Surat Tilang Cinta

Surat Tilang Cinta
Kehilangan


__ADS_3

Tri pulang dan Clarisa langsung masuk kedalam rumah, Alfian mengikuti langkah Clarisa lantas menarik lengan istrinya.


"Jadi begini ya, minta pisah rumah ternyata kamu malah bebas sama Tri." ucap Alfian.


"Tadi kan, Bang Tri bilang. Kalau dia hanya main biasa, lagian dia sudah punya cewek." ucap Clarisa.


"Cewek! cewek dunia maya. Dan kamu kan tahu, dunia maya sama dunia nyata. Bedanya itu, nyata serius, maya keisengan."


"Abang pernah juga ya?"


"Kamu kenapa sih? seolah ingin sekali jauh sama saya! "


"Abang ingin tahu?"


"Iya!"


"Gua nggak mau rumah tangga, masih terikat masa lalu."


"Apa kamu ingin, suami kamu melupakan anaknya?"


"Bukan! tapi jangan kait - kaitkan gua sama mba Kamela, jangan pernah bandingkan, jangan pernah hanya mba Kamela menantu satu - satunya. Apa gua salah, kalau gua protes. Apa gua salah, ingin di akui, apa gua salah kalau gua minta keadilan, kalau tidak bisa minta cerai."


"Tapi Abang, hanya ingin selalu dekat demi Kamela."


"Boleh dekat, tapi bukan berarti menjodohkan lagi. Gua ini istri Abang, istri yang sah, sebentar lagi sah secara negara bukan agama lagi." ucap Clarisa.


"Kalau itu pasti."


"Iya Pasti, tapi itu mulut - mulutnya jahat banget. Bang Alfian bertindak dong, jangan diam saja. Malah seolah berat kesana dari pada gua istri Abang."


"Tolong, jangan bilang begitu. Abang tidak pernah seperti kamu bilang, sumpah Cla."


"Pulang Bang, gua nggak mau lihat muka Abang."


"Yank!"


"Pulang Bang! " bentak Clarisa.


Alfian berdiri memandang, namun saat naik tangga Clarisa merasakan sakit di perutnya. Hingga memegang pegangan tangga.


Awwwww


"Cla!" ucap Alfian panik.


Clarisa memegang perutnya, lantas duduk di anak tangga, Alfian melihat Clarisa memegang perutnya.


"Cla kamu kenapa?"tanya Alfian.

__ADS_1


" Pulang Bang! gua nggak apa - apa." jawab Clarisa dengan nada membentak.


"Kamu pasti kenapa - napa, kita ke rumah sakit."


"Gua bilang pulang! awwwww.. " Clarisa memegang perutnya yang sakit, hingga mencengkram paha Alfian.


Awwwww


Clarisa merasakan sakit, dan Alfian langsung mengangkat tubuh Clarisa ala bridal style, dan memasukkan ke dalam mobil. Tepat, Kemal datang.


"Clarisa kenapa?" tanya Kemal.


"Nggak tahu Bang, dia merasakan perutnya sakit." jawab Alfian.


"Astagfirullah, jangan sampai Clarisa keguguran." ucap Kemal keceplosan.


"Apa Bang! Cla hamil?" ucap Alfian kaget.


"Ya mungkin saja hamil, cepat jalan." ucap Kemal.


Dalam perjalanan, Clarisa merasakan mulas yang sangat membuatnya sakit. Hingga tubuhnya berkeringat, Alfian melihatnya pun ikut merasakan apa yang di rasakan istrinya.


Sampai di rumah sakit, Alfian dan Kemal mengikuti Clarisa yang di dorong brankar, masuk kedalam IGD. Kemal dan Alfian panik, melihat Clarisa sedang di tangani dokter bahkan terlihat sedang USG.


Dokter langsung datang ke arah dua pria yang sedang panik, dokter lantas menatap keduanya.


"Saya dok." jawab Alfian.


"Maaf Pak, istri Bapak keguguran. Saat sampai, bayinya tidak bisa diselamatkan." ucap dokter.


"Dia hamil berapa bulan dok?" tanya Alfian.


"Baru beberapa minggu, dan kami akan segera melakukan proses kuret." jawab dokter.


"Kenapa bisa keguguran?" tanya Kemal.


"Dia mengalami stres berat, itu faktor utamanya. Mohon maaf Pak, untuk tanda tangan proses kuret nya." jawab dokter.


Alfian masih tidak percaya, baru mengetahui istrinya hamil, tapi langsung mendapatkan kabar kehilangan calon bayinya.


Kemal menatap ke arah Alfian yang tampak shock, lantas Alfian terduduk lemas di kursi penunggu pasien.


"Itu akibatnya kalau orang tua ikut campur, kalau tidak seperti ini. Clarisa tidak akan kehilangan anaknya." ucap Kemal.


"Kenapa Abang tidak jujur sama saya? kalau Clarisa hamil! apa sudah ada niat, kalau saya tidak boleh tahu anak saya."


"Saya juga tidak tahu Al! dia bilang sendiri saat baru datang itu, berapa minggu usianya, Abang tidak tahu." ucap Kemal.

__ADS_1


"Iya, ini saya salah Bang. Salah dari pihak saya, saya salah Bang."


"Abang Surau tidak bisa membayangkan, bagaimana dia itu."


****


Clarisa masih tampak lemas, setelah 5 jam pasca kuret, Clarisa baru bisa tenang saat tahu kehilangan janinnya. Clarisa belum mau bertemu dengan suaminya, hanya bersama Kemal.


"Dia pergi Bang, sudah ada di surga." ucap Clarisa.


"Hadirnya begitu membuat Cla bahagia, tapi hanya beberapa hari." ucap Clarisa sambil menangis.


"Alfian tahu, dia pun sedih."


"Cla tidak mau bertemu dengan dia Bang, suruh dia pergi."


"Temui dia, Alfian juga sedih."


"Nggak Bang, suruh dia pergi."


"Cla, ini bukan salah Alfian. Dia itu korban juga, dengan kehilangan anak kamu, anak sabun kamu itu juga anak kamu. Kamu bisa menyayanginya, seperti nanak sendiri."


"Gua sayang sama Moza, tapi gua tersiksa Bang."


"Kamu itu lemah, tidak mau memperjuangkan. Kehilangan anak, bukan salah Alfian. Tapi kamu, terlalu menekankan beban pikiran, sehingga berdampak buruk."


"Cla capek." ucap Clarisa sambil memejamkan kedua matanya.


***


Alfian memberanikan diri masuk kedalam kamar rawat Clarisa, istrinya memalingkan wajahnya, saat melihat suaminya datang.


"Kalau mau marah silahkan." ucap Clarisa.


"Untuk apa marah? percuma!" ucap Alfian.


"Kamu tega ya, saat disana kamu bilang negatif. Ternyata kamu positif hanya saja, testpack kamu buang, dan mengatakan kalau kamu itu tidak hamil."ucap Alfian.


" Maaf." ucap Clarisa singkat.


"Bukan salah kamu, halus salah Abang. Salah keluarga Abang, sehingga membuat kamu seperti ini."


"Dia sudah tidak ada, lepaskan gua."


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2