
Clarisa bangun dari tempat tidurnya, terlihat kedua pria sedang tertidur. Kemal berada di atas sofa panjang, dengan tidur terlentang sedangkan Alfian, tidur di atas tikar ber bantal jaket nya.
Clarisa turun dari tempat tidur, berjalan ke kamar mandi. Alfian membuka kedua matanya, saat mendengar suara dari dalam kamar mandi. Alfian menoleh ke atas tempat tidur, Clarisa tidak ada dan langsung bangun menyusul ke arah kamar mandi.
"Cla." panggil Alfian dengan mengetuk pintu kamar mandi.
Ceklek
Pintu kamar mandi terbuka, terlihat Clarisa kesulitan membawa infusan, lantas di bantu di bawakan oleh Alfian. Sampai di depan tempat tidur, Alfian lantas membantu Clarisa naik. Clarisa memegang perutnya, Alfian mencoba memegang, dan tanpa penolakan.
"Sakit?" tanya Alfian lantas Clarisa menggelengkan kepalanya.
"Kenapa?" tanya kembali Alfian.
"Lapar." jawab Clarisa dan membuat Alfian tersenyum.
Alfian lantas melihat hanya ada roti dan buah pisang, Alfian meminta Clarisa memilih dan pilihannya jatuh pada sebuah roti kombinasi.
"Abang bantu potong ya." ucap Alfian lantas, memotong dan memberikan pada Clarisa.
"Pelan - pelan makannya." tegur Alfian.
Jam baru menunjukkan pukul 2 malam, sisa setengah potong tidak habis. Clarisa langsung kembali membaringkan tubuhnya.Dan Alfian dengan sangat perhatian, merapikan selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Abang kok tidak pulang?" terlontar tiba - tiba ucapan Clarisa.
"Abang kan, ingin menjaga kamu di rumah sakit." jawab Alfian.
"Apa yang di jaga Bang, anak saja tidak."
Alfian tetap berada di samping Clarisa, malah semakin mendekatkan tubuhnya.Clarisa berusaha memejamkan kedua matanya tapi tidak bisa, bahkan kembali membuka kedua matanya.
"Kenapa, tidak bisa tidur ya?" tanya Alfian.
"Apa yang membuat Abang, masih tetap bertahan disini?" tanya Clarisa.
"Karena kamu, Abang disini masih bertahan . Karena Abang, sangat mencintai kamu." jawab Alfian.
"Kamu juga sama kan? masih tetap mencintai Abang! hanya saja kamu itu, berusaha mencoba untuk melupakan Abang." ucap Alfian.
Clarisa hanya diam dengan tatapan mata uang lurus, Alfian tetap sabar menghadapi Clarisa.
"Tidur lah, masih malam." ucap Alfian lantas kembali namun tangan Alfian Clarisa tahan, hingga menoleh kembali ke arah Clarisa.
"Ada apa?" tanya Alfian.
"Maafkan Cla Bang, tidak bisa menjaganya." jawab Clarisa terisak.
"Sudahlah, insya Allah kita akan di kasih rejeki lagi." ucap Alfian kembali untuk tidur.
Clarisa memiringkan tubuhnya, mencoba untuk tidur namun dalam hati menangis. Alfian menatap ke arah Clarisa, yang tidur memunggunginya.
__ADS_1
"Abang janji, akan mempertahankan kamu. Jujur, Abang tidak ingin kehilangan kamu Cla." ucap Alfian dalam hati.
****
Clarisa sudah di perbolehkan pulang, Kemal selesai mengurus administrasi dan Alfian sedang membantu Clarisa untuk duduk di atas kursi roda.
"Mau pulang kemana?" tanya Kemal.
"Clarisa pulang ke kost an saja Bang." jawab Alfian.
"Kamu mau ke kost an?" tanya Kemal pada Clarisa.
"Iya." ucap Clarisa pelan.
"Yaudah, Abang tidak bisa antar kamu."
"Iya Bang tidak apa - apa." ucap Clarisa dengan tersenyum tipis.
Kemal pun mendorong kursi roda hingga sampai di depan pintu keluar rumah sakit. Kemal menunggu Clarisa saat Alfian mengambil mobil.
"Bang, kok nggak masuk?" tanya Alfian.
"Abang naik taksi saja, Abang sengaja biar kalian bebas. Mau berantem dalam mobil kan enak, tidak ada Abang." jawab Kemal sambil berbisik.
"Abang kok gitu." ucap Alfian tersenyum.
"Sudah sana." ucap Kemal.
"Iya, hati - hati." ucap Kemal.
***
Alfian memegang tangan Clarisa saat di perjalanan, tidak ada penolakan dari Clarisa. Alfian pun tidak berbicara sepatah kata pun, dan hanya fokus ke depan.
Mereka berdua pun sampai, Alfian membantu Clarisa turun dari mobil dan memapahnya. Saat itu Silvi melihat, dan langsung menghampiri.
"Bang, Cla kenapa?" tanya Silvi membantu memapah Clarisa.
"Cla habis keguguran." jawab Alfian.
"Inalilahi, ya allah. Cla yang sabar ya." ucap Silvi.
"Iya, makasih ya." ucap Clarisa lemas.
Silvi lantas Pamit, saat Clarisa sudah masuk dalam kamarnya. Clarisa bersandar di kepala ranjang, sedangkan Alfian langsung memasukkan pakaian kotor milik Clarisa kedalam cucian.
"Yank, celana kamu kena darah kemarin, ini nggak akan hilang, susah hilangnya. Abang buang saja ya, tapi Abang sikat dulu biar sedikit noda nya tidak terlihat."
"Besok lagi saja Bang, istirahat saja dulu." ucap Clarisa yang masih lemah.
"Nggak apa - apa, dari pada Abang diam nggak ada kerjaan."
__ADS_1
Clarisa hanya tersenyum melihat suaminya, yang sedang memisahkan pakaian kotor miliknya. Clarisa sedikit mengantuk, karena efek obat saat minum di rumah sakit, waktu mau pulang.
Alfian menoleh ke arah Clarisa, melihat istrinya sedang tertidur, lantas mendekat dan membenarkan posisi tidur dengan posisi di baringkan.
Alfian mengecup kening Clarisa, lantas menutupi tubuh istrinya dengan selimut. Alfian berlanjut mencuci pakaian kotor, milik Clarisa.
****
"Kalian kalau main tidak bilang - bilang." ucap Clarisa saat Iyos, Boy dan Toni datang.
"Kita kangen Lo Cla, Lo kagak balapan lagi." ucap Boy langsung di senggol lengannya oleh Iyos, karena ada Alfian.
"Santai Bang Pol, kita aman mainnya." ucap Boy.
"Istri saya, sudah tidak boleh balapan lagi. Terakhir motor sampai hancur, jujur saya tidak mau lebih dari ini." ucap Alfian.
"Tapi gabung sama mereka masih boleh kan Bang?"
"boleh, Abang tidak larang kok. Kapan saja, kalian boleh main, tapi untuk masalah balapan, Abang tidak setuju."
"Tenang Bang Pol,aman." ucap Boy.
"Eh kalian di makan dong, ada kacang sama minuman dingin. Kalau mau makan, Bang pesankan kupat tahu saja yang di depan." ucap Clarisa.
"Nggak usah Cla, makasih jangan repot - repot." ucap Toni.
"Nggak apa - apa, kebetulan kita juga lapar." ucap Alfian beranjak pergi.
Setelah Alfian pergi, ketiga temannya membicarakan Alfian, bahkan sambil mengawasi takut Alfian datang lagi.
"Suami kamu itu baik, kenapa minta cerai?" ucap Iyos.
"Gimana nggak ingin cerai, mertua begitu." ucap Clarisa.
"Yaudah sih, itu mertua. Kamu nikah sama Alfian, bukan nikah sama mertua. Kamu itu di buat happy saja, nikmati pernikahan ini. Status kamu sekarang masih, sebagai istri siri sebentar lagi, tinggal menghitung hari kamu resmi jadi istri dia sah secara negara. Dan kamu itu nggak usah, dengar keluarga dia begini begitu sama kamu. Anggaplah sebagai setan, atau apa." ucap Iyos.
"Benar apa yang di katakan Iyos, jadinya kamu stress, kehilangan calon anak kamu. Mulai sekarang, sudah anggap angin, keluarga seperti itu." ucap Toni.
"Makasih ya, sudah memberikan pencerahan." ucap Clarisa.
"Sama - sama, mulai sekarang jalani rumah tangga yang indah, penuh cinta. Jangan pedulikan mereka, yang tidak suka menantu seperti kamu, hanya ingin menantu seperti kemarin. Lagian mantan istrinya juga sudah ikhlas, mau di apakan lagi." ucap Toni.
Tak menunggu lama, Alfian datang membawa beberapa bungkus Kuota tahu yang sudah disediakan sendok.
"Makan yuk, mumpung masih enak." ajak Alfian.
"Terima kasih Bang, jadi ngerepotin." ucap Boy.
"Nggak loh, ini kan niat kasih." ucap Alfian.
.
__ADS_1
.