Surat Tilang Cinta

Surat Tilang Cinta
Maaf Dengan Ikhlas


__ADS_3

"Ngapain kamu kesini?" tanya Kemal dengan tatapan tidak suka.


"Maaf Bang, saya kesini ingin bertemu dengan Clarisa." jawab Alfian.


"Buat apa kamu ketemu sama dia? kamu itu sudah tidak ada urusan dengan adik saya." ucap Kemal.


"Tapi untuk kali ini saja Bang, tolong ijinkan saya untuk bertemu dengan dia." ucap Kemal memohon.


"Tidak bisa, saya tidak akan ijinkan."


Silvi datang, melihat Alfian berdiri di teras, dan Kemal membiarkan Alfian di luar. Lantas Silvi meminta, Alfian untuk masuk.


"Masuk Bang, kita bicara di dalam." udah Silvi


"Kamu apa - apaan sih hah..! kamu itu mengijinkan pria seperti dia masuk. Kamu tahu kan, bagaimana Clarisa di cerai sama dia. Adik saya itu nangis, malam - malam kita jemput di tengah jalan, sudah sepi, hujan lagi. Sekarang kamu malah ijinkan, manusia seperti dia masuk."


"Bang, kita tidak enak di lihat sama orang. Abang suaranya keras, sedangkan Bang Al tidak. Bisa kan bicara baik - baik, sekarang Bang Alfian mau apa?" ucap Silvi.


"Saya ingin, meminta Clarisa menemui Ibu saya." ucap Alfian.


"Untuk apa hah? kamu mau bawa ke dia, mau kamu hina lagi! jangan kira saya ijinkan, bilang sama ibu kamu, apa kurang cukup untuk menyakiti hati Clarisa!" ucap Kemal kesal.


"Ibu sakit, sarafnya mati semua, hanya kedipan mata dia berinteraksi. Saya hanya ingin, Clarisa memaafkan ibu saya, dan saya ingin ibu tidak disiksa seperti ini."ucap Alfian menjelaskan.


" Itu urusan kamu sebagai anaknya, ngapain bawa - bawa adik saya, misal mau mati tinggal mati saja, susah banget orang punya banyak dosa."


"Astagfirullah Bang! jangan bicara begitu." ucap Silvi.


"Kamu itu bisa diam nggak sih? kamu masuk, temani Gibran saja." ucap Kemal lantas Silvi langsung masuk kedalam.


"Sekarang kamu pergi deh, jangan pernah injak kaki kamu disini." ucap Kemal beranjak bangun lantas pergi meninggalkan Alfian di ruang tamu.


Alfian dengan rasa sedih, bangun dari duduknya, dan keluar dari rumah Kemal. Saat di depan pintu gerbang, Alfian bertemu dengan Clarisa.


Clarisa menatap Alfian, dengan tubuh yang kurus dan semakin hitam. Terlihat wajah tumbuh bulu - bulu kasar, terlihat tidak terurus.


"Abang ada apa?" tanya Clarisa.


"Kebetulan ketemu sama kamu." jawab Alfian.


"Ada apa?" tanya Clarisa.


"Abang ingin minta tolong sama kamu, untuk bertemu dengan Ibu." jawab Alfian.


"Mau apa lagi Bang? gua sudah tidak ada urusan apa - apa." ucap Clarisa.


"Ibu sakit, mati tidak, hidup tidak semuanya mati total, hanya mata yang bisa berkedip, setiap interaksi dengan kedipan matanya."

__ADS_1


"Gua sudah maafkan ibu, sebelum ibu minta maaf.Sudah tidak ada urusan, dan sudah cukup untuk masalah ini." ucap Clarisa.


"Tolong, sekali saja untuk temui Ibu."


"Tidak bisa Bang, cukup dari sini saja. Gua sudah maafkan beliau, dan maaf Bang jangan ganggu lagi." ucap Clarisa berjalan meninggalkan Alfian.


"Kamu pernah berkata, walau kita berpisah dengan cara tidak baik, tapi kita akan tetap berteman. Dan kamu tahu, Abang akan tetap dengan cinta sejati Abang, hingga tutup usia. Walau tidak bisa bersatu." ucap Alfian.


"Abang minta, kalau kamu mau tolong datang ke sana, mungkin bertemu langsung dan meminta maaf langsung akan mengurangi beban Ibu selama di dunia." ucap Alfian lagi.


Clarisa diam, lantas masuk kedalam rumahnya, dan Alfian hanya bisa pasrah menatap pintu rumah tertutup. Alfian pun pergi, dengan rasa sedih.


Clarisa menyandarkan tubuhnya di balik pintu, air matanya jatuh membasahi pipinya. Clarisa terisak hingga terduduk di lantai, dengan menutup wajahnya dengan telapak tangannya.


"Hiks.. hiks.. hiks.. sakit Bang, gua sakit. Kalau harus bertemu Ibu kamu, gua belum siap Bang, hiks.. hiks.. ada rasa trauma."


Silvi mendengar Clarisa menangis, langsung mendekat dan memeluk adik iparnya. Clarisa memeluk tubuh Silvi.


"Gua belum siap Sil, hiks.. hiks.. gua belum siap untuk berhenti dia."


"Tapi kamu tidak punya dendam kan?"


"Ada sedikit, tapi gua sudah maafkan."


"Walau sudah maafkan, kamu masih ada dendam kamu itu tetap akan, menghalangi dia untuk pergi."


Hiks.. hiks.. hiks..


"Iya, temui. Kamu maafkan dia dengan tulus, jangan dendam lagi. Bagaimana juga, mantan mertua kamu sudah mendapatkan teguran."


"Hiks.. hiks.. gua tidak mungkin datang sendiri."


"Ajak Marvel, karena Bang Kemal tidak memperbolehkan kamu, bertemu dengan Alfian, atau bertemu mantan mertua kamu."


"Masa harus sama Bang Marvel, dia apanya gua Sil, pacar bukan apa bukan main ajak dia segala." ucap Clarisa.


"Terus sama siapa? kamu datang sendiri!"


"Tapi ada bagusnya, kalau gua manfaatkan si Marvel." ucap Clarisa.


****


"Abang hajar kamu, kalau kamu kesana." ucap Kemal.


"Sama Marvel Bang." ucap Clarisa.


"Kagak, Abang kagak ijinkan. Mau dia mati, mau di siksa urusan anaknya. Suruh siapa selama di dunia jadi orang itu jahat, jadinya begini kan." ucap Kemal yang memang sudah kesal sekali.

__ADS_1


"Bang, memaafkan itu tidak ada salahnya, kita ini sesama manusia harus saling memaafkan." ucap Silvi.


"Bang, tujuan gua kesana bukan minta balikan atau apa, gua ingin bertemu dia dan mengatakan untuk melupakan semua."


"Kamu yakin! hati kamu sudah mantap benar - benar memaafkan? Abang tanya sama kamu, kamu yakin!"


****


Alfian baru sampai di kost an nya, mengeluarkan uang hasil ojeknya. Satu lembaran merah, Alfian memilih untuk di sisihkan di satu amplop.


"Kalau kamu masih sama saya, kamu akan terus tekanan bathin Cla. Insya Allah kamu dengan Marvel, hidup kamu akan bahagia selalu."


Alfian lantas membuka nasi bungkusnya, hanya berisi tahu dan sambal. Makan dengan tangan bergetar, bahkan minum pun hampir tumpah.


Marvel berdiri di depan rumah Kemal, menatap kamar Clarisa, saat Clarisa akan menutup gorden kamarnya, dari lantai atas Clarisa melihat Marvel. Dengan segera Clarisa turun dari kamarnya, dan menemui Marvel.


"Ngapain Bang?" tanya Clarisa.


"Kangen saja, sebelum tidur ingin lihat wajah kamu." jawab Marvel.


"Ini sudah ketemu, udah sana pulang." ucap Clarisa.


"Nggak ah nanti saja, 5 menit lagi." ucap Marvel.


"Nanti Bang Kemal marah, pulang gih sana."


"Nggak mau!"


"Ih ngeyel ya, pulang gih sana."ucap Clarisa mendorong pelan bahu Marvel.


"5 menit lagi."


"Nggak mau, pulang sana."


"Iya pulang nih, I love you." ucap Marvel.


"I hate you." balas Clarisa, dan Marvel langsung cemberut.


Clarisa tersenyum, dengan wajah cemberut Marvel yang terlihat lucu. Lantas Clarisa, mengajak salaman Marvel, dengan mencium punggung tangannya.


"Hati - hati."


"Tadi itu apa? maksudnya apa ini!" ucap Marvel yang memegang punggung tangannya.


"Sudah sana pulang."


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2