SURAT CINTA UNTUK....?

SURAT CINTA UNTUK....?
Part 30


__ADS_3

Sorot matahari begitu menyilaukan dan membakar kulit manusia, namun hal itu tidak bisa mematahkan semangat seorang perempuan yang tengah berada di dalam angkot. Perempuan itu beberapa kali memarahi sang supir agar mengendarakan angkotnya lebih cepat lagi. Ia bergerak gelisah ketika angkot tersebut sedang berhenti karena lampu merah.


Gadis belia itu meremas jari-jarinya yang terasa lemas semua. Ia berharap agar tidak terjadi apa-apa dengan Dika. Ia semakin merasa tidak nyaman kala bisikan-bisikan nakal yang menakut-nakuti dirinya terasa begitu jelas di daun telinga perempuan itu. Wanita muda itu berharap jika Dika tidak kenapa-napa berada di dalam sel, ia sendiri juga tidak mengetahui mengapa perasaan ini tiba-tiba. Sebuah perasaan takut dan cemas seperti akan kehilangan sesuatu.


Tak henti-hentinya Ana menghembuskan napas kelegaan dari hidungnya. Akhirnya perjalanan yang di tempuh pun berakhir dengan tujuan yang di inginkannya. Wanita cantik tersebut memperbaiki rambutnya yang terlihat acak-acakan, lalu ia pun mengelap keringat yang dari angkot tadi sudah bercucuran di dahinya dan leher akibat gerah.


Dengan langkah gontainya ia berjalan memasuki kantor polisi. Banyak pasang mata mentap dirinya dengan pandangan yang bermacam-macam. Keadaan tersebut membuat Ana menjadi canggung, ia pun membalasi tatapan itu hanya dengan sebuah senyuman tak nyaman.


Sesampainya di depan polisi yang bertugas pada tempat masing-masing, tanpa berlama-lama Ana langsung mendafatar kan diri ingin bertemu dengan salah satu tahanan di dalam sana yang merupakan Dika. Selesai itu ia di suruh sang pak polisi menunggu di ruang tamu tepatnya tempat seseorang yang ingin berkunjung menjenguk anggota keluaraga mereka yang di tahan di rutan ini.


"Silahkan mbaknya tunggu di sini," ucap sang polisi yang memeiliki wajah yang sedikit ramah meski masih terdapat wajah seram-seramnya. Lalu polisi tersebut mempersilahkan Ana duduk di kursi.


Tak lama datanglah Dika dengan kawalan di kedua sampingnya. Eksprsei lelaki itu tampak terkejut melihat siapa tamunya. Namun dengan lihainya ia menyimpan semua keterkejutannya itu. Cowok itu duduk disalah satu kursi dengan pandangan yang tak biasa memandang Ana. Sedangkan polisi yang mengawal berdiri agak jauh dari kedua insan tersebut, karena mereka tahu batasan dan tidak ingin terlalu kepo dengan privasi orang.


"Ngapain lo kesini?" Sungguh Ana datang kemari bukan lah untuk menerima pertanyaan dari Dika yang seperti tak menginginkannya.


Dengan segenap kepercayaan ia menatap langsung mata laki-laki yang sudah berhasil melumpuhkan hatinya. Pandangan perempuan tersebut begitu prihatin, ia mengamati Dika yang masih mengenakan pakaian semalam. Wajah perempuan itu berubah kala melihat Dika yang jauh dari kata baik, air matanya sejak tadi ingin meluncur, namun tertahan di kelopak matanya sehingga terbentuklah mata yang berkaca-kaca.


"Dik," ringisnya dengan tatapan sendu.


Ada sebuah rasa senang di hati Dika melihat Ana menjenguk dirinya kemari. Sedangkan kedua sahabatnya saja belum ada menjenguk ia, namun Ana? Sepertinya perempuan itu bolos sekolah demi menjenguk dirinya yang bukan siapa-siapa di hidup perempuan itu. Hal tersebut dapat ia lihat dari Ana yang masih berpakaian sekolah, dan juga sekrang ini bukan lah saatnya siswa Mutiara Hati pulang.


"Lo bolos?" Akhirnya pertanyaan itu lah yang keluar dari mulut laki-laki itu. Ia menghela napas, sebab cowok yang bernama Dika itu telah mengetahui apa jawabannya.


"I-iya." Jawab Ana terbata-bata. Di dalam hati, wnaita itu menyumpahi dirinya sendiri yang bisa-bisanya gugup berhadapan dengan pria yang berada di depannya sekarang. "Dik gue bawain lo makanan."

__ADS_1


Ana mengeluarkan makanan yang ia beli tadi di cafe sebelum meluncur kesini.


Dika melirik makanan yang di berikan Ana. Kemudian ia pun mengalihkan kembali pandangannya kembali kepada perempuan itu sambil meletakan kedua tangan di dada. Rasa sedih di dalam relung hatinya kian memudar dan di gantikan dengan rasa bahagia walau sementara. Ia menatap sayu Ana seperti menyatakan bahwa ia sangat berterimakasih kepada perempuan itu yang sudah peduli kepadanya.


"Makasih." Meskipun dingin, tapi percayalah bahwa laki-laki itu menyatakan kalimat tersebut dengan tulus.


Ana tersenyum penuh arti, ah rasanya ia masih belum percaya dengan apa yang telah terjadi. Semuanya berjalan begitu saja dan mengukir kisah-kisah pilu menjadi sebuah kenyataan yang terasa hanya fiktif tapi nyata. Wanita biasa yang sangat membenci seorang lelaki bernama Dika, dengan ajaibnya ia jatuh cinta kepada orang tersebut. Jika ini mimpi maka Ana akan berusaha bangun dari bunga tidurnya menyangkal apa yang telah di rasakan hatinya. Namun itu semua bukanlah mimpi tetapi nyata, sebuah realita yang benar adanya yang tak dapat ia hindari sekalipun ia berada di tempat yang tak kasat mata.


"Dika lo kenapa bisa masuk penjara?" Tanya Ana dengan raut menyedihkan.


"Lo peduli?" Tanyanya seakan tak percaya.


Perempuan tersebut mengangguk. Bagaimana bisa ia tidak peduli kepada pilihan hatinya. Seburuk-buruknya Dika di mata orang lain, ia akan menganggap Dika adalah orang yang terbaik walaupun lelaki itu sama sekali tak peduli dengan kehadirannya. Biarkan rasa sakit pergi bersamanya sampai waktu perempuan itu berhenti berjalan, dan ia akan mengatakan di siasa waktunya bahwa ia peduli dan cinta kepada Dika. Meskipun terdengar memalukan, tapi itulah faktanya.


"Lo harus kuat Dik. Mungkin ini ujian buat lo." Lelaki itu tersenyum. Ia meraih tangan kanan Ana dan di genggamnya sembari mengusap punggung tangan wanita itu dengan lembut. Cowok itu membawa tangan Ana mendekati bibirnya dan mengecup tangan halus tersebut dengan waktu yang cukup lama.


Napas gadis itu rasanya berhenti di detik itu juga. Berulang kali ia menarik napas yang terasa sesak untuk menstabilkan perasaanya. Dan di saat itu pula wajah Ana tersipu malu. Ia merasa seperti wanita yang paling beruntung di dunia setelah di perlakukan begitu manis oleh Dika.


Perempuan itu ingin menarik tangannya yang sudah terasa dingin, namun genggaman pria itu menahan telapak tangannya begitu erat hingga ia pasrah dengan keadaan. Ia menatap mata pria itu dengan sendu. Sebenarnya ia tau apa yang tengah terjadi bukanlah solusi yang baik bagi jantungnya, namun ia bisa apa?


"Biar kan gue menggenggam tangan lo sebelum gue pergi dan tidak dapat melihat wajah lo dan merasakan ketenangan di dalam sentuhan yang dapat menyelimuti dan menghangatkan hati ini ketika nanti gue merindukan akan dekapan seseorang. Lo nggak keberatan kan?"


"Iya," jawabnya pelan walaupun sebenarnya perasannya menolak mentah-mentah, sebab setelah ini resikonya sangat besar bagi perempuan itu.


"Na gue boleh minta sesuatu?" Tanya Dika sambil memainkan telapak tangan Ana.

__ADS_1


"Bo-boleh. Mau minta apa?" Jawabnya ragu, sebab Ana sangat takut jika permintaan Dika tidak sesuai dengan prediksinya.


"Mulai sekarang kita panggilannya pakai aku kamu."


Ia memandang Dika dengan raut tidak percaya. Oh tuhan mimpi apakah ia malam tadi?! Apa ini semua nyata tuhan? Tolong berikan jawaban kepada Ana sekarang juga. Air mata kebahagiaan turun setetes dari matanya. Panggilan aku kamu lah yang sangat Ana harapkan dari seorang laki-laki, hingga ia mewujudkan keinginanya tersebut dengan suatu tulisan surat. Itulah alasan Ana menulis surat, dengan surat tersebut ia dapat mencurahkan rasa cinta yang entah kepada siapa dan berkomunikasi aku kamu kepada orang itu yang masih menjadi tanda tanya. Ah sepulang dari sini suratnya mungkin sudah memiliki penerima.


"A-aku kamu," beonya.


"Kamu setuju?"


Di tanya seperti itu, oh itu bukanlah suatu pertanyaan yang perlu ditanyakan lagi, tanpa ditanya pun ia sangat setuju banget.


"Iya," jawaba Ana begitu antusias.


Perasaan Ana meleleh seperti garam kala Dika menyeka air matanya dan menangkup wajahnya dengan sebelah tangan, sedangkan tangan satunya masih belum melepaskan penyatuannya dengan telapak tangan Ana.


"Maaf waktu berkunjung anda telah habis." Sungguh di sayang kan sekali, di saat yang romantis seperti ini, harus tertahan oleh waktu.


Sebelum benar-benar pergi, Dika mengusap rambut Ana, "belajar yang rajin ya." Setelah itu Dika benar-benar pergi, dan juga secara perlahan tautan tangan mereka saling melepaskan genggamannya hingga benar-benar terlepas.


Ana memandang telapk tangannya seraya berkata, "beginikah rasa sakit di tinggalkan?"


___________


Tbc

__ADS_1


__ADS_2