
Wellcome back my story
Jangan lupa like dan comen
Happy reading all
Hati hati TYPO bertebaran
____________
Di jam pelajaran yang sedang berlangsung, seluruh siswa di kelas XII IPS.2 tengah mengerjakan latihan Seni Budaya yang di berikan oleh guru terkiller di sekolah mereka. Sipa lagi kalau bukan ibu ZHAFIRA NUR AZIZ, seorang guru PNS yang terkenal di kalangan para pelajar Mutiara Hati akan kegarangannya terhadap siswa siswi yang bermasalah.
Banyak para murid yang berharap pabila jika mereka sedang berjalan di arena sekolah maupun di mana saja selama masih mengenakan pakaian seragam Mutiara Hati tidak akan pernah berjumpa dengan sang guru killer, sebab jika ibu Fira melihat muridnya tidak berpakaian dengan disiplin mengenakan seragam sekolah maka ia tidak akan segan segan memarahi murid tersebut dan jika perlu ia akan menggunting seragam atau menghukumnya tanpa melihat status.
Itulah sekilas gambaran seorang Zhafira Nur Aziz terhadap para muridnya. Meskipun terkesan arogan, tetapi ibu Fira melakukan itu semua demi kebaikan dan kemajuan murid miridnya. Tidak ada seorang guru yang tidak ingin melihat anak didiknya menjadi orang yang sukses. Sudah pasti semua guru itu mengharapkan hal yang terbiklah yang di alami masa depan para murid muridnya.
Betapa mulianya seorang guru, tetapi di zaman yang serba canggih serta telah di kuasai oleh globlisasi membuat manusia banyak mengalami kebutaan. Terutama kebutaan hati, pikiran, dan akal. Jika seorang guru sedang menasehati siswanya yang berbuat ulah, pasti di antara mereka ada yang mengumapat kasar gurunya di dalam hati. Dan lebih parahnya lagi, para siswa atau siswi tersebut dapat di pastikan mereka akan menggosipi guru mereka yang suka marah marah di belakang sang guru kepada teman temannya yang lain.
Dika tersenyum saat pikirannya melayang kepada seorang gadis muda bernama Ana Pricila. Seorang perempuan cantik yang terlihat polos kelakuannya yang selalu membuat ia jadi gemas sendiri, Bermata besar dan tajam yang selalu menatap dirinya penuh kebencian, memilki bibir yang merah seperti chery yang mampu membuat kaum Adam tergoda ingin melumatnya, suka mengenakan kecamata berlensa kemana mana sehingga menambah kesan lugu di wajahnya, serta memiliki kepala yang sekeras batu suka menentang ucapannya.
Ingatan betapa sempurnanya ciptaan tuhan yang sedang ia bayangkan tanpa laki laki itu sadari bahwa hasrat untuk memliki Ana semakin tinggi tersirat di dalam hatinya. Bayangan Ana terus berputar di dalam pikiran laki laki tersebut, apalagi bayangan Ana semakin berkeliaran liar di kepalanya. Bagaimana jadinya jika wajah sempurna tersebut pabila di polesi make up dan di dandani di salon ternama, pasti perempuan itu dalam sekejap akan berubah menjadi gadis cantik bak bidadari tercantik sejagat raya.
Membayangkan semua itu tanpa Dika sadari membuat ia semakin menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman lebar yang pertama kali laki laki itu tampilkan. Di dalam alam khayal laki laki tersebut terus menayangkan wajah Ana yang sedang tersenyum, cemberut, kesal, marah, dan banyak ekspresi lainnya.
Semua pasang mata yang berada di dalam ruangan tersebut terarah kepada Dika yang tengah tersenyum senyum sendiri tidak jelas dengan mata yang menatap hampa jendela kelas.
Beragam ekspresi yang di tampilkan oleh penghuni kelas XII IPS.2 yang melihat Dika seperti orang gila yang tersenyum senyum tanpa sebab. Mereka semua melihat Dika seperti itu ada yang berbsik dan juga menampilkan beberapa ekspresi yang berbeda beda, ada yang geli, takut, heran, dan kagum karena baru kali ini mereka melihat senyum lebar dan tulus di wajah Dika, tanapa terkecuali Reyhan dan Deigo, mereka berdua berkode kodean berseberangan dan tempat duduk Dika sebagai pembatasnya dengan mulut yang berkomat kamit menanyai satu sama lain setan apakah yang merasuki Dika, hingga cowok itu tersenyum lebar yang belum pernah di tampilkan di depan umum.
Deigo dan Reyhan selama menjadi teman dari Dika, bisa di katakan sangat jarang melihat Dika memamerkan senyumnya. Dika bagaikan mayat hidup yang berkeliaran di jalanan, karena cowok itu selalu datar dan tidak banyak bicara, walaupun terkadang sesekali cowok itu bisa bercanda kepada mereka, tapi di mata Deigo dan Reyhan, Dika tetaplah dingin dan tidak tersentuh.
Reyhan menatap kedepan melihat ibu Fira yang matanya tak lepas memperhatikan Dika yang tersenyum senyum sendiri. Ya guru tersebut sedang manahan marah melihat Dika yang seperti itu. Gara gara Dika, para murid yang tadinya sedang fokus mengerjakan soal latihan menjadi tidak berkonsentrasi dan fokus mereka teralihkan kepada pemandangan yang sangat langka.
Reyhan menyeru Dika menyadarkan laki laki itu dengan suara yang sangat pelan seperti desisan agar tidak dapat di dengar oleh ibu Fira. Sudah banyak kali Reyhan memanggil manggil Dika agar segera fokus dan cepat sadar sebelum di tegur oleh ibu Fira, namun tak ada satupun panggilanya di balas.
"Dik!" Seru Reyhan pelan.
"....." Tidak ada jawaban.
"Dik!!"
"....." Masih sama.
"Dika!!!"
"....."
"Dika!!!" Panggil Reyhan dengan nada yang lebih tinggi dari panggilannya tadi tapi masih saja pelan.
Ibu Fira dengan lekas menatap tajam penuh peringatan kepada Reyhan, sebab pangggilan Reyhan dapat di dengar oleh ibu Fira. Tak kunjung mendapat balasan, Reyhan kembali menatap kedepan, lebih tepatnya menatap ibu Fira. Dengan susah payah Reyhan menelan slivanya melihat tatapan ibu Fira yang terarah kepada dirinya, bukan hanya Reyhan saja yang menjadi korban tatapan tajam guru tersebut, tetapi seluruh siswa di kelas itu yang memperhatikan Dika juga di tatap horor oleh ibu Fira guru killer.
Tatapan guru tersebut bagaikan tatapan mengerikan bagi para siswa, sehingga lebih mengerikan dari pada melihat malaikat pencabut nyawa. Sentak selurluh siswa refleks mengalihkan pandangannya kepada buku latihan mereka masing masing terkecuali Dika. Meskipun atmosper yang melingkupi ruangan ini terasa menegangkan tidak membuat Deigo dan Reyhan takut untuk mencuri pandangan kepada Dika yang masih tak sadar jua.
"Dika Rontiwa yang terhormat!!" Teriak ibu Fira menggelegar di seluruh penjuru ruangan yang senyap.
Seluruh siswa yang mendengar teriakan ibu Fira, menundukan kepala mereka takut. Sebagian siswa berpura pura mengerjakan latihan, dan sesekali memberanikan diri mereka menatap ibu Fira yang sedang termakan api kemarahan.
Bagaikan orang tuli, Dika sama sekali tidak tersadar dari lamunannya meskipun suara ibu Fira yang nyaring melebihi MIC itu pun tetap saja ia tidak mendengar. Sebegitu hebatnyakah Ana menari nari di pikiran cowok itu, sehingga Dika yang tidak pernah tersenyum kini ia dengan lebarnya memamerkan senyum yang mampu membius para wanita, dan juga biasanya pendengaran cowok itu yang selalu tajam kini menjadi tuli.
"Cantik," gumam Dika di tengah lamunanya.
Sontak seluruh siswa yang berada di kelas mengalihkan pandangannya kepada Dika, sebab mereka mendengar gumaman Dika yang terdengar jelas walau pelan di dalam kesunyian kelas tersebut.
Deigo dan Reyhan tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya mendengar gumaman kata yang amat keramat sekali bagi para pendengarnya jika yang melapalkan kata itu adalah laki laki dingin yakni Dika Rontiwa, seorang laki laki muda berwajah tampan dapat menarik perhatian semua wanita, cuek tidak peduli dengan lingkungan meskipun suasana lingkungan ia berpijak sedang dalam keadaan genting, dan tentunya pemain hati para wanita yang menyukainya.
Ibu Fira menghampiri meja Dika walaupun ia berdiri dengan jarak yang tidak begitu dekat dengan tempat duduk laki laki itu.
"Siapa yang cantik?" Tanya ibu Fira sedikit melengking, tapi masih tersimpan nada coolnya untuk menjaga image supaya tidak mengeluarkan amarahnya.
__ADS_1
Bagaikan di sambar petir mendengar suara ibu Fira, lamunan Dika buyar begitu saja dan ia langsung menolehkan kepalanya kepada sumber suara yaitu tempat di mana ibu Fira berdiri.
"An--- ah bukan, anu-, ah iya ibu Fira yang cantik! Ya benar ibu Fira yang cantik," jawab Dika gugup dengan tangan yang bergerak gelisah dan lantas menggaruk keplanya yang tiba tiba terasa gatal. Kenapa ia jadi memikirkan cewek bodoh itu sih, dan sialanya lagi kenapa sampai senyum senyum. Ah fix ia simpulkan bawa dirinya memang sudah gila.
Ibu Fira mengernyitkan dahinya mendengar pernyataan Dika tadi. Matanya memicing penuh intimidasi mengamati sebuah kebohongan yang jelas terpancar di mata seorang Dika.
Dika jadi salah tingkah sendiri saat ibu Fira menatapnya penuh dengan ketajaman. Ia mengedip ngedipakan matanya untuk menenangakan jantung yang berpacu cepat serta untuk menghindari tatapan ibu Fira.
"Jangan natap saya dalam dalam bu! Entar jatuh cinta lagi, kalau jatuh cinta dengan saya itu sakit bu," goda Dika sembari menggerkan kedua alisnya.
Ibu Fira yang mendengarnya, tiba tiba saja isi dalam perutnya bergejolak ingin memuntahkan semua makanan yang belum di produksi.
"Kamu ini Dika!!" geram ibu Fira, "Cepat kerjakan latihan kamu!! Dan satu lagi, jangan pernah senyum senyum sendiri lagi! Apa latihan yang ibu berikan tidak semenarik dari pada jendela itu," tunjuk ibu Fira ke jendela yang di tatap Dika tadi hingga cowok itu tersenyum.
"Iya bu,-- Eh salah, maksud saya latihan ibu Fira lebih menarik."
"Ibu akan tunggu latihan kamu 30 menit lagi. Kalau belum selesai juga, siap siap aja kamu terima hukaman dari ibu. Dan hukuman ini berlaku bagi semuanya," titah ibu Fira. Lalu kemudian ia beranjak dari sana dan duduk di tempat duduk guru.
Di lihatnya ibu Fira yang sudah duduk di kursi sambil berkutik dengan layar yang ada di depannya yaitu laptop, kelihatannya sang guru sedang sibuk jadi pengawasan tidak begitu ketat kepada muridnya. Ini adalah kesempatan emas bagi Dika untuk bertanya halaman berapakah latihan yang harus di kerjakan, sebab laki laki itu tidak begitu memperhatikan saat sang guru mengumumkan halaman latihan, alhasil ya jadi seperti ini gak tau apa yang akan di kerjakan.
"Dig!!," panggil Dika pelan.
"Deigo!" Desis Dika karena panggilannya tadi tidak di gubris oleh teman sok pintarnya itu.
Deigo memberhentikan aktivitas mengisi soalnya, dan menatap Dika yang memanggilnya tadi.
Dika mencabik kesal karena Deigo telah berani menatapnya dengan malas. "Halaman berapa latihannya?"
"62-65," jawab Deigo singkat padat dan penuh makna.
Mendapat jawaban dari Deigo lantas membuat Dika langsung membuka halaman yang di sebutkan tadi. Ia mengembangakan senyumnya meskipun tipis, soal yang ia cari telah ia temukan. Namun soal yang di kerjakan tidak lah satu lembar saja, maka dari itu laki laki tersebut membuka lembaran soal berikutnya. Seperti ingin makan di suapin saja Dika ternganga melihat banyaknya soal yang ia harus kerjakan. Gimana reaksi kalian jika harus mengerjakan soal sebanyak 50 dengan sisa waktu hanya tinggal 30 menit, dan soal tersebut harus kalian salin kembali di buku latihan. Dan itulah yang terjadi dengan Dika sekarang ini.
Menelan ludah, itulah yang bisa Dika lakukan saat ini ketika melihat banyaknya soal yang harus ia kerjakan. Diliriknya jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, pasrah itulah satu kata yang di alaminya, jam telah berputar laju menunjukan 9:35 WIB, sedangkan ia belum ada menulis satu katapun di bukunya.
Helaan napas panjang terdengar dari Dika. Ia melirik buku dan ingin menulis soal menggunakan pena tinta yang ada di tangannya ke buku tersebut. Namun tulisan yang tertulis di buku itu nyaris membuat bola mata Dika ingin keluar dari tempatnya. Tidak percaya dengan tulisan yang ada di bukunya, Dika meraih buku tersebut dan di dekatkannya ke matanya untuk membuktikan bahwa tulisan tersebut salah. Meskipun buku tersebut sudah sangat dekat dengan matanya dan menyentuh bulu mata lentik laki laki itu, tetap saja tulisan itu tidak berubah satu hurup pun.
ANA PRICILA. Itulah tulisan yang ada di buku Dika.
Beberapa menit kedepan
"Oke anak anak! Tolong kumpulkan semua buku latihannya kedepan," umum ibu Fira.
Dika menjadi kerubutan mendengar seruan ibu Fira, secepat kilat ia mengerjakan latihan tersebut. Jangankan sudah melingkari jawaban, menyalin soal saja ia belum selesai.
"Dika!"
Cowok itu mendongakan kepalanya merasa telah terpanggil. "Ada apa bu?"
"Pakai nanya lagi. Cepat mana buku latihan mu? Orang semua sudah pada ngantar, cuman kamu saja yang belum."
"Sebentar bu," ujar Dika seraya mengisi jawaban soal yang telah ia salin dengan sembarangan tanpa melihat soal. Gak papalah ngantar hasil tembak koboy dan soal belum selesai, yang penting itu ngantar.
Seketika hawa di ruangan tersebut menjadi panas. Siswa yang ada di kelas langsung mengalihkan pandangannya kepada objek yang lain berpura pura tidak melihat ibu Fira yang sedang di kelilingi oleh api yang menyala. Dalam sekejap tanpa berkedip ibu Fira langsung mensobek buku latihan Dika menjadi beberapa bagian.
"Kok di sobek sih bukunya bu? Saya penat loh bu nulis soal, dan ibu enak enak saja main sobek buku saya. Beli buku itu pakai duit bu! Bukan pakai daun, kalau misalnya pakai daun, ibu terserah saja mau ngerobek buku saya kapan saja dalam sehari," marah Dika tidak terima dengan perlakuan ibu Fira terhadap bukunya. Geram melihat ibu Fira, Dika menginjak kertas kertas yang berserakan dengan kuat dan di putar putarnya telapak kakinya hingga potongan kertas bekas sobekan itu jadi ludes.
"Sejak kapan kamu peduli dengan buku murahan mu itu?"
"Sejak ibu merobek buku saya."
"Kalau begitu cepat keluar dari kelas dan keliling lapangan sebanyak 10 kali," final ibu Fira.
"Kalau itu mau ibu, dengan senang hati saya melakukannya," ujar Dika kesal dan segera keluar dari kelas. Siapa sih tidak sakit hati saat usahanya tidak di terima dan malahan di remehkan begitu saja. Ia memang bad boy tapi ia masih memilki perasaan.
Ia tidak takut kepada ibu Zhafira terhoramat tadi, bahkan ia tidak akan pernah takut sekalipun jika ia akan berhadapan kepada kepala sekolah di sini. Ia melangkahkan kakinya kedalam lapangan, lalu kemudian ia membuka baju seragam SMA yang melekat di tubuhnya hingga hanya menyisakan singlet saja yang ia kenakan untuk menutupi badannya yang atletis. Di lemparnya baju seragam tersebut ke sisi lapangan, dan lantas kemudian ia berlari mengelilingi lapangan basket.
Bel israhat sudah berbunyi sewaktu Dika tadi berjalan kearah lapangan. Para siswi yang melihat Dika mengelilingi lapangan tanpa seragam sudah bukan hal yang lumrah lagi bagi mereka untuk berkumpul menyaksikan sang idola yang berlari mengelilingi lapangan dengan keringat yang membasahi seluruh badan, dan otot otot tangan yang keras nan kekar yang di pamerkan oleh laki laki itu.
__ADS_1
"OMG DIKAAA SAYANGKUU, Tampan banget sih."
"Dikaku sexsy nya."
"Dika nyokap nanyain terus nih kapan kamu mau datang kerumah nemuin dia."
"Aduh boleh pegang gak, tu otot di tangan."
"Dika mau aku lapin gak keringatnya?"
Ya gitulah kiranya teriakan para siswi yang berjalan di sekitar sana dan maupun yang berkumpul untuk menyaksikan tontonan live badan sempurna dengan geratis.
Hos hos hos
Dika telah menyelesaikan putarannya yang ke sepuluh. Ia berdiri di tengah lapangan dengan keadaan yang tidak bisa di katakan baik baik saja di karenakan rasa haus yang melanda cowok itu, laki laki tersebut memegang singletnya dan mengangkat singlet tersebut untuk mengusap keringat di wajahnya, namun pergerakan cowok itu terhenti saat ada sebuah suara yang menawari dirinya handuk lap beserta air Aqua.
"Dika nggak usah lap pakai singlet lo, entar kotor. Nih pakai aja handuk ini untuk lap keringat lo, serta sekalian juga air Aqua buat ngebasahin tenggorokan lo," kata perempuan itu menawari.
Dika menatap orang itu dengan tanpa ekspresinya. Tidak bisa di pungkiri ia sangat geli kepada orang yang di depannya ini. Dasar barang bekas murahan, udah jadi mantan kok tetap ngintilin.
"Santai dong ekspresinya. Gak usah tegang juga kali, kan kita juga pernah saling mencintai," kata Lisa yang merupakan mantan tercantik dari Dika.
"Gue gak pernah cinta sama lo," ujar Dika datar. Ia mengambil handuk dan air Aqua tersebut dari tangan Lisa dengan sedikit kasar.
Lisa tersenyum melihat Dika yang mangambil barang pemberiannya yah walaupun dengan cara yang sedikit kasar. Jujur di dalam benak hati Lisa yang terdalam ia masih menyimpan rasa dengan cowok itu.
Dika menegak habis air Aqua tersebut hingga tandas. Ia tidak memperdulikan Lisa yang masih berada di sini. Laki laki itu mengedarkan matanya kesekeliling lapangan untuk mencari tong sampah, namun bukan tong sampah yang di dapati matanya, melainkan orang yang berhasil membuat Dika tersenyum miring.
Dika melirik pada botol Aqua yang berada di tangannya, cowok itu menyeringai melihat botol tersebut, ia tau harus di apakan botol yang ada di tangannya ini. Kemudian Dika melemparkan botol tersebut kearah orang itu, sehingga kepala orang yang sedang berjalan itu pun terkena botol yang di lempar Dika.
"Auuuu," erang perempuan tersebut sambil mengusap kepalanya yang terjedot botol.
Di liriknya kearah benda yang mengenai kepalanya tadi. Dengan kesal ia menghentakan kakinya mengambil botol tersebut, dan perempuan yang tak lain adalah Ana itu pun menolehkan kepalanya pada arah lapangan.
Bagaikan kehilangan akal saat melihat orang yang berada di tengah lapangan yang tentunya pasti pelaku pelemparan botol itu adalah Dika yang sedang berdiri angkuh berkacak pinggang, dan memberikan senyum miring beserta alis yang di naik turunkan.
Tanpa ba-bi-bu lagi, Ana melempar bailik botol tersebut dengan mendarat yang tidak sempurna sehingga botol yang di lempar mengenai orang lain yang berada di sana. Ana membekap mulutnya saat ia melihat siapa orang yang terkena lemparannya. Ibu Fira gaes. Tidak mau di tiduh ia yang melakukan hal tersebut, maka Ana dengan segera pergi dari sana agar tidak ingin mendapatkan sebuah masalah nantinya.
"Siapa yang melempar botol ini," teriak ibu Fira cetar menggelegar membahana di sisi lapangan terbuka.
Siswi siswi yang berkumpul dan mendengar amukan dari ibu Fira langsung membubarkan barisan mereka dari sana dan bergegas pergi dengan tonjol tonjolan satu sama lain.
Melihat ibu Fira yang menatap kearahnya tajam, Dika mengangkat tangannya dan menunjuk tempat Ana berada tadi. "Tuh orang yang lempar botol tadi bu."
Ibu Fira mengikuti tunjukan Dika tadi, namun tidak ada siapa pun di sana kecuali siswa siswi yang berlalu lalang seperti biasanya.
"Kalau mau bohongin guru itu dengan lelucon yang berkelas dong! Udah ketahuan pakai nuduh orang lain lagi."
"Ada kok bu di sa--," Dika tak meneruskan ucapannya tadi, ia memang melihat ketidak ada keberadaan Ana di sana.
Semua kini telah menjadi bubur, mau mengelak pun tidak bisa lagi pabila sudah berada di dalam keadaan genting seperti ini. Dia tidak percaya jika dirinya bisa di perdaya oleh seutas debu kecil yang tidak berharga. Awas aja nanti Ana sudah berani beraninya pergi tanpa pertanggung jawaban.
"Mau ngoceh apa lagi kamu hah?"
"Saya mau bilang kalau ibu cantik banget hari ini, dan juga yang tadi itu saya tidak sengaja," kata Dika dengan senyum palsunya.
"Ibu memang cantik dari dulu, kamu aja yang baru sadar! kerena kamu sudah berani melempar guru dengan botol, maka kamu ibu hukum membersihkan gudang belakng. Dan cepat kamu pakai bajumu itu sebelum ibu tambah hukuman. Ingat setelah selesai kamu pergi keruangan saya."
"Iya iya bu sabar," ujar Dika jengkel dan seraya mengambil baju seragamnya yang ia letakan di sisi lapangan tadi, lalu ia mengenakan baju seragam tersebut ke badannya. Baju seragam yang ia kenakan sama sekali tidak di perhatikan kerapiannya, baju seragam tersebut keluar, kusut, dasi yang bergelantungan di leher, kancing baju paling atas tidak di pasang. Uhh dasar Dika.
Ibu Fira geleng geleng kepala melihat Dika yang seperti itu. Sungguh gara gara cowok itu kepalanya menjadi pusing harus menghadapi Dika yang sudah jadi pelanggannya berbuat masalah, kemudian ibu Fira pergi dari situ, dan sama halnya Dika juga pergi dari sana menuju gudang belakang yang baunya minta ampun.
"Tunggu pembalasan ku Ana."
__________
Tbc
__ADS_1
Jangan lupa like dan comen
Maaf amburadul