Surat Tilang Cinta

Surat Tilang Cinta
Emosi


__ADS_3

Hiks.. hiks.. hiks..


"Cla pulang Bang, Cla sudah nggak tahan!" ucap Clarisa sambil menangis.


"Kita pulang!" ucap Alfian.


Ceklek


"Papah." Moza datang.


"Eh sayang, kenapa?" tanya Alfian.


"Moza ingin makan sama Papah." jawab Moza.


"Ok sayang, kita makan. Dimana? mau di rumah Papah atau di rumah Mamah?" tanya Alfian.


"Rumah Mamah." ucap Moza yang sudah di gendong oleh Alfian.


"Sayang, Abang ke rumah Kamela dulu ya!" ucap Alfian, Clarisa menganggukkan kepalanya.


Setelah Alfian pergi, Clarisa kembali menangis sambil memegang perutnya. Clarisa lantas memutuskan untuk pergi, dengan mengambil tas nya.


Alfian menyuapi Moza, ketiga nya bagai keluarga kecil yang bahagia. Clarisa sebelum pergi, melihat semuanya.


"Berhenti Pak." ucap Clarisa menyetop sebuah angkot.


***


"Bang, kamu harus bawa pulang Clarisa. Saya sebagai perempuan, tidak tahan mendengar cacian dari keluarga kamu. Apalagi, orang tua saya juga." ucap Kamela.


"Iya, setelah menyuapi Moza. Abang akan pulang, membawa Clarisa." ucap Alfian.


"Papah jangan dulu pulang! Moza masih kangen sama Papah." ucap Moza lebih mengencangkan pelukannya.


"Sayang, Papah ada tugas mendadak loh. Mau tangkap maling, keburu lepas malingnya nanti rumah warga, kecurian semua." ucap Kamela.


"Nggak mau! kan Polisi itu banyak bukan Papah saja." ucap Moza.


"Kalian itu bodoh! mementingkan ego masing - masing. Tidak pernah, mau mementingkan hati anak, lihat dia itu butuh kalian. Lebih baik kalian rujuk, datangi pengadilan untuk meminta kembali berkasnya." ucap Pak Yahya.


"Pipih, tolong jangan paksa kami. Karena kami yang menjalani, lagian kamu ini masih menjalin silaturahmi dengan baik." ucap Kamela.


"Lantas, kamu mau menikah lagi dengan pria lain? apa nanti akan sayang sama Moza! dan kamu Al, istri baru kamu belum tentu sayang sama anak kamu, dari awal datang saja dia tidak ada basa basi ke Moza."


"Pih, dia seperti itu karena tidak nyaman! kalian semua, menyudutkan dia dan tidak ada yang ramah. Jadi bukan salah Clarisa, tolonglah kalian semua ini, jangan ikut campur masalah rumah tangga anak, kami yang jalani, kami yang rasakan." ucap Kamela.


"Pih, kita ini tidak cocok, kita ini percuma rujuk." ucap Alfian.


"Kalian tidak pernah mau mencoba, atau introspeksi diri. Atau kamu, memang sudah terpikat sama wanita seperti dia?" ucap Pak Yahya.

__ADS_1


"Clarisa wanita baik - baik, walau dia bebas di jalanan, tapi dia menjaga semuanya." ucap Alfian.


"Iya tapi murahan, dan jadi ketiga."


"Kamela, Abang pulang!" ucap Alfian yang sudah tidak tahan.


"Papah.. !! " panggil Moza dengan berteriak.


Hiks... hiks... hiks...


"Papah.. hiks.. hiks..! "


Alfian merasakan sakit, melihat putri kecilnya menangis, bahkan tidak tega meninggalkannya. Alfian lantas berbalik, dan langsung menggendong Moza.


"Lihat, anak kalian, jelas tidak merestui!" ucap Pak Yahya langsung pergi.


****


Di dalam kereta, Clarisa di balik kacamata hitamnya terus menangis. Hingga kereta itu berangkat, saat itu Clarisa harus bergeser sedikit, karena kursi dekat jendela milik orang lain.


Pria itu menoleh ke arah Clarisa, namun Clarisa tidak melihat pria yang di sampingnya. Dengan penasaran, pria itu mencolek Clarisa.


"Ada apa?" tanya Clarisa lantas membuka kacamata nya.


"Bang Tri!" ucap Clarisa.


"Kamu sendirian, mana Alfian?" tanya Tri.


"Abang dari kota X, keretanya kan berhenti di sini dulu beberapa menit. Nggak menyangka ya, kita ketemu disini." ucap Tri.


"Iya Bang." ucap Clarisa.


"Alhamdulillah Cla, Abang bisa move on. Tadi Abang habis ketemuan, sama seorang cewek, biasa kenalan di aplikasi." ucap Tri jujur.


"Syukur Bang." ucap Clarisa yang sedikit tersenyum.


Tri memperhatikan Clarisa dari kaca, melihat beberapa kali Clarisa mengusap kedua sudut matanya.


Tri memegang tangan Clarisa, hingga membuat Clarisa menoleh ke arah nya. Saat Clarisa ingin melepaskan genggaman tangan Tri, malah Tri semakin erat.


"Bang!" tegur Clarisa.


Tri yang masih menatap ke arah jendela, sambil menikmati pemandangan di luar. Clarisa hanya bisa diam, dan lebih memilih memejamkan matanya.


***


"Cla." panggil Alfian.


"Cla!" panggil Alfian lagi.

__ADS_1


Alfian terus mencari Clarisa, hingga kesemua ruangan, bahkan sampai ke rumah Bude Narti. Alfian mencoba menelepon Clarisa tidak di angkat, dan melihat pakaiannya pun masih ada. Hanya tas miliknya yang tidak ada, Alfian langsung terduduk lemas, dan menebak bahwa istri itu telah pulang terlebih dahulu.


"Ya Allah, saya ingin rumah tangga yang bahagia." ucap Alfian lantas, segera berkemas.


Alfian lantas memasukkan kopernya, ke dalam mobil miliknya. Moza yang melihat langsung menangis.


"Huuuaaaa Papah tidak boleh pergi, huuuuaaa.. hiks.. hiks.. " ucap Moza.


Tangisan Moza hingga membuat dua keluarga itu keluar, bahkan Pak Yahya sudah mengomel - ngomel bersama istrinya Ibu Suri.


Orang tua Alfian pun sama, hingga membuat Alfian membanting pintu mobil miliknya. Dan semuanya diam, tidak dengan Moza.


"Bisa diam nggak sih! gara - gara kalian, istri saya kabur." ucap Alfian.


"Istri kamu itu kayak bocah, makannya kabur." ucap Pak Tejo.


"Bang, cepat pergi Bang." ucap Laras.


Alfian tidak berkata apa - apa, hanya bisa menahan kesal dan langsung menjalankan mobilnya.


Moza terus menangis ada rasa tidak tega, melihat anaknya. Bahkan Mobil sempat berhenti, Kamela meminta Alfian untuk segera pergi.


"Kamela! kamu itu bodoh ya, melepaskan suami seperti Alfian. Orang tua mendukung dengan dia, begitu juga lihat anak kamu." ucap Ibu Suri membentak.


Laras langsung membawa Kamela masuk, Laras meminta Kamela jangan bicara, cukup diam.


"Apa mba salah? melepaskan pria yang begitu Mba cintai!" ucap Kamela.


"Salahnya, waktu dulu. Kalau masih cinta, kenapa minta cerai, Bang Alfian dalam kondisi panas, Mba malah menambah api. Kalau memang tidak cocok, berubah lah berusaha untuk, menjadi pasangan yang terbaik buat anak. Dan lihat, Moza bagaimana dia? karena masalah kecil, tidak bisa disatukan alasan sudah berusaha. Karena kalian, dalam kondisi panas tidak tenang." ucap Laras, adik Alfian.


"Semuanya sudah terlambat." ucap Kamela.


"Memang sudah terlambat, Bang Alfian sudah ada hati sama wanita itu."


****


"Abang antar ya? Abang bawa motor kok." ucap Tri sambil berjalan ke arah parkiran, untuk mengambil motornya yang di parkir disana, selama dia pergi.


"Nggak usah Bang, gua pulang sendiri saja." ucap Clarisa.


"Ayolah, Abang antar." ucap Tri.


"Bang, gua sudah sakiti Abang. Kenapa, Abang masih saja tetap mau menolong Cla?"


"Karena kamu, pernah singgah di hati Abang."ucap Tri.


Clarisa lantas berboncengan dengan Tri, motor melaju kencang, dan Clarisa tidak mengatakan kalau dirinya sedang hamil.


Sedangkan di perjalanan, Alfian terus menghubungi Clarisa hingga panggilan ke seribu. Tidak ada jawaban, sampai baterai Alfian pun habis.

__ADS_1


.


.


__ADS_2