
Semenjak saat itu Ana selalu menyendiri di kamarnya. Pertengkaran ia dan orangtunya sudah membuat keputusan Ana final untuk tetap hidup sendiri.
Sudah cukup lama ia menderita karena keluarganya, ia kira dengan ia memutuskan hubungan keluarga mereka akan membuka hati dan kembali kepadanya untuk meminta maaf. Dan ternyata mereka sama sekali tidak peduli dengan Ana dan membiarkan Ana hidup sendiri.
Mungkin ini yang mereka tunggu dirinya pergi sendiri. Sungguh keadaan yang tengah dijalani Ana adalah sesuatu yang sangat menyakiti hatinya.
Di sisi lain ia juga mendapatkan fakta jika Misla adalah mantan pacar dari Dika. Ana sukar menerima hal itu. Ia ingin menolak dan protes dengan kerasa namun Ana sadar dirinya dulu bukanlah siapa-siapanya Dika.
Dika memandang Ana yang tengah terdiam di jendela. Pria itu tersenyum simpul dan menghampiri Ana. Ana menatap ke arah Dika. Sungguh sakit hatinya saat ketika sadar orang di depannya adalah mantan pacar kakaknya.
"Maafkan aku, aku tahu kau akan marah kepada ku."
Ana tersenyum tipis dan menggelengkan kepala. Ia sudah memaafkan Dika dan lagipula ia juga tak memiliki hak untuk menangisi kejadian yang sudah berlalu.
"Aku tidak apa-apa."
"Tapi sayang, kamu pasti marah aku pernah deketin Kaka kamu."
"Aku marah karena kau menjadikan dia adalah salah satu mainan mu." Bagaimanapun Ana diperlakukan oleh keluarganya terutama kakaknya, namun nyatanya Ana adalah sosok orang yang sangat peduli dengan keluarganya. Wanita itu berharap Misla juga mendapatkan kebahagiaan.
Pasti Misla akan membenci dirinya karena sudah mendapatkan Dika. Ana sedikit tersenyum tipis dan menodongkan kepala. Ia meresapi segala rasa sakit yang diterimanya.
"Aku sakit Dika. Orangtua aku tidak pernah peduli dengan ku. Aku juga memikirkan bagaimana Misla akan membenci ku."
"Kenapa kau memperdulikan dia? Dia sudah dari dulu membenci mu. Aku juga tak ingin bersamanya, aku ingin kau yang ada di samping ku. Aku terlalu kalut karena kehilangan mu Ana. Dan mulai saat itu aku memikirkan untuk mendekati Misla agar aku bisa tahu kau berada di mana."
Ana terdiam. Jadi itu alasan utama Dika mendekati kakaknya. Ana terdiam dengan raut wajah sedih. Kenakalan Dika disebabkan dirinya dan pasti jika orangtunya tahu ia akan membenci Dika.
"Kau menjadi seperti itu karena ku, maafkan aku." Dika memutar bola matanya malas.
Lagipula tidak ada yang perlu Ana sesali. Ini memang salah dirinya yang tidak bisa mengontrol diri. Dan kenapa juga harus Ana meminta maaf.
"Aku tidak mempermasalahkan hal itu. Yang salah aku, aku dengan secara sadar melakukannya, jadi kau tidak perlu khawatir. Sekarang aku akan mulai berubah dan itu karena mu," ujar Dika dan membuat senyum di wajah Ana terbit.
Ia memeluk kepala Dika. Mendekap tubuh pria ini mampu memberikan ketenangan di hati Ana. Ana menghela napas panjang dan menatap ke sekitar. Ruangan ini sepi, Dika membawanya jauh dari apartemennya.
__ADS_1
Mereka tinggal di rumah milik Dika. Ana tak menyangka jika Dika memiliki rumah pribadi di Inggris. Jika dikatakan pria ini sangat sukses dan itu tentu saja disetujui oleh Ana.
Dika terlahir di tengah-tengah keluarga terpandang. Ia merupakan penerus dari perusahaan yang cukup terkenal di Indonesia.
"Dika, bagaimana dengan orangtua mu? Oh iya aku merindukan Naina."
Dika tak menjawab. Wajahnya yang semula tersenyum lebar dan saat mendengar Ana menannyakan tentang keluarganya membuat mood Dika memburuk.
Keluarganya tidak jauh berbeda dengan keluarga Ana. Sama-sama keluarga yang retak tanpa ada kebahagiaan sama sekali. Memang tak ada sepenuhnya keluarga bisa memberikan kasih sayang.
Nyatanya hubungan mereka adalah hubungan yang saling menguatkan dalam urusan keluarga.
"Tidak jauh berbeda. Naina ada di Indonesia bersama nenek ku."
Ana terdiam dan tak melanjutkan perbincangan tersebut. Ia tak menyangka Dika juga merasakan hal yang sama dengan dirinya.
Dunia memang benar-benar tidak adik. Ana dan Dika adalah contohnya. Betapa kejam fakta mempermainkan mereka. Orangtua terlalu egois tanpa memikirkan kondisi anaknya sendiri.
"Mungkin aku akan hidup bersama mu. Tidak ada yang bisa membuat aku bahagia selain kamu," ujar Dika dan mengelus puncak kepala Ana.
"Aku akan selalu ada untuk kamu. Maafkan aku jika selama ini jika aku tak memenuhi kriteria mu."
Dika meletakkan jari telunjuknya di bibir Ana. Ia tersenyum tipis dan menggelengkan kepala.
"Kau adalah orang yang paling sempurna. Begini saja sudah cukup. Aku sungguh mencintaimu."
Ana menganggukkan kepala dan tersenyum lebar. Rasa sayang dan syukur dan juga bahagia karena Tuhan menitipkan orang sebaik Dika.
"Dika, terimakasih." Ana memeluk Dika erat. Air matanya menetes dengan penuh rasa sakit.
"Aku kira selama ini aku adalah orang yang paling tersakiti, namun aku baru sadar jika dia orang lain lagi yang lebih tersakiti."
Ana tersenyum tipis dan sedikit terkekeh.
"Percaya atau tidak aku juga sama seperti mu dulu. Mengira hanya aku yang paling tersakiti, dan sekarang aku sudah dewasa dan sudah melalui banyak hal dan aku melihat banyak sekali orang di luar sana yang lebih buruk dari aku."
__ADS_1
"Kenapa kita saling curhat."
"Mungkin kita ingin saling menguatkan mental."
Mereka pun tertawa. Nyatanya bahagia itu sederhana, Ana dan Dika kini telah mendapatkan apa yang ingin mereka harapkan.
"Keluar sebentar. Ada sesuatu buat kamu."
Ana dan Dika pun keluar. Sebelum keluar, Dika memasang penutup mata untuk Ana.
"Ana, pake ini dulu."
"Dika, kenapa harus pake ini juga," ujar Ana dan ingin protes kepada Dika.
"Ets... Gak bisa gitu. Harus tutup mata."
Ana pun pasrah dengan keinginan Dika. Ia pun menutup matanya sesuai dengan keinginan Dika.
Dan kemudian Dika membawa Ana keluar dari kamar. Wanita itu lantas berhenti berjalan ketika Dika tak lagi menuntunnya. Kemudian Ana melepaskan penutup matanya.
Alangkah kagetnya ia ketika membuka mata disuguhkan dengan pemandangan yang sangat indah. Di depan sana kembang api meletus membuat tanda cinta yang sangat tulus.
Ana merasa sangat bahagia dan tak menyangka dengan keindahan tersebut. Ia menatap Dika dengan pandangan tak percaya.
"Yaampun ini beneran? Kamu sendiri yang buat."
Dika terus memandang wajah bahagia Ana. Ia menganggukkan kepalanya membenarkan semua itu adalah ia yang membuat.
Ana tak kuasa menahan air matanya. Baru saja ia selesai menangis dan sekarang Ana benar-benar tak bisa menahan air matanya yang terus mendobrak pertahanan Ana.
___________
Tbc
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA
__ADS_1