Surat Tilang Cinta

Surat Tilang Cinta
Menang Tapi Gagal


__ADS_3

Alfian bersama Tri melakukan patroli keliling, jalanan yang begitu sudah tampak sedikit lenggang. Sebuah talkie - talkie berbunyi, saat itu Tri yang mengemudi sedangkan Alfian duduk disampingnya, menerima panggilan tersebut.


"Jalur 1." ucap Alfian.


"Jalur 1,periksa jalan Harapan. Berdasarkan informasi dari warga, ada sebuah balapan liar." ucap salah satu anggota dari luar.


"Informasi di Terima, kami siap meluncur ke lokasi." ucap Alfian.


Saat mobil berbelok, sebuah motor melesat cepat lantas Alfian dan Tri saling menoleh. Dan motor melesat lagi, sebuah Rotator di bunyikan. Mobil Patroli terus mengajar, bahkan membuat si pembalap motor liar panik.


"Apa saya tidak salah lihat?" ucap Alfian.


"Saya berpikir, kita salah liat." ucap Tri.


Sedangkan Clarisa tahu, mobil Polisi mengejar, namun bendera putih sudah terlihat, Clarisa lantas menancapkan gas lebih tinggi lagi. Hingga bendera tersebut berhasil diraihnya.


Clarisa mangkat tongkat berbendera itu, kemenangan berhasil diraihnya. Namun tak lama, semua langsung lari tunggang tanggang. Dengan motor masing - masing, saat Polisi berhasil membubarkan balapan liar.


Clarisa menoleh dari balik kaca helm, Alfian melepaskan tembakan, dan beberapa motor berhasil di sita, karena para penonton balap liar berhasil kabur.


beberapa Polisi yang menggunakan motor datang, langsung melakukan pengejaran, Clarisa pun langsung tancap gas.


Alfian melihat dari jauh, istrinya terlibat balapan liar. Lantas Alfian segera berjalan, ke kawanan anak muda yang tertangkap.


***


"Ini duitnya." ucap Simon, memberikan hadiah di tempat lain.


"Thanks banget cek nya, lain kali gua akan ikut dan menang balapan." ucap Clarisa.


"Ok next, awal bulan depan ada lagi. Tapi kecil hadiahnya, paling 50 juta an tapi kecuali yang berani pasang taruhan."


"No problem, gua nggak masalah. " ucap Clarisa.


"Guys, tadi banyak yang tertangkap. Sepertinya ada yang membocorkan pada Polisi, kita harus hati - hati." ucap Boy.


"Gua tahu, siapa polisinya. Yang jelas, gua tidak mengantarkan nasib pada mereka." ucap Clarisa.


"Ok, kita rayakan kemenangan. Biasa minum, Lo bisa kan Cla sekali - kali." ucap Boy.


"Ok, siapa takut. Kita ke markas, kita minum sampai menjelang pagi. Tapi Shubuh gua, harus sudah sampai rumah. Laki gua sedang piket loh, jangan sampai dia tahu gua balapan lagi."


"Simon, ikut yuk!" ajak Boy.


"Sorry, gua ada janji."


***


"Beberapa dari mereka positif barang haram." ucap Ikbal.


"Sudah dapatkan informasi dari mana?" tanya Tri.


"Iya, dan kita harus datangi lokasi. Karena mereka sedang merayakan kemenangan, di markas itu pengedarnya ada."


"Kita meluncur kesana sekarang?"


"Iya, kita siapkan Tim untuk melakukan penggerebekan."

__ADS_1


Sedangkan Clarisa sedang minum bir dan merokok, tawa mereka terdengar bahagia atas kemenangan genk nya dalam balapan. Ada beberapa yang sedang ngefly, dan beberapa meracau karena mabuk.


"Sumpah, gua pusing banget." ucap Clarisa.


"Lo tidur saja." ucap Boy.


"Kalau tidur, bisa siang gua. Nanti laki gua marah, tahu - tahu gua kagak ada dan tahu gua disini." ucap Clarisa namun sudah tidak kuat, akhirnya tumbang.


"Lah..malah pingsan!" ucap. Boy.


dua mobil dan beberapa anggota turun dari mobil, menggunakan pakaian preman, bahkan ada 5 motor seorang Anggota turun dengan seragam lengkap dan senjata di tangan.


Braaaakkk


"Angkat tangan! jangan ada yang bergerak." ucap Tri.


"Semua jongkok, tidak boleh ada yang lari. Karena kalian sudah dikepung." ucap Alfian.


Semua yang panik, dengan kondisi mabuk. Terlihat juga banyak botol minuman keras, bahkan ada beberapa alat hisap.


Alfian menoleh ke kanan dan kiri mencari sang istri, bahkan satu Polisi memborgol tangan Clarisa yang dalam kondisi setengah sadar.


Alfian dan Tri melihatnya, terlihat Clarisa dalam kondisi mabuk. Alfian langsung naik pitam, namun berusaha menahan emosi karena pernikahan mereka tidak semua tahu.


"Lihat, Dewi jalanan tertangkap lagi." ucap salah satu anggota.


Mereka pun menggeledah jaket Clarisa, dan menemukan sebuah cek senilai 200 juta. Lantas memberikan pada Ikbal, yang malam itu memimpin operasi.


"Cek apa ini?" tanya Ikbal pada Clarisa.


"Iya, duit apa?" bentak Ikbal.


"Hasil balapan." ucap Clarisa.


"Kamu mabuk ya?"


"Iya!" ucap. Clarisa jujur.


"Semuanya, untuk melakukan cek dan kita akan tahu siapa yang positif, siapa yang negatif. Dan Cek ini kami tahan, kami akan mengusut pelaku, siapa yang ikut dalam taruhan."


"Jangan di sita cek itu Pak, gua butuh duit itu." ucap Clarisa.


"Ini uang haram, dan ini sudah masuk dalam barang bukti."


Alfian menatap geram pada istrinya, kedua tangannya sudah mengepal. Alfian mendekati Clarisa, saat itu Clarisa menatap wajah suaminya dengan tersenyum.


"Abang boleh hukum Cla." ucap Clarisa diam.


***


Clarisa merasakan pusing dan mual, kini dirinya ada di dalam penjara. Alfian datang mendekat, dengan membawa minuman jahe hangat.


"Minum ini." ucap Alfian, dan Clarisa lantas meminumnya.


"Abang tidak menyangka, kamu terjun di jalanan lagi. Maksud kamu apa Cla? kamu kurang makan dari suami kamu?" ucap Alfian pelan tapi menusuk.


"Maafkan Cla Bang."

__ADS_1


"Walau kondisi keuangan Abang begini, Abang masih kuat ngasih makan kamu, dan masih mampu buat biaya kuliah kamu."


Clarisa hanya diam, saat itu Kemal datang. Alfian lantas pergi, dengan wajah yang kesal. Clarisa hanya tertunduk, sambil memegang gelas.


"Abang mau menikah 3 hari lagi, siapa yang akan temani Abang. Kamu malah masuk penjara, hidup Abang bukan mengurus kamu saja. Silvi sedang hamil, Abang mau jadi Ayah lagi. Kamu ada masalah, lihat suami kamu. Dia kesal melihat ulah kamu, mabuk, balapan. Sekarang uangnya, disita kan sebagai barang bukti." ucap Kemal.


"Cla lakukan terpaksa Bang."


"Terpaksa apa! kamu lakukan ini bukan terpaksa, tapi kamu lakukan karena sudah hobby. Motor juga di sita, sekarang Abang sedang sibuk Cla mau menikah. Kamu buat ulah lagi, Abang minta jangan sampai pernikahan Abang hancur gara - gara masalah kamu lagi." ucap Kemal lantas pergi meninggalkan Clarisa.


Hiks.. hiks.. hiks..


"Cla lakukan demi Bang Alfian, Cla hanya ingin membantu dia." ucap Clarisa pelan sambil terisak.


****


"Kamu suaminya, kamu urus dia. Saya sudah tidak ada wewenangnya lagi, terserah kamu mau bilang apa sama mereka, kalau kamu mau bilang istri silahkan, kalau mau bilang karena adik teman dekat silahkan. Sekarang ini urusan kamu, saya mau menikah 3 hari lagi." ucap Kemal lantas pergi.


Alfian mengusap wajahnya dengan kasar, lantas berjalan masuk kedalam ruang tahanan. Alfian meminta kunci pada rekanya, dan masuk kedalam penjara.


"Mau kamu apa?" tanya Alfian yang emosi dengan mencengkram keras lengan Clarisa.


"Sakit Bang." ucap Clarisa terisak.


"Kalau kamu ingin jadi seperti dulu, saya siap ceraikan kamu." ucap Alfian dengan mata yang memerah.


"Jangan Bang, hiks.. hiks.. maafkan Cla!" ucap Clarisa terisak.


"Kalau mereka tahu, kamu itu istri saya. Memalukan dengan tingkah kamu, saya tidak habis pikir perempuan seperti kamu, yang ada di otak itu duit lagi duit. Nafkah dari saya kurang hah! jawab, jangan diam saja. Kalau kamu merasa keberatan, jujur saja. Jangan sok baik, jangan sok ikhlas."


"Hiks.. hiks.. ampun Bang!" ucap Clarisa merasakan sakit, di lengannya karena cengkraman semakin kuat.


Tri melihat itu, lantas Alfian keluar dan mengunci pintu jeruji itu kembali. Alfian menatap Tri, lantas berhenti tepat di depannya.


"Jangan ikut campur, itu urusan kami." ucap Alfian lantas melanjutkan langkah kakinya.


Tri lantas kembali, dan mengurungkan niatnya untuk mendekati Clarisa. Sedangkan Clarisa duduk sambil menangis, dengan memegang lengannya yang masih merasakan sakit.


Hiks.. hiks.. hiks..


"Gua sayang sama Abang, hiks.. hiks.. gua rela lakuin apa saja demi Abang, hiks.. hiks.. gua di penjara ini juga demi Abang hiks.. hiks.. maafkan gua Bang, maafkan gua!"


****


"Dia itu tertangkap bukan karena kasus konsumsi barang haram, dia hanya pelaku balap liar, dan dalam kondisi Mabuk. Seperti yang sudah - sudah, tapi tipe seperti dia tidak akan kapok walau di penjara hanya beberapa hari, nanti juga Abang nya akan menjaminnya." ucap Ical.


"Abang nya sudah lepas tangan, sudah tidak peduli." ucap Alfian.


"Pastilah, capek punya adik seperti dia."


"Biarkan saja di dalam sel dulu, biar ini jadi yang terakhir." ucap Alfian.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2