Surat Tilang Cinta

Surat Tilang Cinta
Isi Hati


__ADS_3

"Nah ini dia orangnya! " ucap Alfian saat pria yang melukai Clarisa tertangkap.


"Kamu jujur, siapa yang suruh kamu lukai Clarisa?" bentak Alfian.


"Hey.. jawab! jangan diam saja." bentak Tri.


"Ampun Pak." ucapnya memohon.


"Jawab! " bentak Tri.


"Sa - saya di suruh Malvin Pak."


"Malvin siapa?" tanya Alfian.


"Malvin, teman satu kampus Clarisa." jawabnya.


"Kenapa kamu lakukan itu? kamu tahu, resikonya kamu di penjara. Dan lihat, itu akibat ulah Bos kamu, di penjara mereka tidak bisa bebas. Kamu tahu kan penjara? atau kamu pernah di penjara!" ucap Tri.


"Belum Pak, saya hanya di suruh itu saja."


"Di bayar berapa?" tanya Alfian.


"Di - dibayar 200 rb." jawab pria itu.


"200 ribu, taruhan kamu di penjara loh. Kamu lolos dari kejaran Polisi, neraka buat kamu." ucap Tri.


"Karena saya emosi juga Pak, mantannya Cla itu sudah menipu Malvin, padahal dia menang balapan 100 juta, tapi gagal."


"Kalau memang dendamnya sama Malvin, kenapa kamu lukai Clarisa? dia kan nggak salah, seharusnya kamu itu lukai si penipunya siapa namanya?" tanya Alfian.


"Sandi Pak." jawabnya.


"Nah itu, si Sandi."


"Karena kalau lukai Cla, Sandi pasti marah dan dia akan keluar serang balik. Jadi intinya mancing dia."


"Oh jadi gitu, ceritanya."


****


"Pak, saya mau di bawa kemana Pak?" ucap Malvin, saat di bekuk di kampusnya.


"Kamu akan di proses secara hukum, karena telah menjadi dalang percobaan pembunuhan pada saudari Clarisa." ucap salah satu anggota Polisi yang memegang tangan Malvin, yang sudah di borgol.


"Itu Fitnah Pak, tidak benar." ucap Malvin mencoba membela diri.


"Jangan banyak mengelak kamu, bukti sudah jelas tertuju pada kamu."


Semua Mahasiswa dan Mahasiswi melihat Malvin yang di tangkap Polisi, bahkan mereka pun tidak percaya, Malvin dalang semuanya.


***


"Malvin sudah tertangkap!" ucap Clarisa.


"Betul, Polisi berhasil menangkap pelaku." ucap Boy.


"Semoga anak itu sadar, gua yang tidak tahu pokok masalahnya malah jadi korban."

__ADS_1


"Kan memancing emosi Sandi."


"Ya dia pikir Sandi masih perhatian gitu sama gua, putus saja beberapa tahun yang lalu. Buktinya Sandi nggak terpancing emosi, dia biasa saja."


"Lo nggak tahu, itu cara Sandi biar tidak berbuat secara brutal."


"Iya, tapi tetep saja dia lakukan apa, Lo sama Iyos dan Toni kan yang turun tangan. Aneh saja si Malvin, ini bukan alasan emang dasar dia itu nggak suka sama gua." ucap Clarisa.


"Yang penting, pelaku sudah tertangkap." ucap Boy.


****


Praaaanggg


Awwww


Clarisa tidak bisa bergerak bebas, yang masih harus menahan rasa sakit di lehernya. Gelas pun pecah, saat Clarisa ingin mengambil. Tepat saat itu Kemal datang, dan langsung membantu Clarisa.


"Kamu apa Cla?" tanya Kemal.


"Mau minum Bang, tapi susah buat ambilnya, harus posisi geser badan. Kan terus harus pelan - pelan, leher masih sakit." jawab Clarisa.


"Abang belikan air mineral botol, kamu tunggu ya." ucap Kemal lalu pergi lagi.


Clarisa menunggu Abangnya, untuk ke kantin Rumah Sakit membelikan air mineral botol, sambil menunggu Clarisa menyalakan televisi. Dan setelah menunggu hampir 5 Kemal datang, membawa satu kantong plastik botol mineral ukuran sedang.


"Minum Dek." ucap Kemal membantu membukakan minum.


"Abang kesini, mba Gita tahu tidak?" tanya Clarisa.


"Kalau Abang ijin, kamu pasti tahu kan!" jawab Kemal.


"Kamu tidak perlu minta maaf, kita ini saudara Dek. Siapa lagi kalau bukan Abang, dan Abang juga harus minta tolong sama siapa, kalau bukan kamu. Maafkan Abang, sudah mendapatkan keluarga yang salah. Abang kira, rumah yang Abang temukan bisa melindungi kamu juga, ternyata salah." ucap Kemal sedih.


"Abang doakan Cla, kelak mendapatkan suami yang seperti Abang. Agar Cla tidak terus mengganggu Abang, dan mba Gita serta keluarganya tidak terus menyudutkan Cla. Dan Cla janji, akan jadi orang yang membanggakan Abang, dan membuktikan pada mereka kalau Cla itu bisa jadi orang yang lebih baik."


"Maaf, kalau Abang sudah buat Cla sedih. Seandainya orang tua kita masih ada, kita nggak akan seperti ini."


"Hikmah dari semua ini, kita bisa jadi orang yang kuat Bang."


****


"Guys, menurut kalian Kalau saya tembak Cla sekarang, suasananya mendukung nggak?" tanya Tri.


"Kamu suka benar sama dia?" ucap Wahyu.


"Yaeyalah, masa bohong." ucap Tri.


"Alfian, kamu kan satu kost an sama dia. Menurut kamu, dia itu gimana?" tanya Tri.


"Saya nggak pernah merhatiin orang." jawab Alfian dengan sikap khas yang dingin.


"Ah kamu mah, pasti di sana tidak bersosialisasi." ucap Tri.


"Kalian kan tahu, saya orangnya tipe malas gosip, hanya sekedar say hallo." ucap Alfian.


"Ya kan seenggaknya, mengobrol sama Tetangga."

__ADS_1


"Ya kalau itu jelas, tapi untuk nongkrong bareng jarang. Lagian, di kost an saya tempati itu penghuninya kerja semua, pada pulang malam. Yang ada paling Ibu - ibu, yang ada anaknya."


"Saya akan dekati Clarisa, calon istri idaman."


****


"Thanks ya, Lo mau temenin gua di rumah sakit." ucap Clarisa pada Silvi.


"Sama - sama, hari ini sampai besok gua free. Bisa temenin Lo disini, ehm.. by the way kapan boleh pulang?" ucap Silvi bertanya.


"Belum ada keputusan kapan bisa keluar dari rumah sakit, tapi lumayan bisa sedikit menoleh walau masih kaku dikit." ucap Clarisa sambil memegang lehernya, yang masih terbalut perban.


"Gua ngeri dan linu lihatnya, apalagi saat Lo tiba - tiba celurit sret gitu aja, ih.. serem banget asli."


"Yang jelas sakit lah, perih sampai ke kepala."


"Sumpah, saat dengar pelakunya tertangkap. Gua sumpahin hukuman mati buat dia, atau seumur hidup."


"Allah akan membalas semuanya."


****


"Bang, Ibu dapat selentingan gara - gara video orang yang melukai leher Clarisa, kalau mengatakan Clarisa anak gank motor." ucap Gita.


"Terus?" ucap Kemal.


"Ibu malu." ucap Gita.


"Apa ibu kamu, tidak bisa menutupi kalau Clarisa bukan anggota gank motor? apa ibu tidak bisa, untuk menutupi aib adik menantunya? bisa kan kalau malu, mengatakan itu bohong. Tinggal bilang mahasiswi, universitas Wiraguna Dharma. Nggak harus jadi lebay begini, nggak harus jadikan masalah."


"Bang, lagian dia sudah gede. Kenapa Abang, masih tetap memberikan perhatian, layaknya anak kecil. Bisa kan, sedikit nggak peduli."


"Git! Abang sudah sabar ya, dengan semua hinaan dan menyudutkan adik saya. Kamu memilih Abang, berarti kamu anggap dia adik kamu juga. Abang kira, rumah ini bisa melindungi Cla ternyata tidak. Kalau kamu hanya mencintai Abang, tapi tidak mencintai Clarisa kita cerai."


"Maksud kamu apa? Abang ceraikan saya, demi adik kamu!"


"Iya, kita cerai. Masalah begini saja, buat kalian bagai masalah besar. Kalau kalian tidak ingin tercoreng, diam juga bisa kan! " bentak Kemal.


"Oh jadi Abang marah sama saya, dan orang tua saya! Abang tidak Terima, hanya demi membela adik yang nakal itu. Ok Bang, kalau memang itu mau Abang, kita cerai!" ucap Gita.


"Ok kalau kamu yakin, saya talak kamu sekarang." ucap Kemal, lantas keluar dari kamarnya.


Hiks.. hiks.. hiks..


"Kamu tega Bang! tega kamu cerai saya, demi membela adik kamu. Yang kamu lakukan, belum tentu dia akan seperti kamu."teriak Gita.


Kemal kembali, dengan menggebrak pintu kamar dan membuat Gita kaget. Kemal menatap tajam ke arah Gita, lantas membuka lemari dan menarik koper miliknya.


" Kamu cari suami, yang tidak membuat malu keluarga kamu. Carilah suami, yang bisa banggakan keluarga kamu, carilah suami, yang memiliki keluarga terhormat, jangan seperti saya. Dan ingat, Gibran tetap menjadi tanggung jawab saya, jangan pernah, kamu batasi saya dan Gibran." ucap Kemal lantas pergi.


Aaaaaaaa


Praaakkk


"Jahat kamu Bang! ini gara - gara kamu Clarisa..!! "


.

__ADS_1


.


__ADS_2