Surat Tilang Cinta

Surat Tilang Cinta
Di Buat Kesal Lagi


__ADS_3

"Bang ini sih, seperti baru lagi." ucap Clarisa pada Bang Toha.


"Iyalah, siapa dulu tangan ahlinya." ucap Bang Toha, sedikit menyombongkan diri.


"Percaya deh."


"Laki Lo ingin motor ini di jual, gua bilang saja ini motor di beli dengan penuh perjuangan. Kan emang iya, ini motor belinya gimana." ucap Bang Toha.


"Ngomong juga sama gua Bang, ini bukti dia perhatian sama gua. Dan gua juga Bang, habis kecelakaan lagi." ucap Clarisa.


"Kecelakaan apa Cla?"


"Keguguran."


"Astaga Cla! yang sabar ya."


"Iya Bang, nanti ke depan nya gua kan lebih hati - hati lagi."


Clarisa lantas menaiki motornya, dan mengetes suara motor tersebut. Suara yang halus, dan seperti baru lagi terdengar. Bahkan body nya pun sangat mulus, sehingga tidak ada cacat sedikit pun.


"Bang, jadi berapa totalnya?" tanya Clarisa.


"Ada nota nya, ntar gua ambil." jawab Bang Toha, lalu pergi mengambil nota.


Clarisa menerima nota nya, terlihat sedikit yang di ganti, namun karena kondisi yang rusak parah sehingga membuat harga yang sangat begitu mahal.


"Gua transfer Bang sekarang." Clarisa segera mengeluarkan ponselnya, untuk melakukan sebuah transaksi.


Bang Toha, lantas mengecek ponselnya. Ternyata sebuah notifikasi transaksi pembayaran, yang di kirim oleh Clarisa.


"Thanks Cla."


"Sama - sama Bang, yaudah Bang gua cabut dulu."


"Iya Cla, hati - hati." ucap Clarisa lantas pergi meninggalkan bengkel Bang Toha.


****


"Habis transaksi berapa?" tanya Alfian.


"Habis 10 juta Bang." jawab Clarisa.


"Gede juga ya." ucap Alfian.


"Kan lihat dari motornya juga Bang."


"Ini buat pakai Abang saja ya ke kantor." ucap Alfian sambil menaik turunkan alisnya.


"Terus, Cla kuliah naik apa?" tanya Clarisa.


"Bawa mobil saja, kalau bawa motor Abang nggak pantas, dari modelnya ini kan buat cowok."


"Iya deh, sekalian balik nama nggak mobilnya?" tanya Clarisa.


"Hahahaha... mau mobilnya? ambil saja." jawab Alfian.


"Serius Bang?"


"Iya, lagian kita suami istri gitu. Tapi nggak akan balik nama, kalau mau beli lagi satu nanti atas nama kamu."


"Serius!"

__ADS_1


"Iya serius masa bohong."


"Tapi nanti parkiran kost an, hanya buat kendaraan kita saja. Yang lainnya, gimana Bang?"


"Ya kamu pikirkan saja sendiri." ucap Alfian sambil tersenyum.


"Ih... nyebelin." ucap Clarisa.


****


Kemal berada di kost an Silvi, menjemput untuk mengurus persiapan pernikahannya. Clarisa berdiri bersandar, dengan melipat kedua tangannya di dada.


"Bagus ya, sekarang sudah berani go public." sindir Clarisa.


Kemal menoleh ke arah adiknya, dengan tersenyum berjalan mendekat ke arah Clarisa. Sedangkan Adiknya, menatap serius.


"Maaf Dek, Abang ingin kasih kejutan." ucap Kemal.


"Kejutannya tuh, mba Gita labrak gua." ucap Clarisa.


"Kapan?" tanya Kemal.


"Beberapa hari yang lalu." jawab Clarisa.


"Kamu kenapa kagak cerita sama Abang?"


"Gua niatnya nanti malam mau main ke rumah Abang, eh ternyata ketemu disini. Silvi sudah cerita? kalau Cla sudah tahu semuanya?" tanya Clarisa.


"Nggak! Yank kamu kok nggak cerita sama Abang?" ucap Kemal sambil berteriak pada Silvi yang sedang mengunci pintu kamarnya.


"Maaf Bang, Silvi lupa." ucap Silvi.


"Iya Bang, yaudah sana keburu telat. Gua juga mau ke kampus, awas jangan lakukan zina." ucap Clarisa menyindir Abangnya, Kemal hanya menggaruk tengkuk lehernya, yang tidak gatal.


****


"Clarisa pasti dalam hati, dia bilang ngatain orang enak saja, sendiri juga begitu." celetuk Kemal, dengan mengemudikan mobilnya.


"Memangnya bicara apa Bang?" tanya Silvi.


"Ada saja, biasa urusan adik kakak." jawab Kemal.


Oh, kirain apa!" ucap Silvi.


Kemal meraih tangan Silvi, dengan tangan kiri nya. Silvi mencium punggung tangan Kemal, lanjut mengusap tangan Kemal ke perutnya.


"Sehat semua ya." ucap Kemal.


Silvi tersenyum kembali, dengan mencium lagi punggung tangan Kemal. Keduanya begitu tampak bahagia.


****


Clarisa mengendarai mobil milik Alfian ke kampus, namun saat sedang berkendara tiba - tiba mobil yang di kemudikan mogok. Clarisa lantas turun dari dalam mobil, memeriksa kendala apa.


"Yah, ini mah ada yang harus di bongkar. Disana, mobil kagak di perhatikan kali ya kagak di rawat. Untung saja, Masih bisa sampe rumah kemarin." ucap Clarisa, langsung mengambil ponselnya.


Saat akan menghubungi suaminya, mobil patroli berhenti tepat di depan mobil Clarisa. Dengan kacamata hitam, Alfian turun dari mobilnya.


"Kenapa Yank?" tanya Alfian.


"Kayaknya ini mobil harus bawa bengkel, tadi Cla cek banyak yang harus di ganti. Disana jarang di servis, main pakai saja ya. Mungkin oli juga, kayaknya nggak pernah ganti."jawab Clarisa.

__ADS_1


" Mobil di bawa adik ipar."


"Kok jorok."


"Kenapa?" tanya Wahyu.


"Tarik lah, bawa bengkel." jawab Alfian.


"Mobil bagus juga percuma, mentang - mentang bukan beli pakai uang sendiri, kadang kagak ngerti gua sama keluarga Abang." ucap Clarisa terus mengoceh sambil mengambil tas nya.


"Menurut kamu apanya?" tanya Alfian.


"Ya kagak tahu kan belum di cek semua, takutnya turun mesin ini." jawab Clarisa.


"Kalau turun mesin berapa?"


"Mahal lah." ucap Clarisa dengan wajah cemberut.


"Kita bawa ke bengkel mana?" tanya Wahyu.


"Bawa saja, ke bengkel Bang Toha." jawab Alfian.


"Biar nanti Cla yang beresin tuh mobil, sekarang antar Cla dulu ke kampus." ucap Clarisa dengan wajah kesal.


Alfian meminta Wahyu untuk menunggu, sedangkan dirinya mengantar Clarisa ke kampus.


Didalam mobil, Clarisa sedang browsing beberapa alat yang harus di ganti, dengan budget yang harus di keluarkan.


"Memangnya, sudah jelas yang di ganti itu?" tanya Alfian.


"Baru perkiraan saja, tadi juga agak bau. Kemungkinan oli kering, di hitung - hitung lebih dari 2 juta Bang. Apalagi kalau turun mesin, memang sih tadi waktu jalan juga dari suara sudah tidak enak. Waktu Abang, tidak terasa gitu?"


"Nggak merasakan, yang ada mikirin kamu."


"Minta sana, ganti rugi sama orang tua Abang."


"Kayaknya, kamu kesel banget sama orang tua Abang!"


"Nggak juga." ucap Clarisa memaksa tersenyum.


****


"Sumpah gua tuh kesel punya laki, keluarganya bikin emosi." ucap Clarisa pada Bang Toha.


"Lagian, ini mungkin bukan salah mereka. Emang dasarnya ini mobil sudah harusnya di service." ucap Bang Toha.


"Gimana nggak kesel, ini setelah di periksa malah turun mesin. Coba berapa duit? mau pakai duit gua! enak saja. Seharusnya yang pakai, giliran rusak sudah disini. Coba kalau masih disana, mereka yang keluar duit. Giliran susah saja, malah kita."


"Ikhlas Cla, lagian kalau beli juga kagak pakai duit Lo, duit laki Lo."


"Iya duit lagi, secara gua selaku menteri keuangan merasa keberatan."


"Sini mana saja yang harus di ganti? siapa tahu, Abang punya uang ori di bengkel."


"Gua sudah cari kagak ada, dan harus pesan."


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2