Surat Tilang Cinta

Surat Tilang Cinta
Curi Pandang


__ADS_3

"Belanja kapan kamu Cla?" tanya Kemal.


"Apanya Bang?" tanya kembali Clarisa.


"Ini jaket kulit? kamu beli online! " jawab Kemal.


"Oh, itu dari Bang Tri." ucap Clarisa.


"Tri!"


"Dia nembak Cla."


Kemal langsung duduk di dekat Clarisa, menatap adiknya yang sedang menonton televisi. Clarisa lantas menatap Abangnya, yang menatap dekat.


"Apaan sih? jelek tahu." ucap Clarisa sambil menjauhkan wajah Abangnya.


"Abang setuju kamu sama Tri, jadi kamu itu agar alim, nggak balapan lagi. Malu kali, pacar Polisi kena rajia terus."


"Yeee..!! " ucap Clarisa.


Terdengar suara Alfian datang bersama keluarga kecilnya, suara anak kecil yang terus mengoceh, bahkan terlihat Alfian dengan Sabar terus menjawab setiap pertanyaan.


Alfian menatap dari cermin lemarinya, terlihat Clarisa sedang menatapnya, lantas Alfian segera menutup pintu tersebut.


"Dek, kamu makan belum?" tiba - tiba Kemel bertanya.


"Belum Bang." jawab Clarisa.


"Abang mandi, terus cari makan. Oh iya de, Abang sudah dapat kontrakan. Nanti besok Abang pindah ya, kamu nggak apa - apa kan?"


"Apa abang yakin tidak mau rujuk?" tanya Clarisa.


"Tidak Dek, Abang sudah capek. Abang tidak mau hidup dengan wanita seperti dia, Abang ingin cari wanita yang benar - benar mau, menerima Abang dan kamu apa adanya."jawab Kemal.


"Abang lihat, Gita sudah keluar dari rumah itu."


"Lantas, kalau sudah keluar kenapa harus mengontrak?"


"Abang akan kembali, saat surat cerai sudah turun."


Clarisa hanya tersenyum sendu, lantas ponselnya berbunyi terlihat sebuah pesan masuk dari Alfian. Dengan malas, Clarisa tidak membukanya dan mengabaikannya.


Sedangkan Alfian terus menatap ponselnya, chat dari Clarisa tidak di balasnya. Alfian mencoba mengirim pesan kembali, namun tidak ada respon dan tidak di baca.


"Bang, ini kopi nya." ucap Kemala dengan meletakkan secangkir kopi di lantai.


"Makasih." ucap Alfian fokus pada ponselnya.


"Sedang chat siapa Bang?" tanya Kamela.


"Bukan siapa - siapa kok." jawab Alfian, sambil meniup kopi yang panas.


"Abang pasti sudah punya incaran ya, buat pengganti saya?"


"Belum ada."


"Kalau ada juga nggak apa - apa, kita kan sudah jadi sahabat."


"Moza gimana disana?" tanya Alfian mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Moza selalu tanya kapan Papah pulang, dia itu dekat sama kamu Bang. Kalau pun kita nanti memiliki pasangan masing - masing, saya ingin kita tetap seperti ini, demi Moza."


"Abang pesan, carilah pria yang lebih baik dari Abang. Kalau pun kamu, kembali sama Ryan Abang tidak masalah. Dia orang baik, Abang juga kenal sama dia."


"Saya belum berpikir ke arah sana."


****


Clarisa membuka pintu kamar, begitu dengan Alfian. Clarisa hanya diam, dan lantas langsung pergi. Di ikuti oleh Alfian, hingga keduanya berhenti di sebuah warung kopi.


"Bu, minta kopi satu renteng sama rokok mild satu bungkus, sama kacang juga. Berapa bu?" ucap Clarisa.


"Total 80 ribu mba." ucap Ibu pemilik warung.


"Bu, dia saya yang bayar." ucap Alfian.


"Gua bisa bayar sendiri." ucap Clarisa, meletakkan selembar uang kertas nominal seratus ribu.


"Ambil saja, biar saya yang bayar" ucap Alfian.


"Makasih." ucap Clarisa langsung pergi.


Saat akan kembali pulang, Alfian melihat Tri datang. Bahkan dengan berani, membelai kepala Clarisa. Tri menyapa Alfian, dan Alfian pun tersenyum sambil berjalan mendekat.


"Bro, saya mau kasih tahu sama kamu." ucap Tri.


"Apa?" tanya Alfian.


"Kita sudah jadian." jawab Tri senang, Alfian tersenyum sambil menepuk pundak Tri.


"Selamat ya, semoga langgeng." ucap Alfian lantas pergi.


"Thanks ya."


"Bang Kemal mana?" tanya Tri, melihat Clarisa sedang menyalakan sebatang rokok.


"Nggak tahu kemana! besok dia pindah." jawab Clarisa dengan menghembuskan asap rokok ke sembarang.


"Oh." ucap Tri mengambil rokok miliknya.


"Rokok kita sama Bang!"


"Sehari habis berapa bungkus?" tanya Tri.


"Nggak tentu."


Alfian melihat dari cermin lemarinya, terlihat Clarisa dan Tri sedang tertawa. Kamela yang sedang bermain dengan Moza, melihat Alfian terus menatap ke arah cermin. Dan saat Kamela coba melihat, terlihat wajah seorang wanita.


"Ehhheem.. " Kamela pura - pura berdehem.


Alfian langsung tersadar dan segera memeluk tubuh Moza. Putri kecilnya, langsung menyingkirkan tangan Papah nya yang menghalanginya bermain.


****


"Makasih Dek, Abang pergi dulu ya." ucap Kemal setelah menaruh kopernya di dalam mobil.


"Sama - sama Bang, nanti kirim alamatnya Bang." ucap Clarisa.


"Iya, Assalamu'alaikum. "

__ADS_1


"Walaikumsalam."


Clarisa kembali ke dalam kamar kost, yang sebelumnya melihat motor Alfian tidak ada, berarti sudah berangkat dinas.


"Hi." sapa Kamela.


"Hi." sapa Clarisa.


"Kenalkan saya Kamela istrinya Bang Alfian." ucap Kamela meminta berjabat tangan.


"Clarisa." ucap Clarisa.


"Leher kamu kenapa?"


"Oh ini, kecelakaan."


"Tinggal disini sudah lama?"


"Sudah, hampir 7 tahun."


"Lama sekali ya, tapi memang suasananya bikin kita betah. Saya juga nyaman disini, tapi sayang tidak bisa tinggal lama."


"Mamah." panggil Moza sambil menatap Clarisa.


"Hallo cantik, umur berapa Mba?" tanya Clarisa.


"Dia baru umur 3 tahun, lihat wajahnya mirip sama Papahnya. Makannya dia dekat banget sama Bang Alfian, dan anaknya pintar." jawab Kamela.


"Namanya siapa sayang?" tanya Clarisa.


"Moza Tante." jawab Moza.


****


"Jadi kamu sekarang, calon adik ipar Bang Kemal?" ucap Wahyu.


"Iya dong, tinggal selangkah lagi. Saya akan lamar dia, saya ingin Clarisa di jadikan istri." ucap Tri.


"Al, kamu pernah lihat Clarisa pulang sama cowok, atau ada cowok datang?" tanya Tri.


"Bang Kemal!" jawab Alfian.


"Bukan, tapi pria lain."


"Ya kamu, pria yang main."


"Syukurlah."


"Tapi kalau saya nggak lihat, nggak tahu juga."ucap Alfian.


****


" Bang ini kunci rumah kamu, sekarang rumah itu milik kamu seutuhnya kembali, dan saya pun pergi sama seperti waktu datang. Hanya membawa satu buah koper, tapi satu hal. Gibran akan ikut sama saya, tidak sama kamu." ucap Gita.


"Terima kasih, setelah hampir 20 tahun kita bersama, terima kasih sudah pernah menjadikan saya di hati kamu yang nomer satu. Mungkin ini, jalan terbaik kita. Perpisahan, walau harus ada yang di korbankan yaitu anak." ucap Kemal.


"Sekarang kamu bisa lega, bisa bebas urus adik kamu."


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2