
"Parah Lo nikah kagak bilang - bilang."ucap Iyos.
" Benar Lo Cla, tega banget sama kita. Kayak bukan sama teman saja, benar - benar parah banget Lo." ucap Boy.
"Dengarkan penjelasan dari gua, nikah ini mendadak loh kagak nikah di rencanakan. Bang Alfian mau main, gua kan ijin tuh sama Abang gua, eh malah malam dia bawa penghulu, gua kaget dia juga kaget." ucap Clarisa menjelaskan.
"Tapi emang benar apa yang di lakukan sama Abang Lo, harus segera di nikahin. Apalagi kost an kamar nya berhadapan, gimana nggak maksiat terus tuh." ucap Toni.
"Ya emang pernah mau, gua masuk kamar Bang Alfian, saat dia tugas. Eh Abang gua datang gedor pintu kamar, suruh gua langsung pulang. Itu sudah tinggal sama Bang Kemal, mungkin capek kali ngurusin adik kayak gua, ujung - ujungnya nikah."
"Makannya Cla, jadi cewek kalem dikit napa. Lo jadi cewek boro - boro kalem, bar - bar tapi saat Lo sama dia, kagak begini." ucap Iyos.
"Itu sih lain cerita kali, kagak tahu sama yang ini tuh beda banget ke bucinan nya." ucap Clarisa.
"Berati Lo pensiun dari balapan dong?" tanya Toni.
"Nah ini dia, yang buat gua masih kangen balapan. Dari kecelakaan kemarin gua belum balapan, ini juga pakai motor nggak ngebut. Takut suami pas jaga lampu merah, kalau pas dia yang jaga bisa berabe."
Suara dering ponsel berbunyi, terlihat Alfian menelepon Clarisa. Dengan semangat, Clarisa mengangkat teleponnya.
"Assalamu'alaikum sayang." sapa Clarisa.
"Walaikumsalam, kamu dimana?" balas Alfian dengan bertanya.
"Di markas Bang, kenapa?" jawab Clarisa kembali bertanya.
"Jam berapa sekarang?"
"Jam 5 sore Bang kenapa?"
"Katanya pulang kuliah jam 1,terus mau masakin buat Abang. Ini Abang Sudah di kost an, malah nggak ada apa - apa."
"Ya Allah Abang, maaf lupa. Sumpah Bang, lupa! sekarang Cla pulang Bang, sekalian beli kangkung nya."
"Nggak usah, Abang sudah pesan makanan sama nasi, sekarang pulang. Abang tunggu di rumah."
"Iya Bang, maaf ya." ucap Clarisa langsung mematikan ponselnya begitu saja.
"Guys, gua pulang dulu ya. Gua lupa, laki gua belum di masakin, padahal dia request tumis kangkung." ucap Clarisa langsung memakai jaketnya.
"Iya Cla, hati - hati jangan ngebut. Lain kali kalau mau main, buat suami di siapkan dulu." ucap Boy.
"Iyeee, gua cabut ya bye... " ucap Clarisa pamit.
"Bye." ucap ketiganya.
****
"Sekarang harus ingat waktu, bukan sendiri lagi. Ada suami, yang harus kamu layani." tegur Alfian, saat Clarisa sedang mencuci piring bekas makan keduanya.
"Terus juga, kamu itu sudah punya suami, takut ada yang tahu, istri Alfian jalan sama pria lain. Bagi Abang nggak masalah, bagi mereka yang tidak tanya gimana? boleh main, tapi ingat waktu." ucap Alfian terus menasehati.
"Iya Bang, Cla minta maaf. Cla salah, nanti Cla bakalan taat waktu." ucap Clarisa dengan menyesal.
__ADS_1
"Nanti malam Abang piket, kamu jangan keluar kemana - mana."
"Iya Bang, lagian mau jalan juga bingung, padahal nanti malam ada balapan, ups..! " Clarisa keceplosan.
"Balapan liar di mana Cla?" tanya Alfian.
"Nggak Bang, nggak ada balapan liar." jawab Clarisa menutupi.
"Awas aja, kalau kamu ikut balapan."
"Iya Bang, nggak akan." ucap Clarisa.
****
Alfian bertemu dengan Tri, saat keduanya piket bersama. Alfian mendekati Tri, yang sedang duduk berjaga di pos.
"Saya minta maaf." ucap Alfian.
"Bang Kemal sudah jelaskan semuanya." ucap Tri.
"Saya tahu hati kamu sakit, tapi hati saya dan Cla tidak bisa di bohongin. Kami saling mencintai, lebih baik rusak sekarang dari pada nanti." ucap Alfian.
"Apa pada saat itu, kamu tidak memikirkan hati saya? kamu langsung menjalaninya saja bersama Cla! bagaimana sakit nya hati ini, saat tahu ijab kabul itu terjadi."
"Saya memikirkan itu, saya minta waktu yang tepat, tapi hati kami tidak bisa di bohongi. Kami saling mencintai, itu saja."
"Menjadikan dia istri kedua di negara!"ucap Tri.
" Tidak, dia tetap istri satu - satunya." ucap Alfian.
Alfian mengulurkan tangan kanannya, meminta untuk bersalaman dengan Tri Lantas Tri bersalaman dengan Alfian.
"Mungkin bagi kamu, dia terbaik. Tapi bagi saya, dia bukannya yang terbaik." ucap Tri sambil tersenyum.
****
Clarisa mendengar suara langkah kaki di depan pintu kamarnya, tidurnya terganggu saat terdengar suara. Clarisa lantas mengintip dari balik gorden, ada tiga orang dua wanita dan satu pria.
Clarisa lantas memakai pakaian yang pantas, lantas membuka pintu kamarnya, ada tiga pasang mata saat melihat Clarisa dengan kaget.
Mereka memperhatikan tubuh Clarisa dari atas sampai bawah, dan Clarisa lantas memperhatikan tubuhnya mungkin ada yang salah, namun tidak ada.
"Maaf, Bapak sama ibu cari siapa ya?" tanya Clarisa.
"Ini kan kost an, Alfian kan? yang polisi itu!" tanya salah satu seorang wanita.
"Benar, tapi orangnya sedang piket." jawab Clarisa.
"Maaf kalau boleh tahu, siapa ya?" tanya Clarisa.
"Kami keluarganya, saya Bude nya dan ini Ibu sama Ayahnya." jawabnya.
"Maaf - maaf, kenalkan saya Clarisa." ucap Clarisa langsung bersalaman dengan mencium punggung tangan ketiganya, dan membuat bingung ketiganya saat melihat apa yang di lakukan Clarisa.
__ADS_1
"Silahkan masuk, maaf namanya rumah kost an, kalau di seberang kamar itu kami jadikan dapur." ucap Clarisa.
"Maaf, kamu siapa?" tanya seorang wanita, Ibu dari Alfian.
"Saya, sa - saya istrinya." jawab Clarisa.
"Apa! " ucap kaget ketiganya.
"Istri! istri siri maksudnya?" ucap Ayah Alfian.
"Iya betul Pak." ucap Clarisa.
"Dasar kamu itu pelakor!" ucap Bude Alfian, yang membuat kata - katanya menusuk hati Clarisa.
"Kamu tahu kan, Alfian sudah punya anak dan istri. Kamu tega, hadir di antara mereka." ucap Bude Alfian lantang.
"Sa - saya bukan pelakor." ucap Clarisa.
"Bukan pelakor gimana, kamu jelas tadi bilang istrinya. Sekarang kamu hubungi Alfian, kami datang." ucap Ibu Alfian dengan angkuh.
"Baik saya hubungi dulu." ucap Clarisa lantas keluar dari kamar menghubungi Alfian.
"Assalamu'alaikum Bang." ucap Clarisa saat telepon di angkat.
"Walaikumsalam."ucap Alfian dari seberang.
"Bang, ada keluarga Abang datang! ada Ibu, Ayah sama Bude." ucap Clarisa.
"Hah.. mereka datang! kok nggak kasih kabar dulu."
"Abang masih lama ya? mereka menunggu Abang."
"ini kan baru jam 4 pagi, nanti sebentar lagi. Kamu buatkan minuman saja dulu, sama kue yang ada di dalam kulkas, kamu keluarkan."
"Masalahnya Bang, mereka mengira Cla ini pelakor."
"Astagfirullah, nanti Abang jelaskan sama mereka."
"Cepat pulang ya Bang."ucap Clarisa, menutup teleponnya.
" Baru ketemu pertama, kesannya sudah sadis amat." celetuk Clarisa.
Clarisa berjalan masuk ke kamar sebelah, untuk membuat minuman teh manis hangat. Terdengar sayup - sayup ketiganya sedang membicarakan dirinya.
"Terus saja, ngatain gua yang jelek - jelek. Biar kalian nyesel, kalau anak kalian sudah jelasin semuanya." celetuk Clarisa sambil mengaduk teh manis hangat yang di buatnya.
Setelah selesai Clarisa dengan nampan membawa minuman dan cemilan, lantas di taruh di karpet tebal dimana mereka duduk.
"Bang Alfian nanti pulangnya masih lama, nunggu langit terang. Sekalian beli sarapan pagi di jalan, dan maaf hanya ada ini. Kalau kasih kabar dari kemarin, saya siapkan semuanya." ucap Clarisa basa basi.
"Kalau kami kasih tahu, mungkin kamu sembunyi dari kita." celetuk Bude.
.
__ADS_1
.
.