SURAT CINTA UNTUK....?

SURAT CINTA UNTUK....?
Part 6


__ADS_3

Wellcome back my story


jangan lupa like dan comen


happy reading all


_________


Dika yang telah membaca isi surat pun langsung terdiam kaku tidak dapat berkutik lagi, matanya menatap surat tersebut dengan penuh kekaguman, ia sebelum nya belum pernah mendapatkan surta cinta dari mantan mantan pacarnya terdahulu dengan seromantis ini. Ia sering mendapatkan surat dari para penggemarnya di sekolah tapi tidak ada yang sama sekali dari surat-surat tersebut yang menyentuh hati laki-laki itu, yang ada hanyalah dirinya semakin ilfel kepada orang tersebut.


Dika merasa surat itu di tunjukan kepada dirinya, karena kata kata yang di rangakai menjadi kalimat di surat tersebut sangat romantis, dan di tambah juga Dika yang berpikiran jika surat tersebut dari para fansnya seperti biasa yang menaruh surat pagi pagi sebelum ia datang kesekolah di atas meja.


Hampir setiap hari meja Dika penuh dengan surat yang kata katanya alay bin jablay dan kado kado yang berisikan barang murahan, ia berdecih barang KW gitu mah dia dapat ngebeli, yah walau ada juga barang brandet, tapi tetap saja dengan mudah ia dapat membeli barang barang seperti fans nya itu berikan dan bahkan mungkin ia dapat  membeli barang yang lebih berkualitas dan pantastis dari pada semua itu.


Dika tersenyum, ini pasti tidak salah lagi dari fansnya, karena tidak mungkin dengan sengaja ada orang yang mau meninggalkan surat tersebut di atas meja cafe, bila jika tidak untuk pengunjung cafe selanjutnya. Ia yakin jika penulis surat tersebut telah menguntit dirinya diam diam saat sedari rumah tadi.


Entah mengapa setelah cowok itu membaca surat tersebut hatinya yang semula keras seperti batu langsung luluh dengan hanya selembar kertas yang bertuliskan kalimat romantis yang di tulis oleh penulis surat itu. Dika semakin mengukir senyumnya ketika ia mengingat apa yang telah di katakan pelayan cafe tadi, sebab dari pernyataan pelayan tadi ia mengetahui apa jenis kelamin penulis surat tersebut. Jujur hati Dika sangat tersentuh dan ia ingin bertekad mencari tahu siapa penulis surat itu.


Ia Dika mengubah ekspresinya bingung saat ia baru menyadari jikalau surat tersebut tidak terdapat nama penulisnya dan nama penerima, tidak sama dengan surat surat yang ia dapatkan biasanya yang ada terdapat nama penulis dan penerima, bahkan  juga surat yang biasa ia dapatkan selalu tidak ketinggalan kata KELAS di surat nya. Tapi ini tidak, mungkin orang itu ingin beda dari yang lain agar dirinya lebih penasaran dan mencari orang itu. Dan jika itu benar, maka selamat buat orang itu yang telah berhasil membuatnya penasaran.


"Ah gak usah di pikirin lah," ujar Dika kepada dirinya sendiri untuk meyakinkan dan tidak ambil pusing dengan ketidak adaan identitas tersebut.


Dika meletakan surat itu di tempat asalnya yaitu di peti, kemudian peti tersebut ia letakan kedalam lemari kayu milik cowok itu yang berada di samping ranjang ia sendiri.


kemudian Dika berjalan kearah ranjang yang ia punya dengan ukuran king size, ia berbaring di kasur yang sangat empuk dan nyaman tersebut dengan telentang dan tangan yang menjadi bantalan cowok itu, berbaring sembari menatap langit langit kamar yang tidak ada terhias apa apa, yang ada hanyalah sebuah lampu yang menggelantung di atas sana sebagai penerang kamar laki laki itu.


Dari luar pintu di ketuk oleh seseorang yang ingin masuk kedalam kamar cowok itu. Dika yang mendengar sebuah suara ketukan dari pintu dengan refleks langsung menoleh kearah pintu yang sedang tertutup tapi tidak ia kunci.


"Den, ini bibi Leni," ujar suara dari luar kamar Dika, yang ternyata pemilik suara tersebut adalah Leni yang merupakan asisten rumah tangga di rumah Dika.


"Masuk," ujar Dika singkat memperboleh kan bi Leni masuk ke kamarnya.


"Ini nasi goreng aden tadi, bibi taro di sini aja ya," bi Leni meletakan nasi goreng yang telah ia pindahkan ke piring tadi dari bungkusnya ke nakas.


Dika yang melihat bi Leni meletakan nasi goreng di atas meja kecil yang berada di sisi kepala ranjangnya pun langsung mengangguk, "Iya."


"Bibi keluar dulu ya den. jika butuh apa apa panggil aja bibi di bawah."

__ADS_1


"Hmm."


Bi Leni menghela napas pasrah, anak majikannya ini sangat kaku dan dingin. seolah olah kata kata yang ia ucapkan tersebut sangat mahal untuk di dengar oleh orang lain sehingga Dika sangat irit dalam berbicara.


Bi Leni melangkah berjalan kearah pintu seraya membukanya dan keluar dari kamar Dika yang sangat menegangkan. Dika yang melihat pembantu nya keluar pun bangun dari baringnya dan mengambil nasi goreng yang tergelatak di atas meja dan di lengkapi oleh air putih yang di tampung oleh gelas kaca, dan ia pun memakan nasi tersebut hingga habis tanpa bersisa satu butir pun.


_______________


"Pulang juga akhirnya lo. masih ingat sama rumah, kira gue lo gak bakalan ingat lagi dengan rumah." Ana yang mendengar perkataan seseorang pun langsung menghentikan langkahnya yang ingin menuju kamar seraya membalikan badan nya ke samping kearah sumber suara.


Ana menatap sinis kearah wanita yang sekiatar 24 tahunan, yang dengan angkuhnya wanita itu berdiri dengan tangan yang terlipat di dada dan satu kaki di luruskan, sedangkan satunya lagi di tekuk.


"Gue pulang kesini bukan atas kemauan gue, tapi gue pulang atas permintaan tuan yang punya rumah, dan yang membuat gue ingin tertawa lagi ialah dengan tanpa rasa malu ia meminta dan memaksa gue untuk tinggal lagi di sini," ujar Ana tak kalah sadisnya dengan kaka yang sangat ia tidak sukai yaitu Misla Alinta, anak kesayangan dari pasangan Toni Abira dan Vanesa Linda.


Misla yang mendengar perkataan Ana pun merubah ekspresinya kesal, ia mengepal kan kedua telapak tangannya dan berusaha menahan amarah yang sebentar lagi akan meledak seperti kompor gas.


Ia berjalan kearah Ana dan sengaja menyenggol Ana saat ingin naik keatas masuk kedalam kamarnya. Ana yang melihat itu mengerecutkan bibir dan menatap Misla dengan jengkel dan juga mulutnya terbuka terus dengan kata cibiran yang di tujukan kepada Misla.


"Dasar anak manja, apa apa aja ingin menang sendiri."


Ana menjalankan kakinya menuju kamar yang berada di lantai bawah yang sengaja di sediakan untuk dirinya, karena kamar tersebut lah yang paling kecil setelah kamar pembantu.


Ana membuka pintu kamarnya yang terbuat dari kayu jati, dan melangkah masuk kedalam kamar tersebut dengan rasa rindu yang sangat besar terhadap kamar yang sudah sekian lama ia tak tempati lagi.


Ana langsung berlari kearah kamarnya sambil menarik koper yang sedari tadi ia gerek sendiri tanpa ada yang membantu dia membawa barang barang yang lumayan banyak.


Tanpa membuka sepatu lagi, Ana langsung naik keatas ranjang dengan girang. Ia merebahkan badanya yang letih, sembari menatap lurus keatas, karena akhir akhir ini ia sangat lelah dengan kesibukan dan kegiatan harian nya menulis Novel untuk biyaya kebutuhan hidupnya, menulis merupakan hobby Ana sedari ia masih kelas empat SD.


Ana bangun dari baringnya dan duduk di atas kasur. Ia mengeluarkan kertas beserta pulpen dari tas ransel yang ia gunakan tadi, ia berencana ingin menulis surat dua kali sehari pada hari ini.


tanggal: 24 Juni 2018


Dear kekasihku


'Hai', buat kamu yang jauh ribuan mill tapi dekat di hati


Sayang Walaupun kita tak berada di tempat yang sama.... Tapi percayalah hati ini tetap milikmu.

__ADS_1


Sayang kau tahu, setiap detik dan waktuku aku habiskan dengan hanya memikirkan mu, nama mu yang selalu ada di kepalaku saat aku ingin tidur, belajar, dan makan.


Tidak kasihan kah dirimu kepadaku yang selalu saja merindukanmu, aku juga ingin seperti mereka yang selalu di manja dan di sayang.


Aku sungguh merindukanmu......


Aku berharap kau akan datang menemuiku dengan membawa sekuntum mawar putih yang melambangkan kesucian cinta kita dan berlutut di hadapanku mempersembahkan bunga mawar imipianku.


from: Yang merindukanmu.


Ana membaca lagi surat yang telah ia tulis di atas kertas dengan goresan tinta yang membentuk sebuah hurup, Ia ingin memastikan dan meneliti suratnya agar tidak terdapat kesalahan kalimat dari rangkaiannya itu.


Serasa tidak ada yang perlu di Revisi lagi, Ana mengambil surat yang berada di pangkuan nya itu ketika lepas ia membaca tadi. Ana yang ingin memasukan suratnya kedalam peti pun mencari petinya itu.


Ana mencari cari bingung kesana kemari meliahat dan mengingat ngingat dimana ia meletakan peti yang baru berisi satu kertas surat itu. Ana baru mengingat nya.


Ia menjambak rambutnya dengan lembut supaya tidak menyakiti dirinya sendiri, ia mengelembungkan bibir dan menghela napas, kenapa bisa bisanya ia meninggalkan surat di cafe saat setelah makan tadi.


Sudah lah, lagi pula surat yang berda di dalam situ pun hanya satu jadi ia tidak perlu larut dalam kesedihan. Namun tetap saja ia tidak bisa tidak bersedih, karena satu surat sangat berharga bagi Ana. bagaimana jika nanti surat tersebut ada yang membaca? kan Ana jadi malu bila ada orang membaca kata kata amburadul yang ia tulis.


Ana mengeluarkan peti yang sudah penuh dengan surat dan memasukan surat tadi kedalam peti itu yang tinggi dan lebarnya berukuran 25×20


Ana meletakan peti tersebut kedalam lemari pakaian yang ada di kamar. Ana berjalan kearah meja belajar dan membuka laptop nya untuk melanjutkan menulis Novel yang sebentar lagi akan Ending.


__________


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN COMEN


BY: AMANDA


IG:amandaferina6


fb: Nda


 

__ADS_1


 


__ADS_2