Surat Tilang Cinta

Surat Tilang Cinta
Perhatiannya


__ADS_3

Ceklek


Clarisa terbangun, saat melihat Kemal masuk. Terlihat Silvi yang tidur di sofa, menemani Clarisa. Kemal masuk perlahan, dan Clarisa mencoba menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.


"Bang, malam - malam begini bawa koper mau kemana?" tanya Clarisa pelan.


"Abang sementara, numpang di kost an kamu ya! " jawab Kemal.


"Ada apa Bang? Abang berantem sama mba Gita?" tanya Clarisa.


"Abang cerai sama mba Gita! " jawab Kemal yang membuat kaget Clarisa.


"Ya Allah Bang, kok bisa! apa masalah Cla?"


"Abang lebih memilih kamu dek, dari pada kamu terus di injak - injak. Bagaimana juga kamu itu adik Abang, seorang kakak tidak akan tega membiarkan adiknya selalu di sudutkan."


"Bang, apa Abang tidak memikirkan Gibran? dia masih kecil Bang, dia akan sulit menerima orang lain, yang akan menggantikan Abang nantinya."


"Anak akan mengerti, suatu saat nanti dia akan tahu sendiri, kenapa orang tuanya bercerai."


"Bang maafkan Cla ya, kalau Cla sudah buat Abang seperti ini."


"Tidak dek, kamu tidak salah. Mereka yang salah, lebih seperti ini dek Abang ceraikan dia."


"Abang nanti tinggal dimana?" tanya Clarisa.


"Di tempat kamu, ada kamar kosong?" tanya kembali Kemal.


"Tidak ada Kak, tapi sementara kakak boleh tinggal sama Cla."


"Makasih Dek, kalau begitu kakak pulang ya. Disini ada Silvi takut nggak enak dia, nanti besok Abang kesini lagi."


"Iya Bang."


"Bang."panggil Cla kembali.


"Ya dek?"


"Kuncinya, ada di bawah keset."


"Iya." ucap Kemal, menutup kembali pintu kamar rawat.


Silvi bangun dari tidurnya, dengan wajah yang masih kusut langsung duduk bersandar.


"Tadi siapa?" tanya Silvi.


"Tadi Abang gua, dia mau pakai kamar gua. Dan tadi tanya kamar kosong, kata gua kagak ada." jawab Clarisa.


"Abang Lo cari kamar!" ucap Silvi kaget.


"Iya, dia habis talak istrinya."


"Kok bisa! kenapa jadi begini?"


"Abang gua, sudah tidak tahan, apa yang di lakukan keluarga istrinya pada gua. Disini gua merasa bersalah banget, gua tahu mereka pacaran sejak masih SMP hingga mereka nikah. Gua merasa bersalah sudah, merusak rumah tangga mereka."


"Lo nggak salah Cla! jelas bini sama mertuanya itu gila pamor, takut pamor nya rusak gara - gara Lo. Kalau mereka cuek, dan bodoh amat tetang Lo, pasti tidak akan begini."


"Tapi tetap saja gua merasa bersalah."


****


Alfian keluar dari kamar kost nya, melihat lampu kamar Clarisa menyala. Lantas terbuka pintu kamar Clarisa, keluar seorang pria berseragam loreng.


"Hey.. mau berangkat?" sapa Kemal sambil bertanya.


"Iya Bang, saya kira Clarisa pulang." ucap Alfian.


"Nggak, dia masih di rumah sakit. Sambil cari kontrakan terdekat, disini penuh semuanya ya?"

__ADS_1


"Kayaknya Bang, kata Clarisa gimana?"


"Ya gitu katanya penuh."


"Kalau begitu, saya duluan Bang."


"Oh iya, saya juga mau berangkat."


****


"Jahitannya sudah bagus, bisa pulang ini. Tapi jangan dulu, banyak gerak ya masih dibatasi." ucap dokter, saat membuka perban yang melingkar di leher Clarisa.


"Ini, akan terbuka nggak ya dok? soalnya takut terbuka lebar! " ucap Clarisa dengan melihat melalui cermin, terasa ngilu sendiri.


"Intinya jangan banyak gerak, di batasi."


"Ok dok, tapi ini bekas jahitan akan terlihat permanen ya?"


"Iya, tapi bisa di tutupi syal."


"Kalau begitu, saya buatkan resepnya. Hari ini boleh pulang, dan ingat pesan saya."


"Siap dok."


**


Alfian berjalan di Koridor rumah sakit, dan Alfian melihat Tri berjalan dengan Kemal. Langkah Alfian terhenti, dan memilih untuk tidak menjenguk Clarisa. Namun langkahnya terhenti kembali, dan memutar kembali tubuhnya untuk melanjutkan langkahnya.


"Bang, hari ini Cla bisa pulang." ucap Clarisa saat Kemal dan Tri masuk.


"Alhamdulillah dek, Abang senang. Yaudah kalau gitu, Abang urus administrasinya dulu. Ehm.. Silvi makasih ya, dan tolong bantu bereskan perlengkapan, milik Cla." ucap Kemal.


"Siap Bang." ucap Silvi.


"Akhirnya kamu bisa pulang, ingat jangan dulu balapan." ucap Tri.


"Siap Bang Tri."


"Walaikumsalam." balas semua yang ada di kamar rawat.


"Eh Al, tahu kesini tadi bareng." ucap Tri.


"Waktu di jalan, baru ada niat kesini." ucap Alfian.


"Gimana keadaan kamu?" tanya Alfian.


"Alhamdulillah, hari ini gua sudah bisa pulang." jawab Clarisa.


"Alhamdulillah." ucap Alfian.


"Eh Cla, saya sama Alfian pulang duluan ya, siapin kamar buat kamu." ucap Tri, dan Alfian menoleh ke arah Tri.


"Jangan, jangan repot - repot." tolak Clarisa.


"Biar gua yang bantu, kuncinya di tempat biasa kan?" ucap Silvi.


"Nggak usahlah merepotkan." tolak Clarisa.


"Dek, sudah beres bisa pulang sekarang." ucap Kemal.


"Bang mana kunci rumah?" tanya Silvi.


"Ada kenapa?" tanya kembali Kemal.


"Kita bertiga duluan, siapkan kamar buat Cla." jawab Silvi.


"Jangan merepotkan." tolak Kemal.


"Bang, nggak apa - apa." ucap Tri.

__ADS_1


"Yaudah deh ini." ucap Kemal memberikan kunci pada Silvi, dan ketiganya jalan terlebih dahulu.


****


Pintu kamar kost Clarisa di buka oleh Silvi, Alfian dan Tri melihat photo Clarisa duduk di atas motor sport kesayangannya, bahkan ada photo seksi Clarisa hanya mengenakan tank top dengan celana pendek di atas lutut, yang menunjukkan tubuh mulusnya.


"Kamar Cla selalu rapih, beda sama punya gua. Cla itu pernah jadi model, waktu masih jadi pacar si Sandi, tapi sekarang mereka sudah putus." ucap Silvi.


"Kamu, sama Cla temenan sudah lama ya?" tanya Tri.


"Lama banget, sejak kenal di gank motor. Waktu itu pacar gua, salah satu club motor gabung sama gank nya Cla, sekarang sih udah jadi mantan." jawab Silvi.


Clarisa dan Kemal datang, mereka langsung masuk, Clarisa pun duduk di atas tempat tidur nya yang sedangkan Kemal membantu, menyusun bantal.


"Terima kasih ya, sudah merepotkan." ucap Kemal.


"Santai saja Bang." ucap Silvi.


"Yaudah, kita pamit. Barangkali Cla mau istirahat, nanti besok saya kesini lagi." ucap Tri.


"Thanks ya buat semuanya." ucap Clarisa.


***


"Abang disini dulu ya Dek, Abang nggak tega ninggalin kamu yang masih kayak gini." ucap Kemal.


"Rumah punya Abang, apa itu buat mba Gita?" tanya Clarisa.


"Nggak dek, setelah proses cerai, Abang akan kembali kesana." jawab Kemal.


"Kirain buat mba Gita."


"Rumah buat Gibran dek, Abang yang bangun waktu masih sendiri, masa cerai dia nikah lagi terus di tempati sama pria lain."


"Yaudah, sambil nunggu tinggal saja disini. Lagian yang punya kost tahu, siapa Abang."


"Nggak ah dek, enak tinggal ditempat lain. Kalau Abang disini, yang ada kamu nggak bebas. Abang juga paham, jangan cengar cengir kamu." ucap Kemal, saat melihat adiknya tersenyum.


"Bagi rokok kamu dong, Abang ingin merokok."


"Minta, katanya gua nggak boleh merokok."


"Ya makannya sini, buat Abang."


"Ambil tuh di laci meja hias."


Kemal mengambilnya, lantas langsung keluar dari kamar Clarisa.


****


"Iya, nanti pulang."


"Pokoknya, harus janji."


"Iya janji, yaudah sekarang mau berangkat piket, nanti video call lagi ya."


"I love you."


"I love you too."


Alfian menutup panggilan video callnya, lantas bersiap - siap untuk berangkat Piket. Saat keluar dari kamar, Alfian melihat Clarisa sedang duduk sambil menonton televisi. Alfian lantas pergi, dan Clarisa melihat Alfian yang tadi menatapnya, dari pantulan cermin riasnya.


Clarisa membuka ponselnya, dan membuka chat dengan kontak nama Alfian. Clarisa mencoba mengetik pesan, namun Clarisa mengurungkan untuk mengirimnya.


Lantas tanpa pikir panjang, Clarisa memberanikan diri mengirim pesan pada Alfian, tanpa memperkenalkan siapa dirinya.


Hati - hati di jalan


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2