Surat Tilang Cinta

Surat Tilang Cinta
Batas Ubun - Ubun


__ADS_3

"Bang Toha, tolong dong ini motor mogok." ucap Tri.


"Bang!" panggil Clarisa.


Tri melihat, Clarisa memakai pakaian mekanik, dengan pakaian yang penuh noda oli dan noda hitam.


"Kamu kerja lagi?" tanya Tri.


"Iya Bang, kenapa motornya?" tanya Clarisa.


"Ini mogok di jalan." jawab Tri.


"Mau tunggu atau di tinggal?"


"Bengkel buka sampai jam berapa?"


"Jam 8 juga tutup sih, sekarang baru jam 5 sore."


"Besok saja lah, biar nggak buru - buru."


"Yaudah, nanti Cla kabari deh kalau sudah jadi."


"Cla! "


"Iya Bang?"


"Suami kamu benar - benar, tidak sanggup kasih makan kamu?"


"Nggak Bang! kami ada kok uang. Abang sih, gua kerja di kira kurang ekonomi." ucap Clarisa berbohong.


"Kamu jangan bohong Cla, saya tahu gimana kondisi kamu. Apa kamu bahagia? saya tidak tega Cla!"


"Bahagia Bang, sangat bahagia." ucap Clarisa dengan mata berkaca - kaca.


"Seharusnya, kamu sudah punya suami. Kamu tidak seperti ini, cukup di rumah."


"Gua kan masih kuliah Bang, sekarang semester akhir. Gua butuh biaya besar, masa tergantung sama suami. Abang kan tahu, dia punya banyak kebutuhan. Ya gua harus ngerti lah, bantu suami apa salahnya."


"Saya berharap, rumah tangga kamu akan selalu bahagia terus."


"Amin Bang, amin..!" ucap Clarisa.


"Yaudah, Abang pamit ya."


"Iya Bang, hati - hati."


Bang Toha datang, melihat Tri keluar dari bengkelnya. Clarisa kaget, saat melihat Bang Tri, sudah ada di sampingnya.


"Kalau kamu berjodoh dengan Tri, kamu bahagia." ucap Bang Toha.


"Belum tentu Bang." ucap Clarisa sambil melangkahkan kedua kakinya.


"Apalagi, orang tua Tri akrab dengan Abang kamu. Padahal Tri itu, sayang sama kamu."


"Tapi buruknya, dia itu selalu banyak mengekang Bang. Teman cowok main saja kagak boleh, sedangkan Bang Alfian mereka main, gua disana kagak marah."

__ADS_1


"Memang sih, ada sisi buruk dan ada sisi baiknya. Ada kelebihan, ada kelemahan. Alfian baik, penyayang malah keluarganya begitu, dan semuanya tergantung sama suami kamu. Sedangkan Tri, royal, perhatian kata kamu selalu mengekang."


"Begitulah Bang, sudah ah gua mau lanjut kerja."


****


"Ya Allah Laras, jadi kamu serahkan Cafe itu dan lunas!" ucap Alfian yang semakin stress.


"Iya, kata Ibu Abang itu banyak uang. Dan sekarang Ayah masuk rumah sakit, kondisinya kritis. Abang pulang kesini, jangan sampai Abang menyesal."


"Iya, nanti Abang kesana." ucap Alfian langsung menutup teleponnya.


Kepala Alfian terasa mau pecah, hingga menjambak rambutnya sendiri. Pintu kamar terbuka, Clarisa datang dengan membawa dua bungkus nasi goreng.


"Bang sudah pulang!" ucap Clarisa sambil mencium punggung tangan Alfian.


"Ini setoran hari ini."Alfian menyerahkan selembar uang warna merah, Clarisa tersenyum.


" Alhamdulillah, sekarang Abang makan ya."ucap Clarisa.


"Yank, Ayah masuk rumah sakit. Kritis, kita kesana ya."


Clarisa tersenyum dengan menganggukkan kepalanya, lantas langsung makan. Clarisa melihat Alfian tangannya bergetar, dan seperti menahan tangis matanya sudah memerah.


"Bang!" Clarisa memegang tangan Alfian.


"Keluarkan saja ya." ucap Clarisa.


Alfian terisak, melepaskan tangisannya. Clarisa lantas memeluk tubuh suaminya, Clarisa mencoba menenangkannya.


"Mungkin kita jalannya begini Bang, insya Allah kita bisa ya Bang."


"Maafkan Abang ya."


"Iya, sudah ya sekarang Abang makan. Kapan kita berangkat?"


"Besok setelah shubuh kita berangkat."


"Iya, sekarang kita makannya."


Alfian melanjutkan makannya, begitu juga dengan Clarisa. Rasa nikmat begitu hambar, karena sesuatu masalah yang tidak ada habis - habisnya.


***


Pagi - pagi keduanya menuju ke kota tempat tinggal Alfian, tidak membawa apa - apa hanya pakaian saja. Di dalam perjalanan, kedua nya diam hanya suara musik.


"Mau sarapan tidak?" tanya Alfian membuka percakapan.


"Abang mau sarapan?" tanya Clarisa kembali.


"Kalau mau, beli saja di depan." jawab Alfian.


"Kita sarapan saja dulu."


"Beli satu saja, kita makan satu piring sama - sama."

__ADS_1


"Ya Allah Bang, berapa sih harga satu porsi nasi uduk? kagak sampe jual mobil. Gua juga masih sanggup, buat beli nasi uduk." ucap Clarisa mulai kesal.


"Ya kan, kita pulang juga butuh uang buat disana."


"Iya duit lagi duit." ucap Clarisa kesal.


Mobil berhenti tepat di depan penjual nasi uduk, yang tidak begitu ramai. Clarisa memesan dus porsi nasi uduk, dan membawa masuk kedalam mobil.


"Sarapan dulu Bang."


Alfian menerima satu porsi nasi uduk, yang di pesan Clarisa. Keduanya makan di dalam mobil, dengan di temani teh pahit hangat.


"Nanti mau beli apa buat Ayah? depan pasar, kita bisa mampir sebentar." ucap Clarisa.


"Nggak usah, cukup uang saja."


"Yaudah."


****


Clarisa dan Alfian sampai, terlihat Pak Tejo. hanya bisa diam, dengan mulut membuka dan mata melotot. Alfian terus membisikkan doa - doa, semuanya menangis terisak. Kecuali Clarisa yang hanya diam menatap, tepat di depan pintu.


"Maafkan kesalahan Ayah." ucap Kamela.


"Gua sudah maafkan." ucap Clarisa.


"Inilah keluarga mantan suami saya, kalau saya tidak aneh, begini begitu tapi bukan berarti halangan buat kami. Hanya saja, kami sudah tidak cocok." ucap Kamela.


"Gua sama Mba itu beda, antara mantu idaman dan mantu sesat. Dari awal tiba disini, gua di sambut tidak kan? hanya mba yang di sambut, sampai saat seperti ini gua tidak di ijinkan melihat dekat kondisi Ayah mertua."


Kamela tidak bisa berkata apa - apa, lantas Ibu Mirah memanggil Kamela dan melihat tangan Kamela dan Alfian saling menggenggam, terlihat dari jauh tangan Pak Tejo memegang tangan keduanya.


Clarisa lantas keluar dari dalam kamar rawat, memilih untuk duduk. Dan melihat Anton datang, langsung Clarisa menghampiri adik iparnya.


"Eh Lo." tunjuk Clarisa pada Anton.


"Enak banget ya hidup Lo, hutang lunas kita yang sengsara. Sudah di kasih enak, Lo malah meras suami gua." ucap Clarisa.


"Ini kan kewajiban Bang Alfian, wajar dong. Dia kan tulang punggung, dan yang orang berada itu dia."


"Lo itu waras nggak sih? secara tidak langsung Lo itu sudah mencekik secara perlahan. Ingat karma, ini belum apa - apa, lihat saja nanti."


"Kamu ancam saya hah..!" tantang Anton.


"Iya, gua ancam Lo. Karena gua, sudah muak dengan keluarga suami gua." ucap lantang Clarisa.


Alfian dan Kamela lantas keluar, melihat Clarisa sedang bertengkar dengan Anton. Alfian langsung memisahkan keduanya.


"Ini rumah sakit, nggak enak." ucap Alfian.


"Jujur Bang, gua muak sama keluarga kamu. Lama - lama enek juga, dan Lo Anton gua sumpahin Lo bakalan sengsara terus." ucap Clarisa.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2