
Wellcome back my story
jangan lupa like dan comen
Haply reading all
WARNING: TYPO BERTEBARAN
________
Dika yang sangat panik melihat Ana sudah tidak sadar kan diri langsung membawa perempuan itu kedalam kamarnya untuk ia obati. Di tengah perjalanan menuju kamar, Dika terus saja berteriak memanggil pembantu barunya yang menggantikan bi Leni untuk mengurus Ana, karena ia sama sekali tak mengerti cara menangani orang pingsan.
"Mbokk Sina!!!!"
"Mbokk Sinaa, ke kamar Dika cepat!!!"
"Mbok, bantuin Dika, teman Dika pingsan mbokk,"
"Baik den!!" Teriak pembantu yang bernama Sina itu dari arah dapur.
Dika yamg mendengar sahutan dari pembantu yang ia panggil Sina itu pun langsung melanjutkan membawa Ana yang sedang ia bopong kearah kamarnya. Di dalam kamar, Dika membaringkan Ana ke kasur miliknya dan mengambil selimut untuk di gunakan menutupi tubuh Ana yang dingin.
Ia tidak peduli lagi dengan kasurnya yang basah akibat baju Ana yang masih basah kuyup setelah ia tercebur tadi, tenang ia masih banyak memiliki sprei kok. Dika merapikan selimut tersebut dan meraih kedua tangan Ana untuk ia keluarkan dari balik selimut.
setelah usai melakukan itu ia membalikan tubuhnya seraya menatap kearah pintu untuk menunggu kedatangan Mbok Sina yang tak kunjung kunjung datang juga. Dika yang merasa geram melihat pembantunya belum datang juga kekamar, pergi berjalan keluar untuk menyeru pembantunya tersebut agar lekas datang sebelum terjadi apa apa dengan Ana.
Ntar misalnya ada apa apa dengan Ana jika lambat di tangani yang ada dirinya nanti bakal mendapatkan tuntutan dari keluarga perempuan yang pertama kali selain ibunya yang telah berhasil merebahkan diri di kasur pria itu.
Baru saja ia melangkah kan kakinya untuk memanggil Sina, pintu kamar sudah di ketuk oleh orang yang di balik pintu yang tak lain adalah Sina sang pengetuknya. Dika yang mendengar ketukan dari arah pintu langsung bergeming, lama sekali sih pembantu nya ini berjalan.
Tok
Tok
Tok
"Masuk," titah cowok itu memperbolehkan sang pengetuk pintu yang merupakan pembantu yang memiliki nama Sina masuk.
Sang pembantu yang mendapatkan izin dari Dika pun langsung membuka pintu tersebut dan seraya masuk kedalam kamar yang bisa di katatakan lumayan besar dan warna abu abu yang lebih mendominasi kamar ini dari pada warna yang lainnya. Warna abu abu tersebut adalah warna favorite dari laki laki yang bernamakan Dika.
Dika yang melihat pembantunya masuk kedalam kamar miliknya memutar bola mata malas. Sedangkan Sina yang melihat ekspresi tidak suka dari wajah Dika yang di layangkan kepada dirinya pun langsung menundukan wajah takut. Salah dirinya sendiri sih, setelah Dika memanggil manggil dirinya tadi tidak langsung mengerjakan apa yang di perntahakan Dika, dan sempat sempatnya ia tadi membalasi komentar para warga NET di Instagram.
"Ada apa den," ujar pembantu tersebut dengan masih betah mentapa lantai yang ia pijak, karena ia tidak berani untuk menatap tatapan Dika yang seolah sebentar lagi siap menjadikan dirinya mayat.
"Urus teman saya yang pingsan ini," kata Dika menunjuk kearah Ana yang terbaring di tempat tidur milik cowok itu.
Sang pembantu yang melihat arah tunjuk telunjuk Dika langsung mengalihkan tatapannya kearah yang Dika tunjuk tadi. Ia langsung terdiam sesaat saat matanya melihat seorang gadis perempuan cantik yang mencari anak tuannya tadi dan juga perempuan yang telah berciuman dengan Dika di dekat kolam renang. Sina mengerutkan keningnya bingung, bukan kah nona tadi baik baik saja dan kenapa nona itu menjadi tidak sadarkan diri seperti saat ini.
__ADS_1
"Nona ini kenapa den?" Tanya Sina dengan polosnya, dan lantas pertanyaan Sina pula lah berhasil membuat mata Dika melotot kaget dengan kalimat tanya pembantu itu lontarkan.
Dika menghela napas gusar dan berusaha menahan amarah yang terus saja ingin tertuangkan kepada pembantunya ini. Demi memahan amarahnya, Dika mngulas senyum kesabaran menghadapi pembantunya ini, di mana sih ibunya mendapatkan pembantu seperti ini.
"Mbok.. Teman Dika ini lagi pingsan, gara gara kecebur kedalam kolam. Paham gak sih mbokk," ujar Dika lembut kepada pembantunya tersebut tetapi tidak melupakan ada sebuah kekesalan juga yang terselip di sana.
Sina pun mengangguk paham, "oh."
Dika ternganga mendengar tanggapan Sina yang hanya mengatakan OH dan kemudian Sina yang mengalihkan pandangannya kearah Ana dan tanpa melakukan apa apa. Seriusan ni pembantunya hanya berdiam diri saja saat melihat orang yang lagi pingsan. Gak ada niatan gitu, buat ngegantiin baju atau tidak ada rasa sama sekali panik dan ingin mengobati. Aduh mimpi apaan sih malam tadi hingga dia sampai di uji oleh pembantunya sendiri.
"Kok mbok diam aja sih, gantiin baju perempuan itu kek, masa ia mbok suruh Dika juga yang buat ngegantiin bajunya. Yakali apa kata tetangga nantik."
"Olwalah den, mbok lupa," ujar Sina sambil menepuk jidatnya akibat keteledoran dirinya sendiri, "baju gantinya mana den?"
Sungguh Dika tidak dapat berkata kata lagi mendengar ucapan dari pembantunya ini yang membuat ia jadi pusing tujuh keliling, ia hanya bisa mengucap saja di dalam hatinya lagi, "Yah pinjam baju mbok dulu lah."
"Aduh den, bukannya mbok tidak mau pinjamin baju ke nona ini, tapi baju mbok kan besar semua," kata pembantu itu dengan raut sedih. Memang benar mbok Sina memiliki badan yang gempal.
"Yah gak papa kali mbok, dari pada dia telanjang bulat lebih baik pakai baju mbok meskipun kebesaran. Kan baju yang kebesaran itu yang bagus di dalam agama, gak ngebentuk tubuh seseorang."
"Tapi den tetap saja nona itu tidak cocok memakai pakian mbok yang kumuh, sedangkan penampilan perempuan ini sanagt rapi," ujar mbok yang masih saja menimpali perkataan dari Dika tanpa sama sekali melakukan sesuatu.
"Astaghfirullah mbok! Kalau gitu pakai baju kaos Dika aja sama celana jensnya yang di letak di lemari bagian atas," putus Dika. Sungguh ia sangat pening mendengarkan pembantunya ini terus saja berbicara.
Pembantu tersebut mengangguk dan menatap kearah lemari yang di maksud oleh Dika tadi. Ia berjalan kearah lemari tersebut dan mengambil baju kaos beserta celana jens milik pria yang berinisialkan DR, tau lah kan siapa.
Dika yamg melihat pembantunya ingin menggantikan Ana baju langsung keluar dari kamar tersebut, di karenakan ia dan Ana berbeda jenis kelamin.
___________
Dan tatapannya jatuh pada sebuah bingkai poto yang mana bingkai tersebut di isi oleh gambar laki laki yang sangat ia benci dan menjadi musuh bebuyutannya selama ia bersekolah SMA. Ana yang melihat gambar itu dengan refleks langsung menangkup kedua pipinya seraya mengucek mata berkali kali. What ia tidur di kamar musuh bebuyutannya.
Ana melirikan matanya kearah baju yang ia kenakan, rasanya ada yang berbeda perasaan baju yang ia kenakan semuala sangatlah tebal dan memgapa sekarang malah terasa tipis. Dan bertapa terkejutnya Ana saat melihat pakaiannya berbeda dengan yang semula ia datang tadi.
"DIKAAAAAAA!!!!"
Hati perempuan itu terus bertanya tanya siapakah yang telah menggantikan pakaian dirinya? Dan baju siapakah yang ia pakai saat ini? Sepertinya baju ini adalah milik Dika, karena baju ini terkesan berpotongan cowok.
Dika yang merasa terpanggil oleh sebuah suara yang menggema di kamar nya itu pun langsung beranjak dari sofa yang tak jauh berada di kamarnya, sebenarnya laki laki itu duduk bersantai di ruang santai sembari melihat tayangan TV yang membosankan untuk menunggu cewek itu sadar dan juga perempuan itu lah yang hari ini sudah berhasil membuat hari hari Dika hancur, mana lagi tu cewek tidur di kamarnya. Dika memaki maki dirinya sendiri yang tidak berfikir matang tentang Ana yang ia bawa kedalam kamarnya, bagaimana ia tidak menggerutu di saat ia ingin memindahkan Ana usai di gantikan pakaian untuk di pindahkan ke kamar tamu, Ana selalu saja menerjang dirinya dengan keadaan yang tidak sadar dan memaki maki dirinya saat ia mengangkat cewek itu. Ana seolah telah menikmati dan sangat betah dengan kamar Dika.
Dika membuka pintu kamar tersebut dan masuk kedalam menghampiri Ana yang duduk di sisi ranjang dan memberikan dirinya sebuah tatapan yang membunuh.
Dika yang melihat tajamnya tatapan tersebut pun berdecih, dia pikir Dika akan takut dengan tatapan tersebut. Bagi Dika tatapan itu tidak berarti sama sekali bagi kekuatan mentalnya, jadi bisa di katakan jikalau Ana akan percuma saja menatap intens laki laki itu tanpa berkedip hingga mebuat mata Ana perih dan seakan ada air mata yang memberontak ingin keluar dari mata perempuan itu.
Ana yang melihat Dika sudah berada di dekatnya itu pun membuat kedua tangannya mengepal dan berdiri dari posisi duduk nya dengan rahang yang mengeras, wajah merah padam akibat emosi yang telah berkobar, mata yang berkilat bagaikan petir untuk mewakili kemarahan yang sudah tak tertahan lagi, ia tidak bisa menahan lagi. Emosi ini telah meluap di dalam dirinya jadi walaupun ia sekuat tenga untuk menahan semua ini yaitu amarah yang telah mencapai ke langit ketujuh akan percuma dan....
Pl**akkkkk
__ADS_1
Satu tamparan lolos dari tangan mungil yang tiba tiba berubah kasar kearah wajah tampan nan dewa Yunani dan sehingga mengakibatkan wajah tersebut menoleh kesamping akibat kerasnya suatu pukulan yang di daratkan kepada wajah yang sempurna miliknya. Dan lebih mengejutkan lagi adalah di antara seluruh wanita di dunia hanya satu orang perempuan yang telah menyentuh kasar wajah laki laki itu, dan perempuan yang telah mengadu nyali dengan menampar orang yang tak tersentuh itu adalah ANA.
Sang empu yang di tampar itupun langsung memegang wajahnya yang berdenyut denyut bagaikan di tusuk tusuk kasar. Dika yang semula tertoleh kearah samping langsung mengalihkan pandangannya menatap perempuan lancang itu.
"Bukan gue yang gantiin baju lo, tapi Mbok Sina," ujar Dika untuk meluruskan pikiran Ana yang berbelok tentang dirinya.
Ana yang mendengar pernyataan Dika tadi pun tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya sekaligus rasa gelisah karena ia telah menampar seseorang yang bisa saja menghancurkan masa depan dan kehidupannya. Ia yang gelisah pun menatap kiri kanan untuk mengalihkan pandangannya dari orang yang telah ia tampar, ia tidak tau lagi harus berbuat apa agar Dika mau memaafkannya. Ana pun menggigit bibirnya sensual untuk mengurangi rasa gugup karena gelisah.
"Maaf," cicit Ana pelan dengan sebuah penyesalan yang mendalam.
"Cepat lo siap siap, gue bakal ngantar lo pulang malam ini. Gue tunggu di luar. GPL."
"Gak perlu Dik, gue bisa pulang sendiri," bantah Ana cepat.
"Malam malam begini pulang sendiri, yang ada lo nanti pagi besok udah gak perawan lagi. jadi jangan ngebantah perkataan gue."
Ana yang mendengar pernyataan dari Dika barusan pipinya berubaah dalam sekejap bersemu merah, ia pun menundukan wajahnya agar Dika tak melihat rona merah di pipi cewek itu dan ia pun mengangguk menerima tawaran antaran pulang oleh pria itu.
Dika meninggalkan kamarnya sehingga menyisakan Ana saja yang berada di dalam kamar tersebut. Di lihatnya Dika sudah benar benar keluar dari kamar pun ia menghela napas lega, setidaknya ia tidak berada di dalam satu ruangan dengan korban tamparannya.
Seakan ingat sesuatu Ana langsung mencari tas nya. Usaha pencarian Ana pun berhasil, ia menemukan tas tersebut di atas nakas dengan keadaan yang basah. Ana melihat tasnya basah itupun langsung membuka tas tersebut dan mencek barang barang yang bersarang di dalam tas, sesaat kemudian ia menampilkan raut wajah kesal karena semua barangnya telah basah dan termasuk ponsel mahal miliknya.
Ana melirik jam digital yang ada di tangannya untuk mengetahui sudah berapa lama ia pergi dari rumah. Ana di buat shok oleh jam berapa sudah, ternyata hari sudah malam yaitu sudah jam 21:33 WIB, selama itukah ia pingsan sedari sore tadi.
Ana turun dari ranjang tersebut dan berjalan kearah cermin untuk membetulkan pakaiannya yang berantakan. Ana yang melihat rambutnya kusut pun mondar mandir mencari sisir untuk menghaluskan rambutnya.
Ana tersenyum bangga karena ia melihat sisir yang terletak di meja belajar cowok itu. Ana yang ingin meraih sisir tersebut harus terhenti karena mata elangnya tak sengaja melihat sebuah surat yang terhampar di meja belajar laki laki itu, surat tersebut adalah surat balasan dari Dika, tetapi laki laki itu lupa menyimpannya paska setelah rahasia besar Dika ketahuan oleh kedua sahabatnya.
Ana yang penasaran pun meraih surat tersebut dan prioritas untuk menyisir rambut hilang begitu saja.
"Balasan surat ci----"
"Ana udah siap apa belum," seru sebuah suara dari arah luar.
Ana yang mendengar seruan dari Dika sontak langsung meletakan surat tersebut di tempatnya, dan tidak lagi berniat meneruskan bacaannya dan ia buru buru mengambil sisir.
Ana yang melihat penampilannya jauh lebih baik dari pada sebelumnya langsung meraih tas tadi untuk ia bawa pulang, kemudian ia keluar meninggalkan kamar tersebut untuk pulang kerumah.
"Dik gue udah siap," ujar Ana seraya mengejar Dika untuk menyamai langkah Dika menuju garasi mobil, sedangkan motornya ia biarkan terlebih dahulu di tinggal di rumah Dika karena nanti supir Dika yang bakalan mengantarkan sepeda motornya.
______________
Tbc
jangan lupa like like like dan comen sebuanyak buanyaknya.
oke gueys gue tunggu ya semuanyaaaaaa.
__ADS_1
Ig:amandaferina6
fb:Nda