SURAT CINTA UNTUK....?

SURAT CINTA UNTUK....?
Part 21 A


__ADS_3

Wellcome back my story


Jangan lupa like dan comen


Happy reading all (~¿~)


Typo bertebaran


_____________


Dika memberhentikan motornya di depan pintu gerbang untuk menunggu satpam yang bekerja di rumahnya membuka gerbang tersebut yang masih tertutup.


Sedangkan satpam yang melihat anak majikannya menunggu dirinya membuka pintu pun langsung bergegas menghampiri pintu gerbang dengan berlari kecil dan tangan yang berisikan kunci yang begitu banyak.


Satpam tersebut membuka pintu gerbang dan mempersilahkan agar Dika masuk kedalam.


Dika menjalankan motornya masuk kedalam pekarangan rumah. Kemudian ia memarkirkan motor tersebut di dalam garasi. Ia turun dari motor setelah ia selesai memarkirkan motornya dan seraya berjalan meninggalkan garasi.


Ia melangkahkan kedua kakinya kearah pintu depan. Ia mendorong pintu tersebut dan masuk kedalam rumah yang tidak bisa di jelaskan secara spesifik luas dan besarnya. Ia berjalan dengan kedua tangan yang di masukkan kedalam kantong celana, ia menatap ruangan rumah ini dengan sedih karena suasana rumah yang memang setiap harinya selalu sepi.


Tidak peduli akan hal itu, Dika melanjutkan jalannya menaiki tangga rumah tersebut untuk menuju kamar tidurnya yang terletak di atas. Ia menaiki tangga tersebut dengan sedikit berlari agar ia dapat lekas sampai ke lantai atas.


Sesampainya di atas ia langsung melangkah berjalan mendekati pintu kamar. Di putarnya knop yang melekat di pintu tersebut dan mendorong pintu yang menjadi tempat celah ia masuk kedalam kamar.


Dika melempar tasnya ke sembarang arah dan dengan keadaan yang gusar ia merebahkan badannya yang sangat terasa letih tersebut di atas kasur yang terasa lembut.

__ADS_1


Masih dengan posisi yang semula ia menolehkan kepalanya kepada meja nakas yang berada di samping ranjang cowok itu. Ia menatap sedih kepada gambar keluarga yang terpajang di sana, di gambar tersebut ada ibu, ayah, dan adiknya.


Ia berusaha menarik kedua sudut bibirnya untuk memaksakan senyum saat ia melihat poto tersebut. Meskipun di rumah ini ia tidak sendiri, tapi rasanya ia hidup dengan aroma kehampaan.


Kedua orang tuanya selalu memikirkan karier mereka dari masa mudanya. Terkadang Dika sering memperhatikan keluarga bahagia yang ia jumpai di tengah jalan yang sedang asik bercanda ria, ada rasa iri saat menatap kebahagiaan keluarga tersebut.


Dika sama sekali tidak tau rasanya kebahagiaan keluarga itu seperti apa, ia hanya tau rasa di perhatikan itu dari cerita siswa siswi yang membahas tentang keluarga mereka yang harmonis.


Ibu dan ayahnya selama menikah tidak pernah akur ataupun bersama, mereka selalu saja mementingkan ego masing masing yang ia tak ketahui ego tentang apakah yang tertanam di dalam diri kedua orang tuanya.


Namun yang pasti ia tahu sekarang ini ibu dan ayahnya itu mempunyai suatu masalah yang tidak bisa begitu saja di selesaikan. Ia merasa heran kepada kedua orang tuanya itu, jika memang tidak cocok untuk bersama setelah menikah kemarin kenapa orang tuanya tidak berpisah saja sebelum ia tumbuh di dalam rahim sang ibu dan dengan terpaksa ia harus lahir kedunia dan menghadapi betapa beratnya beban dunia yang harus ia pikul, dan kini yang lebih parahnya lagi adiknya juga lahir kedunia.


Terkadang ibu dan ayahnya dengan terpaksa menunjukan keromantisan mereka berdua saat Dika atau adiknya meminta sang ayah dan ibu berdamai saat mereka sedang berulang tahun. Hanya itu yang Dika minta sebagai kado di hari ulang tahunnya. Baginya kasih sayang lebih mahal dari pada materi dunia yang bisa membutakan akal.


Ibu dan ayahnya sudah sebulan tidak berada di rumah. Mereka berdua sedang di sibukan dengan karier mereka yang semakin naik. Sedangkan adik cantiknya Naina yang duduk di bangku SMP kelas 8 dengan sengaja orang tuanya mengirim kepada sang nenek di Bandung.


Dika bangun dari posisinya yang rebahan menjadi duduk di kasur. Ia membuka sepatu sekolahnya yang belum ia buka serta ia juga membuka kaos kakinya.


Ia berjalan kearah kamar mandi untuk membersihkan diri dari bakteri yang melekat di tubuhnya akibat keringat yang bercucuran. Tak lama ia keluar dari kamar mandi dengan rapi dan mengenakan pakaian santai.


Dika menyatukan alisnya bingung saat ia mendengar dari arah luar suara riyuh seperti ada orang saja di rumahnya. Tidak ingin menerka nerka yang belum tentu faktanya sama lebih baik ia turun saja ke bawah untuk melihat siapa yang membuat keributan di bawah.


Dika menuruni tangga rumah tersebut dengan cepat. Saat ia menuruni satu tangga lagi ia langsung berdiam di tempatnya saat ia melihat pemandangan yang ia lihat di depannya.


"Mama Ayah," Dika bermonolog melihat kedua orang tuanya di ruang tamu.

__ADS_1


Satu ulasan senyum terbit di sela bibirnya laki laki itu. Ia memdekati orang tuanya yang sedang mengangkut barang barang selama perjalanan karier mereka. Mungkin anugerah tuhan yang telah mengatur waktu kepulangan orang tuanya bisa pas pasan sama begini.


"Ayah! Mama! Udah lama sampainya?" Dika terlihat sangat senang melihat orang tuanya sudah pulang kerumah.


Saat panggilan Dika tadi di dengar oleh orang tuanya, hanya sang bunda yang memberhentikan aktivitas yang sedang di lakukan, tidak dengan sang ayah ia terus saja menyusun barangnya yang lebih menarik dari pada anak sendiri.


"Baru aja datang," ujar sang ibu dengan nada datar yang di tampilkan.


Dengan berat hati Dika mengulum kenyataan yang ia rasakan saat ini, ia melihat sang ibu yang sudah kembali melakukan aktivitasnya dengan pandangan sayu. Merasa tidak ada tanggapan lagi dari sang mama, Dika menatap kepada ayahnya yang sudah selesai mengakut barang dan telah di bawa sang supir serta satpam kedalam kamar sang ayah.


"Ayah udah lama pulang?"


"Jangan tanyai ayah dahulu. Ayah sedang lelah," ujar sang ayah dan lantas meninggalkan Dika masuk kedalam kamar.


"Ma mau Dika bantu?" Aju Dika dengan mata yang melirik kepada koper sang Ibu.


"Tidak usah sayang! Biar mang Asep aja yang bawainnya," tolak sang mama.


"Gak papa ma! Dika pengen bantuin mama," ujar Dika dengan tatapan penuh harap.


"DIKA!! Coba kamu nurut dengan mama! Mama ini lagi capek Dik, kamu jangan buat kepala mama pusing dengan permintaan mu itu! Mama tau kamu sedang penat juga, itu terlihat dari wajah mu yang lebam lebam begitu, makanya mama suruh mang Asep aja yang ngerjain ini semua. Udahlah kamu tidak usah banyak bicara lagi, mama mau kekamar," omel sang mama dan pergi melenggang meninggalikan Dika yang hanya ialah yang tersisia di sana dengan semua sakit yang menemaninya.


Dika tersenyum kecut melihat kenyataan yang di suguhkan di hadapan matanya. Ini lah dirinya, inilah hidupnya, dan inilah keluarganya.


_____________

__ADS_1


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN COMEN YE GUYSS.


__ADS_2