
Clarisa dan Alfian sampai di kampung halaman Alfian, mereka langsung di sambut oleh dua keluarga. Clarisa tersenyum saat Moza langsung memeluk kangen, pada papahnya.
Clarisa bersalaman satu persatu dengan keluarga suaminya, bahkan keluarga mantan yang ikut menyambut kedatangan keduanya.
"Ami, Pipi ini Clarisa pasti kalian sudah tahu dari Kamela." ucap Alfian.
Clarisa tersenyum ke arah mantan mertua Alfian, namun keduanya hanya tersenyum kecut. Begitu juga kedua mertuanya, bahkan semua keluarga menatap Clarisa seakan tidak suka.
Keluarga Alfian berdekatan, bahkan paling jauh hanya berjarak 1 kilometer. Clarisa mulai tidak nyaman, tidak ada yang menanyakan dirinya, hanya sibuk mengajak ngobrol Alfian. Bahkan semua berebut oleh - oleh, Clarisa hanya diam saja.
Alfian pun sibuk dengan putrinya, yang langsung meminta jajan ke warung, sedangkan Clarisa duduk diam.
"Di makan, ini makanan khas orang sini." ucap Kamela.
"Iya Mba makasih, masih kenyang." ucap Clarisa.
"Eh sayang, beli apa?" tanya Kamela saat Moza datang bersama Alfian.
"Minta es krim aja." jawab Alfian.
"Gimana kemarin habis kecelakaan?" tanya Clarisa.
"Luka luar saja, ini baru kering. Untung kaki sama kepala tidak apa - apa." jawab Kamela.
"Kamela, tolong kamu cek Clarisa. Mungkin dia hamil! " ucap Alfian.
"Mual sama pusing?" tanya Kamela.
"Iya, mual dan muntah." jawab Clarisa.
"Kamu pakai testpack ya, nanti saya ambil." ucap Kamela beranjak bangun.
"Al, kamu makan dulu. Makan sama - sama, semua tinggu di rumah bude Narti." ucap Ibu Mirah.
"Ya bu nanti." ucap Alfian.
"Sudah buruan, kamu pasti lapar."
"Yank, kita makan dulu yu." ajak Alfian.
Saat Clarisa akan berkata, nanum Ibu Mirah langsung menatap ke arah Clarisa. Lantas Clarisa menggelengkan kepalanya.
"Kalau kamu tidak mau, Abang juga sama." ucap Alfian.
"Nanti lagi saja Bu, menyusul." ucap Alfian.
"Yaudah kalau gitu, nanti Ibu ambilkan saja." ucap Ibu Mirah.
Kamela datang, membawa alat testpack. Dan memberikan pada Clarisa, untuk segera mengecek.
"Coba, siapa tahu rejeki." ucap Kamela.
__ADS_1
"Coba Yank." ucap Alfian.
Clarisa lantas berjalan ke arah kamar mandi, lantas masuk kedalam. Saat berada di dalam kamar mandi Clarisa mendengar suara orang membicarakannya.
"Itu istri baru Alfian?"
"Iya, tapi masih siri."
"Kalau masalah cantik, masih Kamela."
"Benar itu, lagian ngapain sih mereka cerai. Udah punya anak satu, cantik, malah nikah lagi dapat yang model begitu."
"Eh kalian sedang apa?" terdengar suara Ibu Mirah.
"Itu loh, mantu baru. Alfian itu bisa cerai gitu, apa tidak bisa di perbaiki hubungan.Namanya juga orang berumah tangga, pasti ada saja masalahnya."
"Mantu saya itu, mahasiswi teknik mesin.sudah tidak punya orang tua, terus hanya sama kakaknya Tentara. Tapi bagaimana juga hati lebih cocok sama Kamela." ucap Ibu Mirah.
"Iya ya, kenapa gitu . Kayaknya, lebih pantas sama Kamela."
Clarisa menahan tangis, lantas melanjutkan untuk mengecek apakah dirinya hamil atau tidak.
Setelah menunggu, terlihat jelas garis warna merah ada dua. Clarisa tahu, kalau dirinya tengah hamil. Lantas, Clarisa membuangnya ke dalam toilet.
**
"Yaudah, mungkin belum rejeki kita." ucap Alfian.
Kamela tersenyum sambil mengusap lengan Clarisa, lantas Ibu Mirah datang dengan membawa satu piring nasi serta lauk.
"Al kamu makan dulu, Kamela Ibu ambilkan ya!" ucap Ibu Mirah.
"Nggak usah Bu, makasih." ucap Kamela.
"Bu, buat Clarisa mana?" tanya Alfian.
"Seharusnya istri kamu yang ambil, bukan ibu." jawab Ibu Mirah langsung pergi.
"Maafkan Cla Bang, kalau Cla menutupi kehamilan ini. Cla sepertinya tidak akan, bisa bertahan lama dengan sikap orang tua Abang."ucap Clarisa dalam hati.
" Cla, kamu jangan dimasukan ke hati. Maafkan Ibu Mirah ya." ucap Kamela.
"Iya mba."
"Kalau lapar, kita makan di luar saja." ucap Alfian.
"Cla capek, ingin istirahat." ucap Clarisa.
Didalam kamar Alfian, Clarisa merebahkan tubuhnya dan langsung memejamkan keduanya matanya.
Alfian mengecup kening Clarisa, lantas keluar dari dalam kamar. Clarisa membuka kedua matanya, dan langsung terisak menangis.
__ADS_1
***
"Kalian itu jahat ya sama Clarisa! dia itu istri saya, bukan orang lain, bukan pelakor bukan wanita murahan. Kalian itu, bisa nggak sih hormati dia, demi lihat saya." ucap Alfian kesal.
"Dari awal juga, Ayah itu lebih suka sama Kamela." ucap Pak Tejo.
"Iya, mantu idaman." ucap Ibu Mirah.
"Kalau saya tidak ada jodoh gimana? masa mau di paksa! lagian yang jalani itu saya, bukan Ayah dan Ibu. Dan saya ingatkan, sama semua yang ada disini, siapa saja yang berani sakiti hati clarisa baik itu Ayah atau Ibu. Saya tidak akan segan - segan kasih pelajaran." ancam Alfian.
"Kamu ancam orang tua kamu hah..! anak durhaka kamu." bentak Pak Tejo.
"Yang durhaka itu Alfian atau kalian? orang tua macam apa, tidak ada kata sopan santun." ucap Alfian dengan nada tinggi.
"Cukup kamu Alfian! Ibu sudah bilang, jangan bawa istri muda kamu. Malah kamu nekad bawa, sudah jelas dia itu di tolak." ucap Ibu Mirah.
"Benar - benar ya." ucap Alfian lantas pergi meninggalkan mereka.
Kamela yang mendengar dari dalam, hanya diam saja dengan menatap Moza yang tertidur dengan pulas.
Alfian pun masuk kedalam kamar, melihat istrinya tertidur lelap. Alfian melihat, ada air mata yang masih basah, Alfian lantas mengusapnya.
"Maafkan Abang, maafkan Abang." ucap Alfian sambil memeluk Clarisa.
****
Clarisa merasakan mual, dan langsung beranjak bangun saat akan sarapan bersama. Hal tersebut membuat perhatian, keluarga besar Alfian.
"Jangan katakan istri kamu hamil." ucap Pak Tejo.
"Dia sedang sakit, mungkin karena capek." ucap Alfian.
Clarisa kembali, dan duduk di samping Alfian. Clarisa lantas lanjut makan, tapi mual kembali. Sehingga Pak Tejo membanting sendok di atas piring.
Praaanngg
"Ayah!" tegur Laras.
"Kamu itu, mengganggu selera makan saja. Kalau sakit, minum obat, atau pergi ke dokter. Sudah sakit ikut pulang kampung segala, sampai sini merepotkan." bentak Pak Tejo.
Clarisa menatap tajam kesemua yang ada di meja makan, lantas bangun dari duduknya. Alfian langsung ikut bangun, dan memegang tangan Clarisa.
"Kalau tidak suka dengan saya, hari ini saya akan pamit. Kalau kalian membenci saya, bencilah sepuas kalian. Karena bagi saya, di benci kalian tidak masalah. Karena masih banyak, di luar sana yang baik terhadap saya. Dan ingat, kalian boleh caci maki saya, tapi tunggu hasil suatu saat nanti." ucap Clarisa.
"Yank, kita pergi." ucap Alfian dengan menarik pelan, lengan Clarisa.
"Lepaskan saya Bang! bagi saya, berakhir sampai sini adalah cukup. Rumah tangga kita, tidak akan pernah bahagia, selagi mereka ingin masa lalu kembali." ucap Clarisa sambil melepaskan tangan Alfian.
.
.
__ADS_1
.