
Typo bertebaran
__________
Di salah satu markas di kawasan cafe daerah Jakarta yang mana tempat itu dijadikan sebagai markas dari gengnya Andre setiap berkumpul. Suasana begitu riuh, suara-suara gelak tawa memenuhi markas tersebut. Tempat itu sekarang sedang mengadakan pesta, banyak botol-botol minuman keras berserakan. Siapa pun yang melihatnya, pasti di dalam hati akan menggumamkan kalimat Astaghfirullah. Banyak anak muda yang setengah sadar, namun berbeda dengan anak muda yang masih terlihat segar bugar walau sudah banyak meminum air laknat tersebut.
Anak muda itu duduk dengan kaki di silangkan dan mengamati anak buahnya dengan seringaian yang tak kunjung pudar. Hatinya hari ini cukup senang, pasalnya laki-laki itu telah berhasil menjatuhkan dan menjebak musuh terkerasnya.
"Jadi ini maksud lo Ndre yang kejutan itu?" Suara Reno yang ikut duduk di sebelah Andre sembari menuntum botol minuman ke mulutnya.
Andre berdecih dan ekor matanya terus tertuju kepada teman-teman nya yang lain yang sedang menikmati pesta.
"Gimana keren nggak kejutan dari gue?" Kekeh Andre seraya menatap Reno.
Reno ikut terkekeh dan menepuk pundak Andre. "Nggak nyangka gue itu rencana lo bos. Kira gue lo akan ketangkap juga sama polisi, tapi ternyata elo yang ngebuat skenario semua ini. Ha ha ha, pintar banget lo bos. Gue akuin lo emang jenius."
Pujian yang diberikan Reno barusan cukup mampu membuat Andre melayang. Dirinya memang pintar, hingga saking pintarnya ia tiada satu pun yang bisa mengalahkan taktik kelicikan otak yang dimiliki cowok itu. Ia akan pastikan suatu hari nanti dengan kepintarannya ini, dirinya akan dapat mengalahkan Dika yang sok jagoan itu, dan ia juga tidak akan membiarkan laki-laki itu bebas begitu saja. Tidak akan asik permainanya jika ia tidak mempermalukan cowok tersebut di depan umum.
"Gue berterimakasih banget sama lo bos yang udah bantu gue nyelamatin keberadaan motor Reyhan!"
Andre melirik Reno sekilas dan kemudian kembali menatap kedepan. Laki-laki tersebut memgambil sesuatu dari balik saku jaktenya. Cowok itu pun menyelipkan sebatang rokok yang dimana terdapat ganja di sana. Lalu kemudian membakar ujungnya, sedangkan pemetik yang ia gunakan entah kemana di lempar oleh laki-laki itu.
Reno terbelalak ketika melihat rokok pria itu yang terdapat ganja, pasalnya laki-laki itu belum mengetahui bahwa bosnya ini pengguna narkoba.
"Lo narkoba bos?"
"Hm."
"Hah!!" Antara kaget dan tidak percaya. Laki-laki itu bergidik ngeri melihat bos nya. Bulu roma cowok tersebut meremang ketika membayangkan bosnya akan ditangkap oleh polisi.
"Bos lo udah lama makai? Emang nggak takut ketangkap polisi? Lo nggak pengedarkan?" Beberapa pertanyaan dilayangkan kepada Andre.
"Udah satu tahun. Heh, takut. Ya enggak lah, buat apa gue takut sama polisi, semua manusia itu munafik, liat uang banyak aja pasti mata mereka berubah ijo. Dan untuk pengedar, cih!! uang gue masih segudang kali, gue masih kaya buat apa gue jadi pengedar, pengedar narkoba hanyalah untuk mereka-mereka yang susah yang ingin dapat uang dengan jalan yang mudah. Ha ha ha."
Reno menatap Andre dengan perasaan ngeri, dan apalagi kala ia mendengar tawa miring dari laki-laki itu, rasanya ia tengah dikuliti mentah-mentah dengan cowok mengerikan itu.
___________________
"Maksud bapak apa!!! Saya nggak salah pak!" Dika tertawa, "gak adil dong pak. Saya ditangkap sedangkan Andre nggak ditangkap. Padahal dia juga ikut adil dalam balapan tersebut." Kemarahan Dika tidak bisa dibendung kala polisi mengatakan kalau ia akan bermalam di dalam jeruji besi. Sedangkan Andre, polisi mengtakan kalau dia akan dibiarakan begitu aja. Gimana nggak marah cobak.
Cowok itu tak henti-hentinya menggeram kepada polisi yang tengah mengintrogasi dirinya. Berkas-berkas yang berada disana tak luput dari kemarahan Dika, ia menggerbak apa saja yang berada di sana membabi buta. Pihak kepolisian panik menangani Dika yang bagi mereka baru pertama kali menghadapai orang yang seperti ini di ruang introgasi. Emosi Dika saat ini tidak bisa terkontrol. Tenaga cowok itu cukup kuat hingga beberapa polisi berdatangan membantu polisi yang sudah kewalahan dengan amukan Dika.
Akhirnya Dika dapat ditangkap, tangannya diplintir ke belakang hingga cowok itu kesulitan bergerak. Tawa sinis terdengar dari laki-laki tersebut seraya memandang ketua polisi.
"Gini kah cara kalian bersiakap adil kepada masyarakat dan mengabdi kepada negara? KALIAN SEMUA PENGECUTTT!!!" Dika terkekeh," kalian sama saja dengan penjahat. Pantas saja negara sekarang tidak damai, kalau penjabat dan prajuritnya saja tak jauh berbeda dari penjahat!!!" Amuk Dika seperti orang gila, dan berusaha melepaskan dirinya dari polisi-polisi itu. Akibat dirinya yang brutal, tanpa disadari cowok itu, kakinya yang terkena goresan peluru mengeluarkan darah, sehingga perban putih seketika penuh dengan warna merah.
"Bawa dia ke sel," titah sang ketua, dan dengan sigap polisi-polisi yang menahan lengan Dika langsung menyeret laki-laki itu keruang isolasi.
"PAK!! pak! Sebentar. Saya mau berbicara sebentar dengan anak saya." Sebuah suara menghentikan polisi-polisi itu membawa Dika.
Dika menatap orangtuanya dengan datar. Ia memutar bola matanya kala orangtuanya berkata begitu manis dan berdalih-dalih kepada polisi meminta waktu berbicara sebentar kepadanya. Sejak kapan orang tuanya peduli kepadanya seperti mimpi tapi nyata, namun sangat disayangkan sekali bahwa Dika tidak bisa memaafkan orang tuanya apalagi sang ayah, ia akan buktikan kepada orang tuanya betapa brengsek hasil didikan mereka.
"Baiklah bapak dan ibu kami beri waktu 15 menit untuk berbincang kepada anak anda." Ujar ketua polisi memberikan izin kepada sang ayah dan ibu.
Dika duduk di tempat ruang tamu. Laki-laki itu membuang wajahnya dari sang ayah dan ibu.
Kemarahan Raka kian memuncak melihat sikap anaknya yang dianggap tidak sopan terhadap seorang yang lebih tua. Sedangkan Sikra bergeming melihat kemarahan suaminya itu. Ia menatap sang anak kemudian menghela napas.
BRAKKK
__ADS_1
Mengejutkan Raka langsung menggerbak meja sembari melayangkan tatapan membunuhnya kepada Dika. Kemarahan di dalam tubuh pria itu yang sudah bersatu dengan jiwanya pun semakin mendidih.
"Siapa yang ngajarin kamu balapan seperti ini. Dasar anak memalukan," marah Raka. Ia tak pernah menyangka bahwa anaknya akan terjerumus kedalam dunia hitam. Apa kata kolega bisnisnya nanti.
"Dika! Mama tidak pernah mengjarkan kamu untuk memalukan orang tua. Tidak bisa kah kau membangga kan kami? Apa kamu tidak mikirkan harga diri keluarga kita?" Sikra ikut memarahi anaknya.
"Emang kenapa kalau Dika di tangkap polisi? Apa kalian peduli?"
Raka berdiri dari tempatnya dan langsung melayangkan telapak tangan kasar miliknya dan didaratkan di wajah Dika tanpa perasaan. Dada laki-laki itu naik turun setelah menampar darah dagingnya sendiri.
Sedangkan Dika yang wajahnya tertoleh pun menampilkan senyum miring di iringi kekecewaan. Akhirnya ayahnya menunjukan sikap asli milik pria paru baya itu. Meskipun ayahnya cuek dan tidak peduli, namun Raka sama sekali tidak pernah bermain tangan kecuali hanya bentakan. Sakit yang dirasakan Dika hari ini, hari ini adalah hari kesialannya.
"Tumben ayah peduli dengan Dika. Buat apa ayah peduli hah. Nyesal sekarang?" Dika terkekeh, "nggak akan mungkin kalian nyesal liat Dika. Kalian datang kemari cuman mau marahin Dika yang buat kalian berdua malu."
"Diam kamu Dikaaa!" Raka menatap anaknya dengan napas memburu. Ia pun memejamkan matanya agar emosi pria itu tak lepas.
"Puas ayah liat Dika begini. PUASSS!!" Dika berdiri dari kursinya," ingat baik-baik. Dika pastikan suatu hari nanti kalian akan nyesal dengan perbuatan kalian sendiri."
Cowok itu menatap ayahnya, lalu kemudian melirik Sikra yang terlihat sedih bercampur amarah. Dika pergi dari sana dan langsung membuang muka dari kedua orangtuanya. Ia muak dengan drama ini, ia ingin menghentikannya saja, namun ia tak punya kuasa dengan itu. Ia memang laki-laki menyedihkan di dunia ini.
_________
SMA Mutiara Hati terlihat damai dan tenang pada siang ini. Siswa-siswi di jam istirahat seperti sekarang banyak memilih pergi ke kantin maupun kelain tempat dengan satu tujuan yaitu merileks kan pikiran yang tak berhenti berpikir.
"Eh Cika! Lagi baca apaan lo hah." Lona melirik pada handphone Cika.
Cika mengangkat kepalanya dan mematikan layar ponsel. Ia menatap malas cewek yang ada di depannya sembari bersedekap dada.
"Komik Manga Toon," ucapnya malas.
"Hah mangga toon? Aplikasi apaan tu. Gue baru dengar ada aplikasi mangga toon. Sini HP lo gue mau liat." Lona merebut handphone Cika, namun sang pemilk lebih dulu menjauhkan handphone nya.
"Ma-ng-a To-on. Budek."
"Sama aja kali," protes Cika.
"Ya enggak sama lah. Tulisannya aja beda."
"Lon lo tau Denok nggak pemain tukang ojek pengkolan?" Lona mengangguk, "asal lo tau, lo itu mirip banget sama dia yang kalau berbicara itu harus spesifik."
Mata Lona berbinar kala Cika mengatakan dirinya mirip salah satu pemain sinetron TOP.
"Aaaaa. Berarti gue aktris dong?!"
"Serah lo." Cika kembali melanjutkan membaca komiknya. "Dasar gobolok," cibir perempuan itu sambil menggesek-nggesek layar ponselnya.
"Woyyy makan ke kantin yok!!!" Ana menghentakan tangannya di meja sembari berteriak. Sontak kedua perempuan itu nyaris saja terserang jantungan.
"Eh kingkong datang," latah Lona seraya mengusap dadanya.
Di lain sisi Ana mengercutkan bibirnya, ia menatap horor Lona yang menyebut dirinya Kingkong.
Lona menyengir tak jelas dan gelisah melihat wajah Ana yang sedang mengintimidasinya. Perempuan itu melirik Cika yang berada di sampingnya yang ingin tertawa melihat dirinya sekarang dalam mode tegang.
"Yaudah Na, kita ke kantin yok. Gue bosan di sini." Perempuan itu sengaja mengalihkan topik permasalahan. Ia berdiri dari tempatnya dengan maksud pergi ke kantin.
"Apa lo bilang tadi?"
Aduh tamat lah riwayatnya hari ini, ternyata jurus yang ia gunakan tadi tak mampu melupakan ucapannya tadi di kepala Ana.
__ADS_1
"Nggak ngapa-ngapa kok Na. Gue tadi cuman bilang lo hari ini Syantikk banget."
"Jadi gue cantik cuman hari ini?"
Lona gelagapan, lantas ia menyenggol bahu Cika meminta bantuan dari amukan singa betina. Namun mungkin hari ini adalah hari apesnya hingga Cika bersikap acuh dan membuang muka.
"Maksud gue lo itu cantik tiap hari, tapi hari ini lo lebih cantik banget dari hari biasanya."
Ana menghela napas.
"Yaudah kita ke kantin yok Cik," ajak Ana hanya kepada Cika seraya menarik pergelangan tangan perempuan tersebut. Sedangkan Lona mereka tinggal begitu saja.
"Kok gue nggak di ajak?" Tunjuknya kepada wajahnya sendiri, kemudian ia memandang Cika dan Lona yang sudah berlalu jauh.
"Woy tungguin gueee!!!"
Lona menabrak Ana dan Cika yang sedang berjalan sehingga keduanya hampir saja terhuyung ke lantai. Lantas kedua perempuan itu mentap Lona dengan kilatan tajam sembari menggeram.
"Lonaaa!!" Geram keduanya.
"He he he. Maaf," perempuan itu mengacungkan jarinya membentuk hurup V.
Ana memandang Lona bosan seraya mengalihkan pandangannya. Ia mengangkat kedua alisnya ketika mata jeli itu menangkap Reyhan dan Deigo berjalan berdua saja tanpa ada Dika yang biasanya tak terpisahkan dari ketiga kesatuan utuh tersebut.
Lirikan matanya tak lepas dari kedua laki-laki itu, hingga kedua cowok tersebut pun hampir berjalan dekat dengannya masih saja ia asik dengan pikirannya yang bertanya-tanya.
Ketika Deigo dan Reyhan ingin melewati perempuan itu, dengan cepat Ana mencegat keduanya. Kedua laki-laki itu menatap Ana dengan bingung dan begitu pula dengan kedua sahabat perempuan itu.
"Na. Lo ngpain?" Bisik Cika pelan sembari menyenggol Ana.
Perempaun itu tak menghiraukan pertanyaan Cika barusan. Ia masih sama menatap kedua cowok itu penuh tanya.
Reyhan memandang heran Ana, tak biasanya perempuan itu mau menyapa mereka, bahkan Ana akan kabur jika melihat seujung rumbut mereka. Laki-laki itu tersenyum kala melihat ada Lona di samping Ana.
Rasanya Lona ingin muntah ketika melihat senyuman jelek Reyhan kepadanya. Ia bergidik geli dan menjauhkan wajahnya dari laki-laki itu.
"Go, Dika mana? Kok nggak bareng kalian?" Tanya Ana akhirnya.
Deigo mngernyitkan alis, sesaat kemudian laki-laki itu menarik napas dan mengubah wajahnya datar.
"Buat apa lo cari Dika?" Tanyanya dingin.
Andaikan membunuh orang diperbolehkan, pasti Ana sudah membunuh Deigo saat ini juga. Ia tak tahan mendengar nada bicara Deigo yang terkesan sok cool. Ia mendengkus.
"Ihh... Deigo gue serius. Dika mana?"
"Di penjara. Puas lo."
"Apa di penjara? lo serius?" Tanya Cika terkejut. Namun yang membuatnya lebih terkejut lagi, kala ia melihat Ana yang tiba-tiba lari dari mereka yang sepertinya menuju ke kelas.
Dan tak lama, perempuan itu keluar dari kelas dengan tasnya yang sudah ia gendong.
"Bilangin ke guru hari ini gue izin!!!" Teriak perempuan tersebut dan berlari sembari menahan rasa cemasnya.
Keempat orang yang di sana hanya mentap Ana heran. "Tu anak kenapa?"
Lona menoleh kepada Reyhan yang barusan saja bertanya entah kepada siapa, sebab di sana tidak ada satu pun yang tau apa yang telah terjadi dengan cewek itu. Wajah Lona mengeras ketika ia menyadari bahwa Reyhan merangkul pundak nya. Dengan cepat ia mendorong laki-laki itu ke samping.
"Dasar ke gatelan lo!!!"
__ADS_1
________
TBC