SURAT CINTA UNTUK....?

SURAT CINTA UNTUK....?
Part 38


__ADS_3

Dika memang kerap mendengar dari Ana bahwa ibunya sangat galak. Pria itu tetap memutuskan untuk ke rumah Ana dan menjenguk wanita itu.


Sambil tersenyum Dika menatap oleh-oleh yang akan ia bawa ke rumah Ana. Sekalian dia juga membawa makanan mahal untuk ibunya Ana. Siapa tahu dia bisa menarik perhatian orang tua Ana.


Tidak perduli dengan kenyataan bahwa Ana sendiri yang notabennya adalah anak kandungnya saja tidak dipedulikan apalagi Dika yang tidak mereka kenal.


Dika menjalankan motornya menuju rumah Ana. Pria itu menatap gerbang tinggi yang menjulang di depannya. Dika menepikan motornya dan kemudian turun dari motor besar tersebut.


Satpam menatapnya heran. Dika membalas senyum sang satpam tersebut.


"Ada apa ya?" tanya Satpam tersebut.


Dika menatap ke dala. "Ada Ana?"


"Non Ana?"


"Nah iya."


Tidak lama sebuah mobil datang dan seorang wanita bersama seorang pria turun dari mobil mewah tersebut.


Dika tersenyum menyadari jika orang itu adalah orangtuanya Ana. Dika berniat mengulurkan tangan ingin bersalaman dengan orangtua Aja.


Namun Dika menghela napas panjang menyadari bahwa uluran tangannya tak dihiraukan. Malah ia mendapatkan tatapan mengintrogasi dari Toni dan Vanessa.


"Tante, Om?"


"Siapa kamu?" tanya Toni dingin.


"Saya? Saya temennya Ana Om!"


"Kerja apa kamu?" Sedikit terkejut tetapi Dika paham kenapa ayahnya Ana bertanya semacam itu kepadanya. Tentunya ia ingin Ana yang terbaik, dari peninjauan Dika Ana lumayan diperhatikan, tetapi tetap saja cara mereka salah dan lebih mengarah membenci.


"Saya seorang pelajar. Nama saya Dika Rontiwa."


Vanessa dan Toni saling tatap. Mereka terkejut mendengar marga Dika yang sangat mereka kenali.


Rontiwa adalah salah satu perusahaan yang sangat sukses. Dan memang Toni pernah mendengar calon penerus mereka adalah Dika Rontiwa.

__ADS_1


Senyum Vanessa mengembang.


"Ayo masuk dulu."


Dika pun masuk. Ia di bawa ke ruang tamu. Pria itu duduk di kursi dan menunggu Vanessa dan Toni kembali menemui mereka setelah berpamitan ingin ke kamar tadi.


Vanessa dan Toni keluar dari kamar mereka dan duduk di dekat Dika. Senyum Vanessa mengembang tak luntur sama sekali. Maklum mak-mak caper.


"Kamu temennya Ana?"


"Iya Tante."


Toni tersenyum lebar. "Kamu penerus perusahaan Rontiwa?"


"Iya bener Om."


"Kenapa bisa kenal Ana?"


"Hah? Saya satu sekolah dengan Ana."


"Wah hebat. Kamu cuman temen Ana kan? Kamu bukan pacarnya bagaimana dengan anak Tante saja."


"Anak Tante Misla, meskipun lebih tua tapi tetep cantik kok. Pintar lagi gak kaya Ana, maklum aja ya jika Ana tidak tahu sopan santun."


Dika langsung berubah datar. Kini ia bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Ana. Memang sangat menyakitkan seperti ini.


"Maaf Tante. Saya tidak suka orang lebih tua dari saya."


"Kenalan dulu. Siapa tau suka.'


Dika menatap Toni yang sama gilanya dengan Vanessa. Pantas Ana sangat membenci orangtunya. Memang sikap mereka sangat menyebalkan.


"Maaf Tante....." Dika memejamkan mata. Ia mengepalkan tangannya, "saya sukanya sama Ana bukan sama Misla. Terimakasih."


Vanessa terdiam dengan napas memburu.


"Apa yang bagus dari Ana? Dia hanya anak pembangkang tidak tahu sopan santu tidak seperti kakaknya. Lagian juga dia sudah pergi ke Inggris."

__ADS_1


"Inggris?" kaget Dika.


"Ana saya pindahkan ke Inggris," ujar Toni tanpa rasa bersalah. Tangan Dika mengencang.


Bisa-bisanya mereka berlaku jahat kepada Ana.


"Om dan Tante jahat banget ke Ana. Di mata kalian apa hanya ada Misla? Bagaimana dengan Ana?"


"Kau berteman dengan Ana akan tahu seberapa bodoh dan tidak bergunanya anak itu."


Dika menerobos rumah Toni. Pria itu suka tidak suka dia tetap masuk dan mencari kamar Ana.


Dika membuka kamar Ana dan melihat kamar itu bersih. Napas Dika berhembus pelan penuh kekecewaan. Tak disangka-sangka matanya berair.


"Kalian punya hati tidak jadi orangtua?"


"Apa yang kau lakukan? Ini rumah kami kenapa kamu menerobos begitu saja?"


"Hal apa yang mendorong saya untuk takut kepada kalian."


Dika menatap kamar Ana dan melihat foto wanita itu. Ia menahan napas dan mengambil foto tersebut dengan pandangan sedih.


"Ana kenapa kau tidak mengatakannya kepada ku?"


Dika mengambil selembar kertas yang di dalam tong sampah dan membuka gumpalan kertas tersebut yang ternyata berisi coretan dan membentuk sebuah surat.


Kenapa rasanya typing dari surat ini sangat familiar. Dika mulai mengingat dan ia pun sadar jika surat ini mirip dengan surat-surat yang ia temukan.


Apa itu mungkin orang itu adalah Ana?


Dika menatap kedua orangtua Ana yang menatap dirinya dengan sengit.


Tapi rasanya bagi Dika sangat tidak mungkin.


__________


Tbc

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA


__ADS_2