Surat Tilang Cinta

Surat Tilang Cinta
Hancur


__ADS_3

Plaaakkk


Plaakkkk


"Ibu." ucap Kamela dan Alfian.


Ibu Mirah menampar Clarisa dua kali, Clarisa menatap tajam ke arah mertuanya sambil memegang dua pipi nya yang di tampar olehnya.


"Ibu! Ibu sedang apa lakukan ini?" ucap Alfian.


"Mulut tidak pernah kamu sekolahkan apa! tidak ada sopan santun, apa kamu tidak lihat suami saya sedang sekarat. Apa kamu ingin suami saya cepat mati hah..!" ucap Ibu Mirah.


"Yang tidak sekolah siapa Bu? bukannya, yang tidak sekolah itu tingkah laku menantu kesayangan Ibu! orang salah tidak mau salah, sama seperti ibu." Clarisa melawan.


"Kurang ajar! " ucap Ibu Mirah yang akan menampar Clarisa namun mengenai pipi Alfian.


"Cukup Bu! saya sudah habis kesabaran. Cukup sudah, buat hidup saya menderita. Karena ulah kalian, berdampak pada rumah tangga saya. Clarisa seperti ini, wajar karena melihat suaminya seperti ini. Kalian hanya tahu, uang dan uang padahal bagaimana perjuangan saya, untuk kalian. Jujur saya capek, capek bu." ucap Alfian.


"Kamu itu anak ibu dan Ayah, wajib hukumnya. Kamu itu wajib memberikan uang pada orang tua, dan kamu tahu dari kecil itu sampai besar, siapa yang biayain hidup kamu, sampai besar sekarang itu!"


"Saya tahu Bu, tapi bukan begini caranya. Sedangkan Laras, ibu sama Ayah tidak pernah minta. Malah di manjakan, malah Alfian yang di bebankan."


"Karena kamu itu anak tertua, tulang punggung kami."


"Maaf Bu, disini saya istrinya angkat bicara. Anak ibu itu sudah berumah tangga, dia juga memiliki kebutuhan sendiri. Boleh memberi pada orang tua, tapi dalam tahap wajar bukan memeras begini. Dan saya juga mba Kamela, tidak melarang suami saya kasih nafkah setiap bulan untuk biaya Moza, bahkan kasih ke orang tuanya saya tidak pernah larang. Tapi malah, orang tua Bang Alfian seperti mengganggap saya itu musuh. Dan bahkan, uang 140 juta itu, saya ikhlas kasih tapi tetap perlakuan kalian seperti itu. Kalian malah ingin memisahkan kami, agar suami saya bisa kembali bersama Mba Kamela. Apa itu bukan dosa! saya juga punya perasaan, sabarnya orang ada batasnya." ucap Clarisa.


"Kamu sudah berani ceramahin saya hah..!" ucap Ibu Mirah.


"Bu cukup Bu, ini rumah sakit. Kasihan Ayah, dan malu sama orang - orang, banyak yang lihat." ucap Alfian.


"Sekarang kamu pilih, mau pilih Clarisa atau orang tua? kalau pilih dia kamu pergi, Ayah kamu meninggal dunia pun, jangan harap kamu injak kuburannya. Kalau kamu pilih orang tua, tinggalkan wanita itu, suruh dia pergi." ucap Ibu Mirah, memberikan pilihan yang sulit.


"Tolong Bu, jangan memberikan pilihan yang sulit. Laras, kamu itu adik Abang, kamu nasehati ibu." ucap Alfian.


"Maafkan saya Bang, saya tidak ikut - ikut." ucap Laras lantas masuk kedalam kamar rawat pak Tejo.


"Ibu, ibu jangan bicara seperti itu." ucap Kamela.


"Kamu jangan ikut campur, masuk kamu." ucap Ibu Mirah.


"Pilihan ada di tangan kamu Bang, kamu pilih mereka atau saya!" ucap Clarisa.


Alfian diam mengepalkan kedua tangannya, sedangkan Ibu Mirah melipat kedua tangannya sambil menatap ke arah Clarisa.


"Bang, kamu pilih mana?" tanya Clarisa.


"Untuk saat ini, Abang pilih orang tua. Ayah sakit, dia sudah tidak ingat siapa - siapa, hanya di ingatkan baru. Abang ingin, di samping orang tua dulu, tidak mau menjadi anak durhaka." ucap Alfian.


"Jadi kita cerai?" ucap Clarisa dengan mata berkaca - kaca.


"Ceraikan dia!" ucap Ibu Mirah.


"Abang akan ceraikan Cla?" ucap Clarisa terisak.

__ADS_1


"Maafkan Abang, maafkan." ucap Alfian.


Hiks.. hiks.. hiks..


"Kalau itu pilihan Abang." ucap Clarisa.


"Cepat ceraikan dia!" ucap Ibu Mirah.


Alfian memejamkan kedua matanya, ada air mata yang keluar dari kedua sudut matanya. Alfian lantas menatap ke arah Clarisa, Kamela melihatnya meminta Alfian untuk tidak mentalak Clarisa.


"Maafkan Abang Cla."


Clarisa memejamkan kedua matanya, tidak mau melihat bahkan berharap tidak mendengar apa yang akan di katakan Alfian.


"Saya Alfian Fikri, hari ini mentalak Clarisa Baskoro Binti Baskoro, dengan sadar dan haram bagi saya untuk dirinya."


Clarisa bagai di sambar petir, dirinya di talak secara tiba-tiba, bahkan tiba - tiba pandangannya kabur dan pingsan.


"Clarisa! " teriak Alfian.


****


"Cla! " panggil pelan Kamela.


Clarisa membuka kedua matanya, dirinya berada di dalam ruangan serba putih, kepalanya yang pusing, membuat dirinya untuk bangun pun tidak kuat.


"Mana Bang Alfian!" ucap Clarisa.


"Bang Alfian pulang, Ayah nya meninggal dunia, sepuluh menit setelah mentalak kamu." ucap Kamela.


Hiks.. hiks.. hiks..


"Sabar ya, mungkin ini karena Bang Alfian itu sayang sama kamu. Dia lakukan ini demi kamu, hanya ini jalan terbaik."


Hiks.. hiks.. hiks..


"Bang Alfian...!! "


****


Alfian menatap Ayahnya, yang terbalut kain kafan. Rasa sedih bercampur penyesalan, harus kehilangan dua orang yang di cintai. Alfian membalas senyum, dengan terpaksa pada setiap orang pelayat.


"Papah." Moza menghampiri Papahnya.


Alfian memeluk tubuh putrinya, Alfian menangis hingga Moza mengusap air mata Papahnya.


"Papah kenapa menangis?" tanya Moza.


"Papah sedih sayang." jawab Alfian.


"Sedih di tinggal sama Kakek?" tanya Moza.


"Papah sedih, karena harus kehilangan orang yang Papah sayangi." jawab Alfian.

__ADS_1


"Moza sayang sama Papah, Papah nggak akan kehilangan, orang yang sayang sama Papah."


"Iya sayang." ucap Alfian kembali memeluk Moza.


Dari jauh, Laras melihat Abangnya. Laras langsung lari ke dalam kamarnya, sedangkan Ibu Mirah menangis terus tiada henti.


***


"Kamu mau langsung pulang?" tanya Kamela.


"Gua harus bertemu dengan Bang Alfian." jawab Clarisa.


"Jangan! kalau kamu kesana, kamu akan di hajar sama Ibu."


"Gua nggak takut sama dia, gua hanya takut sama Tuhan. Gua nggak terima di cerai seperti ini. Gua tahu, Bang Al itu terpaksa, tapi hatinya masih cinta sama gua."


"Tapi kamu tidak akan bisa bersatu, kalau bersatu juga percuma."


"Kenapa? percuma kenapa! karena wanita tua itu masih hidup? gara - gara dia, memang keluarganya kurang ajar." ucap Clarisa.


Kamela hanya diam tidak bisa berkata apa - apa lagi. Clarisa hanya bisa menerima nasib, dengan hati yang tersayat - sayat.


****


Clarisa datang berdiri di depan pintu gerbang rumah Alfian, terlihat baru selesai doa bersama. Alfian melihat Clarisa dari jauh, saat itu hujan turun dengan deras.


Alfian berlari lantas mengambil payung, Clarisa langsung menangis di depan Alfian. Suara petir menggelegar, keduanya berdiri di bawah air hujan.


"Katakan, kalau Abang itu masih sayang." ucap Clarisa.


"Maafkan Abang, ini yang terbaik buat kita." ucap Alfian.


"Walau ada hati yang harus di korbankan."ucap Clarisa.


"Maafkan Abang! maafkan Abang."


"Jahat kamu Bang, jahat..!"


"Iya, Abang jahat. Abang jahat."


Clarisa lantas pergi, dengan tubuhnya yang kehujanan. Alfian lantas berlari memeluk tubuh Clarisa dari belakang.


"Abang doakan, kamu akan mendapatkan yang lebih baik dari Abang. Maafkan, kalau selama ini belum bisa, memberikan yang terbaik buat kamu."


Clarisa tidak menjawab sepatah kata pun, Clarisa melepaskan pelukan Alfian, dan pergi dengan rasa yang sakit.


"Maafkan Abang Cla, tapi jujur Abang masih sayang sama kamu. Ini lebih baik, dari pada kita terus bersama. Abang lakukan, karena Abang sayang sama kamu." ucap Alfian dengan berteriak.


Clarisa berlari, menembus derasnya air hujan. Hingga dirinya jatuh tersungkur, tangisnya pun pecah


"Hiks.. hiks... Kalian jahat..!!! "


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2