Surat Tilang Cinta

Surat Tilang Cinta
Pusing


__ADS_3

"Pak, istrinya maag kronis, dan dia jua terkena usus buntu harus segera di operasi." ucap dokter.


"Astagfirullah, lakukan dok." ucap Alfian.


"Istrinya, tidak pernah bilang ya kalau punya maaf kronis?"


"Tidak dok, hanya terkahir dia habis minum mabuk berat."


"Tambah perut kosong!" ucap dokter.


"Iya dok benar." ucap Alfian.


"Baik, Bapak silahkan untuk menandatangani dulu surat persetujuan operasi, di bagian administrasi Pak."


"Baik dok, saya kesana dulu." ucap Alfian.


Alfian lantas mengisi beberapa data, dan menandatangani di atas materai. Alfian pun menunggu di ruangan tunggu pasien, saat Clarisa di operasi.


Telepon Alfian berdering, saat melihat telepon dari Ibu Mirah. Alfian lantas mengangkat panggilan teleponnya.


"Hallo Assalamu'alaikum Bu."ucap Alfian.


"Al, ini sudah tanggal berapa? sudah waktunya bayar listrik, air, sama setoran motor." ucap Ibu Mirah.


"Bu, maaf ya Bu, Alfian tidak ada uang. Ini juga Clarisa sedang di operasi, kemarin dia masuk rumah sakit keguguran, sekarang sedang di operasi. Saya sedang butuh uang bu." ucap Alfian.


"Oh.. jadi kamu mulai perhitungan ya sama Ibu! kamu lebih milih uang buat dia, dari pada buat orang tua kamu hah. ! "


"Maaf Bu, bukan begitu. Kemarin kan, sudah buat Bapak 20 juta, terus Cafe milik Al di sita Bu, karena ulah menantu Ibu sama Ayah, rumah tangga Al hampir hancur Bu, karena kalian. Al juga bingung harus harus cari dimana uang sebanyak itu, belum setoran Bank." ucap Alfian yang sudah stress.


"Waktu sama Kamela, tidak seperti ini. Setelah kamu menikah sama dia, kamu itu kesulitan dalam keuangan. Memang dia itu, tidak membawa hoki. Dia itu pembawa sial, makannya keluarga besar tidak suka sama dia."


"Terserah Ibu saja, mau bilang apa. Silahkan usaha sendiri, saya sudah pusing." ucap Alfian lantas mematikan teleponnya.


"Ya Allah, kapan saya bisa hidup tenang." ucap Alfian.


Dokter pun keluar setelah operasi Clarisa, Alfian langsung mendekat. Ingin tahu, bagaimana kondisi istrinya.


"Alhamdulillah, operasinya lancar. Sekarang, istri Bapak akan dibawa ke ruang perawatan." ucap dokter.


"Baik dok. " ucap Alfian, lantas Clarisa keluar dari ruang operasi dengan tubuhnya berbaring diatas brankar.


***


"Kalau obatnya sudah hilang, akan terasa sakitnya." ucap Alfian.


Clarisa masih tampak lemah, dengan wajah yang pucat, Alfian mengecek suhu tubuhnya yang sudah sedikit menurun demamnya.


"Kamu suka telat makan ya? Abang sampai tidak memperhatikan pola makan kamu, sampai kamu sakit punya usus buntu tidak tahu."


"Cla sudah lama Bang, hanya suka tidak di rasa." ucap Clarisa dengan suara yang pelan.


"Sekarang istirahat ya, Abang boleh tidur sebentar saja, kepala Abang pusing." ucap Alfian, Clarisa menganggukkan kepalanya.


Alfian merasakan pusing, pusing karena mengantuk dan pusing beban pikiran yang sangat berat. Clarisa menatap suaminya, lantas berusaha meraih ponselnya, ada sebuah nomer asing masuk.


From : 081234xxxxx7

__ADS_1


Gara - gara kamu, keuangan Alfian tidak teratur.


Clarisa tidak Membalasnya, memilih menghapus chat nya. Clarisa mencoba memejamkan kedua matanya.


***


Ceklek


Pintu kamar terbuka, tepat Alfian baru saja bangun. Kemal datang, saat dapat kabar dari Alfian, adiknya masuk rumah sakit.


"Gimana dia?" tanya Kemal, melihat Clarisa masih tidur.


"Operasi mendadak Bang, saya juga kaget malam itu Cla demam, sampai mengigau. Saat sampai rumah sakit, malah suruh operasi terkena usus buntu." ucap Alfian.


"Dek, ini Abang." ucap Kemal membangunkan pelan adiknya.


Clarisa membuka kedua matanya, melihat Kemal sudah berdiri tepat di sampingnya. Kemal mengecup kening adiknya, Clarisa tersenyum.


"Maafkan Abang kemarin." ucap Kemal, karena saat menghubungi Alfian menceritakan semuanya.


"Iya." ucap Clarisa pelan.


"Abang minta doanya, besok Abang menikah."


"Semoga Samawa Bang, insya Allah Cla besok akan hadir."


"Jangan! Abang minta doanya saja."


"Saya akan hadir Bang, walau sebentar." ucap Alfian.


"Jangan, kamu harus temani Clarisa." tolak Kemal.


"Yaudah, Abang tidak bisa lama - lama. Karena mau jemput, Gibran." ucap Kemal.


"Iya Bang." ucap Clarisa dan Alfian.


****


"Makan dulu ya." ucap Alfian sambil menyuapi Clarisa.


"Sudah Bang, Cla nggak nafsu makan." ucap Clarisa setelah menerima satu suapan.


"Baru satu suapan, makan lagi."


"Nggak Bang makasih, oh iya Bang. Besok, Cla ingin hadir di pernikahan Bang Kemal."


"Jangan Cla, dokter belum mengijinkan kamu pulang."


"Cla harus hadir Bang."


Alfian diam lantas menaruh mangkuk di atas nakas, Alfian menatap teduh istrinya. Sedangkan Clarisa, menghela nafas panjang.


"Yaudah kalau tidak boleh." ucap Clarisa.


"Abang coba bilang sama dokter."


***

__ADS_1


"Kondisi Ibu masih belum fit, takutnya kenapa - napa." ucap dokter.


"Saya hanya ingin hadir di pernikahan Abang saya dok, kalau terjadi sesuatu sama saya, ini tanggung jawab saya. Rumah sakit, tidak akan saya bawa - bawa." ucap Clarisa.


"Tapi Bu, kondisi HB itu turun pasca operasi. Stabilkan dulu ya."


"Saya mohon dok." Clarisa memohon.


"Yank, turuti apa kata dokter." ucap Alfian.


"Benar Bu, sabar ya." ucap dokter.


Setelah dokter pergi, Alfian melihat telepon Clarisa bergetar. Mode getar, hingga Clarisa tidak terganggu oleh suara ponsel. Alfian melihat, nomer yang begitu di kenal.


Alfian lantas mengangkat telepon, dan Clarisa ingin mengambilnya Alfian segera pergi menjauh.


"Ada apa Ibu telepon?" tanya Alfian langsung to the point.


"Mana istri kamu! Ibu ingin kasih pelajaran, gara - gara dia listrik di rumah mati, token listrik habis."ucap Ibu Mirah dari seberang.


" Token listrik habis, masa Clarisa yang salah. Beli dong Bu, masa sih tidak ada uang sepeser juga, kalau tidak pinjam sama Laras."


"Dia sedang susah, Ibu tunggu sekarang isi ulang pulsa listriknya."


Ibu Mirah mematikan sepihak, Clarisa menatap ke arah Alfian. Suaminya menyerahkan ponsel milik Clarisa, lantas duduk di kursi di samping tempat tidur.


"Ibu suka bilang apa?" tanya Alfian.


"Baru dua kali sekarang." jawab Clarisa.


"Apa Abang lepas saja ya, 80 juta untuk mobil."


"Abang terlalu memaksakan diri, padahal sendiri sudah tidak memiliki apa - apa."


"Abang sudah nggak kuat, menghadapi semua ini Yank." ucap Alfian mengusap wajahnya dengan kasar.


"Lantas Abang mau gimana?" tanya Clarisa.


"Nggak tahu bingung." jawab Alfian.


"Benar kata keluarga Abang, Cla itu pembawa sial. Dari mulai Bang Kemal, dia sampai seperti itu karena Clarisa."


"Tega sekali Ibu bicara seperti itu."


"Ini saja pasti habis mahal ya Bang."


"Kamu jangan mikir ke biaya rumah sakit."


"Kalau memang berat, kita cerai saja. Biar pengurangan beban Abang, kemarin kan Abang yang menawarkan itu."


"Kamu bicara apa sih! ini biar jadi tanggung jawab Abang."


"Kalau tidak tertangkap, uang itu sudah meringankan beban Abang, uang jual motor sama di tabungan Cla, kasih ke orang itu Bang, agar Cafe Abang bisa kembali."


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2