
"Bu! " bentak Alfian.
"Ibu datang jauh - jauh, hanya untuk menghina Clarisa! Ibu sadar bu, Clarisa tidak tahu apa - apa. Dan Kamu Kamela! kenapa kamu mau saja, disuruh Ibu antar kesini?" ucap Alfian.
"Maafkan saya Mas, saya tidak tahu kalau Ibu, punya tujuan seperti ini." ucap Kamela.
"Ibu sengaja ajak Kamela, biar tahu kalau Kamela itu lebih baik, pembawa hoki, pembawa rejeki, tidak seperti kamu." ucap Ibu Mirah.
"Bu cukup! Clarisa itu baru pulang dari rumah sakit, dia habis operasi bu." ucap Alfian.
"Peduli apa sama dia, gara - gara kamu! Alfian jadi lupa, dengan kewajiban terhadap orang tuanya." ucap Ibu Mirah.
"Bu, saya minta maaf sama Ibu. Kalau memang, saya mengecewakan Ibu. Tapi Bu, jujur saya itu tidak pernah melarang, suami saya untuk memberikan uang pada orang tuanya, bahkan sama anaknya. Hanya saja, kondisi keuangan kita, sedang tidak stabil." ucap Clarisa.
"Itu semua gara - gara kamu! coba kalau kamu, itu bisa menghasilkan uang. Nih.. seperti Kamela, dia bisa menghasilkan uang, sedangkan kamu, apa yang bisa di hasilkan."
"Bu, cukup Bu cukup! tolong Bu, jangan siksa saya Bu, tolong Bu. Jangan ganggu rumah tangga saya Bu, kalau pun ada saya akan kasih uang nya." ucap Alfian.
"Alah.. alasan saja."
"Bu, sudah Bu. Kita pulang ya, malu Bu." ucap Kamela.
"Ibu tidak mau pulang, sebelum Alfian kasih uang." ucap Ibu Mirah.
Clarisa dengan memegang perutnya, turun dari atas tempat tidur.Membuka dompet, lantas menyerahkan sebuah ATM, dan mengambil amplop berisi uang hasil jual motornya.
"Bu, ini ada uang. Ini milik saya, di amplop cokelat ada 40 juta, dan ini ATM ada senilai 100 juta Pin nya, saya akan catat." ucap Clarisa lantas mencatat pin ATM tersebut.
"Yank, nggak! jangan kamu kasih." ucap Alfian.
"Tidak apa - apa Bang, saya ikhlas." ucap Clarisa, dan Ibu Mirah langsung mengambil paksa yang ada di tangan Clarisa.
"Nah gitu dong." ucap Ibu Mirah, langsung mengajak Kamela untuk pulang.
"Bu, tunggu!" ucap Kamela.
"Kau apa lagi?" tanya Ibu Mirah.
"Jangan Bu, kembalikan." jawab Kamela.
"Kamu itu gimana sih Kam, ini hak Ibu, yang di ambil dia. Dan ibu berhak mendapatkan ini, kita pulang sekarang." ucap Ibu Mirah langsung menarik paksa tangan Kamela.
"Bang, Cla kami pamit." ucap Kamela.
Alfian lantas menatap istrinya, yang sedang akan duduk di sisi tempat tidur, dengan memegang perutnya.
"Kenapa kamu kasih semua uang sama Ibu?"ucap Alfian.
" Biar Ibu tidak selalu menyudutkan saya Bang."ucap Clarisa.
"Tapi itu uang kamu sayang!" ucap Alfian.
__ADS_1
"Tidak apa - apa Bang, saya ikhlas kok." ucap. Clarisa.
"Maafkan Abang Cla, dari awal kita menikah kamu tidak bahagia."
"Sudahlah Bang, jangan bahas lagi."
Alfian lantas memeluk tubuh Clarisa, dirinya merasa sangat bersalah, dari menikah sampai sekarang hanya yang ada sebuah masalah dan masalah.
Terdengar suara ketukan pintu, Alfian bangun dari duduk berjongkok nya. Dan saat membuka pintu, Tri yang mengetuk pintu.
"Kamu, saya kira siapa." ucap Alfian.
"Saya kira masih di rumah sakit, ternyata sudah pulang. Oh iya, Cla ada kejutan buat kamu." ucap Tri.
"Kejutan apa Bang?" tanya Clarisa.
"Sini deh keluar." ajak Tri, lantas Alfian dan Clarisa keluar dari kamar.
Terlihat sebuah mobil truk kecil, dengan sesuatu yang di tutupi oleh kain. Clarisa dan Alfian bingung, saat Tri menunjukkan sesuatu yang ada di atas mobil.
"Apa itu Bang?" tanya Clarisa.
"Buka saja." jawab Tri.
Lantas Alfian membantu menarik tali tersebut untuk menurunkan kainnya.Saat dibuka, Clarisa tampak kaget, melihat motor miliknya ada di depan matanya.
"Bang Tri, ini kan motor Cla!" ucap Clarisa tidak menyangka.
Clarisa tampak terharu, sehingga meneteskan air matanya. Dirinya tidak menyangka, bisa memiliki motor nya kembali.
"Bang, Ini bagaimana ceritanya, bisa sama Abang?" tanya Clarisa.
"Panjang, saya sengaja mendapatkan kembali, karena motor ini adalah motor kesayangan kamu." jawab Tri.
"Tapi sekali lagi terima kasih Bang."
"Sama - sama."
Alfian tersenyum tipis, melihat Tri telah mengembalikan motor milik Clarisa, yang telah di jualnya. Begitu melihat, motornya kembali Clarisa sangat senang sekali.
"Bang, sekali lagi makasih."
"Sama - sama." ucap Tri.
****
"Kamu kenapa lakukan ini?" tanya Alfian.
"Saya hanya membantu dia, agar tidak sedih lagi." jawab Tri.
"Jadi, pembeli itu adalah kamu." ucap Alfian.
__ADS_1
"Iya, pembeli itu adalah saya."ucap Tri.
" Kamu berarti sudah tahu, kalau itu motor Clarisa?"
"Iya, saya sudah tahu. Kalau itu motor Clarisa, lantas saya minta lihat surat - suratnya ternyata benar. Saya tidak menyangka saja, kamu berani menjual barang milik Cla. Walau kamu suaminya, tidak ada hak kamu jual barang milik Clarisa."
"Saya memang salah, sudah menganggap dia yang tidak - tidak."
"Sekarang kamu menyesal kan? kamu lihat, bagaimana Cla bahagia. Kamu itu secara tidak langsung, sudah membuat Clarisa tekanan batin. Dari ulah orang tua kamu, kamu kehilangan calon anak kamu. Sampai detik ini, dia masih tekanan batin. Hanya saja, dia masih berusaha tersenyum. Sampai kapanpun, rumah tangga kalian, tetap akan seperti ini terus. selama orang tua kamu masih ada, selama masih ada akan terus membandingkan antara yang lama dan baru." ucap Tri.
"Saya tahu itu, tapi harus bagaimana lagi? saya sudah berusaha tapi malah seperti ini."
"Yasudah, saya mau pulang dulu."
"Sekali lagi, terima kasih."
Setelah Tri pergi, Clarisa terus tersenyum bahkan memeluk motor kesayangannya. Alfian pun ikut tersenyum, melihat istrinya bahagia.
"Bang, kalau masih rejeki, akan kembali juga. Abang jangan jual lagi ya Bang, Cla ini sangat sayang sama ini motor."
"Iya, Abang janji."
"Kamu itu, sudah seperti jiwa gua." ucap Clarisa memeluk motornya.
***
"Cla." panggil Alfian.
"Kenapa Bang?"
"Kamu itu benar bahagia sama Abang?"
"Bahagia Bang."
"Abang tahu, pasti kamu tekanan bathin. Abang tahu, pasti hati kamu menangis. Walau rumah tangga kita baik - baik saja, tapi dari orang lain."
"Ya mau gimana lagi Bang, mungkin sudah takdir." ucap Clarisa.
"Kamu sudah berkorban untuk keluarga Abang, tapi tidak pernah di hargai."
"Sudahlah Bang, jangan bahas lagi ya. Cla ikhlas kok."
"Kalau kamu ingin cari kebahagiaan di luar sana, Abang ikhlas lepaskan kamu. Sekarang sudah selesai kan, masa nifas kamu?"
Clarisa menoleh ke arah Alfian, dengan mata yang berkaca - kaca. Clarisa memegang tangan suaminya.
"Dulu, memang Cla ingin cerai sama Abang. Tapi Abang, mempertahankan Cla. Dan saat itu, Abang ingin ceraikan Cla, tapi Cla tidak mau. Sekarang, Abang ingin melepaskan Cla lagi. Apa Abang yakin, dengan ucapan Abang itu?"
.
.
__ADS_1
.