitu rasanya cairan yang ada di dalam perut gue berasa pengen keluar semua," ucap Cika bergidik ngeri sambil memegangi perutnya.

__ADS_1


"Lo pikir gue mau jodoh sama lo? Sorry lah ya Najis tau, cowok di dunia ini stok nya masih banyak jadi gue gak akan pernah suka sama perempuan apalagi sama lo. lagian sih lo Na mengucapkan sesuatu itu gak di saring dulu."


"Iya Lona sayang ku," kata Ana dengan nada seimut mungkin.


Ana baru ingat tentang Lona tidak ada di saat ia baru sadar, ketidak adanya keberadaan Lona membuat rasa khawatir Ana memuncak. Meskipn Lona orangnya rada rada nyebalin, tapi tetap saja ia merindukan kekonyolan Lona.


Lona yang terlihat sangat ceria dan konyol sehingga orang yang sering bergaul dengan Lona sangat senang berada di dekat perempuan itu. Meskipun begitu bukan berarti Lona tidak mempunyai masalah dan beban yang begitu berat, namun semua itu ia tutupi dengan senyum palsunya yang berhasil mengelabuhi banyak orang.


Ana menatap kearah Lona yang sedang berdiri di sampingnya dengan tangan kanan yang menenteng sesuatu yang berlapis plastik hitam yang ia belum ketahui apa isinya.


Ana tersenyum kearah Lona yang sedang memajukan bibirnya manyun. Sungguh sangat menggemaskan Lona yang seperti itu, "Lon lo barusan dari mana?" Akhirnya pertanyaan yang sedari tadi ia ingin lontarkan kepada Lona tersampaikan juga.


Lona yang mendengar pertanyaan Ana pun langsung menatap perempuan itu dengan wajah yang tersenyum manis kepada Ana. "Oh gue tadi lagi beliin lo ketoprak makanan kesukaan lo Na."


Lona mengambil mangkok yang terletak di samping barnkar, tepatnya di atas meja yang beruukuran kecil. Lona menuangkan ketoprak yang berada di tangan nya kedalam mangkok dengan hati hati agar ketoprak tersebut tidak berlepoatan di meja tersebut dan mengotori meja itu.


Ana bangun dari baring nya yang di bantu oleh Cika agar Ana lebih mudah lagi untuk mengambil sikap duduk, Ana memakan ketoprak yang di berikan oleh Lona tadi dengan nikmat, perlahan lahan dengan pelan ia menyuapi ketoprak tersebut ke dalam mulutnya.


"Ahhh," desah Ana yang tiba tiba merasakan pusing yang menjalar di seluruh kepalanya.


Lona dan Cika yang melihat Ana yang sedang kesakitan itupun langsung panik, terutama yang paling panik itu adalah Lona, sebab ia sangat takut makanan yang ia kasih ke Lona tadi mengandung racun yang mematikan.


"Lo kenapa Na?" Lona yang panik itupun langsung mengambil air putih dan memberikannya kepada Ana.


Ana langsung meraih gelas yang berisikan air putih tersebut dan meneguk air tersebut hanya satu teguakan.


"Lo gak papa kan Na, apanya yang sakit?" Tanya Cika khawatir.


"Gue cuman bercanda," ucap Ana dengan sengiran kuda.


Cika dan Lona yang mendengar pernyataan Ana yang menyebalkan itu pun langsung menabok Ana secara bersmaan, hingga orang yang menjadi korban tabokan tersebut melenguh kesakitan.


"Auuuu, sakit tauu!"


___________


Tbc


by history: Amanda

__ADS_1


ig: amandaferina6


__ADS_2