
Wellcome back my story
Jangan lupa like dan Comen
Happy reading all
Hati hati typo bertebaran
_________
Ana yang menyadari ciuman pertamanya telah di renggut oleh orang yang berada di atasnya ini pun langsung melotot dan memdorong laki laki itu agar melepaskan tautan bibir mereaka, karena sedari tadi laki laki itu tidak mengangkat tubuhnya dari atas dan malahan sangat menikmati ciuman tersebut.
Laki laki yang di dorong oleh Ana dengan keras tadi pun dengan terpaksa mengikuti arah gerakan dorongan Ana hingga laki laki itu terduduk di lantai yang basah karena banyak nya cipratan air gara gara ia berenang tadi.
Ana yang merasa bahwa ciuman pertamanya telah di curi oleh laki laki yang sedag duduk di hadapannya ini sontak matanya langsung berkaca kaca. Laki laki yang tak lain adalah DIKA pun langsung berubah panik saat melihat perubahan yang di alami oleh Ana, ia mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru ruangan untuk memastikan apakah ada orang lain di sini atau hanya mereka berdua saja, ia tak mengerti mengapa Ana langsung mengubah ekspresinya saat ia berciuman tadi, bukannya Ana harus bangga jikalau ia telah mendapatkan ciuman dari seorang laki laki tertampan di sekolah dan bukankah hal seperti itu yang di inginkan oleh setiap perempuan yang rela mengantri demi mendapatkan ciuman dari orang tampan seperti dirinya.
Saat Dika tadi melirikan matanya di setiap sudut ruangan, ia tidak mendapatkan pembantu yang padahal telah melihat aksi panas mereka, mungkin pembantu itu sadar harus cepat cepat pergi dari situ sebelum tuannya yang pemarah mengetahui bahwa ia tadi tak sengaja melihat kegiatan intim majikannya.
Kemudian Dika melarikan pandangannya kearah Ana yang sedang menangis sesugukan sambil memeluk kedua lututunya untuk menumpahkan seluruh isi hati karena ciuman pertamanya yang seharusnya ia berikan kepada suaminya kelak telah di ambil terlebih dahulu oleh laki laki yang menjadi musuh bebuyutannya.
"Lo jahat Dik!! hiks hiks hiks-, lo telah ngambil ciuman pertama gue," lirih Ana sambil terisak dan mengangkat kepalanya untuk memandang Dika yang sedang menatap dirinya heran.
Dika yang mendengar pernyataan Ana tadi langsung shok di buatnya. Apa Ana tadi bilang kalau itu merupakan ciuman perempuan itu, jadi ia telah mencuri ciuman anak gadis orang dong. Dika tersenyum saat ia mengetahui bahwa ia yang menjadi orang yang pertama yang telah merasakan manisnya bibir perempuan itu.
Dika yang menyadari bahwa dirinya telah menyunggingkan senyum atas pernyataan Ana tadi langsung mengerejapkan mata dan menguceknya untuk mengumpulakn kesadarnnya kembali, ia merutuki dirinya sendiri yang bisa bisanya telah menikmati ciuman tersebut.
Kemudian Dika beranjak dari duduknya dan menghampiri Ana yang sedang tertunduk sambil terisak iask pelan meratapi ciuman pertamanya yang telah hilang di curi orang. Setelah itu ia berjongkok di hadapan Ana dan mengamati perempuan itu dengan intens. Dika menggerakan tangannya untuk menyentuh dagu Ana, dan mengangkat dagu tersebut agar Ana menatap dirinya.
Ana membulatkan kedua matanya saat ia mengetahui siapa laki laki yang berada di depan matanya dan sempat ia puji tampan tadi, Ana melirik kearah badan Dika yang sempurna dan sis pack yang tidak tertutupi oleh sehelai benang pun kecuali celana yang menutupi **** laki laki itu.
Ana langsung membalikan tubuhnya memunggungi Dika sembari menutup kedua mata, "Dikaaa, pakai baju lo dulu!"
Dika yang mendengar perkataan Ana langsung melirikan matanya kearah tubuhnya. Ternyata benar ia tidak mengenakan baju, Dika langsung beranjak dari jongkoknya dan mengambil baju yang ia letakan tadi sebelum berenang.
"Sudah," ujar Dika yang telah mengenakan baju meskipun celana yang ia gunakan masih dalam keadaan basah.
__ADS_1
Ana yang mendengar instruksi dari Dika itupun langsung membalikan tubuhnya dan berdiri dari wadah ia terduduk tadi. Ana membersihkan baju dan pakaiannya dari debu bekas ia terduduk tadi, kalau lah ia duduk tadi ada debu yang menempel di pakaiannya.
Kemudian Ana menatap laki laki yang berada di depannya yang sedang berdiri angkuh dengan kedua tangan yang terlipat di dada. Ana menatap sinis laki laki itu dan mengusap kasar bekas bibir Dika di bibirnya.
"Pakai di lap lagi bekas bibir gue, bilang aja lo gengsikan bahwa lo tadi juga sangat menikmati penyatuan bibir kita. Alah gak usah pura pura sedih kalau ciuman pertama lo gue udah rebut, ngaku aja kek kalau lo senang gue cium, gak usah drama pakai air mata buaya."
Ana yang mendengar perkataan Dika pun langsung mengepalkan kedua tangannya, tidak bisakah mereka akur walau dalam sehari, padahal niat Ana kesini untuk menenangkan pikiran dan hatinya tapi malah sebaliknya, kepala dan hati Ana di buat tambah memanas.
Ana tiba tiba menyadari sesuatu, kok ada Dika sih di rumah neneknya, bukan kah nenek tidak pernah mengenal Dika sebelumnya. Ana menatap Dika dengan pandangan penuh tanya, kenapa cowok ini berada di rumah ini.
"Dik!" Seru Ana ingin menyakan kenapa Dika berada di rumah neneknya.
"Apa," jawab Dika ketus.
"Kok lo ada di sini sih?"
Dika yang mendengar pertanyaan Ana mengangkat kedua alisnya seraya mengernyit bingung, apa maksudnya Ana menanykan hal itu. Ya tentu jawaban Dika adalah ini rumahnya jadi dia ada di sini, bukankah ia yang seharusnya bertanya mengapa Ana berada di rumahnya? Dan membuat Dika makin bingung lagi bukankah ia telah memberitau ke pembantunya bahwa tidak boleh satu orang pun masuk kedalam ruangan renang di saat ia masih berenang, tapi kok Ana ada di sini.
"Ini rumah gue lah jadi gue ada di sini, dan lo kenapa ada di rumah gue? Tau dari mana lo alamat rumah gue? Apa lo juga suka sama gue, hingga lo mata matain gue cuman buat dapat informasi di mana gue tinggal! Ya kan, ngaku aja sih lo,"
"Terserah lo mau ngomong apa yang penting tujuan utama gue pengen ketemu nenek gue yang punya rumah ini."
"Nenek siapa? Di ruamah gue gak ada nenek nenek di sini," ujar Dika bingung. Memang benar dirumahnya tidak ada nenek nenek yang tinggal di sini yang ada hanya pembantunya yang masih muda, palingan yang di rumah ini paling tua ialah kedua orang tuanya.
Perasaan orang tuanya cuman mempunyai anak hanya satu yang merupakan hanya ia seorang tidak ada yang lain. Jadi apa maksudnya Ana mencari nenek nenek di rumah ini? Lagi pula orang tuanya masih berumur empat puluhan gak tua tua amat.
"Nenek gue yang kira kira umurnya enam puluh tahun, masa lo gak kenal. Apa gue salah alamat ya," Ana mengarahkan pandangannya ke kolam renang tempat ia bermain sewaktu kecil, tetap saja tidak banyak berubah dari kolam renang itu, masa ia salah alamat sih.
Dika ingat sesuatu. "Maksud lo nek Yanti," ujar Dika mendapatkan ingatannya.
Ana memetikan jarinya di depan Dika, "Ha- itu maksud gue. Di mana sekarang nenek gue?"
"Nek Yanti udah lama pindah dari sini, orang tua gue beli ni rumah setahun yang lalu dengan nek Yanti. Jadi dia nenek lo?"
Ana mengangguk membenarkan bahwa itu memang neneknya. "Sekarang lo tau di mana dia?" Ujar Ana penuh harap kepada Dika agar cowok itu mengatakan Ya buakan kata yang lain.
__ADS_1
Namun kenyataan tidak sesuai dengan harapan Ana, Dika menggelengkan kepalanya bahwa bertanda tidak mengetahui keberadaan nek Yanti sekarang. Ana mengalihkan pandangannya kearah hamparan air di dalam kolam renang tersebut dengan tatapan kosong, kini kolam tersebut hanya tinggal kenangan dia dan neneknya, ini pasti ulah ayahnya yang sengaja menjual rumah ini agar ia tidak dapat lagi bertemu dengan sang nenek.
"Lo pikir gue nyembunyiin nenek lo yang tua renta itu di dalam lemari, gini gini gue juga punya hati kali," ucap Dika mengikuti arah pandangan Ana.
Ana menolehkan wajahnya memandang laki laki itu yang sedari tadi hanya bisa berbicara seenak jidatnya saja tanpa mengkoreksi setiap kata kata yang cowok itu katakan. Ana menarik tas nya dan mengarahkan kearah laki laki itu sembari memukul Dika berkali kali agar cowok itu tau bahwa ingin hidup tenang itu harus berkata kata yang yang baik.
"Woi cupu sa---Auu, cupu sakit gue," keluh Dika saat mendapatkan pukulan berkali kali dari Ana dan berusaha sekeras mungkin mengelak pukulan tas setiap Ana layangkan kepadanya.
"Sekali lagi lo ngatain gue cupu, gue gak bakalan berhenti mukulin lo," ujar Ana tanpa memberhentikan aksinya memukuli Dika dengan tas.
Ana yang memukuli Dika dengan sengit itu pun tidak menyadari jika dirinya saat ini berdiri tak jauh dari sisi kolam sehingga selangkah saja ia mundur maka ia akan jatuh ke kolam renang dan akan mandi dua kali hari ini.
Byurrrrr
Benar saja Ana terjatuh kedalam genangan air di kolam itu. Dika yang melihat Ana terjatuh pun sontak tertawa keras sambil memegangi perutnya yang keram akibat kuatnya ia menertawakan Ana yang tejatuh kedalam kolam.
"Mampus lo cupu, hak hak hak hak,"
Tawa Dika harus terhenti saat ia melihat Ana yang tidak bisa berenang itu lemas di dalam air dengan kepala tenggelam timbul dan tangan yang melambai lambai di udara seolah olah ia meminta pertolongan Dika akibat dalamnya kolam renang. Dika yang melihat itu langsung terjun kedalam kolam renang untuk menyelamatkan Ana yang sebetar lagi akan pingsan akibat banyaknya terhirup air kolam.
Dika berenang kearah Ana dan meraih tubuh mungil Ana yang tak berdaya lagi. Ia meletakan Ana di punggungnya dan melingkarkan kedua tangan Ana di leher laki laki itu, kemudian Dika berenag ketepian.
Sesampainya di tepi, Dika mengangkat tubuh Ana naik ke atas, kemudian ia yang naik dan menghampiri Ana yang di ambang sadar dan tidak sadar, ia menepuk nepuk pelan pipi Ana agar dengan begitu Ana dapat bertahan di ujung sisa kesadarannya, namun tak berapa lama Ana benar benar tidak sadarkan diri.
Dika yang melihat Ana tidak sadar lagi langsung panik dan menepuk nepuk wajah Ana dan membawa cewek itu ke pangkuannya. "Na! Sadar Na, Na. pilss sadar," lirih Dika yang panik. Dika langsung mengangkat tubuh Ana dan membawa masuk kedalam rumah untuk di tindak lanjut.
___________
Tbc
jangan lupa like dan Comen
ig:amandaferina6
fb:Nda
__ADS_1