
To: Dika Rontiwa
Saat melihat mu pertama kali aku tahu kau adalah pria yang baik. Aku mengira akan dekat dengan mu tetapi ternyata dulu aku salah. Kau memusuhi ku dan aku merasa sedih karena itu. Setiap hari aku menahan perasaan ku. Kau membuat ku takut dengan sekolah. Namun jika aku tak sekolah aku tidak melihat mu sedangkan jika aku di rumah aku akan mendengar ceramah orangtua ku. Dika, maafkan aku pergi tanpa kabar. Orangtua ku memaksa ku sekolah di Inggris. Aku tidak menginginkannya aku sudah melawan orangtua ku tetapi aku tidak berhasil Dika. Mereka terus memaksaku hingga aku memutuskan untuk pindah ke Inggris. Maafkan aku bila membuat mu kecewa. Demi matahari yang bersinar di pagi hari aku sungguh akan merindukan mu. Ketika kamu mengucapakan kata maaf aku tersadar bahwa diri mu tidak seburuk apa yang aku bayangkan dulu. Kau memiliki hati yang lembut, aku tahu itu. Ternyata selama ini aku tak salah memilih orang. Satu hal yang ingin aku ungkapan tentang mu. Mungkin dengan kalimat ini sudah cukup mengungkapkan semuanya. Aku mencintaimu Dika, sungguh. Rasa cinta ku semua aku tulis di dalam sebuah surat. Sayangnya surat-surat itu sudah hilang. Jika masih ada aku akan meninggalkan surat itu untukmu. Terimakasih sudah mau menerima aku.
From Ana
Mata Dika berlinang. Ternyata penulis surat yang sudah lama dirinya cari adalah Ana. Betapa bahagianya Dika ketika tahu bahwa itu adalah Ana.
Ia bahkan menyusul Ana ke bandara tetapi nihil Ana sudah pergi dari beberapa hari lalu.
Dika memejamkan mata dan harus menerima kenyataan. Ia juga beberapa kali menghubungi Ana tetapi sama sekali tidak ada jawaban dari Ana.
Seakan nomornya sudah diblokir. Semua sosial media milik Ana juga tidak ada yang aktif. Dika sampai membuat akun baru memastikan jika dirinya diblokir atau tidak ternyata memang tidak aktif.
Dika mendesah panjang dan meremas tangannya. Pria itu menatap bandara dengan perasaan sakit sambil menggenggam kertas surat milik Ana.
"Ana maafkan aku."
Hujan turun dan Dika berjalan di tengah hujan menuju motornya. Pria itu mengarahkan motornya ke jalan pulang.
Baru kali ini Dika sehancur itu. Pria tersebut tak lama sudah sampai di rumahnya.
Naina selaku sang adik terkejut melihat Dika pulang dengan keadaan basah kuyup.
__ADS_1
"Kak Dika kok basah?"
"Gak papa Naina. Kamu sudah makan?"
"Naina sudah makan."
Dika menganggukan kepala mendengar ucapan adiknya. Pria itu membuka seluruh pakaiannya yang basah dan meminta Naina mengambilkan handuk di kamarnya.
"Naina ambilkan handuk Kakak di kamar."
Anak perempuan itu mengangguk dan lekas ke kamar Dika dan mengambilkan handuk milik pria tersebut. Tidak membutuhkan waktu lama Naina pun datang dan menyerahkan handuk yang ada di tangannya.
Dika pun mulai mengeringkan tubuhnya ia tidak mungkin masuk ke dalam rumah dalam keadaan basah kuyup seperti itu. Kemudian pria itu menuju ke kamarnya dan dibuntuti oleh Naina di belakang.
Naina menghela nafas panjang. Wanita itu menggelengkan kepalanya lemah. Melihat itu tentu saja Dika paham dengan perasaan adiknya.
"Tenanglah mungkin mereka ada pekerjaan yang sangat ketat hingga belum sempat pulang."
"Tapi, mama dan papa seperti tidak senang aku pulang Kak."
"Kamu bicara apa Naina?" Padahal memang itu kenyataannya.
Kedua orang tuanya tidak pernah peduli bagaimana dengan anaknya terutama untuk Naina.
__ADS_1
"Masih ada kakak."
Dika pun masuk ke dalam kamar dan membersihkan seluruh tubuhnya lalu ia mengenakan kaos warna putih dengan lengan pendek dan juga celana pendek selutut.
Kemudian laki-laki itu duduk di tepi ranjang sambil merenung. Ana telah pergi dan tidak ada lagi di hidupnya. Tidak mungkin ia bisa hidup tanpa Ana di dunia ini. Mungkin itu terdengar sedikit dramatis tetapi sesungguhnya hal itu memang mengguncang kejiwaan Dika.
Setelah sadar atas perbuatannya selama ini dan ia baru menyadari bahwa perasaannya terhadap Ana.
"Maafkan aku Ana. Mungkin setelah ini kau akan membenci diriku tidak bisa menolong mu."
Dika memejamkan mata dan mengingat memori kebersamaan mereka. Pria tersebut membuka mata lalu berjalan ke arah tempat surat-surat milik Ana.
Kemudian ia pun membaca ulang surat-surat tersebut. Tak hentinya Dika tersenyum sambil mengingat bagaimana Ana menulis surat itu yang posisinya dulu sangat bejat dan suka membuat wanita tersebut sakit hati.
Dika pria kuat dan hari ini ia meneteskan air mata untuk seorang wanita. Jelas wanita itu sangat berarti untuk dirinya.
"Aku pasti akan menemukan kamu Ana. Aku janji dan akan membuat kamu keluar dari keluarga mu."
Dika menarik napas panjang dan pria tersebut mengusap air mata yang keluar dari netra hitamnya.
___________
Tbc
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA