SURAT CINTA UNTUK....?

SURAT CINTA UNTUK....?
Part 33


__ADS_3

Ana memasuki kelasnya dengan wajah suram. Ia membawa laptop sembari berjalan dengan kesal. Sontak tingkahnya tersebut menjadi tanda tanya bagi kedua temannya yang sedang duduk sambil mengamati keanehan Ana. Cewek itu duduk di kursinya. Pandangannya begitu mengisyaratkan sakit yang amat dalam.


Cika dan Lona Sama-sama melempar pertanyaan heran. Kedua perempuan itu memandang Ana lalu sama-sama menghela napas ketika melihat Ana yang merebahkan kepalanya di atas meja dan kemudian dapat ditebak kalau wanita itu memejamkan mata. Ana selalu seperti itu belakangan ini, entah apa penyebabnya perempuan tersebut suka sekali tidur di dalam kelas.


"Na lo lagi ada masalah ya?" Tanya Cika seraya mendekati cewek itu. Ia duduk di dekat perempuan itu lalu mengusap surai Ana dengan prihatin. "Kalau ada masalah cerita aja kekita-kita. Mana tau nanti kita berdua bisa bantu."


Perempuan tersebut mendongak. Ia memperbaiki rambutnya lalu mencepol rambut itu, hingga tengkuknya yang putih pun terekspos dengan jelas. Dengan malas ia menatap kedua sahabatnya seraya menggeleng.


"Gue nggak lagi ada masalah. Cuman ngantuk aja, soalnya gue malam tadi tidur tengah malam banget," akunya sembari menopang dagu di atas meja.


Lona pun langsung tertegun mendengar ucapan Ana barusan. Untuk sesaat ia melamun dengan pandangan terarah kepada Ana. Tidak biasanya perempuan tersebut tidur sampai larut malam. Sebuah pikiran heran pun keluar dari benaknya. Ia mengamati Ana lekat-lekat seperti tengah mencari sesuatu yang mencurigakan dari dalam diri perempuan tersebut.


"Tumben lo tidur malam banget. Bisanya lo paling nggak suka tidur terlalu malam. Sepertinya ada aroma-aroma tak sedap." Lona berkata seperti ledekan sengaja menyinggung Ana.


Ana yang mendengar perkataan Lona langsung tegang di dalam baringnya. Mata yang masih terpejam pun ia kuat-kuat makin pejamkan. Perasaan gugup pun melanda hatinya, ia takut kedua temannya mengetahui apa yang ia lakukan malam tadi hingga tidur lambat. Ia berpikir keras di dalam pejaman matanya seraya mencari-cari jawaban yang cocok untuk menjawab pertanyaan Lona tadi.


Ana mengangkat kepalanya dan memandang Lona dengan cengiran khas milik gadis tersebut. Ia menggaruk tengkuknya lalu memindahkan matanya kepada papan tulis.


Ia menarik napas berat. "Biasalah Lon. Gue kan penulis jadi selalu nulis sampai tengah malam. Aduh gue ngantuk banget, kalau ada guru bangunin gue ya." Ia kembali memejamkan kelopak matanya.


Orang-orang yang melihat tingkah Ana yang tak biasanya pun berbondong-bondong menyaksikan peristiwa langka itu. Ada yang menghujat Ana seorang wanita malam. Tapi, wanita itu jelas tak mendengar karena ia telah terbang bersama mimpinya. Cika melihat Orang-orang tengah memandangi Ana pun menarik napas seraya memasang pelototan paling mengerikan  kepada Orang-orang tersebut.


"Ana kenapa Lon?" Tanyanya sambil mengamati Ana.


Lona mengangkat kedua pundaknya acuh. "Mana gue tau, kan gue sama lo. Gimana sih kamu Cik," Kesalnya sambil menyedekapkan tangan di dada. "Cik. Gue kok ngerasa kalau Ana seperti nyebunyiin sesuatu dari kita."


Cika menggigit kukunya sembari melihat ana sebentar kemudian memandang Lona. Cewek tersebut mengangguk membenarkan ucapan Lona. Ia juga merasakan hal yang sama seperti Lona, namun sesuatu yang masih menjadi misteri itu apa.


"Iya Lon. Gue juga merasakan itu, tapi apa ya? Oh iya Lon, lo masih ingat nggak waktu Deigo bilang kalau Dika masuk penjara, Ana langsung panik. Nggak biasanya tau, Ana paling sensitif dengan nama Dika dan selalu bersikap acuh dengan cowok itu."


Lona menerawang kejadian beberapa hari yang lalu, saat mengingatnya ia langsung membuka pejaman matanya. Sebuah pikiran-pikiran buruk menghantui perempuan tersebut. Matanya memicing ke arah Ana.

__ADS_1


"Iya Cik. Gue masih ingat, ada apa ya Ana dengan Dika, jangan-jangan ada berita baru tentang mereka yang kita nggak tau lagi," ucapnya sambil berpikir. Jelas sekali ia merasakan ada sesuatu yang aneh dari kedua orang itu tapi ia tak mengetahui apa hal itu.


"Sudahlah Lon mendingan kita baca buku aja, entar ada ulangan loh, lo mau dapat nilai kaya kemarin?"


Lona lantas menggeleng. Namun, beberapa saat kemudian ia menatap Cika horor. Cika hanya biasa saja kala Lona memberinya tatapan seperti itu, ia sudah terbiasa dengan sikap Lona yang berubah-ubah semacam itu, sebab Cika tahu bahwa Lona hanya bercanda marah kepadanya. Biarkan saja Lona ingin mentapa nya sampai perih pun ia tak peduli, yang merasakan derita bukan juga dia.


"Lo ngejek gue ya?"


"Kalau gue bilang iya gimana? Lo mau apa?" Tanyanya santai lalu menyilangkan kakinya di hadapan Lona.


Lona melirik Cika sinis, lalu merubah tatapan menjadi sedikit kesal. Ia menghela napas berat, sebuah senyuman terpaksa ia ukir di wajahnya. Seolah ia ikhlas dengan segala apa-pun pengrendahan yang dilakukan Cika kepadanya. 


"Jahat lo." Hanya kata itu ia ucapkan untuk mengakhiri perdebatan mereka sebelum meluas kemana-mana.


_________


Angin bertiup sepoi-sepoi dari arah timur hingga menerpa debu-debu jalanan. Polusi kendaraan tercium di hidung tak mengenakan, ada yang menutup hidung mereka menggunakan masker, dan ada pula yang bersikap acuh dengan lingkungan yang sedang dalam masa kritis. Semua murid keluar dari pekarangan sekolah dengan bersorai-sorai. Ana perempuan tersebut berdiri di depan pintu gerbang sambil memasukkan kedua tangannya pada saku jaket. Helaian rambut beterbangan diterpa angin, hingga wajahnya tertutup, kakinya ditekuk dan terlihat cara berdirinya yang cantik. Pantulan matahari mengenai tubuh wanita itu, hingga ia terlihat bersinar di bawah terik matahari. 


Perempuan tersebut belum menyadari bahwa ia menjadi tontonan banyak siswa. Ketika ia sudah bosan berdiri di sana, maka cewek itu berniat ingin pergi dan mencari tempat yang teduh untuk menjadi tempat ia beristirahat. Namun, sebuah klakson mobil membuatnya kaget setengah mati, wanita tersebut lantas menoleh pada mobil yang mengejutkannya itu. Ia menyatukan kedua alis tebalnya kala merasa sangat asing dengan mobil itu. Sebelumnya ia tidak pernah melihat mobil itu.


"Woy ngelamun mulu lo, kesambet hantu penjaga sekolah baru tau." Orang yang mengendarai mobil tersebut bersuara dan berteriak kepadanya. Tiba-tiba saja ia merasa suara itu sangat familiar sekali, lantas untuk memastikan lebih jelas, Ana mendekat pada pintu mobil.


Wajahnya cemberut ketika mengetahui siapa orang yang mengendarai mobil tersebut, namun sesaat kemudian ia tersenyum. Dan senyuman tersebut adalah senyuman paling manis yang pernah ia tampilkan. Dia juga tidak tau apa yang menyebabkan dirinya selalu salah tingkah dan bawaan pengen tersenyum melulu kala dekat dengan Dika. Wajahnya susah sekali dikontrol. Tapi kali ini Ana berusaha menyembunyikan wajah bahaginya.


"Dika, ngapain kamu di sini?"


Dika menarik napas lalu menatap Ana malas, ternyata wanita tersebut belum menyadari apa maksud dari klaksonnan mobilnya tadi.


"Kamu nggak nyadar, kalau kamu itu ngalangin jalan aku."


Ana melirik tempatnya berada,  lalu menyengir tak bersalah kepada Dika. "Aku baru sadar, maafin aku ya?"

__ADS_1


"Yudah aku maafin, lain kali jangan diulang. Na! Masuk, kamu mau kan temanin  aku jemput adik aku di bandara?"


Wanita tersebut terlihat kebingungan, ketika Dika mengucapkan kata adik. What? Ternyata Dika punya adik. Ia kira Dika adalah anak tunggal dari keluarga Rontiwa, ia akui memang hebat keluarga Dika menyimpan rahasia kehidupan mereka, setelah mendapatkan fakta itu, nanti fakta apalagi yang akan ada.


"Kamu punya adik?" Tanya Ana pelan


"Iya. Yudah mau nemanin aku apa enggak?" Dika menghidupkan mesin mobilnya.


"Oke aku ikut. Aku juga penasaran banget dengan wajah adik kamu, pasti ganteng kaya kamu kan?" Ana masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Dika.


"Adik gue perempuan."


"Hah?"


Sedangkan dari kejauhan dua orang wanita mendekat ke depan gerbang,  tempat Ana dan Dika tadi mengobrol.


"Tuh kan, apa kata gue ada yang nggak beres dari mereka berdua." Kata Lona sembari memandangi mobil Dika yang melaju kencang dan terlihat samar-samar.


"Sepertinya begitu Lon." Cika menghidupkan layar ponselnya lalu membuka grup chat. "Whatt? Coba lo liat ini Lon."


Lona mengambil handphone Cika lalu mengamati sesuatu yang ada di sana. Matanya membulat belum percaya dengan apa yang telah ia lihat.


"Siapa yang kirim?"


"Reyhan. Mendingan lo tanya deh sama dia apa hubungan Dika dan Ana itu sebenarnya."


"Boleh juga tu."


_______


TBC

__ADS_1


__ADS_2