Surat Tilang Cinta

Surat Tilang Cinta
Bukan Pelakor


__ADS_3

"Kamu itu, kerja atau pengangguran?" tanya Ibu Alfian.


"Saya masih kuliah Bu, ambil jurusan teknik." jawab Clarisa.


"Jurusan teknik apa?" tanya Ayah Alfian.


"Teknik mesin, saya juga ahli memodifikasi motor, karena saya kerja di bengkel. Tapi semenjak nikah sama Abang, saya berhenti." jawab Clarisa.


"Bengkel! bengkel motor atau mobil?" tanya Bude.


"Bengkel motor dan mobil, karena bengkel yang saya kerja itu menerima semuanya." jawab Clarisa.


"Terus, orang tua kamu?" tanya Bude kembali.


"Saya yatim piatu sejak kecil, saya punya kakak dia seorang Tentara." jawab Clarisa.


"Nak, saya hanya ingin mengingatkan. Kamu menikah dengan Alfian itu tahu statusnya?" tanya Ayah Alfian.


"Tahu!"


"Terus kenapa kamu mau jadi pelakor?"tanya Ibu Alfian.


" Saya jelaskan lagi, kalau saya itu bukan pelakor." jawab Clarisa.


"Bukan pelakor gimana? jelas kamu nikah siri sama ponakan saya. Atau jangan - jangan kamu jual diri pada Alfian, demi biaya kuliah." ucap Bude, yang kata - katanya menusuk di hati Clarisa.


"Tidak, saya bukan wanita macam itu. Saya masih ada harga diri, bukan wanita seperti itu." ucap Clarisa sabar.


"Kalau kamu tahu dia sudah punya anak istri, kamu itu seharusnya mundur, jangan mau nikah sama anak saya. Coba kalau kamu punya suami, terus di rebut pelakor gimana? pasti istri sah nya itu akan kecewa." ucap Ibu Alfian.


"Jujur, kami orang tuanya tidak akan pernah mau menerima kamu, karena apa? kamu itu hanya orang lain. Menantu sah cukup Kamela." ucap Ayah Alfian.


"Tapi mereka sudah cerai!" ucap Clarisa, langsung ketiga nya diam tertegun.


"Cerai!" ucap Bude.


"Iya, secara agama sudah cerai." ucap Clarisa.


"Pasti cerai gara - gara kamu, tidak mungkin kalau bukan karena pelakor. Orang mereka itu, pacaran sejak sma masa cerai, berantem saja tidak." ucap Ibu Alfian membela.


"Iya, pasti gara - gara kamu." ucap Bude.


"Demi Allah, saya tidak tahu kenapa mereka bercerai, karena kenal sama saya, status dia sudah cerai secara agama." ucap Clarisa membela diri.

__ADS_1


"Sudah, kamu jangan banyak mengelak. Masalah ini cukup keluarga kita yang tahu, kalau sampai keluarga Kamela tahu, pasti ini perempuan sudah hajar terutama sama Kamela." ucap Ayah Alfian.


"Demi Allah Pak, Bu saya bukan pelakor." ucap Clarisa dengan mata berkaca - kaca.


"Assalamu'alaikum." Alfian mengucapkan salam saat datang.


Clarisa langsung mencium punggung tangan suaminya, dan mengambil kantung plastik berisi beberapa bungkus nasi uduk untuk sarapan pagi.


Alfian mencium punggung tangan ketiganya, dan langsung duduk sambil melepaskan jaket yang melekat di tubuhnya.


"Kok nggak bilang mau kesini?" tanya Alfian.


"Kenapa? kamu nggak suka! kalau kami kasih tahu, itu perempuan kamu sembunyikan hah..!" ucap Ayah Alfian.


"Astagfirullah, Ayah kok bilang begitu." ucap Alfian.


"Kamu jelaskan siapa dia? kenapa kamu nikah lagi?" tanya Ibu Alfian.


"Dia istri saya Bu, Ayah Bude. Setelah semua beres posisi dia akan menjadi istri sah." jawab Alfian.


"Kamu itu! kamu mau cerai sama Kamela? hanya demi dia!" bentak Ibu Alfian.


Clarisa datang dengan beberapa tumpuk piring, dan ada 5 bungkus nasi uduk untuk sarapan pagi.


"Ayah, Ibu sama Bude sarapan dulu. Ada nasi uduk, ini enak banget nasi uduknya." ucap Clarisa.


"Ini Bude Nanti, adik kandung Ayah. Ini Ayah Abang, namanya Ayah Tejo, dan ini Ibu Abang namanya Ibu Mirah." ucap Alfian mengenalkan.


"Alfian, kami kemari hanya mampir. Mau kondangan ke kerabat almarhum suami Bude kamu. Terus, bulan depan kamu harus pulang, Bude Narti mau nikahkan Rahayu." ucap Ibu Mirah.


"Baik Bu, sambil mengenalkan Clarisa sama keluarga besar." ucap Alfian.


"Jangan macam - macam kamu, bagaimana nanti dengan keluarga Pak Broto, kamu itu tidak kasihan sama Moza apa! dia itu belum tentu sayang sama Moza." ucap Pak Tejo.


Clarisa lantas langsung bangun, dan pergi dari kamar. Alfian lantas mengejar istrinya, yang masuk kedalam kamar seberang.


"Cla!" panggil pelan Alfian.


"Abang kenapa sih? tidak jelaskan sama mereka! jelaskan kalau Cla itu bukan pelakor. Dari awal mereka datang, mereka menyudutkan Cla, dan seolah Cla yang salah. Kalau memang mereka tidak suka sama Cla, ok nggak masalah, tapi jangan seolah - olah perceraian Abang sama Mba Kamela karena gara - gara gua Bang." ucap Clarisa kesal dengan mengusap air matanya.


Alfian memeluk tubuh istri sirinya, dengan mencium kening Clarisa. Alfian berusaha menenangkan hati Clarisa, lantas membawa Clarisa kembali menemui orang tuanya.


"Bude, Ibu, Ayah. Saya cerai dengan Kamela bukan karena Clarisa. Kami cerai sudah sekitar 6 bulan lebih, baru secara agama." ucap Alfian sambil menggandeng tangan Clarisa.

__ADS_1


"Apa! " ucap ketiganya.


"Kamu sesudah cerai sekitar 6 bulan lebih! jadi selama ini, kalian itu hanya pura - pura bahagia?" ucap Pak Tejo.


"Sebenarnya, dalam satu tahun lebih kami tidak ada kecocokan. Kami sering bertengkar, ingin benar sendiri, kami berusaha introspeksi diri namun tetap saja tidak bisa. Saat itu, Kamela minta cerai, saya pun mengabulkannya, kami belum maju proses karena Moza. Kami berusaha rujuk tidak bisa. Bahkan Kamela sudah punya calon Ayah untuk Moza. Kamela tahu pernikahan ini, sekarang berkas kami sudah maju ke pengadilan." ucap Alfian menjelaskan.


"Ya Allah Alfian, padahal Kamela itu cantik, baik, perhatian sama keluarga kamu, kurang apa sih." ucap Bude Narti.


"Buat apa bertahan, kalau hanya demi Moza tapi hati kita tersakiti. Tapi walau kami cerai, hubungan kami baik. Demi Moza, kami harus tetap jaga hubungan ini. Dan kalian sudah tahu kan, kalau Clarisa bukanlah pelakor, dia wanita baik - baik."ucap Alfian dengan menggenggam erat tangan Clarisa.


" Saya mohon, terima Clarisa." ucap Alfian.


"Lantas, mana sopan santun kamu. Menikah tidak memberi tahu pada kami, apa kamu sudah menganggap kalau orang tua kamu sudah meninggal hah?" tegur Pak Tejo.


"Itu salah Abang saya, pernikahan kami mendadak." ucap Clarisa.


"Maksudnya gimana?" tanya Ibu Mirah.


"Jangan - jangan kalian?" ucapan Bude Narti mengira.


"Saya sudah meniduri Clarisa!" ucap Alfian, dan langsung semuanya menatap ke arah Alfian.


"Bang." ucap Clarisa pelan.


"Apa kamu Al?" ucap Pak Tejo geram.


"Sebagai pria yang bertanggung jawab, saya harus menikahi nya."


"Anak jaman sekarang, dan yang jadi perempuannya mau saja." ucap Ibu Mirah.


"Jangan salahkan Clarisa, karena saya yang memaksanya."


"Alfian! astagfirullah Ayah tidak menyangka." ucap Pak Tejo sambil mengelus dadanya.


"Lantas, apa dia hamil?" tanya Bude Narti.


"Belum, saya belum hamil." jawab Clarisa.


"Ibu pusing Pak, jantung ibu sepertinya kambuh sama sesak." ucap Ibu Mirah dengan memegang dadanya.


"Ibu istirahat dulu, ibu rebahan ya." ucap Pak Tejo.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2