
Clarisa pun keluar dari penjara, Tri yang menjamin Clarisa. Tri tersenyum, saat Clarisa keluar lantas menandatangani surat perjanjian, di atas materai setelah kurang dari 24 jam Clarisa di penjara.
"Saya meminta kamu di lepaskan sekarang, menunggu keluarga kamu itu lama, bahkan Bang Kemal pergi, Alfian lihat. Mereka tahu, saya pernah menjalin hubungan sama kamu, saya yang jamin kamu. Saya harap ini yang terakhir dan kebetulan status kamu tidak berat, kamu juga di minta untuk menjadi saksi."ucap Tri.
" Terima kasih Bang, tapi gua kehilangan uang itu Bang."
"Karena mereka juga tertangkap."
"Mereka semua terlibat perdagangan obat terlarang, bahkan Boy juga tertangkap dia sebagai pengedar. Kamu itu berada di lingkaran hitam, untung kamu bukan pemakai atau penjual." ucap Tri.
"Terima kasih sudah menjamin Cla."
"Untung kamu hanya sebagai pelaku balap liar saja dan ketahuan mabok saat tertangkap. Kalau ada kasus lain, hukuman kamu itu berat. Kamu tanda tangan ini, dan lihat baik - baik baca juga, kamu harus wajib lapor setiap senin dan kamis, mereka masih butuh kesaksian dari kamu."
"Iya, sekali lagi terimakasih." ucap Clarisa.
Saat Clarisa akan pulang, Alfian datang. Alfian melihat Clarisa berjalan ke luar bersama Tri, Clarisa hanya diam lantas berjalan ke arah motornya.
"Kamu jangan marahin dia, mungkin ada sebab akibatnya dia seperti itu." ucap Tri.
Alfian hanya diam lantas kembali berjalan ke arah Clarisa, sedangkan Clarisa sudah duduk di atas motornya.
"Kunci motor." ucap Alfian.
"Buat apa Bang?" tanya Clarisa.
"Sini kunci motornya, kamu naik mobil Abang." jawab Alfian.
Clarisa pun menurut, lantas pulang dengan mengendarai mobil milik suaminya. Namun Clarisa saat mengemudikan mobil, tidak melihat Alfian. Clarisa tampak bingung, dan mencari. Clarisa lantas mencoba menghubungi suaminya, tapi tidak ada jawaban.
"Kemana perginya Bang Alfian!"
Hingga akhirnya mobil pun sampai di kost an, namun Clarisa belum bertemu dengan Alfian. Hingga akhirnya Clarisa memutuskan untuk masuk kedalam kamar, dan membersihkan diri.
***
"Bang, dari mana kok baru sampai?" tanya Clarisa.
"Ini yang punya kamu!" jawab Alfian menyerahkan amplop cokelat berisi uang sebanyak 40 juta.
"Uang apa Bang?" tanya Clarisa.
__ADS_1
"Uang hasil jual motor kamu." jawab Alfian, dan membuat Clarisa lemas.
"Ya Allah Bang, kok tega jual motor Cla. Di jual harga 40 juta lagi, Abang kenapa tega sih?" ucap Clarisa dengan terisak.
"Bukannya kamu itu, butuh uang kan? itu uangnya. Kalau Abang memang, tidak bisa kasih uang sebanyak kamu minta. Nanti kalau kurang, Abang akan cari lagi." ucap Alfian.
Hiks.. hiks.. hiks..
"Padahal beli motor itu, Cla tabung selama 5 tahun, dari hasil kerja banting tulang siang malam, demi motor impian. Hiks.. hiks.. sekarang Abang jual, Abang jual kemana Bang? Cla harus dapatkan motor itu lagi."
"Saya lakukan keras begini, agar kamu tidak balapan lagi, dan bergaul dengan mereka kamu malah jadi pemabuk. Abang lihat kamu itu kemarin, seperti bukan lihat kamu. Kamu itu sadar tidak, kalau kamu sudah punya suami. Demi 200 juta kamu rela balapan liar, nyawa taruhannya. Kalau kamu kecelakaan, meninggal dunia bagaimana? kamu akan tinggalkan Abang hah..!"
"Hiks.. hiks.. tapi jangan jual motornya Bang."
"Kamu pilih motor atau pilih Abang?"
"Kalau pilih motor, Abang siap tinggalkan kamu."
Hiks.. hiks.. hiks..
"Kalau Abang tahu, Cla itu lakukan buat bantu Abang." ucap Clarisa mulai cerita.
"Bantu! bantu apa?"ucap Alfian bertanya.
"Ya Allah Cla, kenapa kamu tidak jujur sama Abang! dan itu kenapa kamu lakukan buat Abang, biar Abang yang tanggung."
"Bagaimana bisa tenang, lihat suami kesana kemari cari hutang. Cla itu niat bantu Abang, niat cari biaya kuliah sendiri. Cla tahu bagaimana sikon keuangan Abang, mungkin sudah jalannya Cla di hadapkan dengan masalah ini. Siapa yang berbuat, kita yang kena getahnya."
"Maafkan Abang Cla!" ucap Alfian dengan memegang tangan Clarisa.
"Ini untuk Abang saja, 40 juta nanti Cla tambah yang 100 juta. Cla tidak bisa bantu banyak, sudah berusaha." ucap Clarisa.
Alfian memegang uang dari jual motor milik istrinya, Clarisa menangis hatinya sedih karena tahu motor kesayangannya sudah tidak ada.
"Cla bingung Bang! awal pernikahan kita tidak sehat, bukan datang dari masalah kita, tapi masalah orang lain. Namun berdampak buruk buat rumah tangga kita."
Alfian mendekat dan berjongkok di depan istrinya, Alfian mengusap air mata istrinya. Rasa bersalah pun keluar, dirinya telah menganggap Clarisa telah berbuat nakal seperti dulu.
"Cla harus dari awal lagi menabung untuk bisa beli motor itu, tapi mungkin juga tidak bisa." ucap Clarisa semakin terisak.
Hiks.. hiks.. hiks..
__ADS_1
****
Didalam kamar, tidak ada suara. Sunyi dan sepi, hanya detak jam dinding. Clarisa memilih untuk tidur, sedangkan Alfian memilih untuk duduk bersandar di samping istrinya yang sudah tertidur pulas.
Hiks.. hiks.. hiks..
Alfian mendengar suara tangisan, saat menoleh ke arah Clarisa Alfian mendengar Clarisa terisak menangis. Alfian mencoba mendekatkan wajahnya, saat melihat Clarisa mengigau.
"Cla, bangun Cla." panggil pelan Alfian.
Alfian mencoba membangunkan Clarisa, namun saat tangan menyentuh pipinya, terasa begitu panas.
"Ya Allah Cla, kamu demam?" ucap Alfian panik.
Alfian bangun untuk mengambil air hangat, untuk mengompres Clarisa. Alfian langsung mengompres, tak lupa mengambil termometer untuk mengecek suhu tubuh Clarisa.
"Astagfirullah Cla, 39 suhu tubuh kamu. Pantas saja, kamu sampai mengigau." ucap Alfian panik.
"Sakit, hiks.. hiks..!" ucap Clarisa dengan merintih.
"Sakit apanya sayang?" tanya Alfian dengan berbisik.
"Hiks.. hiks.. sakit, hiks.. hiks.." jawab Clarisa sambil memegang perutnya.
"Kita ke rumah sakit ya." ucap Alfian pelan.
Alfian lantas bersiap - siap untuk membawa Clarisa ke rumah sakit, Alfian lantas keluar kamar untuk membuka pintu mobil terlebih dahulu karena Clarisa akan di gendong ala bridal style.
Saat di mobil, Clarisa terus memegang perutnya merasakan sakit yang luar biasa. Tangan kiri Alfian memegang perut Clarisa dengan di usap, air mata Clarisa terus keluar, menangis karena rasa sakit yang tidak tertahan.
"Hiks.. hiks.. hiks.. sakit Bang!"
"Iya sabar ya, ini Abang sudah cepat."
"Sakit Bang, Cla nggak kuat Bang."
"Tahan sayang ya, tahan!" ucap Alfian.
Keduanya sampai di rumah sakit, Clarisa lantas langsung di bawa ke IGD. Dokter dengan segera menangani Clarisa, Alfian pun tampak panik.
.
__ADS_1
.
.