SURAT CINTA UNTUK....?

SURAT CINTA UNTUK....?
Part 49


__ADS_3

"Akhh," ringis Ana sambil memegang kakinya yang keseleo. Wanita itu mendesah sambil menyentuh warna biru yang terdapat di area kakinya.


Ana menghela napas panjang dan kemudian terdiam sambil menatap kakinya itu. Tiba-tiba ada seseorang yang menyentuh kakinya. Ana hendak protes namun ketika ia minat wajah orang tersebut sontak Ana langsung terdiam karena yang melakukan hal tersebut adalah Dika.


Napas Ana tertahan dan wanita itu berusaha agar tetap tenang di hadapan Dika. Sementara Dika fokus memijat kaki Ana.


"Akhh," ujar wanita itu sambil menadahkan wajah ke atas. Dika menghela napas panjang dan tiba-tiba mengangkat tubuh Ana dan memasukkan ke dalam mobilnya. "Hey apa yang lo lakuin ke gue?"


"Huh, begini rasanya bertemu dengan orang Indonesia. Menyebalkan," ujar Dika ketus namun diam-diam memastikan wajah Ana.


Ana menghela napas panjang dan tersenyum tipis. Pria ini sungguh arogan dan memang sama seperti Dika. Jadi tidak bisa dipungkiri lagi bahwa pria yang saat ini menolongnya adalah sosok yang selama ini ia rindukan.


"Dika."


Deg


Dada Dika berdetak setiap kali wanita itu menyebut namanya. Dika menghela napas dan berusaha agar tetap tenang dan menatap wanita itu dengan pandangan datar.

__ADS_1


"Apa barusan yang lo lakuin? Lo nyebut nama gue? Berani banget," ujar Dika dan tiba-tiba menarik tangan Ana.


"Dika," lirih Ana ketika pria itu mengangkat tubuhnya dan meletakkan dirinya di atas pangkuan pria tersebut.


Dika menghela napas panjang dan menatap ke depan. Entah dorongan dari mana yang membuat Dika berani melakukan ini kepada Ana. Bahkan dulu mungkin Dika sama sekali tidak pernah melakukan hal ini.


"Bisa diam gak sih lo? Dari tadi cerocos mulu."


Ana menarik napas panjang dan kemudian menatap serius pria itu, "Dika jawab pertanyaan gue, lo kenal gue, kan? Lo tau sebenarnya siapa gue."


Dika memang mengetahuinya hanya saja ia tak mau mengatakan yang sebenarnya. Dika juga ingin mengucapkan beberapa kalimat yang dirinya sudah lama ia ingin katakan.


Ana mengatupkan bibirnya. Ia tak mampu untuk mengucapkan kata-kata membalas ucapan Dika. Hatinya sangat sakit mendengarnya.


Ana tidak bisa mendeteksi bahwa Dika hanyalah berbohong. Baginya apa yang dikatakan jika itulah isi hati pria itu.


"Kau mengingatkan ku dengan masa lalu ku," ujar Ana tiba-tiba dan membuat Dika juga ikut terdiam.

__ADS_1


"Aku tidak sudi dikatakan teman mu dulu."


"Entahlah, mungkin aku terlalu berharap kau adalah Dika yang aku kenal dulu. Tapi ternyata bukan."


Dika pun menatap Ana. Apakah Ana masih mengingat dirinya? Dika mengangkat tangannya namun tak lama tiba-tiba dari saku celananya berbunyi dering ponsel.


Ana diam-diam melirik ke dalam ponsel Dika nyatanya orang yang terlalu kepo dengan kehidupan orang lain memang sangat menyakitkan.


Ana melihat ada nama wanita lain dengan emoticon romantis. Ana hanya bisa mendesah panjang dan menatap Dika. Ternyata ada wanita lain di hati Dika.


"Ck, wanita bodoh itu," ucap Dika dan Ana mendengar apa yang dikatakan oleh pria tersebut.


"Gak boleh ngomong gitu."


"Siapa lo ngatur-ngatur gue?" tanya Dika dan mengusap rambutnya. Di depan sedang lampu merah dan Aja teringat dengan Indonesia jika lampu merah maka banyak pengendara yang berhenti. Di sini lumayan sepi.


__________

__ADS_1


Tbc


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA


__ADS_2