
Dika memberanikan membawa Ana menemui orangtunya. Tidak bisa dibayangkan betapa gugupnya Ana sekarang.
Wanita itu bahkan tak bisa bernapas dengan tenang. Detak jantungnya memburu seakan menekan dirinya. Ana memejamkan mata sambil menggenggam tangan Dika dengan kuat.
"Dika," lirih Ana sambil mengigit bibirnya.
Ana terkesiap saat melihat orangtua Dika. Ana berusaha untuk tetap terlihat berwibawa di depan orangtua Dika. Ia tersenyum tipis namun tidak ada tanggapan sama sekali dari orangtua Dika.
Hal itu meruntuhkan pertahanan Ana. Ia melirik Dika dan pria itu juga sama tak memiliki ekspektasi.
Ana kebingungan sendiri dan juga sibuk sendiri. Ia berusaha agar tetap tenang namun jiwanya terus memberontak agar ia menyerah lebih dulu ketimbang ia gagal di pertengahan.
"Siapa dia?" tanya Ibu Dika sambil menatapnya dengan penuh penilaian.
Ayahnya Dika juga datang dan melakukan hal yang sama seperti ibunya. Ana menelan ludah susah payah. Bertemu dengan orangtua Dika adalah hal yang paling mengerikan dalam hidupnya.
"Dia Ana," ujar Dika dengan wajah datar.
"Hallo Om, Tante," ujar Ana memberanikan diri menyapa.
"Siapa kamu? Dan siapa orangtua kamu? Kamu sekarang sudah bekerja atau sedang kuliah?"
Ana terperanjat dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Benar dugaannya pasti akan diberikan pertanyaan seperti ini. Orangtua mana yang tidak ingin hal yang terbaik untuk anaknya.
Ana paham akan hal itu. Maka dari itu ia sudah menyiapkan segala hal dari tadi malam. Ana nuha berlatih anggun dan juga sopan. Ia juga sudah menyiapkan pertanyaan dan juga jawaban. Dan pertanyaan yang ia buat pas dengan pertanyaan keluarga Dika.
"Ana ke sini bukan lagi cari kerja. Dia pengen berkunjung. Jadi jangan berlebihan nannya nya," ujar Dika ketus.
Ia tak suka Aja dirundung akan hal itu. Dika bisa melihat ketakutan dan juga tak tenang dari mata Ana.
"Dika, " tegur Ana, "aku gak papa aku juga bakal jawab. Gak ada yang salah dengan orangtua kamu."
Dika menghela napas menatap Ana. Ia tersenyum kepada wanita itu sambil menggenggam tangan Ana.
"Tapi Ana, kamu pasti terganggu dengan pertanyaan orangtua akubyang terlalu berlebihan," ujar Dika yang sejujurnya ia merasa tidak enak.
Ana menggelengkan kepala. Ia sama sekali tidak tersinggung dengan aoa yang ditanyakan oleh orangtuanya Dika.
__ADS_1
"Aku tidak tersinggung, aku biasa aja Dika."
"Kamu dengar sendiri kan Nak kalau dia gak keberatan."
Dika menatap ayahnya marah. Ia ingin menjawab ucapan ayahnya namun Ana menghalangi Dika dan menggelengkan kepala agar pria itu tidak melakukan hal tersebut.
"Dika tidak apa-apa. Jangan terlalu berlebihan. Aku tidak masalah dengan semua itu," ujar Ana kepada Dika dan berharap agar pria itu tidak terbawa emosi dengan orangtunya sendiri.
"Saya Ana Pricilla, oranguta saya adalah bapak Toni salah satu pemilik perusahaan roti di Bandung. Perusahaan Roti ToVe. Dan saya masih kuliah di Inggris jurusan Sastra."
Ayahnya Dika dan ibunya terdiam. Mereka saling tatap. Selain itu selama Dika di Inggris Dika tidak mengetahui kabar orangtunya dan bagaimana orangtunya yang biasanya setiap hari tanpa pertengkaran.
Agak aneh memang bagi Dika jika tidak mendengar pertengkaran orangtuanya. Namun itu lebih baik, dari pada mereka tkdka tahu cara menempatkan diri dan bertengkar di depan Ana.
"Oh Toni. Aku tahu, namun aku tak tahu jika kau adalah putrinya setahu ku hanya Misla. Kau adiknya Misla?"
"Iya Om."
Sementara itu ibunya Dika terdiam di tempat. Wajahnya menegang dan tangannya bergetar saat mendengar bahwa Ana adalah adik dari Misla. Entah apa yang sedang dirahasiakan oleh wanita itu. Namun dirinya sekarang merasa tak tenang dan air matanya juga ingin mengucur dari pelupuk indahnya saat melihat Ana.
"Ka...kamu benar-benar adiknya Misla?"
"Kamu diperlakukan baik selama ini sama orangtua kamu?"
Ana terperanjat saat mendengar pertanyaan itu. Ia tak memiliki hubungan keluarga yang baik dan bahkan orangtunya sangat membenci dirinya. Apakah ibunya Dika mengetahui hal itu dan ingin Ana menjauhi Dika.
"Kenapa kau bertanya seperti itu?" tanya Dika kepada ibunya.
"Dika," bentak Raja agar tidak memanggil orangnya seperti tadi.
Dika melirik sebentar ayahnya dan memutar bola matanya. Ia sama sekali tidak peduli jika ayahnya akan memarahi dirinya karena sudah berbahasa tidak sopan kepada mereka.
Lagipula mereka sering menganggap Dika bukan seperti anak mereka. Untuk apa Dika berbaik hati kepada orangtuanya.
"Dika, kamu gak boleh gitu. Sebenci-bencinya kamu sama orangtua kamu, kamu gak boleh kaya gitu sama mereka."
"Iya-iya sayang," ujar Dika. Jika ada yang memaksa ia akan menurut beda lagi jika itu ayahnya yang menginginkan ia berbahasa lebih sopan.
__ADS_1
"Maaf saya belum bisa mengantarkannya Tante."
"Kamu diperlakukan tidak baik?" tanyanya dan tangan ibu dari Dika itu mengepal menahan rasa sakit.
Ana merasa heran dengan ibunya Dika tersebut. Ia yang disakiti kenapa seolah-olah ibu dari Dika tersebut yang merasakannya.
Air matanya jatuh dan itu makin membuat penasaran orang di sana. Dika juga merasakan hal yang sama dan sangat heran dengan ibunya sendiri. Ia ingin bertanya namun ayahnya telah mendahului pertanyaannya.
"Ada apa dengan kamu?"
"Kamu tahu siapa Ana?" Mungkin sudah saatnya kebenaran terungkap. Ia juga tak akan bisa menutup ini sendirian.
Dan selama ini Ana pasti bingung dengan dirinya dan saatnya untuk ia mengungkapkan kebenarannya.
"Siapa dia?"
"Jangan ngada-ngada," ujar Dika memperingati ibunya.
Sang ibu menggeleng jika ia tak akan mengada-ada, kenyataan yang ia ingin ungkapnya benar-benar sudah mengganjal hatinya cukup lama.
"Kamu tahu kalau Vanessa bukan orang tua kandung kamu?"
Mendengar pertanyaan dari ibu Dika sontak saja membuat Ana terkejut dan sangat syok. Wanita itu meneteskan air matanya secara tiba-tiba. Jika hal tersebut benar tentunya Ana akan merasakan sakit yang luar biasa dan tak akan tergambarkan.
Jadi selama ini ia dibesarkan oleh orangtua yang bukan orangtuanya kandung. Pantas perlakuan mereka kepada Ana sangatlah berbeda. Mereka sering membuatnya sakit hati dan bahkan tak peduli padanya.
Ia kira selama ini dirinya diperlakukan berbeda dengan kakaknya Misla adalah karena ia yang tak memiliki kemampuan sehebat Misla. Namun nyatanya masih ada fakta lain yang baru terungkap.
"Maksud Tante?"
"Kamu adalah anak dari Melinda yang merupakan sahabat kami dan ibu mu. Ayah mu dan ibu mu Melinda merupakan pasangan yang sangat populer hingga menikah. Namun ibu mu tidak mengetahui jika Vanessa dan Toni ayah mu sudah sangat lama berselang di belakangnya hingga memiliki anak Misla kakak mu. Saat mengetahui hal itu ibu mu bunuh diri dan ayah mu menikahi Vanessa."
Deg
Jadi ini alasannya? Oh Tuhan sangat kejam sekali. Ana benar-benar tidak menyangka.
_________
__ADS_1
Tbc
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA