SURAT CINTA UNTUK....?

SURAT CINTA UNTUK....?
Part 53


__ADS_3

Kicauan burung memenuhi pagi seorang Ana Pricilla. Ia membuka matanya dan wanita itu langsung melihat seseorang yang tertidur nyaman di sampingnya. Awalnya Ana terkejut namun semakin lama ia pun baru menyadari jika orang itu adalah Dika, pria yang malam tadi resmi menjadi pacarnya.


Ana tersenyum simpul memperhatikan pria itu. Laki-laki yang dulu ia rindukan kini tengah bersamanya dan tertidur nyaman dengannya.


Ana tak bisa membendung perasaan yang begitu bahagia di dadanya. Wanita itu tersenyum lebar dan mengusap kepala Dika dengan penuh rasa kasih sayang.


Sejenak Dika membuka matanya merasakan usapan lembut di kepalanya. Pria itu ikut tersenyum melihat ada seorang wanita cantik yang menyambut paginya.


"Morning," ujar Dika dan langsung mencium kening wanita itu.


Refleks Ana terkejut dan langsung memukul kepala pria itu. Ia tersenyum malu-malu melihat Dika.


"Apaan sih."


"Sama pacar sendiri juga, kok jahatnya kaya gitu yah," ujar Dika sembari tersenyum.


Senyuman pagi hari begitu indah di wajah keduanya. Pagi yang disambut dengan kebahagiaan. Dika mendapat apa yang diinginkannya dan begitupula Ana.


"Dih, emang kita pacaran?"


"Lupa nih ceritanya?" tanya Dika dan menarik hidung Ana. Ana tertawa simpul seraya memukul pria itu. "Cewek mau kebiasaan suka mukul," ujar Dika membuat Ana menahan napas.


"Oke-oke cowok yang benar."


"Dih kalah yah yang?" tanya Dika dengan sebuah senyum manis di wajahnya.


"Gak ye."


"Masa sih?"


"Iya."


"Affah Iyah?"


"Iya..."


"Udah-udah jangan cemberut lagi, udah mau masuk tahun 2022 juga."


Ana melirik pria itu sekilas. Siapa yang memulai duluan dan siapa yang disahkan. Ana hanya bisa pasrah bersama pria ini. Lagipula ia sangat mencintainya.


"Gak cemberut kok."


"Masa? Mana senyum cantiknya?" Dika membentuk pipi Ana dengan wajah tersenyum. Kedua insan tersebut sontak tertawa bersama-sama.


Dari raut wajah Dika menggambarkan pria itu tak bisa melepaskan rasa gemasnya kepada sang kekasih.


Laki-laki tersebut langsung memeluk tubuh Ana dengan erat hingga Ana merasakan jika seluruh tulangnya akan rapuh karena pria ini.


"Dika pelan-pelan dong," omel Ana kepada Dika yang malah membuat dirinya tersiksa.


"Ini udah pelan-pelan kok yang."

__ADS_1


"Tapi badan aku sakit banget tau," ujar Ana seraya mendorong tubuh pria itu.


"Kamu sih abisnya gemas banget, aku gak bisa nahan buat meluk kamu."


Ana memutarkan bola matanya mendengar ucapan laki-laki tersebut. Dika memang tipe buaya darat. Pria ini sungguh bisa memporak porandakan hati yang selama ini ia jaga dengan baik.


"Kenapa?" tanya Dika melihat wajah Ana yang sudah sangat pasrah.


"Sadar diri dong. Yang ada kita cuman pacaran sehari dan besoknya aku udah gak ada."


Dika meletakkan ujung jarinya di bibir Ana. Ia menggelengkan kepala bertanda jika Ana tidak boleh mengucapkan kalimat tersebut kembali.


"Hsyut... Gak boleh ngomong gitu ih..."


"Lagian juga kamunya nyebelin banget."


"Iya-iya ini aku lepasin." Dika pun melepaskan pelukannya bersama Ana.


Akhirnya Ana dapat menghirup udara bebas tanpa merasakan kesakitan yang ia terima dari pria itu. Ana menarik napas panjang dan bangun dari posisi rebahannya.


Ia merentangkan tangan meregangkan otot-otot di tubuhnya. Dika terkesima melihat kecantikan Ana di pagi hari.


"Kita udah kaya pasangan yang udah nikah aja yah," ucap Dika dan membuat Ana teridam seketika.


Wanita itu melirik pria yang baru saja mengucapkan kalimat tersebut. Ana menaikkan satu alisnya dan berpikir sejenak. Apa yang dikatakan oleh Dika memang benar. Mereka seperti pasangan yang sudah menikah dan tidur sekamar. Untung pria itu tidak memperlakukan dirinya yang macam-macam.


"Elo sih datang ke kamar gue. Pulang lo kaya gak punya apartemen sendiri aja."


"Ngomong apa barusan? Lo gue? Ngomong sekali lagi aku cium."


Ana sontak langsung menyentuh bibirnya. Ia menggelengkan kepala dan tak ingin pria itu melakukan hal tersebut.


Ana menarik napas panjang dan terdiam diri. Jika Dika melakukan hal tersebut ia tak akan segan-segan mengusirnya.


"Coba aja kalau berani. Aku bakal gak izinin kamu ke sini lagi," ucap Aja kepada Dika hingga Dika pun tertawa pelan.


"Bercanda sayang. Marah-marah mulus sih, gak bagus tau."


"Gara-gara kamu," ucap Ana to the point. "Lama-kelamaan aku darah tinggi."


"Kita kan udah pacaran, harusnya romantis-romantisan atau gak manja-manjaan gitu."


"Alay," ucap Ana hingga membuat Dika memajukan bibirnya.


"Biasa aja dong."


"Hm."


"Udah-udah aku mau ke kamar mandi."


Dan dengan entengnya Dika berucap, "aku mau ikut!"

__ADS_1


"Dika!!!"


Ana melemparkan bantal gulingnya kepada pria itu.


____________


Karena sama-sama memiliki kelas siang, keudanya pun sepakat untuk pergi kuliah bersama. Dika keluar dari kamar Ana dan kebetulan Joe juga baru keluar.


Joe terkejut mendapati Dika baru saja keluar dari apartemen Ana. Ia pun menatap curiga ke arah Dika dan menatap ke dalam rumah milik Ana.


"Kamu lagi ngapain sama Ana."


"Bukan urusan kamu."


"Hah? Kalau kamu berani macam-macam sama Ana aku tidak akan memaafkan mu."


"I don't care." Dika menatap Joe tidak suka. Pria ini tampaknya sangat menyukai kekasihnya, sayangnya ia yang mendapatkan hati Aja dan bukan pria ini. Dika pun bersyukur akan hal itu. "Sayang cepat!!"


Joe terkejut mendengar Dika baru saja menyebut Ana dengan panggilan kasih sayang.


"Iya bentar sayang!! Dikit lagi!!"


Dan balasan dari Aja juga mengejutkan Joe. Joe menundukkan kepala. Ia sudah tahu apa yang sedang terjadi. Mereka memadu kasih dan saling memberikan perhatian yang lebih. Itu artinya mereka adalah sepasang kekasih.


"Kapan kau jadian dengan Ana?"


"Apa peduli mu?"


Joe menghela napas dan tak lama Aja keluar dari dalam apartemen tergesa-gesa. Ia terkejut jika ada Joe di sana.


"Joe," ucap Ana dengan perasaan tak nyaman.


"Hay Ana." Dika mengepalkan tangannya melihat interaksi antara Ana dan Joe. Ia lantas menarik tubuh Ana dan memeluknya dengan erat.


"Tidak ada yang perlu banyak dibicarakan, bukan? Kami pergi dulu." Dika membawa tubuh Aja pergi dari sana secepatnya.


Ana merasa tidak enak kepada Joe. Ia menatap Joe meminta pengertian pria itu.


Joe terdiam di tempat sambil melihat punggung kedua kekasih tersebut. Salah memang menaruh hati kepada orang lain yang juga memiliki nama pria lain di hatinya.


"Memang di awal aku yang sudah salah langkah," ucapnya dengan suara getir.


Kemudian Joe pun pergi dari sana dan turun ke apartemen menyusul Ana ke universitas mereka.


Rencana awal ia ingin mengajak Ana dan ternyata Ana sudah bersama pria lain. Sakit memang dan itulah yang dirasakan Dika ketika pertama akali melihat Ana bersama pria lain dan akhirnya ia bisa merasa lega ketika tahu bahwa Joe hanyalah teman Ana.


__________


Tbc


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA

__ADS_1


__ADS_2