
"Kami pulang dulu, nanti kamu bulan depan jangan lupa pulang." ucap Ibu Mirah.
"Iya Bu, insya Allah." ucap Alfian.
"Jangan insya Allah, harus datang." ucap Ibu Mirah.
Ketiga nya masuk ke dalam mobil, Alfian melambaikan tangannya, saat mobil itu jalan. Clarisa lantas langsung masuk kedalam mendahului Alfian, dengan segera membereskan bekas sarapan dan minum tadi.
"Maafkan keluarga Abang ya!" ucap Alfian.
"Iya, lupakan saja." ucap Clarisa dengan wajah masam.
"Bulan depan, kita mudik. Kita naik kereta, nanti pulang bawa mobil Abang. Disana jarang di pake sama adik Abang." ucap Alfian.
"Bukannya, tadi bilang kalau Abang harus datang sendiri tanpa Cla! Abang nggak sembari apa."
"Mereka itu, hanya kaget saja.Kamu jangan di ambil hati ya, namanya juga orang tua, ini Mas yang salah."
"Terus, Mas tadi ngapain kalau kita itu pernah tidur bersama! padahal fakta tidak kan, dan lihat dampak di mata mereka Cla lagi Bang."
"Iya Abang minta maaf, Abang tadi itu benar - benar tidak bisa mikir. Asal ngomong saja, ternyata jawaban mereka begitu."
"Sudahlah, saya mau mandi. Mau berangkat kuliah, kalau mau makan pesan saja di warung depan." ucap Clarisa yang masih kesal.
"Abang antar ya? kan hari ini lepas."
"Iya, tapi hari ini mau nginep di rumah Bang Kemal."
"Kok nginep sih?"
"Lagi kangen saja sama Bang Kemal." ucap Clarisa langsung masuk kedalam kamar mandi.
Alfian mengusap wajahnya dengan kasar, lantas memilih mandi di kamar sebelah, sedangkan Clarisa di dalam kamar mandi, melepaskan tangisan nya.
***
"Nanti Abang jemput jam berapa?" tanya Alfian.
"Nggak usah jemput Bang, Cla mau sama Bang Kemal." jawab Clarisa langsung pergi.
Lantas Alfian turun dari motornya, dan berjalan mengejar Clarisa. Tangan Clarisa di tahan oleh Alfian, sehingga Clarisa menghentikan langkahnya.
"Kamu masih marah sama mereka?" tanya Alfian.
"Nggak Bang, Cla lagi kangen sama Abang saja." jawab Clarisa dengan mata yang berkaca - kaca.
"Kalau kondisi kamu seperti ini, pulang jangan masuk kuliah!" ucap Alfian tegas.
"Cla ingin kumpul sama teman - teman, Cla kangen jadi anak jalanan lagi."
"Jangan mengalihkan pembicaraan, kita pulang."
Clarisa melepaskan tangan Alfian, yang memegang lengannya. Clarisa mengusap sudut matanya, agar air mata tidak jatuh kembali.
"Abang pulang, Cla lagi ingin sama Bang Kemal."
Alfian menarik nafasnya, dan lantas memutar tubuhnya untuk kembali pulang. Clarisa lantas segera berjalan cepat, masuk kedalam kelasnya.
__ADS_1
****
"Laras nggak tahu Bang, kalau mereka akan ke tempat Abang." ucap Laras dari seberang.
"Masalahnya, Clarisa di bilang yang tidak enak. Sekarang Clarisa sedih, marah. Gimana tidak terima, di bilang pelakor, cewek murahan, penyebab cerai nya Abang." ucap Alfian kesal.
"Kok mereka begitu sih."
"Bude Narti mau ada acara, Abang pulang tapi tidak boleh bawa dia."
"Nanti Laras sama Bang Anton, akan nasehati Ayah sama Ibu."
"Kamela sama Moza kamu lihat mereka?"
"Ada Bang, tapi kemarin saya lihat Mba Kamela ribut sama, kata Abang itu pacarnya."
"Kamu kirim Moza makanan, cemilan apa saja yang kamu suka, bawa dia belanja. Kamu ambil saja, jatah Mas untuk hari ini."
"Baik Bang."
****
Clarisa memeluk tubuh Abangnya, sambil menasehati Clarisa. Terlihat kedua mata Clarisa yang sembab.
"Namanya juga orang rumah tangga, pasti ada saja halangannya. Kamu harus kuat, apapun yang terjadi kamu harus bisa bertahan. Namanya juga orang tua, kaget pasti. Jangan terlalu di ambil hati, di bawa enjoy saja, lagian kamu kan jauh sama mertua beda sama Abang."ucap Kemal.
" Kalau dekat Cla kayak Abang ya cerai!" celetuk Clarisa.
"Hus, nggak boleh begitu."ucap Kemal.
"Sudah! "
****
"Kamu susul lah Clarisa kesana, jangan kamu diem saja." ucap Wahyu.
"Siang saja, pulang tidak mau di jemput." ucap Alfian.
"Ya tapi kamu harus mengalah, susul dia jangan diem saja."
"Saya takut , sama yang ini pisah lagi."
"Kalau kamu mengalah dan bisa mendapatkan hati orang tua kamu, pasti. tidak akan terjadi lagi."
"Saya juga belum chat atau telepon dia, nggak berani ganggu."
"Hahahaha.. kamu itu, sana pulang susul ke rumah Bang Kemal." ucap Wahyu.
"Yaudah, saya ke rumah Bang Kemal dulu." ucap Alfian beranjak bangun dan langsung pergi ke rumah Kemal.
****
Ceklek
Kemal membuka pintu pagar, saat mendengar bel berbunyi dan melihat adik iparnya yang datang. Kemal langsung menyuruh Alfian masuk, untuk segera menemui istrinya.
"Makasih Bang." ucap Alfian.
__ADS_1
"Iya, sana kamu temui dia." ucap Kemal.
Alfian langsung masuk kedalam kamar, dimana Clarisa tidur. Clarisa terlihat sudah tertidur, Alfian membuka jaketnya lantas naik ke atas tempat tidur membuka selimut, lantas tubuhnya di tutupi selimut dengan memeluk tubuh Clarisa dari belakang.
Clarisa tidak merasa terganggu, malah terlihat sangat nyaman, saat Alfian memeluk tubuhnya dari belakang. Namun lama - lama, Clarisa merasakan sangat berat, dan langsung membuka kedua matanya. Melihat sebuah tangan melingkar, Clarisa menoleh suaminya tertidur pulas dengan tangan yang masih memeluk tubuhnya.
Clarisa membalikkan tubuhnya, kini dirinya berhadapan dengan Alfian. Clarisa memeluk tubuh Alfian, dengan wajah di sembunyikan pada dada Alfian.
Alfian membalas pelukannya, dengan semakin erat, Clarisa pun merasakan tangan Alfian mengusap punggungnya.
"Abang kapan datang?" tanya Clarisa dengan suara khas orang bangun tidur.
"Sekitar jam 9,kamu sudah tidur. Capek banget ya?" ucap Alfian dengan suara yang sama khas orang bangun tidur.
Clarisa membuka lebar kedua matanya, lantas menatap wajah suaminya yang masih memejamkan kedua matanya.
"Bang."
"Hmm."
"Maafin Cla ya."
Alfian lantas kembali memeluk erat tubuh istrinya, Clarisa pun juga sama. Alfian mencium pucuk kepala Clarisa.
"Tidur, masih belum shubuh." bisik Alfian.
***
"Eh.. ada Gibran." sapa Clarisa langsung menyambut keponakannya.
"Sama siapa kesini?" tanya Clarisa.
"Sama Mamah, sekarang pulang lagi." jawab Gibran.
"Malam ini menginap disini kan?" tanya Clarisa.
"Iya Tante, kata Mamah besok harus sudah pulang." jawab Gibran.
"Besok Masih minggu, tidak senin saja sekalian sama Papah di antar ke sekolah?"
"Sama Mamah nggak boleh." ucap Gibran jujur.
"Gita ijinkan Gibran kesini saja sudah syukur alhamdulillah, dari pada sama sekali." ucap Kemal.
"Kalau mba Gita larang juga, anak kalau sudah gede pasti bakalan cari sendiri atau datangi sendiri ke orang tuanya." ucap Clarisa.
"Kadang Abang tuh sedih lihat Gibran, dia korban perceraian. Tapi kalau di pertahankan, yang ada sakit hati terus."
Alfian mendengar curahan hati kakak iparnya, dirinya lantas tiba - tiba mengingat Moza, putri kecil yang sangat selalu di rindukan.
"Cla, kamu ingat punya anak tiri. Kamu harus sayang sama dia, anggap seperti anak yang lahir dari rahim kamu."
.
.
.
__ADS_1